LOGIN
"Setampan apa sih CEO baru Hardian Group?” Sera bergumam terheran-heran melihat kehebohan satu kantor.
Empat tahun Sera bekerja di Hardian Group baru kali ini Sera menyaksikan kehebohan seisi kantor. Bahkan acara ulang tahun perusahaan saja tidak seheboh ini. Kabarnya CEO baru ini adalah pewaris utama dari keluarga Hardian. Entah apa yang spesial dari CEO baru ini selain masih muda dan tampan. Sera jadi sedikit penasaran, tapi juga tidak terlalu peduli. Menurutnya semua lelaki tampan apalagi yang memiliki kuasa pasti sama saja. “Kamu ini bicara apa, tentu saja sangat tampan. Apa kamu nggak pernah lihat majalah bisnis? Dia sangat terkenal di kalangan pebisnis,” sahut Vina rekan satu divisi yang tidak sengaja mendengar gumaman Sera. Sementara Sera hanya melengos tidak peduli sebagai tanggapan. “Aku memang tidak pernah membaca majalah bisnis. Aku tidak tertarik.” “Pantas saja.” Vina melanjutkan kegiatannya merias diri tidak lagi memedulikan Sera. Sera yang merasa jenuh melihat semua rekan wanita sibuk merias diri lebih memilih menuju balkon untuk menenangkan diri. Di dalam sangat berisik. Semua orang sedang bergosip membicarakan kedatangan CEO baru. Hari ini perusahaan membebaskan seluruh karyawan dari pekerjaan. Diganti dengan acara penyambutan CEO baru. Karenanya, mereka memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri, tapi bagi Sera hal tersebut justru menjadi sesuatu yang membosankan. “Sera! Sedang apa di sini? Aku mencarimu sedari tadi. Ayo kita segera ke aula! Bu Risma menyuruh kita berkumpul di sana, CEO kita akan segera tiba.” Suara Sinta membuyarkan lamunan Sera. “Kamu kenapa di sini sendiri? Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Sinta lagi khawatir melihat sahabatnya tampak tidak bersemangat. “Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Pergilah dulu! Aku akan ke toilet sebentar, nanti aku menyusul,” ungkap Sera tersenyum tidak ingin melihat sahabatnya khawatir. “Baiklah, aku duluan.” Sera berjalan perlahan menuju toilet di dekat aula, sekedar membasuh wajah supaya terlihat lebih segar. Tidak perlu terburu-buru, Sera memang berniat datang belakangan. Berdiri di barisan paling belakang tidak ingin terlihat menonjol. Hanya sekedar ingin memuaskan rasa penasarannya. Tak disangka begitu Sera tiba di pintu masuk aula ternyata CEO baru itu sudah datang. Berada di depan barisan para karyawan. Menjadi pusat perhatian. Sera pun membenarkan apa yang Vina katakan tentang ketampanan CEO baru itu. Kharismanya mampu menyilaukan mata. “Perkenalkan saya Reyshaka Michael Hardian, pemimpin baru di perusahaan ini.” Hanya satu kalimat yang terdengar dari acara perkenalan CEO baru ini, selebihnya diteruskan oleh asisten CEO baru itu. Sera yang sebelumnya terdiam di pintu masuk aula berjalan mendekat hendak masuk dalam barisan. Namun, pergerakannya di belakang kerumunan karyawan yang sedang tenang mendengarkan pidato mengalihkan atensi seorang Reyshaka yang sedang berdiri dengan gagahnya di atas panggung. Mata tajamnya mengikuti setiap pergerakan Sera. Sera termasuk orang yang peka pada sekitar, sehingga tak butuh waktu lama bagi Sera untuk menyadari ada yang sedang memperhatikannya. Sera menautkan alis mendapati seorang Reyshaka yang sedang menatap lurus tepat ke arahnya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan. Mata elang itu begitu mengintimidasi seakan bisa menguliti setiap inci tubuhnya. “Sinta, apa penampilanku tampak aneh hari ini?” tanya Sera pada Sinta yang berdiri di sebelahnya hanya untuk memastikan. “Tidak, kamu tampak baik seperti biasa, Sera. Memangnya kenapa?” Sinta pun merasa heran karena tidak biasanya Sera menanyakan penampilan. “Ah, tidak ada. Aku hanya bertanya,” ucap Sera santai. Sera sendiri merasa yakin tidak ada yang salah pada dirinya. Dengan riasan natural, penampilan Sera termasuk yang paling sederhana di kantor ini. Kemeja polos yang dipadukan rok span selutut, rambut panjang terurai, tidak lupa kacamata yang selalu membingkai wajah cantiknya saat bekerja menjadi ciri khas Sera. Sera tidak lagi peduli dengan tatapan Pak Rey. Dia lebih memilih menikmati acara yang diselingi sedikit hiburan dan dilanjut dengan perjamuan makan siang. Sera berpikir mungkin Pak Rey memperhatikannya karena kedatangannya yang terlambat. *** BRUKK “Eh, maaf saya tidak sengaja … biar saya bersihkan sebentar.” Sera tidak sengaja menabrak seseorang saat berbalik dan menumpahkan sedikit kuah sup pada jas orang tersebut. Tanpa sempat melihat wajah orang yang dia tabrak, Sera segera berinisiatif membersihkan jas yang basah itu dengan tisu yang tersedia di atas meja prasmanan. Namun, gerakan tangannya terhenti saat sebuah suara yang datar dan sarat akan ketegasan menginterupsinya. “Tidak perlu.” Sera segera mendongak melihat sumber suara itu. Di sana Sera mendapati mata elang yang menatapnya tanpa berkedip. Aura orang berkuasa yang dimilikinya begitu dominan. Membuat orang-orang di sekitarnya merasa kecil, tapi anehnya Sera justru betah berlama-lama menatap mata itu. Mata elang yang tidak tahu kenapa tiba-tiba terasa sangat familiar bagi Sera. “Tidak seharusnya kau menyentuhku.” Suara yang sarat akan kesombongan itu membuyarkan lamunan Sera, membuat Sera tiba-tiba tidak menyukai pemilik suara itu. “Sekali lagi maafkan saya, Pak Rey. Saya benar-benar tidak sengaja.” Tanpa merespon permintaan maaf Sera, Reyshaka berlalu begitu saja setelah beberapa saat mempertahankan wajah dinginnya. Sera kembali ke meja makan dengan perasaan kesal. Namun, tetap mampu mempertahankan wajah tenangnya. “Sera, apa kamu baik-baik saja?” tanya Sinta turut khawatir melihat kejadian itu. “Aku baik, tenang saja itu hanya hal sepele,” jawab Sera tenang memberikan senyuman. “Aduh, Sera! Untung pak Rey tidak memperpanjang masalah. Dan lagi bagaimana bisa kamu selalu terlihat tenang seperti ini bahkan saat berhadapan dengan lelaki seperti Pak Rey, memangnya kamu nggak grogi?” sela Vina yang tiba-tiba ikut mengoceh. “Maklum, Vin. Efek nggak pernah pacaran, jadi santai banget hidupnya,” sahut Sinta dengan nada bercanda. “Hah! Masak sih, Ser. Orang secantik kamu nggak pernah pacaran sama sekali?” tanya Vina kaget. Sera terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Vina. Dia jadi teringat seseorang dari masa lalunya. Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka turut menunggu jawaban Sera. “Tidak pernah. Tidak pernah sama sekali,” jawab Sera tanpa keraguan memutus obrolan mereka. Selesai acara perjamuan, Pak Riyan asisten CEO menghampiri Sera dan memerintahkan Sera menghadap Pak Rey di ruangannya. Sejujurnya Sera heran karena tidak merasa memiliki urusan dengan Pak Rey, kecuali saat di aula tadi. Meskipun demikian, Sera yang sadar akan posisinya tetap melaksanakan perintah tersebut. “Permisi! Bapak memanggil saya?” tanya Sera sopan. Namun, hanya sahutan dingin yang Sera dapatkan. “Hmm.” “Kalau boleh tahu, ada perlu apa anda memanggil saya kemari?” tanya Sera tetap mempertahankan kesopanan. Sayangnya tidak ada jawaban dari Rey. Rey hanya diam menatap dingin pada Sera. Tatapan mengintimidasi yang membuat Sera risih. “Jika anda memanggil saya karena masalah di aula tadi, saya sudah meminta maaf sebelumnya dan berusaha untuk bertanggung jawab, jadi saya harap anda tidak memperpanjang masalah ini,” ungkap sera berinisiatif memulai percakapan supaya bisa segera pergi dari situasi ini. Setelah beberapa saat menunggu dan tetap tidak mendapat jawaban, Sera bersiap meninggalkan ruangan itu. Sampai sebuah pertanyaan dari Rey menghentikan pergerakannya. Membuat Sera terdiam mematung. “Apa kau tidak mengingatku, Seraphina Roselin Ferdian …?”Sera memasuki Hardian Group. Sementara Abian kembali menjalankan mobilnya ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempatnya menurunkan Sera. Tampak seorang wanita memeluk Abian dari arah belakang. Sepertinya wanita itu ingin mengejutkan Abian yang baru keluar dari mobil. Wanita berbeda dari yang Rey lihat kemarin.Rey tersenyum miring melihat semua itu. “Dia seorang pemain.”Rey tidak lagi memedulikan hal itu. Dia ingin segera memasuki perusahaan. Penasaran dengan reaksi seseorang.Sepanjang perjalanan menuju ruangannya Rey tidak bisa melunturkan senyum miringnya. Rasanya Rey ingin segera menartawakan Sera.“Selamat pagi, Pak!” sapa Sera begitu Rey memasuki ruangan.“Hmm.” Rey langsung duduk di kursi kebesarannya.Dari mejanya Rey memperhatikan Sera yang kembali fokus pada pekerjaan. Tak sedikitpun Rey mengalihkan pandang dari Sera.“Berapa lama kau mengenal teman lelakimu itu?” ucap Rey tiba-tiba.Sera reflek mengangkat pandangan. Mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti kemana arah p
“Sera, kamu yakin kita makan di tempat seperti ini?” tanya Sinta ragu pasalnya tempat yang mereka datangi terkenal elit.“Yakin, tenang aja!” Sera menunjukkan black card yang Abian berikan padanya.“Wah! Kamu kok bisa punya itu, Ser?” seru Vina tidak menyangka.“Kita ditraktir Abian.”“Widih, baik banget dia. Dalam rangka apa ni?” sahut Sinta.“Nggak tahu. Ulang tahun kali,” jawab Sera asal.“Royal banget ya dia. Boleh ni aku jadiin gebetan. Eh, tapi beneran bukan pacar kamu kan, Ser?” canda Vina.“Bukan, tapi kayaknya dia playboy deh , Vin,” jelas Sera santai.“Soal itu gak papa, Ser. Kalau aku bisa buat dia jatuh cinta aku yakin dia bakal setia. Kapan lagi bisa dapet cowok spek kayak gitu. Udah ganteng, tajir, royal lagi.” Sepertinya Vina terlalu sering menonton drakor.“Tapi berpotensi nyakitin ati,” lanjut Sinta menambahkan.“Iihh, kamu ma! Aku kan lagi halu,” rengek Vina sebal.Sera hanya tersenyum menanggapi keduanya. Wajar Vina mengidolakan Abian. Yang Vina katakan memang benar
“Aku akan mengantarmu pulang,” kata Rey memecah keheningan.Sera reflek menoleh pada Rey yang duduk di sampingnya. Mereka berada dalam satu mobil hendak pulang dari acara makan malam sebelumnya.“Terima kasih, Pak.” Hari sudah malam. Tidak memungkinkan bagi Sera untuk pulang sendiri.Hening kembali hadir di antara mereka. Setengah jam lagi mereka akan sampai. Untung masih ada sopir kantor. Kalau tidak Sera akan merasa sangat canggung satu mobil dengan Rey.“Lain kali jangan bicara pada sembarang orang, apalagi yang tidak kau kenal,” ucap Rey tiba-tiba tanpa melihat Sera.Sera mengerutkan kening berusaha mencerna ucapan Rey. “Maksud Anda Leon?” “Aku tidak peduli siapa namanya.” Rey masih melihat ke arah jendela.“Tapi dia asisten Nona Briella, kita akan melakukan kerja sama dengan mereka kedepannya.” Sera benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Rey.“Aku tidak suka di bantah,” balas rey dingin.Sera tidak ingin berdebat, dia sudah lelah. “Baik.” “Dimana alamat tempat tinggalmu?” ta
“Wah, betapa beruntungnya saya jika saya termasuk dalam kriteria anda,” ucap Briella dengan mata berbinar.“Permisi, Nona! Anda sudah ditunggu untuk acara perjamuan.” Seorang asisten pria menghampiri Briella untuk mengingatkan. “Ah, iya. Kalau begitu saya duluan, Tuan Rey!” pamit Briella pada Rey.Sebagai pimpinan Briella harus segera hadir untuk mengawali perjamuan makan malam. Sebab makan malam kali ini tidak hanya untuk pemenang tender, tetapi juga para pemegang saham dan investor di Star Company.“Silahkan.” Kini di ruangan itu hanya menyisakan Rey dan Sera. Dengan Rey yang masih menggenggam tangan Sera.“Pak, maaf tolong lepaskan tangan saya!” pinta Sera hati-hati.“Kenapa ingin menghindariku?” tanya Rey datar.“Saya hanya tidak ingin mengganggu privasi anda,” ujar Sera seadanya.“Jangan beralasan! Sebagai asisten kau harus selalu berada di dekatku,” kata Rey dengan nada dingin penuh penekanan.Sekali lagi Sera hanya bisa menurut. Mengikuti Rey kemanapun dia pergi. Bagi yang ti
Setelah acara makan malam itu Sera menjalani harinya seperti biasa. Bagi Sera semua itu hanyalah sebuah permainan bisnis. Dia hanya harus bertahan sampai tujuannya tercapai. “Hai, Sera. Selamat pagi!” sapa Sinta yang tidak sengaja berpapasan dengan Sera di loby. “Selamat pagi, Sinta!” balas Sera tersenyum. “Kemana aja, Ser. Kok nggak pernah main ke tempatku? Mentang-mentang udah jadi asisten CEO!” ucap Sinta pura-pura sebal. “Sorry ya, Sin. Aku sibuk banget jadi nggak sempet. Kamu tahu sendiri kan Pak Rey kalau ngasih kerjaan suka nggak kira-kira,” tutur Sera. “Iya sih. Emang sampai kapan kamu jadi asisten Pak Rey? Betah amat,” tanya Sinta penasaran. “Nggak tahu juga. Mungkin nunggu Pak Riyan selesai cuti,” jawab Sera. “Ya, semoga secepatnya. Aku sama Vina kangen banget kita kumpul lagi bertiga.” Sinta merasa ada yang kurang jika formasi mereka tidak lengkap. Sera tersenyum bersyukur memiliki sahabat yang baik seperti Sinta dan Vina. Sayangnya Sera dan Sinta harus me
Mereka berempat duduk dalam satu mobil. Sera hanya diam mendengar senda gurau ketiga penumpang lainnya. Mereka membicarakan tentang impian keluarga mereka di masa depan dengan membanggakan anak lelaki mereka yang akan menjadi pewaris. Lalu bagaimana dengan masa depan Sera. Sera tidak peduli.“Sera, kenapa kau diam saja sedari tadi? Apa kau menyukai gaun yang kuberikan?” tanya Andin memecah keterdiaman Sera.Sera tampak cantik dan manis dengan dress motif floral selutut yang dikenakannya. Andin mengaplikasikan makeup tipis sehingga membuat Sera tampak lebih segar. Tentu saja Andin melakukan semua itu karena tidak ingin Sera memperlakukan keluarga Ferdian. “Ya, aku menyukainya,” jawab Sera cuek.“Tentu saja dia menyukainya, Ma. Dia pasti belum pernah memiliki gaun sebagus itu,” sela Reno.“Dan kau pasti sangat senang dengan perjodohan ini kan? Kau akan menjadi menantu keluarga konglomerat. Kau tidak perlu susah payah bekerja lagi,” lanjut Reno meremehkan.“Jika demikian kenapa papa ti







