Mag-log inTiga hari kemudian aku sudah berada di dalam pesawat menuju Italia.
Aku mencoba membaca buku yang kubawa, tetapi tidak satu halaman pun berhasil kupahami. Pikiranku terus kembali pada rumah yang kutinggalkan.
Ayah sudah tiada.
Nathaniel memilih Sophia.
Dan rumah yang kutinggali sejak kecil kini bukan lagi milikku.
Mungkin karena itulah aku menerima undangan ini.
Bukan hanya untuk bekerja.
Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin dari semua kenangan yang terus mengejarku.
"Selamat datang di Italia."
Suara pramugari membuyarkan lamunanku.
Aku menarik koper dan berjalan keluar dari bandara.
Udara di luar terasa hangat. Orang-orang berlalu-lalang sambil berbicara dalam bahasa Italia yang terdengar begitu cepat di telingaku.
Aku berhenti beberapa detik.
Biasanya Ayah akan menelepon setiap kali aku tiba di kota atau negara lain.
Beliau selalu menanyakan hal yang sama.
Apakah aku sudah makan.
Apakah hotelku nyaman.
Apakah aku membawa obat.
Sekarang tidak akan ada lagi telepon seperti itu.
Aku menarik napas panjang.
"Aku baik-baik saja, Ayah."
Setidaknya itulah yang ingin kupercayai.
Aku memanggil sebuah taksi.
"Bellucci Grand Hotel," kataku dalam bahasa Italia.
Sopir itu mengangguk lalu memasukkan koperku ke bagasi.
Perjalanan menuju hotel memakan waktu hampir empat puluh menit.
Sepanjang jalan aku hanya melihat keluar jendela.
Gedung-gedung tua berdiri berdampingan dengan toko-toko kecil dan kafe yang ramai. Jalanannya dipenuhi orang yang berjalan santai, seakan hidup memang harus dinikmati dengan baik.
"Pertama kali ke Italia?" tanya sopir itu.
"Ya."
"Tapi kau tidak terlihat seperti pertama kali. Kau begitu fasih berbahasa Italia."
Aku tertawa kecil. "Hanya pernah mempelajarinya."
"Bagus. Kau bisa menikmati liburanmu disini?"
"Aku datang untuk bekerja."
"Oh," Ia tersenyum kecil. "Semoga perjalananmu menyenangkan."
Aku membalas senyumnya pelan.
Semoga saja.
Setelah beberapa menit, mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah.
Bellucci Grand Hotel.
Aku mendongak.
Bangunannya jauh lebih besar daripada foto yang kulihat di internet.
Aku membayar ongkos taksi lalu masuk ke dalam hotel.
Begitu pintu otomatis terbuka, mataku langsung disambut lantai marmer mengilap, lampu kristal besar, dan deretan sofa mewah yang memenuhi lobi.
Aku sempat bertanya-tanya apakah aku salah masuk hotel.
Aku menghampiri meja resepsionis.
"Selamat sore. Apakah ada yang bisa kami bantu?"
"Ya, reservasi atas nama Laurent. Evelyn Laurent."
Wanita di balik meja itu mulai mengetik.
Beberapa detik berlalu.
Ia berhenti.
Lalu mengetik lagi.
"Maaf, Nona. Bisa diulangi namanya?"
"Evelyn Laurent."
Ia kembali memeriksa.
Kali ini lebih lama.
"Maaf, Nona. Nama Anda tidak ada di sistem kami."
"Apa?"
Aku buru-buru mengeluarkan surat undangan.
"Aku diundang tampil di Bellucci Foundation Gala. Di surat itu tercantum segala akomodasi sudah mereka bayarkan."
Ia membaca surat itu dengan teliti.
"Undangan ini memang asli."
"Nah, berarti benar, kan?"
"Iya, tetapi tidak ada reservasi kamar atas nama Anda, Nona."
Dadaku langsung terasa sesak.
Tolong.
Jangan ada masalah di hari pertama.
Aku menoleh ke hari yang mulai gelap.
"Apa masih ada kamar kosong?"
"Ada. Namun hanya tersisa kamar premium."
Aku menelan ludah.
"Baiklah."
Dengan berat hati aku menyerahkan kartu debit tabunganku.
Jumlah yang harus kubayar membuatku hampir berubah pikiran.
Sayangnya, aku tidak punya pilihan lain.
Aku baru bisa mengembuskan napas lega setelah pintu kamar tertutup.
Koperku kubiarkan begitu saja di dekat pintu.
Aku menjatuhkan tubuh ke atas kasur.
"Bagus sekali, Evelyn."
Aku menutup wajah dengan bantal.
"Baru sehari dan kau sudah menghabiskan setengah tabunganmu."
Aku tertawa kecil.
Terdengar menyedihkan.
Kalau Ayah masih hidup, beliau pasti akan memarahiku karena tidak memastikan fasilitas hotel sebelum berangkat.
Atau mungkin beliau justru akan memesankan kamar yang lebih mahal.
Memikirkan itu membuat dadaku kembali sesak.
"Tidak bisa," ucapku. "Aku harus mencari udara segar."
Aku segera bangkit, memasukkan ponsel dan dompetku ke tas kecil.
Lalu keluar dari kamar hotel.
Beberapa saat kemudian, aku sudah keluar dari hotel mewah itu.
Menyusuri jalan berbatu yang dipenuhi kafe kecil.
Italia ternyata lebih indah daripada yang kubayangkan.
Aroma kopi memenuhi udara.
Musik dari para pemain jalanan terdengar dari berbagai sudut kota.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kepalaku jauh terasa lebih ringan.
Di kota ini tidak ada Vivian.
Tidak ada Sophia.
Tidak ada Nathaniel.
Tidak ada orang yang mengenalku.
Aku hanyalah wanita asing yang sedang menikmati sore.
Aku membeli secangkir kopi lalu duduk di sebuah piazza.
Anak-anak berlarian mengejar burung merpati.
Seorang pria tua memainkan biola di sudut jalan.
Sepasang lansia berjalan sambil bergandengan tangan.
Tanpa sadar aku tersenyum.
Mungkin datang ke Italia memang keputusan yang tepat.
Namun tak lama senyumku mendadak menghilang.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Seolah seseorang sedang memperhatikanku.
Aku menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa pun.
Mungkin hanya perasaanku.
Aku kembali berjalan.
Beberapa menit kemudian perasaan itu muncul lagi.
Kali ini lebih jelas.
Aku berhenti di depan etalase sebuah toko.
Melalui pantulan kaca, kulihat seorang pria berpakaian hitam berdiri beberapa meter di belakangku.
Aku langsung berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Aku mempercepat langkah.
Belok ke satu jalan.
Lalu jalan berikutnya.
Tetapi perasaan sedang diikuti itu tidak juga hilang.
Langit berubah semakin gelap.
Aku memutuskan kembali ke hotel.
Saat melewati jalan yang lebih sepi, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tepat di depanku.
Ciiit!
Aku refleks mundur.
Jendela belakang mobil itu perlahan terbuka.
Seorang pria paruh baya menatapku tanpa berkedip.
Tatapannya dingin.
Ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Italia.
"Bawa dia."
Aku belum sempat memahami maksudnya.
Dua pria muncul dari belakang dan langsung mencengkeram kedua lenganku.
"Lepaskan!"
Aku meronta sekuat tenaga.
Salah satu dari mereka membekap mulutku.
Aku mencoba berteriak, tetapi suaraku tertahan di telapak tangannya.
Mereka menyeretku ke arah mobil.
Tasku terjatuh.
Salah satu sepatuku terlepas.
Tidak ada seorang pun yang datang membantu.
Aku didorong masuk ke kursi belakang.
Pintu langsung ditutup.
Mobil melaju meninggalkan jalan itu.
Pria di sampingku menatapku beberapa saat.
Lalu ia mengangkat daguku hingga mata kami bertemu.
Tatapannya membuat bulu kudukku berdiri.
"Akhirnya," ucapnya pelan dalam bahasa Inggris.
"Aku bisa bertemu denganmu."
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Aku belum pernah melihat pria itu sebelumnya.
Siapa sebenarnya mereka?
Dan, akankah aku baik-baik saja?
Sesuatu menggeliat di tubuhku. "Lepaskan aku," ucapnya lirih. Aku langsung membuka mataku. Betapa terkejutnya aku mendapati Evelyn berbaring di atasku. Dan tanganku memeluknya. Aku… memeluknya? Aku segera melepaskan pelukanku. "Apa yang kau lakukan?" Ia bangkit dan merapikan pakaiannya. "Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau memelukku seperti itu," balasnya. "Ah..." Aku bingung harus berkata apa. "Kau mengigau lalu mendadak memelukku," lanjutnya. "Aku? Mengigau?" "Angela... Angela," ucapnya.Mataku terbelalak mendengar nama itu keluar dari mulutnya."Tolong jangan tinggalkan aku…" imbuhnya. "Itu yang kau katakan." "Aku ti....""Tidak apa?" Aku terdiam. "Ahhh… kau begitu menyukai gadis itu ya? Ada masa lalu apa antara kalian berdua?" godanya. "Tidak ada." "Hmmm... sungguh?" Ia mengeluarkan jari telunjuknya. Membuat gestur menunjuk. Aku mendekatkan jari telunjukku padanya. Ketika jariku begitu dekat. Ia malah menarik jarinya. "Kau pasti bohong." Jari telunjukny
"Ini pesanan Anda, Donna."Fabio meletakkan whiskey di dekatku."Terima kasih, Fabio."Aku segera menyesapnya."Apa yang membuat Donna tidak nyaman?"Aku menggeleng."Sesuatu hal yang tidak bisa kuceritakan."Ia mengangguk.Lalu mengelap beberapa gelas."Apa ada hubungannya dengan Don Mattheo?"Aku menatapnya."Apa sejelas itu?"Ia mengangguk lagi."Bagaimanapun, Anda sudah resmi suami istri. Apa pun masalah yang dihadapi Anda harus menjadi penyemangat untuk Don Mattheo."Fabio jelas bisa semudah itu berbicara karena ia tidak tahu bahwa pernikahan ini hanya kontrak.Aku hanya memberinya senyuman singkat."Anda disini rupanya."Aku menoleh ke sumber suara.Anthonio berjalan mendekatiku.Ia meletakkan setumpuk berkas di hadapanku.&nb
Pintu kamar mandi tertutup pelan. Aku tidak langsung membuka shower. Kedua telapak tanganku bertumpu di wastafel. Kupandangi bayanganku sendiri di cermin. Bekas luka di perutku kembali terasa berdenyut. Sial. Aku terlalu banyak bergerak hari ini. Namun, rasa sakit itu jauh lebih mudah kutahan dibandingkan satu hal lain. Evelyn Laurent. Aku memejamkan mata sejenak. Semenjak ia menyetir untukku ketika meninggalkan Tenuta Bellucci. Dan semakin parah ketika aku tahu ia rela pergi ke kota dan menjual jam tangan edisi terbatas hanya untuk membeli obat bagiku. Padahal... Ia bisa saja meninggalkanku mati di safe house. Ia memiliki kesempatan. Kesempatan terbaik untuk melarikan diri. Tetapi... Ia kembali. Membalut lukaku. Menurunkan demamku. Bahkan rela tidur di sofa semalaman. Aku mengembuskan napas panjang. Wanita bodoh. Atau... terlalu baik. Dan kedua sifat itu sangat berbahaya di duniaku ini. Tok. Tok. Tok. Tiga ketukan pendek terdengar dari balik pintu. Han
Ia mengangkat tubuhku begitu saja melewati pagar balkon, lalu menurunkanku kembali setelah kami berada di dalam kamar.Pintu kaca ditutup rapat di belakang kami.Aku langsung memutar tubuh."Apa-apaan kau ini?"Mattheo bahkan tidak terlihat merasa bersalah."Apa kau memang punya kebiasaan menguping?""Aku tidak menguping.""Sungguh?""Aku hanya ingin tahu suara apa itu."Tatapan matanya datar."Alasannya berbeda, tapi hasilnya tetap sama."Aku mendengus kesal."Sudah kubilang aku tidak menguping."Mattheo melipat kedua tangan di depan dada."Lalu kenapa kau sampai memanjat pagar balkon?"Aku membuka mulut.Namun...Aku tidak punya jawaban yang masuk akal."Aku hanya penasaran.""Jadi memang menguping.""Bukan!"Ia menaikkan satu alis."Kau terlihat sangat tertarik."Aku memalingkan wajah."Jangan memelintir ucapanku."Beberapa detik kami saling menatap.Kemudian Mattheo berkata dengan nada yang sama datarnya."Apa kau belum pernah melihat pasangan berhubungan?"Aku membeku."...Apa?""
Aku berbalik dan menatap pria itu. Pria itu bertubuh tinggi sekitar 180 sentimeter. Bahunya lebar, tetapi tubuhnya lebih ramping dan atletis. Rambutnya berwarna cokelat gelap dan sedikit berantakan.Aku belum pernah bertemu pria ini. Siapa dia?Langkahnya mendekat ke arahku. "Kau belum menjawab pertanyaanku." "Apa aku harus menjawabmu? Aku bahkan tidak mengenalmu," balasku. Sepasang mata hazel keemasan menatapku dengan hangat. Senyuman di wajahnya mengembang dan memperlihatkan lesung pipi tipisnya. "Aku suka jawabanmu." Tawanya pecah."Apa ada yang lucu?" "Iya. Nasib Mattheo memang tidak bisa ditebak." Aku menatapnya dengan bingung. Ia menatapku balik. Sebelum mengusap sisa air mata di sudut matanya karena banyak tertawa. "Maafkan aku, Nyonya Bellucci." "Perkenalkan, aku Christian." Ia mengulurkan tangannya padaku. Aku menerima ulurannya. Dan pria itu mencium punggung tanganku. "Senang bertemu dengan anda, Nyonya.""Iya, aku juga.""Apa yang kau lakukan di sini, C?" S
"Bersediakah Tuan Mattheo Bellucci menerima Nona Evelyn Laurent sebagai istri sah Anda, melindunginya, menghormatinya, dan menjadikannya pendamping hidup sesuai hukum yang berlaku?""Bersedia."Tatapannya kini beralih kepadaku."Dan Nona Evelyn Laurent..."Suara itu membuat tenggorokanku mendadak kering."Apakah Anda bersedia menerima Tuan Mattheo Bellucci sebagai suami Anda?"Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri."Aku...."Napasku serasa tercekat."...bersedia.""De







