Share

Bab 2

Author: Other_side
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-17 01:53:44

Sera terpaku menatap wajah dingin itu. Otaknya mendadak kosong tak mampu mencerna situasi. Bagaiman dia bisa mengetahui nama belakangnya. Nama belakang yang sudah Sera hilangkan sejak lama.

Hanya orang-orang dari masa lalunya yang mengetahui asal usul Sera. Sera sungguh tidak mengingat pernah mengenal seorang Rey. Namun, beberapa detik selanjutnya Sera membulatkan mata. Mata elang itu mengingatkannya pada seseorang. Mungkinkah ….

“Sudah ingat?” Senyum miring terbentuk saat Rey menyadari Sera telah mengingat sesuatu.

“Kamu … Shaka?” tanya Sera dengan jantung yang berdebar makin keras. Takut-takut jika tebakannya benar.

Sementara Rey kembali memasang wajah dinginnya. Tidak sedikitpun melepaskan pandangan dari wajah cantik Sera.

“Ternyata begitu mudah bagimu melupakanku.” Dengan nada dingin meremehkan kentara sekali Rey sedang menyindir Sera.

“Aku … bukan begitu. Aku hanya ….” Sera menunduk tidak sanggup meneruskan kata-katanya. “Aku minta maaf.”

“Maaf? Untuk apa?” Rey bersedekap dada menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya tanpa melunturkan senyum miring yang tidak sampai mata. Orang awam tidak akan menyadari ada kemarahan yang begitu besar dari sorot matanya.

Sera memalingkan wajah tidak sanggup menatap Rey. Dia sadar pernah menyakiti hati Rey. Tidak seharusnya dia memanfaatkan Rey sepuluh tahun lalu.

Sepuluh tahun lalu Sera adalah primadona sekolah. Anak konglomerat ternama yang terkenal akan kecantikannya yang menawan. Banyak lelaki yang mengejarnya. Namun, Sera yang memiliki trust issue pada lelaki selalu menolak mereka.

“Sera! Tunggu!” Seorang remaja SMA berlari memanggil teman perempuannya.

“Sera, aku dari tadi nungguin kamu loh!” lanjut remaja itu.

“Ada apa?” tanya Sera dengan nada malas.

“Sera aku beneran suka sama kamu, tolong terima aku jadi pacar kamu ya, please!” pinta remaja bernama Gio itu memohon.

“Maaf, Gio. Sudah berulang kali aku katakan aku tidak bisa,” tolak Sera halus.

“Tapi kenapa? Aku kurang apa? Kamu lihat aku tampan dan kaya. Kamu mau aku seperti apa akan aku lakukan buat kamu asal kamu terima cinta aku ya!” pinta Gio sedikit memaksa.

“Kamu nggak kurang apapun, Gio. Hanya aku yang tidak bisa. Maaf ya!” Sera kembali berlalu tidak lagi memedulikan Gio.

Gio terdiam menahan amarah di dada. Sera adalah gadis idamannya. Berulang kali Gio menyatakan perasaan dan harus bersaing dengan siswa lain, tapi Sera tetap menolaknya. Gio yakin dirinya tidak memiliki kekurangan. Seharusnya Sera merasa beruntung diinginkan lelaki sepertinya.

“Sera! Aku janji suatu saat bakal milikin kamu! Ingat itu!!” teriak Gio.

Sera sudah bosan dengan hal-hal semacam itu. Sudah banyak teman laki-laki yang menyatakan perasaan padanya sehingga Sera tidak terlalu menggubris Gio. Selain cantik Sera juga adalah orang yang baik dan berprestasi sehingga banyak yang mengidolakannya.

Lagi-lagi Sera terpaksa harus melewati koridor belakang sekolah untuk menuju kelas hanya karena ingin menghindari orang seperti Gio. Di sana Sera tidak sengaja melihat sekelompok berandalan sekolah yang sedang merundung seseorang. Sudah sering mereka membuat ulah. Biasanya Sera tidak peduli karena enggang berurusan dengan mereka. Namun, entah kenapa kali ini Sera justru memilih mendekat. Tidak tega mendengar suara tak berdaya itu.

“Hey! Hentikan! Jika tidak aku akan melaporkan kalian!” Seruan Sera menghentikan para perundung itu.

“Eh, ada Sera cantik. Jangan galak-galak dong, nanti abang takut!” ucap salah seorang perundung menggoda Sera.

“Cih, pergi sana!!”

Ketua para perundung itu adalah penggemar Sera. Tentu saja dia harus menjaga image di depan Sera, jadi lebih baik dia segera meninggalkan tempat itu.

“Kamu nggak papa?” tanya Sera sembari membantu remaja korban perundungan itu berdiri.

“Nggak papa. Terima kasih,” jawab remaja itu tidak berani menatap Sera.

“Nama kamu siapa?”

“Shaka,” jawab remaja bernama Shaka itu malu-malu.

Hening, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Sera merasa kasihan juga gemas melihat Shaka. Sepertinya Shaka bukan dari keluarga berada. Penampilannya culun dengan baju lusuh serta kacamata yang membingkai mata elangnya. Pantas saja Shaka menjadi sasaran empuk untuk dibully.

“Kenapa kamu nggak melawan waktu mereka merundung kamu?”

“A-aku nggak berani, mereka punya kuasa,” jawab Shaka terus menunduk. Sangat grogi bisa duduk di samping seorang Sera.

Shaka memang murid beasiswa di sekolah elit ini. Asal usulnya tidak jelas. Rumahnya di pemukiman kumuh. Membuat Shaka dipandang sebelah mata di sekolah ini. Tidak ada yang mau berteman dengannya.

“Hey, lihat aku! Kita semua sama di sini. Kamu nggak perlu takut. Mulai sekarang kita berteman ya, jadi nggak akan ada lagi yang berani gangguin kamu, gimana?” Sera menangkup wajah Shaka sebagai bentuk empati, membuat Shaka otomatis menatap langsung pada mata indah Sera.

Shaka terpaku tidak bisa merespon apa yang terjadi. Bahkan Shaka tidak bisa mendengar apa yang Sera katakan. Dia hanya terfokus pada wajah cantik itu. Entah bagaimana wajahnya memerah dan terasa hangat.

“Shaka, ada apa dengan wajahmu? Aku rasa sebaiknya kita segera ke ruang kesehatan,” ucap Sera khawatir.

“Ah, tidak. A-aku baik.” Shaka merasa malu.

Setelah kejadian itu Sera semakin dekat dengan Shaka. Sera merasa nyaman dengan Shaka yang sering menemaninya. Menurut Sera Shaka berbeda dengan kebanyakan lelaki. Sampai suatu saat Gio bersikeras memaksa Sera menerima cintanya. Sera yang buntu dan merasa terganggu membuat keputusan dengan menjadikan Shaka sebagai pacarnya.

Hal tersebut berhasil membuat Gio beserta penggemar Sera yang lain berhenti mengganggunya. Hubungan itu berjalan selama kurang lebih satu tahun. Sayangnya Sera hanya menganggap hubungannya dengan Shaka sebagai sebuah sandiwara. Sementara Shaka yang mengira Sera benar-benar menyukainya memberikan seluruh hatinya pada Sera. Sampai saat kelulusan tiba Shaka harus dibuat kecewa.

“Shaka, sebelumnya maafkan aku. Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini,” ungkap Sera tiba-tiba usai acara kelulusan.

“A-apa?! Tapi kenapa? Aku salah apa?” Shaka terkejut sekaligus bingung.

“Kamu nggak salah apa-apa, Shaka. Hanya … hanya aku yang tidak mencintai kamu. Maaf.” Sera harus terlihat tegar untuk meyakinkan Shaka meski hatinya tidak tahu kenapa terasa sesak.

Tanpa menunggu respon Shaka, Sera meninggalkannya begitu saja. Membuat Shaka tanpa sadar menjatuhkan air mata merasa dicampakkan. Satu kata yang menggambarkan situasi ini, tega.

Setelah hari itu Sera tidak pernah lagi bertemu Shaka. Sera menyesal, tapi dia juga tidak ingin mempermainkan hati Shaka lebih dalam lagi. Dan kini, setelah banyak perubahan dalam hidupnya Sera bertemu kembali dengan masa lalunya dengan cerita yang telah berubah pula.

“Aku dengar kau tidak pernah memiliki kekasih.” Suara bariton itu memecah lamunan Sera, membuat Sera kembali pada realita.

“Shaka, aku benar-benar minta maaf pernah mempermainkan kamu. Aku menyesal, tapi tolong lupakan cerita yang telah lalu. Anggap tidak pernah ada sesuatu di antara kita, jadi aku harap kita bisa memulai semua dari awal sebagai atasan dan bawahan,” ungkap Sera begitu memahami situasi.

Rey terdiam tanpa ekspresi. Tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari wajah ayu itu. Menyembunyikan api yang tiba-tiba tersulut dalam hatinya. Apa katanya tadi, lupakan? Semudah itu dia menghancurkan hatinya dan sekarang memintanya melupakan? Apa dia tidak punya hati?

“Atasan dan bawahan ya …? Baiklah mari kita wujudkan keinginanmu.” Senyum miring kembali terbit di bibir Rey.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 23

    Kedatangan Rey mengalihkan atensi Sera dan Leon. Suasana yang sebelumnya santai menjadi sedikit tegang karena aura Rey yang dominan.“Selamat pagi, Pak Rey!” Sera berdiri menyambut kedatangan Rey setelah beberapa saat terdiam karena terkejut.Melihat sekilas pada Sera, Rey kemudian beralih pada Leon. Tanpa bersuara, tatapan Rey membuat Leon tersadar akan situasi.Leon berdiri turut memberi salam. “Selamat pagi, Tuan Rey!” Rey hanya diam, sedikit menganggukkan kepala lalu berjalan menuju kursinya. Melihat itu, Sera dan Leon segera menghampiri Rey di mejanya.“Pak Rey, ini berkas-berkas yang perlu Anda tinjau terkait kerjasama dengan Star Company.” Sera menyerahkan beberapa berkas yang Leon bawa.“Silahkan duduk, Tuan Leon!” lanjut Sera beralih pada Leon, mempersilahkannya duduk menghadap Rey.Kembali ke mode profesional, Leon menjelaskan detail-detail yang Star Company butuhkan dari Hardian Group. Public speaking-nya sangat baik. Dia sudah seperti CEO yang memimpin perusahaan saja. N

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 22

    “Jangan mengantar jemputku lagi, Abian!” pinta Sera pelan begitu keduanya sampai di depan Hardian Group. Tidak langsung masuk, Sera dan Abian masih berdiri di dekat mobil menikmati udara pagi yang masih segar.“Kenapa?” “Apa kau tidak lelah atau bosan?” Sera menjeda kalimatnya, melihat sekitar area parkir yang masih lengang. “Aku merasa, aku sudah terlalu merepotkanmu “Abian tersenyum. “Aku yang menawarkan, bukan kamu yang minta, jadi tidak perlu merasa seperti itu.”Sera melengos. Bukan itu yang dia maksud. Sayangnya Abian sama sekali tidak menyadari penolakan Sera.Sejujurnya Sera tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Dia lebih suka pulang pergi dengan kendaraan umum. Dimana dia bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin dia sudah terlalu nyaman tanpa orang lain.“Sudah, tidak perlu membahas hal itu lagi. Cukup nikmati fasilitas dariku. Kalau aku sibuk atau merasa repot, aku akan bilang padamu.” Abian menepuk-nepuk kepala Sera pelan.Rasanya percuma bicara dengan Abian

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 21

    “Ini sudah malam, menginaplah di sini!” Abian tidak tega jika Sera harus pulang sendiri malam-malam begini. Sementara keadaannya yang baru pulih belum memungkinkan untuk mengantar Sera pulang.“Tidak, Abian. Aku pulang saja. Mama sendirian di rumah, aku tidak tega,” tolak Sera halus.“Baiklah, aku tidak bisa memaksa. Kalau begitu tunggulah sebentar, aku akan memanggil sopir untuk mengantarmu.” Tanpa menunggu persetujuan Sera Abian segera menghubungi sopir pribadinya.“Tidak perlu, Abian. Aku bisa naik taksi,” tolak Sera lagi tidak ingin merepotkan.“Kali ini aku memaksa, Sera. Aku yang mengajakmu keluar, jadi aku harus memastikanmu sampai di rumah dengan selamat!” ucap Abian tegas tidak menerima penolakan. “Huh, baiklah.” Tidak ingin berdebat, Sera lebih memilih menuruti Abian. Hanya sekitar sepuluh menit sopir itu datang dan menunggunya di depan loby apartemen.***Hari masih sangat pagi, Sera bergegas menyiapkan sarapan untuk ibu dan dirinya sendiri. Di tengah kesibukannya Sera s

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 20

    “Siapa?” tanya Sera setelah memindai penampilan gadis di hadapannya.Gadis itu pun turut memperhatikan Sera. Keduanya sama-sama heran. Namun, perubahan ekspresi yang cepat dari gadis itu cukup membuat Sera terkejut.“Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?! Kenapa kau berada di apartemen kekasihku? Minggir!” Gadis itu berteriak, bahkan mendorong Sera.“Hey! Apa masalahmu? Kenapa mendorongku?!” Sera yang tidak siap sedikit oleng karena dorongan itu.Sera terdorong ke samping. Gadis itu masuk dengan leluasa bahkan sebelum Sera mempersilahkan.“Kau menghalangi jalanku!” ucap gadis itu ketus.Sera tidak menghalangi gadis itu. Dia hanya berdiri mengamati dari dekat pintu masuk. Membiarkannya berjalan kesana kemari mencari keberadaan Abian. “Abian! Abian!” Gadis itu terus berkeliling sambil memanggil nama Abian. “Huh.” Sera menghela napas melihat tingkah gadis itu. “Dia di ruang makan.”Gadis itu menoleh sejenak pada Sera. Tanpa ucapan terima kasih dia segera menuju ruang makan. Tidak me

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 19

    Sambil menunggu Abian bangun Sera berinisiatif merapikan apartemen Abian yang tampak berantakan. Setelah selesai Sera menuju dapur untuk memeriksa bahan makanan yang tersedia. Dari dalam lemari pendingin Sera menemukan ayam potong dan beberapa jenis sayur serta bahan makanan yang lain.Tak menunggu lama Sera segera mengeksekusi bahan-bahan itu menjadi masakan rumahan sederhana.“Lemari pendingin ini cukup lengkap untuk seorang pemuda yang tinggal sendiri,” monolog Sera heran melihat isi kulkas yang cukup komplit.Selesai berkutat di dapur dia kembali menemani Abian. Tak kuasa menahan kantuk Sera tertidur dengan posisi duduk di atas karpet berbulu dengan bantalan tepian ranjang tempat pemuda tengil itu berbaring.“Hari Minggu yang melelahkan,” keluh Sera sambil memandangi wajah tenang Abian sebelum matanya terpejam.Hampir satu jam keduanya berada dalam keheningan ruangan itu. Sampai dering panggilan dari ponsel Abian membangunkan pemiliknya. Sayangnya pemilik ponsel tidak bisa merespo

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 18

    “Sera, kenapa lama sekali?” tanya Abian begitu Sera kembali ke taman.“Dan … hey, ada apa dengan wajahmu? Apa ayah menakutimu?” lanjut Abian yang reflek menyentuh wajah Sera yang tampak murung.“Tidak … ayahmu baik,” jawab Sera tidak bersemangat. “Lalu kenapa?” Tanpa aba-aba Abian menangkup wajah Sera. “Ck.” Sera menepis tangan Abian. “Aku baik-baik saja, aku hanya lapar.” “Lapar? Kau yakin?” tanya Abian ragu. Sementara Sera hanya mengangguk sebagai jawaban.“Baiklah, ayo kita makan di luar! Dan ceritakan padaku apa yang ayah katakan.” Abian merangkul Sera dan menuntunnya menuju mobil.“Kau tidak perlu tahu urusan orang dewasa,” balas Sera sedikit bercanda.“Hey! Apa maksudmu? Aku sudah dewasa. Jangan menganggapku seperti anak kecil!” Abian memasang muka sebalnya tidak terima.Sera selalu dibuat tersenyum dengan tingkah kekanak-kanakan Abian. Canda tawa mengiringi sepanjang perjalanan mereka.Hari ini Abian berencana membawa Sera ke sebuah pantai. Ah, lebih tepatnya Abian ingin men

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status