Share

Bab 3 Nona Laurent

Author: Sasha S.Y
last update publish date: 2026-06-17 14:23:59

Pria itu menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

Tatapannya datar.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Aku mencoba melepaskan diri dari dua pria yang mencengkeram lenganku.

"Lepaskan aku! Siapa kalian?"

Tidak ada yang menjawab.

Pria itu hanya memberi isyarat kecil.

Sesaat kemudian kain hitam menutupi wajahku.

Mulutku disumpal.

Tanganku diikat di belakang tubuh.

Begitu juga kakiku.

"Tolong..."

Suaraku hanya berubah menjadi gumaman.

Aku diangkat begitu saja ke dalam mobil.

Mesinnya langsung menyala.

Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berjalan.

Mobil beberapa kali berbelok sebelum akhirnya berhenti.

Pintu terbuka.

"Apakah gadis ini?" tanya seseorang dengan suara berat.

"Benar, sudah terkonfirmasi," jawab pria lain.

Tubuhku kembali diangkat.

Aku terus meronta, tetapi tidak ada gunanya.

Tak lama kemudian tubuhku dijatuhkan ke lantai yang dingin.

Pintu besi ditutup.

Suasana langsung sunyi.

Aku mencoba menggerakkan tangan.

Tali itu terlalu kuat.

Ruangan ini terasa lembap.

Udara di dalamnya dingin.

Aku bahkan tidak tahu sudah berapa lama berada di sini.

Mungkin satu jam.

Mungkin lebih.

Yang terdengar hanya napasku sendiri.

Tolong aku...

Ayah...

Aku tahu beliau tidak mungkin datang.

Tetapi hanya nama itu yang mampu membuatku tetap bertahan.

Lalu...

Dor!

Dor! Dor!

Tubuhku langsung menegang.

Suara tembakan.

Disusul teriakan orang-orang dari luar ruangan.

Mereka berbicara dalam bahasa Italia.

Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Yang kupahami hanya satu.

Di luar sedang terjadi baku tembak.

Ya Tuhan...

Tolong aku.

Pintu besi mendadak terbuka.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Langkah kaki mendekat.

Tap.

Tap.

Tap.

Seseorang berhenti tepat di depanku.

Penutup wajahku dilepas.

Cahaya membuat mataku perih.

Aku berkedip beberapa kali sampai akhirnya bisa melihat sosok pria yang berdiri di hadapanku.

Ia mengenakan setelan hitam.

Tubuhnya tinggi.

Tatapannya dingin.

Tanpa banyak bicara ia melepas tali di tangan dan kakiku.

"Ayo."

Ia mengulurkan tangan.

Aku menatapnya ragu.

"Aku tidak akan mengulangi kata-kataku," ucapnya dingin. 

Aku segera meraih tangannya.

Begitu berdiri, kakiku langsung limbung.

Ia menahan tubuhku.

"Tetap di belakangku."

Aku mengangguk.

Tangannya menggenggam tanganku erat.

Dari balik jasnya ia mengeluarkan sebuah pistol.

Aku refleks mencengkeram lengannya.

Ketika kami keluar, napasku tercekat.

Bangunan itu berubah menjadi semacam medan perang.

Beberapa pria berlindung di balik pilar sambil saling menembak.

Tubuh-tubuh tergeletak di lantai.

Darah membasahi marmer putih.

Pria di sampingku ikut mengangkat pistol.

Dor!

Dor! Dor!

Dua orang langsung roboh.

"Lindungi Tuan!" teriak seseorang.

Beberapa pria berbaju hitam segera mengelilingi kami.

Mereka terus membalas tembakan sambil membentuk barisan di sekeliling kami.

Aku tidak sanggup melihat semua itu.

Tanpa sadar aku memeluk tubuh pria di sampingku.

Tubuhku gemetar hebat.

Ia tidak mendorongku.

Sebaliknya, tangannya justru menarikku semakin dekat.

Kami berlari menuju halaman belakang.

Sebuah mobil hitam sudah menunggu.

"Masuk."

Aku segera masuk.

Pria itu duduk di sampingku.

Mobil langsung melaju meninggalkan tempat itu.

Aku mengatur napas yang masih berantakan.

Tanganku terus gemetar.

Aku hendak membuka jendela.

"Jangan."

Tangannya menahan pergelangan tanganku.

Aku mengurungkan niat.

Mobil kembali sunyi.

Ia menyandarkan kepalanya ke jok.

Pistol itu masih berada di tangan kanannya.

"Apakah kau bisa berbahasa Italia?" tanyanya tiba-tiba.

"Bisa."

"Dari mana?"

"Ayah mengajariku."

Ia mengangguk pelan.

Aku menarik napas panjang.

"Terima kasih."

Ia tidak menjawab.

"Kalau bukan karena kau, mungkin aku sudah mati."

"Tidak perlu berterima kasih."

Ia membuka mata.

Tatapannya lurus kepadaku.

"Sejak awal kaulah target mereka."

Dadaku langsung mencelos.

"Apa maksudmu?"

"Kau diculik karena dirimu."

"Tapi aku baru tiba di Italia."

Ia tidak menjawab.

Kami saling berpandangan beberapa saat.

Baru kali itu aku benar-benar melihat wajahnya.

Rahangnya tegas.

Rambut hitamnya tersisir rapi.

Dan matanya...

Biru.

Sangat biru.

"Entah aku harus mengatakan ini atau tidak, Nona Laurent."

Aku langsung membeku.

"Bagaimana kau tahu namaku?"

Ia kembali memilih diam.

Mobil mulai melambat.

Gerbang besi hitam berdiri menjulang di depan kami.

Lampu sorot menerangi ukiran besar di bagian atasnya.

Tenuta Bellucci.

Nama itu membuat napasku tercekat.

Nama yang sama dengan hotel tempatku menginap.

Nama yang sama dengan yayasan yang mengundangku ke Italia.

Mobil melewati gerbang perlahan.

Rumah-rumah besar berdiri berjajar di balik pepohonan.

Beberapa pria bersenjata memberi hormat saat mobil kami melintas.

Aku menoleh ke arah pria di sampingku.

Rasa takut kembali memenuhi dadaku.

"Tempat apa ini?"

Ia akhirnya menoleh.

Tatapannya tetap setenang tadi.

"Rumah keluarga Bellucci."

Aku menelan ludah.

"Lalu... siapa kau sebenarnya?"

Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah besar.

Ia membuka pintu mobil.

Sebelum turun, ia menoleh kepadaku.

"Mattheo Bellucci."

Aku membeku.

Pria itu melanjutkan ucapannya dengan tenang.

"Dan aku adalah tunanganmu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 100 Evelyn

    “Kau benar-benar mirip ibumu, Evelyn.”Aku tidak langsung memahami apa yang baru saja kudengar.Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat.Diculik.Dibawa ke tempat bawah tanah yang bahkan tidak kuketahui keberadaannya.Mendengar bahwa ayahku mungkin tidak meninggal seperti yang selama ini kukira.Kemudian mengetahui bahwa Mattheo memiliki paman yang selama ini dianggap tidak ada.Dan sekarang—Don Giovanni berdiri di hadapanku.Menatapku.Lalu mengatakan bahwa aku mirip dengan ibuku.“Apa?”Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.Mattheo langsung berdiri sedikit di depanku.Tubuhnya seperti sebuah dinding yang sengaja ditempatkan untuk menghalangi siapa pun mendekatiku.Namun aku masih bisa melihat Don Giovanni dari sisi bahunya.Pria tua itu tidak menjawab.Tatapannya masih tertuju kepadaku.Terlalu lama.Seolah-olah ia

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 99 Mattheo

    “Mattheo... siapa itu?”Evelyn masih berada di bawah lenganku.Tubuhnya menempel erat padaku ketika suara tembakan kembali terdengar dari kejauhan.Dor!Aku menariknya semakin dekat ke dinding batu.“Diam di sini.”“Mattheo.”Aku menatapnya.“Aku tidak akan pergi jauh.”“Kau mengenal suara itu.”Aku terdiam.Tentu saja aku mengenalnya.Terlalu mengenalnya.Suara itu sudah mengisi masa kecilku.Suara yang membuat seluruh anggota keluarga Bellucci menundukkan kepala.Suara yang selama ini menjadi simbol kekuasaan.Don Giovanni.Kakekku.Namun bagaimana mungkin suaranya berada di tempat ini?Di bangunan tua yang seharusnya tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga kami.“Kau mengenalnya, bukan?” Evelyn kembali bertanya.Aku mengangguk pelan.“Ya.”“Siapa?”Aku menarik napas.“Don Giovanni.”Mata Evelyn langsung membesar.“Kakekmu?”“Ya.”“Kenapa dia ada di sini?”“Aku belum tahu.”Itulah jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.Aku belum tahu.Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 98 Mattheo

    “MATTHEO!”Suara Evelyn kembali terdengar.Tidak keras.Namun cukup.Cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergerak sebelum pikiranku sempat mengambil keputusan.Aku berlari.Tidak peduli apa yang baru saja dikatakan Dante.Tidak peduli siapa sebenarnya dia.Tidak peduli rahasia apa yang selama ini disembunyikan keluargaku.Satu hal lebih penting daripada semuanya.Evelyn.“MATTHEO!”Aku mengikuti suara itu melewati lorong panjang di bawah tanah.Dinding batu di kanan dan kiriku lembap.Lampu-lampu tua yang menempel di langit-langit berkedip beberapa kali.Tempat ini seperti labirin.Aku tidak tahu sudah berapa lama Dante menggunakan bangunan ini.Namun jelas, dia mengenalnya jauh lebih baik daripada aku.“Evelyn!”“Mattheo!”Aku berhenti.Suara itu datang dari sebelah kanan.Aku langsu

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 97 Mattheo

    “MATTHEO! JANGAN MASUK!”Suara Evelyn menggema dari dalam bangunan.Seluruh tubuhku langsung menegang.Tidak.Aku tidak mungkin salah mendengarnya.Itu Evelyn.“Evelyn!”Aku bergerak maju.Namun baru dua langkah, Luke langsung menarik lenganku.“Tuan!”Aku menoleh tajam.“Lepaskan.”“Jangan masuk!”“Evelyn ada di dalam.”“Kami tahu.”“Kalau begitu, apa yang masih kau lakukan?”Luke tidak melepaskan tatapannya dariku.“Pesan tadi jelas mengatakan jangan masuk melalui pintu depan.”Aku menatap bangunan tua itu.Pintu utama berada tepat di hadapanku.Terbuka.Sedikit.Gelap.Dan terlalu sunyi.Sial.Aku benci mengakuinya, tetapi Luke benar.Jika Dante benar-benar mengirimkan pesan itu, berarti pintu d

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 96 Mattheo

    “Selamat malam, Mattheo.”Aku membeku.Suara itu.Suara yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar.Namun beberapa suara tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan.Kau bisa mencoba melupakannya.Menguburnya.Membiarkan waktu menenggelamkannya.Tapi ketika suara itu kembali terdengar...kau akan langsung tahu siapa pemiliknya.Rahangku mengeras.“Siapa kau?”Suara tawa pelan terdengar dari seberang telepon.“Kau masih sama.”“Jawab pertanyaanku.”“Tidak sabaran.”Tanganku mengepal.Di belakangku, Luke dan Anthonio saling menatap.Mereka tahu sesuatu sedang terjadi.Namun tidak ada yang berani berbicara.Aku kembali mendekatkan ponsel ke telinga.“Berikan Evelyn.”“Tenang saja.”Suaranya terdengar santai.Terlalu santai.“Dia masih hidup.”Jantungku seperti berhenti sesaat.Masih hidup.Berarti...Aku langsung membuang pikiran itu.“Kalau kau menyentuhnya—”“Ah.”Ia memotong ucapanku.“Mattheo Bellucci.”Nada suaranya berubah.“Kau masih suka mengancam orang.”“Aku akan mengulanginya s

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 95 Mattheo

    Malam itu terlalu tenang.Dan justru itu yang membuatku tidak menyukainya.Aku berdiri di depan jendela ruang kerja dengan segelas bourbon di tangan. Dari lantai dua, sebagian besar estate terlihat jelas.Lampu-lampu taman masih menyala.Beberapa pengawal berjaga di titik-titik yang sudah ditentukan.Semuanya tampak normal.Terlalu normal.Aku menyesap bourbon perlahan.Pikiranku seharusnya berada pada pekerjaan.Pada Manhattan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status