Home / Romansa / Terjebak dalam Dunia Bellucci / Bab 2 Italia, Aku datang!

Share

Bab 2 Italia, Aku datang!

Author: Sasha S.Y
last update publish date: 2026-06-17 14:23:49

Tiga hari kemudian aku sudah berada di dalam pesawat menuju Italia.

Aku mencoba membaca buku yang kubawa, tetapi tidak satu halaman pun berhasil kupahami. Pikiranku terus kembali pada rumah yang kutinggalkan.

Ayah sudah tiada.

Nathaniel memilih Sophia.

Dan rumah yang kutinggali sejak kecil kini bukan lagi milikku.

Mungkin karena itulah aku menerima undangan ini.

Bukan hanya untuk bekerja.

Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin dari semua kenangan yang terus mengejarku.

"Selamat datang di Italia."

Suara pramugari membuyarkan lamunanku.

Aku menarik koper dan berjalan keluar dari bandara.

Udara di luar terasa hangat. Orang-orang berlalu-lalang sambil berbicara dalam bahasa Italia yang terdengar begitu cepat di telingaku.

Aku berhenti beberapa detik.

Biasanya Ayah akan menelepon setiap kali aku tiba di kota atau negara lain.

Beliau selalu menanyakan hal yang sama.

Apakah aku sudah makan.

Apakah hotelku nyaman.

Apakah aku membawa obat.

Sekarang tidak akan ada lagi telepon seperti itu.

Aku menarik napas panjang.

"Aku baik-baik saja, Ayah."

Setidaknya itulah yang ingin kupercayai.

Aku memanggil sebuah taksi.

"Bellucci Grand Hotel," kataku dalam bahasa Italia.

Sopir itu mengangguk lalu memasukkan koperku ke bagasi.

Perjalanan menuju hotel memakan waktu hampir empat puluh menit.

Sepanjang jalan aku hanya melihat keluar jendela.

Gedung-gedung tua berdiri berdampingan dengan toko-toko kecil dan kafe yang ramai. Jalanannya dipenuhi orang yang berjalan santai, seakan hidup memang harus dinikmati dengan baik. 

"Pertama kali ke Italia?" tanya sopir itu.

"Ya."

"Tapi kau tidak terlihat seperti pertama kali. Kau begitu fasih berbahasa Italia." 

Aku tertawa kecil. "Hanya pernah mempelajarinya." 

"Bagus. Kau bisa menikmati liburanmu disini?"

"Aku datang untuk bekerja."

"Oh," Ia tersenyum kecil. "Semoga perjalananmu menyenangkan."

Aku membalas senyumnya pelan.

Semoga saja.

Setelah beberapa menit, mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah.

Bellucci Grand Hotel.

Aku mendongak.

Bangunannya jauh lebih besar daripada foto yang kulihat di internet.

Aku membayar ongkos taksi lalu masuk ke dalam hotel.

Begitu pintu otomatis terbuka, mataku langsung disambut lantai marmer mengilap, lampu kristal besar, dan deretan sofa mewah yang memenuhi lobi.

Aku sempat bertanya-tanya apakah aku salah masuk hotel.

Aku menghampiri meja resepsionis.

"Selamat sore. Apakah ada yang bisa kami bantu?"

"Ya, reservasi atas nama Laurent. Evelyn Laurent."

Wanita di balik meja itu mulai mengetik.

Beberapa detik berlalu.

Ia berhenti.

Lalu mengetik lagi.

"Maaf, Nona. Bisa diulangi namanya?"

"Evelyn Laurent."

Ia kembali memeriksa.

Kali ini lebih lama.

"Maaf, Nona. Nama Anda tidak ada di sistem kami."

"Apa?"

Aku buru-buru mengeluarkan surat undangan.

"Aku diundang tampil di Bellucci Foundation Gala. Di surat itu tercantum segala akomodasi sudah mereka bayarkan."

Ia membaca surat itu dengan teliti.

"Undangan ini memang asli."

"Nah, berarti benar, kan?"

"Iya, tetapi tidak ada reservasi kamar atas nama Anda, Nona."

Dadaku langsung terasa sesak.

Tolong.

Jangan ada masalah di hari pertama.

Aku menoleh ke hari yang mulai gelap. 

"Apa masih ada kamar kosong?"

"Ada. Namun hanya tersisa kamar premium."

Aku menelan ludah.

"Baiklah."

Dengan berat hati aku menyerahkan kartu debit tabunganku.

Jumlah yang harus kubayar membuatku hampir berubah pikiran.

Sayangnya, aku tidak punya pilihan lain.

Aku baru bisa mengembuskan napas lega setelah pintu kamar tertutup.

Koperku kubiarkan begitu saja di dekat pintu.

Aku menjatuhkan tubuh ke atas kasur.

"Bagus sekali, Evelyn."

Aku menutup wajah dengan bantal.

"Baru sehari dan kau sudah menghabiskan setengah tabunganmu."

Aku tertawa kecil.

Terdengar menyedihkan.

Kalau Ayah masih hidup, beliau pasti akan memarahiku karena tidak memastikan fasilitas hotel sebelum berangkat.

Atau mungkin beliau justru akan memesankan kamar yang lebih mahal.

Memikirkan itu membuat dadaku kembali sesak.

"Tidak bisa," ucapku. "Aku harus mencari udara segar." 

Aku segera bangkit, memasukkan ponsel dan dompetku ke tas kecil. 

Lalu keluar dari kamar hotel. 

Beberapa saat kemudian, aku sudah keluar dari hotel mewah itu.

Menyusuri jalan berbatu yang dipenuhi kafe kecil.

Italia ternyata lebih indah daripada yang kubayangkan.

Aroma kopi memenuhi udara.

Musik dari para pemain jalanan terdengar dari berbagai sudut kota.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kepalaku jauh terasa lebih ringan.

Di kota ini tidak ada Vivian.

Tidak ada Sophia.

Tidak ada Nathaniel.

Tidak ada orang yang mengenalku.

Aku hanyalah wanita asing yang sedang menikmati sore.

Aku membeli secangkir kopi lalu duduk di sebuah piazza.

Anak-anak berlarian mengejar burung merpati.

Seorang pria tua memainkan biola di sudut jalan.

Sepasang lansia berjalan sambil bergandengan tangan.

Tanpa sadar aku tersenyum.

Mungkin datang ke Italia memang keputusan yang tepat.

Namun tak lama senyumku mendadak menghilang. 

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Seolah seseorang sedang memperhatikanku.

Aku menoleh ke belakang.

Tidak ada siapa pun.

Mungkin hanya perasaanku.

Aku kembali berjalan.

Beberapa menit kemudian perasaan itu muncul lagi.

Kali ini lebih jelas.

Aku berhenti di depan etalase sebuah toko.

Melalui pantulan kaca, kulihat seorang pria berpakaian hitam berdiri beberapa meter di belakangku.

Aku langsung berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Aku mempercepat langkah.

Belok ke satu jalan.

Lalu jalan berikutnya.

Tetapi perasaan sedang diikuti itu tidak juga hilang.

Langit berubah semakin gelap. 

Aku memutuskan kembali ke hotel.

Saat melewati jalan yang lebih sepi, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tepat di depanku.

Ciiit!

Aku refleks mundur.

Jendela belakang mobil itu perlahan terbuka.

Seorang pria paruh baya menatapku tanpa berkedip.

Tatapannya dingin.

Ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Italia.

"Bawa dia."

Aku belum sempat memahami maksudnya.

Dua pria muncul dari belakang dan langsung mencengkeram kedua lenganku.

"Lepaskan!"

Aku meronta sekuat tenaga.

Salah satu dari mereka membekap mulutku.

Aku mencoba berteriak, tetapi suaraku tertahan di telapak tangannya.

Mereka menyeretku ke arah mobil.

Tasku terjatuh.

Salah satu sepatuku terlepas.

Tidak ada seorang pun yang datang membantu.

Aku didorong masuk ke kursi belakang.

Pintu langsung ditutup.

Mobil melaju meninggalkan jalan itu.

Pria di sampingku menatapku beberapa saat.

Lalu ia mengangkat daguku hingga mata kami bertemu.

Tatapannya membuat bulu kudukku berdiri.

"Akhirnya," ucapnya pelan dalam bahasa Inggris.

"Aku bisa bertemu denganmu."

Jantungku seakan berhenti berdetak.

Aku belum pernah melihat pria itu sebelumnya.

Siapa sebenarnya mereka?

Dan, akankah aku baik-baik saja? 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 100 Evelyn

    “Kau benar-benar mirip ibumu, Evelyn.”Aku tidak langsung memahami apa yang baru saja kudengar.Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat.Diculik.Dibawa ke tempat bawah tanah yang bahkan tidak kuketahui keberadaannya.Mendengar bahwa ayahku mungkin tidak meninggal seperti yang selama ini kukira.Kemudian mengetahui bahwa Mattheo memiliki paman yang selama ini dianggap tidak ada.Dan sekarang—Don Giovanni berdiri di hadapanku.Menatapku.Lalu mengatakan bahwa aku mirip dengan ibuku.“Apa?”Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.Mattheo langsung berdiri sedikit di depanku.Tubuhnya seperti sebuah dinding yang sengaja ditempatkan untuk menghalangi siapa pun mendekatiku.Namun aku masih bisa melihat Don Giovanni dari sisi bahunya.Pria tua itu tidak menjawab.Tatapannya masih tertuju kepadaku.Terlalu lama.Seolah-olah ia

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 99 Mattheo

    “Mattheo... siapa itu?”Evelyn masih berada di bawah lenganku.Tubuhnya menempel erat padaku ketika suara tembakan kembali terdengar dari kejauhan.Dor!Aku menariknya semakin dekat ke dinding batu.“Diam di sini.”“Mattheo.”Aku menatapnya.“Aku tidak akan pergi jauh.”“Kau mengenal suara itu.”Aku terdiam.Tentu saja aku mengenalnya.Terlalu mengenalnya.Suara itu sudah mengisi masa kecilku.Suara yang membuat seluruh anggota keluarga Bellucci menundukkan kepala.Suara yang selama ini menjadi simbol kekuasaan.Don Giovanni.Kakekku.Namun bagaimana mungkin suaranya berada di tempat ini?Di bangunan tua yang seharusnya tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga kami.“Kau mengenalnya, bukan?” Evelyn kembali bertanya.Aku mengangguk pelan.“Ya.”“Siapa?”Aku menarik napas.“Don Giovanni.”Mata Evelyn langsung membesar.“Kakekmu?”“Ya.”“Kenapa dia ada di sini?”“Aku belum tahu.”Itulah jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.Aku belum tahu.Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 98 Mattheo

    “MATTHEO!”Suara Evelyn kembali terdengar.Tidak keras.Namun cukup.Cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergerak sebelum pikiranku sempat mengambil keputusan.Aku berlari.Tidak peduli apa yang baru saja dikatakan Dante.Tidak peduli siapa sebenarnya dia.Tidak peduli rahasia apa yang selama ini disembunyikan keluargaku.Satu hal lebih penting daripada semuanya.Evelyn.“MATTHEO!”Aku mengikuti suara itu melewati lorong panjang di bawah tanah.Dinding batu di kanan dan kiriku lembap.Lampu-lampu tua yang menempel di langit-langit berkedip beberapa kali.Tempat ini seperti labirin.Aku tidak tahu sudah berapa lama Dante menggunakan bangunan ini.Namun jelas, dia mengenalnya jauh lebih baik daripada aku.“Evelyn!”“Mattheo!”Aku berhenti.Suara itu datang dari sebelah kanan.Aku langsu

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 97 Mattheo

    “MATTHEO! JANGAN MASUK!”Suara Evelyn menggema dari dalam bangunan.Seluruh tubuhku langsung menegang.Tidak.Aku tidak mungkin salah mendengarnya.Itu Evelyn.“Evelyn!”Aku bergerak maju.Namun baru dua langkah, Luke langsung menarik lenganku.“Tuan!”Aku menoleh tajam.“Lepaskan.”“Jangan masuk!”“Evelyn ada di dalam.”“Kami tahu.”“Kalau begitu, apa yang masih kau lakukan?”Luke tidak melepaskan tatapannya dariku.“Pesan tadi jelas mengatakan jangan masuk melalui pintu depan.”Aku menatap bangunan tua itu.Pintu utama berada tepat di hadapanku.Terbuka.Sedikit.Gelap.Dan terlalu sunyi.Sial.Aku benci mengakuinya, tetapi Luke benar.Jika Dante benar-benar mengirimkan pesan itu, berarti pintu d

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 96 Mattheo

    “Selamat malam, Mattheo.”Aku membeku.Suara itu.Suara yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar.Namun beberapa suara tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan.Kau bisa mencoba melupakannya.Menguburnya.Membiarkan waktu menenggelamkannya.Tapi ketika suara itu kembali terdengar...kau akan langsung tahu siapa pemiliknya.Rahangku mengeras.“Siapa kau?”Suara tawa pelan terdengar dari seberang telepon.“Kau masih sama.”“Jawab pertanyaanku.”“Tidak sabaran.”Tanganku mengepal.Di belakangku, Luke dan Anthonio saling menatap.Mereka tahu sesuatu sedang terjadi.Namun tidak ada yang berani berbicara.Aku kembali mendekatkan ponsel ke telinga.“Berikan Evelyn.”“Tenang saja.”Suaranya terdengar santai.Terlalu santai.“Dia masih hidup.”Jantungku seperti berhenti sesaat.Masih hidup.Berarti...Aku langsung membuang pikiran itu.“Kalau kau menyentuhnya—”“Ah.”Ia memotong ucapanku.“Mattheo Bellucci.”Nada suaranya berubah.“Kau masih suka mengancam orang.”“Aku akan mengulanginya s

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 95 Mattheo

    Malam itu terlalu tenang.Dan justru itu yang membuatku tidak menyukainya.Aku berdiri di depan jendela ruang kerja dengan segelas bourbon di tangan. Dari lantai dua, sebagian besar estate terlihat jelas.Lampu-lampu taman masih menyala.Beberapa pengawal berjaga di titik-titik yang sudah ditentukan.Semuanya tampak normal.Terlalu normal.Aku menyesap bourbon perlahan.Pikiranku seharusnya berada pada pekerjaan.Pada Manhattan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status