MasukSera terpaku menatap wajah dingin itu. Otaknya mendadak kosong tak mampu mencerna situasi. Bagaiman dia bisa mengetahui nama belakangnya. Nama belakang yang sudah Sera hilangkan sejak lama.
Hanya orang-orang dari masa lalunya yang mengetahui asal usul Sera. Sera sungguh tidak mengingat pernah mengenal seorang Rey. Namun, beberapa detik selanjutnya Sera membulatkan mata. Mata elang itu mengingatkannya pada seseorang. Mungkinkah …. “Sudah ingat?” Senyum miring terbentuk saat Rey menyadari Sera telah mengingat sesuatu. “Kamu … Shaka?” tanya Sera dengan jantung yang berdebar makin keras. Takut-takut jika tebakannya benar. Sementara Rey kembali memasang wajah dinginnya. Tidak sedikitpun melepaskan pandangan dari wajah cantik Sera. “Ternyata begitu mudah bagimu melupakanku.” Dengan nada dingin meremehkan kentara sekali Rey sedang menyindir Sera. “Aku … bukan begitu. Aku hanya ….” Sera menunduk tidak sanggup meneruskan kata-katanya. “Aku minta maaf.” “Maaf? Untuk apa?” Rey bersedekap dada menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya tanpa melunturkan senyum miring yang tidak sampai mata. Orang awam tidak akan menyadari ada kemarahan yang begitu besar dari sorot matanya. Sera memalingkan wajah tidak sanggup menatap Rey. Dia sadar pernah menyakiti hati Rey. Tidak seharusnya dia memanfaatkan Rey sepuluh tahun lalu. Sepuluh tahun lalu Sera adalah primadona sekolah. Anak konglomerat ternama yang terkenal akan kecantikannya yang menawan. Banyak lelaki yang mengejarnya. Namun, Sera yang memiliki trust issue pada lelaki selalu menolak mereka. “Sera! Tunggu!” Seorang remaja SMA berlari memanggil teman perempuannya. “Sera, aku dari tadi nungguin kamu loh!” lanjut remaja itu. “Ada apa?” tanya Sera dengan nada malas. “Sera aku beneran suka sama kamu, tolong terima aku jadi pacar kamu ya, please!” pinta remaja bernama Gio itu memohon. “Maaf, Gio. Sudah berulang kali aku katakan aku tidak bisa,” tolak Sera halus. “Tapi kenapa? Aku kurang apa? Kamu lihat aku tampan dan kaya. Kamu mau aku seperti apa akan aku lakukan buat kamu asal kamu terima cinta aku ya!” pinta Gio sedikit memaksa. “Kamu nggak kurang apapun, Gio. Hanya aku yang tidak bisa. Maaf ya!” Sera kembali berlalu tidak lagi memedulikan Gio. Gio terdiam menahan amarah di dada. Sera adalah gadis idamannya. Berulang kali Gio menyatakan perasaan dan harus bersaing dengan siswa lain, tapi Sera tetap menolaknya. Gio yakin dirinya tidak memiliki kekurangan. Seharusnya Sera merasa beruntung diinginkan lelaki sepertinya. “Sera! Aku janji suatu saat bakal milikin kamu! Ingat itu!!” teriak Gio. Sera sudah bosan dengan hal-hal semacam itu. Sudah banyak teman laki-laki yang menyatakan perasaan padanya sehingga Sera tidak terlalu menggubris Gio. Selain cantik Sera juga adalah orang yang baik dan berprestasi sehingga banyak yang mengidolakannya. Lagi-lagi Sera terpaksa harus melewati koridor belakang sekolah untuk menuju kelas hanya karena ingin menghindari orang seperti Gio. Di sana Sera tidak sengaja melihat sekelompok berandalan sekolah yang sedang merundung seseorang. Sudah sering mereka membuat ulah. Biasanya Sera tidak peduli karena enggang berurusan dengan mereka. Namun, entah kenapa kali ini Sera justru memilih mendekat. Tidak tega mendengar suara tak berdaya itu. “Hey! Hentikan! Jika tidak aku akan melaporkan kalian!” Seruan Sera menghentikan para perundung itu. “Eh, ada Sera cantik. Jangan galak-galak dong, nanti abang takut!” ucap salah seorang perundung menggoda Sera. “Cih, pergi sana!!” Ketua para perundung itu adalah penggemar Sera. Tentu saja dia harus menjaga image di depan Sera, jadi lebih baik dia segera meninggalkan tempat itu. “Kamu nggak papa?” tanya Sera sembari membantu remaja korban perundungan itu berdiri. “Nggak papa. Terima kasih,” jawab remaja itu tidak berani menatap Sera. “Nama kamu siapa?” “Shaka,” jawab remaja bernama Shaka itu malu-malu. Hening, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Sera merasa kasihan juga gemas melihat Shaka. Sepertinya Shaka bukan dari keluarga berada. Penampilannya culun dengan baju lusuh serta kacamata yang membingkai mata elangnya. Pantas saja Shaka menjadi sasaran empuk untuk dibully. “Kenapa kamu nggak melawan waktu mereka merundung kamu?” “A-aku nggak berani, mereka punya kuasa,” jawab Shaka terus menunduk. Sangat grogi bisa duduk di samping seorang Sera. Shaka memang murid beasiswa di sekolah elit ini. Asal usulnya tidak jelas. Rumahnya di pemukiman kumuh. Membuat Shaka dipandang sebelah mata di sekolah ini. Tidak ada yang mau berteman dengannya. “Hey, lihat aku! Kita semua sama di sini. Kamu nggak perlu takut. Mulai sekarang kita berteman ya, jadi nggak akan ada lagi yang berani gangguin kamu, gimana?” Sera menangkup wajah Shaka sebagai bentuk empati, membuat Shaka otomatis menatap langsung pada mata indah Sera. Shaka terpaku tidak bisa merespon apa yang terjadi. Bahkan Shaka tidak bisa mendengar apa yang Sera katakan. Dia hanya terfokus pada wajah cantik itu. Entah bagaimana wajahnya memerah dan terasa hangat. “Shaka, ada apa dengan wajahmu? Aku rasa sebaiknya kita segera ke ruang kesehatan,” ucap Sera khawatir. “Ah, tidak. A-aku baik.” Shaka merasa malu. Setelah kejadian itu Sera semakin dekat dengan Shaka. Sera merasa nyaman dengan Shaka yang sering menemaninya. Menurut Sera Shaka berbeda dengan kebanyakan lelaki. Sampai suatu saat Gio bersikeras memaksa Sera menerima cintanya. Sera yang buntu dan merasa terganggu membuat keputusan dengan menjadikan Shaka sebagai pacarnya. Hal tersebut berhasil membuat Gio beserta penggemar Sera yang lain berhenti mengganggunya. Hubungan itu berjalan selama kurang lebih satu tahun. Sayangnya Sera hanya menganggap hubungannya dengan Shaka sebagai sebuah sandiwara. Sementara Shaka yang mengira Sera benar-benar menyukainya memberikan seluruh hatinya pada Sera. Sampai saat kelulusan tiba Shaka harus dibuat kecewa. “Shaka, sebelumnya maafkan aku. Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini,” ungkap Sera tiba-tiba usai acara kelulusan. “A-apa?! Tapi kenapa? Aku salah apa?” Shaka terkejut sekaligus bingung. “Kamu nggak salah apa-apa, Shaka. Hanya … hanya aku yang tidak mencintai kamu. Maaf.” Sera harus terlihat tegar untuk meyakinkan Shaka meski hatinya tidak tahu kenapa terasa sesak. Tanpa menunggu respon Shaka, Sera meninggalkannya begitu saja. Membuat Shaka tanpa sadar menjatuhkan air mata merasa dicampakkan. Satu kata yang menggambarkan situasi ini, tega. Setelah hari itu Sera tidak pernah lagi bertemu Shaka. Sera menyesal, tapi dia juga tidak ingin mempermainkan hati Shaka lebih dalam lagi. Dan kini, setelah banyak perubahan dalam hidupnya Sera bertemu kembali dengan masa lalunya dengan cerita yang telah berubah pula. “Aku dengar kau tidak pernah memiliki kekasih.” Suara bariton itu memecah lamunan Sera, membuat Sera kembali pada realita. “Shaka, aku benar-benar minta maaf pernah mempermainkan kamu. Aku menyesal, tapi tolong lupakan cerita yang telah lalu. Anggap tidak pernah ada sesuatu di antara kita, jadi aku harap kita bisa memulai semua dari awal sebagai atasan dan bawahan,” ungkap Sera begitu memahami situasi. Rey terdiam tanpa ekspresi. Tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari wajah ayu itu. Menyembunyikan api yang tiba-tiba tersulut dalam hatinya. Apa katanya tadi, lupakan? Semudah itu dia menghancurkan hatinya dan sekarang memintanya melupakan? Apa dia tidak punya hati? “Atasan dan bawahan ya …? Baiklah mari kita wujudkan keinginanmu.” Senyum miring kembali terbit di bibir Rey.Setelah hari itu Sera merasa pekerjaannya lebih ringan. Entah karena apa sepertinya Rey mulai melunak. Contohnya usai Sera mengantarkan secangkir kopi dan membereskan meja kerja Rey, Rey membiarkannya begitu saja. Tidak ada tatapan intimidasi dan meremehkan seperti biasanya. “Sera!” panggil Rey dengan nada rendah menghentikan langkah Sera yang akan keluar dari ruangan itu.“Iya?” “Terima kasih,” ucap Rey memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Sera tertegun tidak menyangka seorang Rey bisa merendahkan suara untuk berterima kasih. Sera maklum mungkin Rey malu padanya. Saat itu Rey tertidur tak sadarkan diri sambil terus menggenggam tangan Sera. Sampai ponsel milik Rey berdering menampilkan nama asisten Riyan. Tanpa membuang kesempatan Sera segera memberitahu keadaan Rey pada asistennya. Sera kasihan pada Rey, tapi dia tidak bisa terus berada di kantor.“Tidak masalah, Pak. Saya senang bisa membantu,” balas Sera tersenyum. Rey sedikit tertegun melihat Sera tersenyum. Namun, dengan
Senin pagi yang cerah. Waktunya menghadapi realita yang tak seindah ekspektasi. Sera tahu mulai sekarang di setiap harinya tidak akan mudah, tapi dia akan tetap berusaha mewujudkan kemudahan itu.Begitu tiba di mejanya, Sera disuguhkan dengan berkas yang hampir memenuhi mejanya. Rasanya belum memulai pun dia sudah lelah duluan. Dan tentu saja tak perlu ditanyakan lagi siapa pelakunya. “Apa-apaan ini! Apa sebegitu bencinya dia padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf?” Sera bermonolog pada dirinya sendiri merasa heran dengan tingkah Rey. “Ya ampun, Ser! Kamu yakin mau ngerjain ini semua?” seru Vina yang baru datang ikut kaget melihat tumpukan berkas di meja Sera. “Ya … mau bagimana lagi,” ucap Sera pasrah. “Yang sabar ya, Ser! Maaf nggak bisa bantu, kerjaanku juga lagi banyak, ini juga nggak tahu bisa selesai apa enggak,” ungkap Vina merasa kasihan pada Sera. “Iya, Vin. Nggak papa santai aja!”Dengan pekerjaan sebanyak ini Sera tidak yakin bisa pulang tepat waktu. Untungnya dia sud
Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan sekaligus menyebalkan bagi Sera. Tidak hanya lelah fisik, hatinya pun sebenarnya lelah menghadapi kenyataan hidup. “Mama! Aku Pulang!” seru Sera sambil membuka pintu kontrakan sempit yang ia tinggali bersama ibunya. “Ma! Mama dimana?!” panggil Sera lagi karena tidak ada sahutan.“Mama di sini, Nak!” Sera menemukan ibunya sedang membuat sesuatu di dapur. “Mama lagi bikin apa?” tanya Sera pada wanita dengan wajah pucat itu.“Mama lagi bikin kue, mau coba jualan di depan rumah siapa tahu ada yang suka,” ucap Liana, wanita berusia setengah abad yang telah melahirkan seorang Seraphina. “Kenapa mama mau jualan? Kan udah ada aku yang kerja, lagian mama harus banyak istirahat nggak boleh capek-capek.” Sera mengkhawatirkan ibunya yang sedang sakit. “Mama nggak capek kok, ini juga sambil duduk. Mama kasihan lihat kamu kerja terus buat mama, mama pengen bantuin kamu. Lagian mama juga bosan nggak ngapa-ngapain seharian.” Sera terharu masih ada
Entah Sera harus merasa beruntung atau tidak karena Rey melepaskannya begitu saja. Sera berharap Rey bersedia memenuhi keinginannya untuk memulai semua dari awal. Namun, yang tidak Sera ketahui adalah Rey tidak akan membiarkan Sera hidup dengan tenang. Beberapa hari ini Sera merasa tugasnya semakin banyak. Sera heran banyak pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya harus ia kerjakan, membuatnya jadi harus sering lembur. Sera berusaha tetap berpikir positif. Mungkin karena akhir bulan sehingga banyak yang sibuk membuat laporan. “Sera, kamu kok jadi sering lembur sih sekarang?” tanya Vina heran melihat Sera yang begitu sibuk. “Oh, iya nih nggak tahu juga Bu Risma sering kasih tugas tambahan,” jawab Sera yang juga tidak tahu kenapa. “Mana lihat, ngerjain apasih kok nggak selesai-selesai?” Vina mengambil salah satu berkas yang akan Sera kerjakan. “Loh, Ser. Inikan bukan tugas kamu, ini tugas satu divisi kok kamu kerjakan sendiri?” tanya Vina yang merasa aneh. “Nggak tahu, Vin. Bu
Sera terpaku menatap wajah dingin itu. Otaknya mendadak kosong tak mampu mencerna situasi. Bagaiman dia bisa mengetahui nama belakangnya. Nama belakang yang sudah Sera hilangkan sejak lama. Hanya orang-orang dari masa lalunya yang mengetahui asal usul Sera. Sera sungguh tidak mengingat pernah mengenal seorang Rey. Namun, beberapa detik selanjutnya Sera membulatkan mata. Mata elang itu mengingatkannya pada seseorang. Mungkinkah …. “Sudah ingat?” Senyum miring terbentuk saat Rey menyadari Sera telah mengingat sesuatu. “Kamu … Shaka?” tanya Sera dengan jantung yang berdebar makin keras. Takut-takut jika tebakannya benar. Sementara Rey kembali memasang wajah dinginnya. Tidak sedikitpun melepaskan pandangan dari wajah cantik Sera. “Ternyata begitu mudah bagimu melupakanku.” Dengan nada dingin meremehkan kentara sekali Rey sedang menyindir Sera. “Aku … bukan begitu. Aku hanya ….” Sera menunduk tidak sanggup meneruskan kata-katanya. “Aku minta maaf.” “Maaf? Untuk apa?” Rey bersede
"Setampan apa sih CEO baru Hardian Group?” Sera bergumam terheran-heran melihat kehebohan satu kantor. Empat tahun Sera bekerja di Hardian Group baru kali ini Sera menyaksikan kehebohan seisi kantor. Bahkan acara ulang tahun perusahaan saja tidak seheboh ini. Kabarnya CEO baru ini adalah pewaris utama dari keluarga Hardian. Entah apa yang spesial dari CEO baru ini selain masih muda dan tampan. Sera jadi sedikit penasaran, tapi juga tidak terlalu peduli. Menurutnya semua lelaki tampan apalagi yang memiliki kuasa pasti sama saja. “Kamu ini bicara apa, tentu saja sangat tampan. Apa kamu nggak pernah lihat majalah bisnis? Dia sangat terkenal di kalangan pebisnis,” sahut Vina rekan satu divisi yang tidak sengaja mendengar gumaman Sera. Sementara Sera hanya melengos tidak peduli sebagai tanggapan. “Aku memang tidak pernah membaca majalah bisnis. Aku tidak tertarik.” “Pantas saja.” Vina melanjutkan kegiatannya merias diri tidak lagi memedulikan Sera. Sera yang merasa jenuh melihat s







