Mag-log inPria itu menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
Tatapannya datar.
Seolah sedang memastikan sesuatu.
Aku mencoba melepaskan diri dari dua pria yang mencengkeram lenganku.
"Lepaskan aku! Siapa kalian?"
Tidak ada yang menjawab.
Pria itu hanya memberi isyarat kecil.
Sesaat kemudian kain hitam menutupi wajahku.
Mulutku disumpal.
Tanganku diikat di belakang tubuh.
Begitu juga kakiku.
"Tolong..."
Suaraku hanya berubah menjadi gumaman.
Aku diangkat begitu saja ke dalam mobil.
Mesinnya langsung menyala.
Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berjalan.
Mobil beberapa kali berbelok sebelum akhirnya berhenti.
Pintu terbuka.
"Apakah gadis ini?" tanya seseorang dengan suara berat.
"Benar, sudah terkonfirmasi," jawab pria lain.
Tubuhku kembali diangkat.
Aku terus meronta, tetapi tidak ada gunanya.
Tak lama kemudian tubuhku dijatuhkan ke lantai yang dingin.
Pintu besi ditutup.
Suasana langsung sunyi.
Aku mencoba menggerakkan tangan.
Tali itu terlalu kuat.
Ruangan ini terasa lembap.
Udara di dalamnya dingin.
Aku bahkan tidak tahu sudah berapa lama berada di sini.
Mungkin satu jam.
Mungkin lebih.
Yang terdengar hanya napasku sendiri.
Tolong aku...
Ayah...
Aku tahu beliau tidak mungkin datang.
Tetapi hanya nama itu yang mampu membuatku tetap bertahan.
Lalu...
Dor!
Dor! Dor!
Tubuhku langsung menegang.
Suara tembakan.
Disusul teriakan orang-orang dari luar ruangan.
Mereka berbicara dalam bahasa Italia.
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Yang kupahami hanya satu.
Di luar sedang terjadi baku tembak.
Ya Tuhan...
Tolong aku.
Pintu besi mendadak terbuka.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Langkah kaki mendekat.
Tap.
Tap.
Tap.
Seseorang berhenti tepat di depanku.
Penutup wajahku dilepas.
Cahaya membuat mataku perih.
Aku berkedip beberapa kali sampai akhirnya bisa melihat sosok pria yang berdiri di hadapanku.
Ia mengenakan setelan hitam.
Tubuhnya tinggi.
Tatapannya dingin.
Tanpa banyak bicara ia melepas tali di tangan dan kakiku.
"Ayo."
Ia mengulurkan tangan.
Aku menatapnya ragu.
"Aku tidak akan mengulangi kata-kataku," ucapnya dingin.
Aku segera meraih tangannya.
Begitu berdiri, kakiku langsung limbung.
Ia menahan tubuhku.
"Tetap di belakangku."
Aku mengangguk.
Tangannya menggenggam tanganku erat.
Dari balik jasnya ia mengeluarkan sebuah pistol.
Aku refleks mencengkeram lengannya.
Ketika kami keluar, napasku tercekat.
Bangunan itu berubah menjadi semacam medan perang.
Beberapa pria berlindung di balik pilar sambil saling menembak.
Tubuh-tubuh tergeletak di lantai.
Darah membasahi marmer putih.
Pria di sampingku ikut mengangkat pistol.
Dor!
Dor! Dor!
Dua orang langsung roboh.
"Lindungi Tuan!" teriak seseorang.
Beberapa pria berbaju hitam segera mengelilingi kami.
Mereka terus membalas tembakan sambil membentuk barisan di sekeliling kami.
Aku tidak sanggup melihat semua itu.
Tanpa sadar aku memeluk tubuh pria di sampingku.
Tubuhku gemetar hebat.
Ia tidak mendorongku.
Sebaliknya, tangannya justru menarikku semakin dekat.
Kami berlari menuju halaman belakang.
Sebuah mobil hitam sudah menunggu.
"Masuk."
Aku segera masuk.
Pria itu duduk di sampingku.
Mobil langsung melaju meninggalkan tempat itu.
Aku mengatur napas yang masih berantakan.
Tanganku terus gemetar.
Aku hendak membuka jendela.
"Jangan."
Tangannya menahan pergelangan tanganku.
Aku mengurungkan niat.
Mobil kembali sunyi.
Ia menyandarkan kepalanya ke jok.
Pistol itu masih berada di tangan kanannya.
"Apakah kau bisa berbahasa Italia?" tanyanya tiba-tiba.
"Bisa."
"Dari mana?"
"Ayah mengajariku."
Ia mengangguk pelan.
Aku menarik napas panjang.
"Terima kasih."
Ia tidak menjawab.
"Kalau bukan karena kau, mungkin aku sudah mati."
"Tidak perlu berterima kasih."
Ia membuka mata.
Tatapannya lurus kepadaku.
"Sejak awal kaulah target mereka."
Dadaku langsung mencelos.
"Apa maksudmu?"
"Kau diculik karena dirimu."
"Tapi aku baru tiba di Italia."
Ia tidak menjawab.
Kami saling berpandangan beberapa saat.
Baru kali itu aku benar-benar melihat wajahnya.
Rahangnya tegas.
Rambut hitamnya tersisir rapi.
Dan matanya...
Biru.
Sangat biru.
"Entah aku harus mengatakan ini atau tidak, Nona Laurent."
Aku langsung membeku.
"Bagaimana kau tahu namaku?"
Ia kembali memilih diam.
Mobil mulai melambat.
Gerbang besi hitam berdiri menjulang di depan kami.
Lampu sorot menerangi ukiran besar di bagian atasnya.
Tenuta Bellucci.
Nama itu membuat napasku tercekat.
Nama yang sama dengan hotel tempatku menginap.
Nama yang sama dengan yayasan yang mengundangku ke Italia.
Mobil melewati gerbang perlahan.
Rumah-rumah besar berdiri berjajar di balik pepohonan.
Beberapa pria bersenjata memberi hormat saat mobil kami melintas.
Aku menoleh ke arah pria di sampingku.
Rasa takut kembali memenuhi dadaku.
"Tempat apa ini?"
Ia akhirnya menoleh.
Tatapannya tetap setenang tadi.
"Rumah keluarga Bellucci."
Aku menelan ludah.
"Lalu... siapa kau sebenarnya?"
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah besar.
Ia membuka pintu mobil.
Sebelum turun, ia menoleh kepadaku.
"Mattheo Bellucci."
Aku membeku.
Pria itu melanjutkan ucapannya dengan tenang.
"Dan aku adalah tunanganmu."
Masa kini. Tiga Hari Sebelum Kepulangan ke Italia. “Apa yang sedang dia lakukan?”Aku menempelkan ponsel ke telinga.“Hmm, Donna sedang membaca buku, Don Mattheo,” jawab Anthonio dari ujung telepon.“Buku apa?”“Sepertinya novel.”“Sepertinya?”“Donna tidak memberitahunya. Hanya saja sampulnya pria dewasa yang tidak memakai baju.”Aku mengerutkan kening.“Lalu kau tidak bertanya?”“Kalau saya bertanya terlalu banyak, Donna akan curiga.”Aku diam.Benar juga.“Bagaimana kondisi wajahnya?”“Masih dalam proses pemulihan.”“Apakah lukanya sakit?”“Tidak separah sebelumnya.”“Dokter sudah memeriksanya?”“Belum datang.”Aku mengangguk pelan meskipun ia tidak bisa melihatku.“Kalau sudah datang, kabari aku.”“Baik, Don.”Aku hampir menutup telepon.Namun kembali teringat sesuatu.“Anthonio.”“Ya?”“Dia sudah makan?”“Sudah.”“Berapa banyak?”Anthonio terdiam beberapa detik.“Don Mattheo.”“Apa?”“Sudah tiga puluh menit yang lalu Anda menanyakan hal yang sama.”Aku menghela napas.“Aku hany
Tiga tahun lalu. "Ini, Tuan. Bunga yang anda pesan." Aku menerima satu buket bunga lily yang dihias dengan cantik. "Terima kasih." "Wanita yang sangat beruntung," ucap penjual bunga itu. Aku hanya tersenyum tipis."Iya, dia sangat cantik." Aku membawa bunga itu keluar dari toko dan masuk ke dalam Rolls-Royce biruku.Dan meletakkan dengan hati-hati bunga itu di sisi penumpang sebelum menginjak pedal gas. Aku mengemudi di jalanan Los Angeles pada pagi hari itu. Sampai akhirnya tiba di salah satu hotel terbesar di negara itu. Aku mematikan mesin dan turun dari mobil sambil mempersiapkan semuanya, termasuk bunga yang sudah kubeli tadi. Aku merogoh saku jas-ku. Dan mengeluarkan satu buah kotak kecil dan membukanya. Sebuah cincin bertahta batu permata bertengger indah disana. "Malam ini, kau akan menjadi milikku, Angela." Aku melangkah memasuki lobi hotel itu. Lalu menekan tombol lift dan menunggunya. Ketika terbuka dan masuk, aku lalu menekan tombol angka 17. Tak berapa la
“Mattheo!”Langkahku terhenti.Suara itu.Aku mengenalnya.Sayangnya, aku mengenalnya terlalu baik.Aku berbalik perlahan.Angela berdiri beberapa meter di belakangku.Ia mengenakan gaun hitam selutut yang dipadukan dengan mantel panjang berwarna gelap. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, jatuh rapi di atas bahunya. Sebuah tas kecil menggantung di lengannya.Penampilannya tidak banyak berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.Tetap anggun.Tetap cantik.Dan tetap membawa masalah.Senyumnya mengembang ketika mata kami bertemu.Senyum yang dulu pernah membuatku menunggu berjam-jam hanya untuk melihatnya.Sekarang justru membuatku ingin segera pergi.“Apa yang kau lakukan di sini?”Ia terkekeh.“Bukankah seharusnya kau mengatakan, ‘Aku merindukanmu, Angela’?”“Itu masa lalu.”“Masa lalu yang tidak bisa kita lupakan.”Aku mengembuskan napas pelan.“Kenapa kau berada di sini?”“Aku menyukai negara ini.”Aku menatapnya datar.“Aku tahu itu bukan alasan sesungguhnya.”Ia tersenyum.“Aku
“Evelyn Laurent.”Bola mata hijaunya langsung membelalak.Untuk beberapa detik, wanita itu hanya menatapku.Seolah baru saja menemukan jawaban dari sesuatu yang selama ini dicarinya.“Kau mengenalnya?”“Kenal?”Ia menunjuk dirinya sendiri.“Aku sahabatnya!”Nada suaranya begitu antusias sampai beberapa orang yang berjalan di sekitar kami sempat menoleh.Aku mengernyitkan kening.“Sahabat?”“Iya!”Ia mengangguk cepat.“Teman dekatnya sejak sekolah.”Aku terdiam menatapnya.“Seberapa baik kau mengenalnya?”“Aku sangat dekat sekali dan mengenalnya dengan baik.”“Definisikan.”Kelly mengedipkan matanya.“Definisi?”“Ya.”Ia tampak berpikir sebentar.“Dia orang yang akan meneleponku tengah malam hanya karena tidak tahu harus memilih gaun warna hitam atau biru.”Aku masih diam.“Dia juga orang yang pernah datang ke apartemenku hanya karena ingin makan pasta.”Aku mengangkat alis.“Dan?”“Dan kami pernah mabuk bersama.”Aku menatapnya datar.“Aku rasa aku belum puas mendengarnya.”Kelly tert
Paris selalu membuatku begitu sesak.Terlalu banyak suara.Terlalu banyak orang.Terlalu banyak pebisnis yang merasa mereka bisa membeli apa pun hanya karena memiliki cukup uang.Aku duduk di ujung meja konferensi dengan beberapa dokumen terbuka di hadapanku.Satu per satu orang di ruangan itu sudah menyampaikan pendapat mereka mengenai usulan perubahan sistem di Akademi Bellucci.Dan hampir semuanya sama.Menolak.“Proposal ini terlalu berisiko,” ujar salah seorang pria di hadapanku.“Akademi sudah berjalan puluhan tahun dengan sistem yang ada.”“Tidak ada alasan untuk mengubah sesuatu yang tidak rusak.”Aku menatapnya datar.“Tidak rusak?”Ia terdiam.Aku mengambil salah satu laporan dari atas meja.“Jumlah murid di bidang seni menurun hampir tiga puluh persen dalam tiga tahun terakhir.”Tidak ada yang menjawab.“Guru musik yang seharusnya menjadi pengajar utama j
“Donna Evelyn?”Aku menoleh mendengar Anthonio memanggilku."Iya?"Saat itulah ia menunjuk seseorang di belakang kami.Seseorang yang sangat kukenal postur tubuhnya.Wajahnya.Dan di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang di jalanan Roma, aku melihat sosok yang selama dua bulan terakhir ini justru berusaha kuhindari dari pikiranku.Mattheo.Ia berdiri beberapa meter di hadapanku.Mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan aksen putih.Rambutnya tertata rapi seperti biasanya.Wajahnya masih sama sejak terakhir kali aku melihatnya.Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya selama dua bulan ini.Yang kutahu...ia ada di sana.Tepat di hadapanku.“Evy?”Suara Kelly terdengar di sampingku.Aku tidak menjawab.Mataku masih tertuju kepadanya.Pria yang selama dua bulan ini tidak pernah sekalipun datang menemuik







