공유

Bab 3

작가: Other_side
last update 게시일: 2026-07-17 01:59:47

Entah Sera harus merasa beruntung atau tidak karena Rey melepaskannya begitu saja. Sera berharap Rey bersedia memenuhi keinginannya untuk memulai semua dari awal. Namun, yang tidak Sera ketahui adalah Rey tidak akan membiarkan Sera hidup dengan tenang.

Beberapa hari ini Sera merasa tugasnya semakin banyak. Sera heran banyak pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya harus ia kerjakan, membuatnya jadi harus sering lembur. Sera berusaha tetap berpikir positif. Mungkin karena akhir bulan sehingga banyak yang sibuk membuat laporan.

“Sera, kamu kok jadi sering lembur sih sekarang?” tanya Vina heran melihat Sera yang begitu sibuk.

“Oh, iya nih nggak tahu juga Bu Risma sering kasih tugas tambahan,” jawab Sera yang juga tidak tahu kenapa.

“Mana lihat, ngerjain apasih kok nggak selesai-selesai?” Vina mengambil salah satu berkas yang akan Sera kerjakan.

“Loh, Ser. Inikan bukan tugas kamu, ini tugas satu divisi kok kamu kerjakan sendiri?” tanya Vina yang merasa aneh.

“Nggak tahu, Vin. Bu Risma yang suruh katanya yang lain pada sibuk jadi aku disuruh bantu,” ucap Sera tenang mencoba memaklumi.

“Iya sih sibuk, tapi aku rasa kita semua masih mampu kalau ngerjain ini semua, nggak sampek harus ngerepotin kamu.” Vina jadi merasa tidak enak pada Sera.

Sinta yang sedari tadi ikut mendengarkan percakapan mereka juga merasa aneh. Tidak biasanya Bu Risma memberikan tugas sebanyak itu pada satu orang saja. Dia jadi kasihan pada Sera.

“Iya sih, Ser. Nggak biasanya Bu Risma kayak gitu. Coba nanti kamu tanyain Bu Risma deh! Aku ngerasa ada yang janggal,” sela Sinta tiba-tiba.

“Iya nanti aku tanyain,” ucap Sera tidak mau ambil pusing.

“Eh, Ser. Kamu nyadar nggak sih, kayaknya kerjaan kamu makin banyak setelah kamu menghadap Pak Rey. Apa mungkin Pak Rey masih sakit hati ya sama kamu karena kejadian di aula waktu itu?” Sinta tiba-tiba teringat Sera yang pernah terlibat masalah dengan Pak Rey.

“Wah, iya ya! Bisa jadi karena itu. Orang berkuasa seperti Pak Rey itu kebanyakan nggak suka disinggung. Apalagi kalau merasa dipermalukan, pasti nggak akan dilepasin gitu aja,” sahut Vina ikut menyela.

“Huss! Apaan sih kamu, Vin. Kok malah nakut-nakutin, kasihan kan Sera!” tegur Sinta pada Vina yang menurutnya berlebihan.

“Eh, sory, Ser. Aku cuma halu aja kok,” ucap Vina menyadari kesalahannya.

“Iya nggak papa.”

Mendengar ucapan Sinta Sera jadi memikirkan hal yang sama. Apa benar semua ini karena Rey. Mungkinkah Rey menyimpan dendam padanya.

***

“Ser, kamu kumpulkan data laporan dari satu tahun lalu ya, kamu jadikan satu berkas terus nanti kalau sudah selesai kamu antarkan ke ruangan Pak Rey hari ini juga ya!” pinta Bu Risma atasan Sera di divisi marketing.

“Kalau boleh tahu untuk apa ya, Bu? Soalnya saya belum menyelesaikan pekerjaan saya sebelumnya. Saya khawatir tidak bisa menyelesaikan tepat waktu,” tanya Sera sopan walau sebenarnya dalam hati merasa keberatan.

“Saya juga kurang tahu, Ser. Atasan tiba-tiba memerintahkan seperti itu. Saya juga sedang sibuk, jadi kamu yang harus kerjakan,” ungkap Bu Risma.

“Bu, maaf sebelumnya. Saya mau tanya kenapa saya merasa akhir-akhir ini tugas saya semakin banyak, padahal biasanya saat divisi kita kewalahan kita bagi tugas sama staff lain?” tanya Sera hati-hati.

Bu Risma terdiam mendengar pertanyaan Sera. Beliau tampak ragu ingin mengatakan sesuatu.

“Emm … gimana ya, Ser. Sebenarnya semua ini atas perintah Pak Rey. Saya juga tidak tahu alasan beliau tiba-tiba memberikan banyak tugas dan harus kamu yang mengerjakan. Maaf ya saya tidak bilang ke kamu, tapi siapalah saya tidak berani menolak atasan,” ungkap Bu Risma memberi tahu yang sebenarnya.

Sera terkejut tidak menyangka jika semua ini karena Rey. Sepertinya memang Rey menaruh dendam padanya.

Tidak ingin terlalu memikirkan hal tesebut. Sera lebih memilih tetap profesional dan segera menyelesaikan tugas dari Bu Risma. Biarlah Rey berbuat seperti apa. Sera tidak peduli. Yang penting dia masih bisa bekerja di sini. Dia membutuhkan banyak uang untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit.

“Permisi!” Sera baru mendatangi Rey di ruangannya disaat yang lain sudah pulang satu jam yang lalu. Pekerjaannya yang menumpuk sering membuatnya pulang terlambat.

“Masuk!” Terdengar suara yang begitu dingin dari balik pintu.

“Saya mau mengantarkan laporan yang bapak minta,” ucap Sera sembari menaruh berkas itu di atas meja.

“Hmm.”

Rey mengambil laporan itu dan memeriksanya. Sementara Sera masih setia menunggu momen yang tepat untuk menanyakan sesuatu. Sera ragu bagaiman dia harus memulai.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” Tanpa melihat Sera Rey bisa menebak tujuan Sera selain mengantar berkas.

“Maaf sebelumnya, saya ingin mempertanyakan perihal tugas-tugas yang bapak berikan kepada saya,” tutur Sera hati-hati.

“Segala hal dalam perusahaan ini sudah menjadi wewenang saya, jadi tidak seharusnya anda mempertanyakan perintah yang saya berikan, Nona Sera.” Aura seorang Rey begitu dominan membuat siapapun akan tunduk begitu saja. Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Sera.

“Saya mengerti anda pemimpin di perusahaan ini. Namun, saya rasa semua tugas itu tidak seharusnya hanya dibebankan kepada saya. Bahkan saya harus menambah jam kerja dari yang seharusnya.” Sera berusaha mengungkapkan uneg-unegnya.

Rey hanya diam mengangkat sebelah alisnya sebagai respon. Tidak ada kata-kata yang terucap. Membuat Sera geram dibuatnya.

“Dan jika ini tentang saya, saya harap bapak tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan,” lanjut Sera.

Rey reflek tersenyum miring mendengar ucapan Sera. “Percaya diri sekali kamu. Saya tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Bukankah kamu bilang urusan pribadi kita sudah selesai? Sekarang yang ada hanya atasan dan bawahan. Dan sebagai bawahan, sudah sepatutnya kamu mematuhi perintah atasan.”

Rey terus tersenyum meremehkan Sera. Ternyata semenyenangkan itu mempermainkan Sera. Sementara Sera yang terlanjur kesal tidak lagi memedulikan Rey dan memilih segera meninggalkan ruangan itu. Persetan dengan kesopanan. Sera tidak menyangka Shaka yang dulu bisa berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan.

Sialnya kekesalan itu tidak hanya sampai di sana. Ponsel Sera berdering menampilkan panggilan dari nama kontak yang begitu dia benci.

“Halo! Ada apa?” Tidak ada keramahan dalam nada bicara Sera.

“Ingat Sera, besok malam kau harus menghadiri acara makan malam dengan Abian. Jangan membuatnya menunggu, apalagi sampai mempermalukanku!” titah seseorang di seberang telepon. Sama sekali tidak ada kehangatan dalam suaranya.

“Kenapa aku harus?”

“Karena kau anakku, jadi sudah sepantasnya kau mematuhi perintahku. Kau tidak ingin aku menghentikan pengobatan ibumu kan?” ucap orang itu yang ternyata adalah ayah kandung Sera. Sementara Sera yang terlanjur kesal memutuskan panggilan itu begitu saja.

“Sial.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 6

    Setelah hari itu Sera merasa pekerjaannya lebih ringan. Entah karena apa sepertinya Rey mulai melunak. Contohnya usai Sera mengantarkan secangkir kopi dan membereskan meja kerja Rey, Rey membiarkannya begitu saja. Tidak ada tatapan intimidasi dan meremehkan seperti biasanya. “Sera!” panggil Rey dengan nada rendah menghentikan langkah Sera yang akan keluar dari ruangan itu.“Iya?” “Terima kasih,” ucap Rey memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Sera tertegun tidak menyangka seorang Rey bisa merendahkan suara untuk berterima kasih. Sera maklum mungkin Rey malu padanya. Saat itu Rey tertidur tak sadarkan diri sambil terus menggenggam tangan Sera. Sampai ponsel milik Rey berdering menampilkan nama asisten Riyan. Tanpa membuang kesempatan Sera segera memberitahu keadaan Rey pada asistennya. Sera kasihan pada Rey, tapi dia tidak bisa terus berada di kantor.“Tidak masalah, Pak. Saya senang bisa membantu,” balas Sera tersenyum. Rey sedikit tertegun melihat Sera tersenyum. Namun, dengan

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 5

    Senin pagi yang cerah. Waktunya menghadapi realita yang tak seindah ekspektasi. Sera tahu mulai sekarang di setiap harinya tidak akan mudah, tapi dia akan tetap berusaha mewujudkan kemudahan itu.Begitu tiba di mejanya, Sera disuguhkan dengan berkas yang hampir memenuhi mejanya. Rasanya belum memulai pun dia sudah lelah duluan. Dan tentu saja tak perlu ditanyakan lagi siapa pelakunya. “Apa-apaan ini! Apa sebegitu bencinya dia padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf?” Sera bermonolog pada dirinya sendiri merasa heran dengan tingkah Rey. “Ya ampun, Ser! Kamu yakin mau ngerjain ini semua?” seru Vina yang baru datang ikut kaget melihat tumpukan berkas di meja Sera. “Ya … mau bagimana lagi,” ucap Sera pasrah. “Yang sabar ya, Ser! Maaf nggak bisa bantu, kerjaanku juga lagi banyak, ini juga nggak tahu bisa selesai apa enggak,” ungkap Vina merasa kasihan pada Sera. “Iya, Vin. Nggak papa santai aja!”Dengan pekerjaan sebanyak ini Sera tidak yakin bisa pulang tepat waktu. Untungnya dia sud

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 4

    Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan sekaligus menyebalkan bagi Sera. Tidak hanya lelah fisik, hatinya pun sebenarnya lelah menghadapi kenyataan hidup. “Mama! Aku Pulang!” seru Sera sambil membuka pintu kontrakan sempit yang ia tinggali bersama ibunya. “Ma! Mama dimana?!” panggil Sera lagi karena tidak ada sahutan.“Mama di sini, Nak!” Sera menemukan ibunya sedang membuat sesuatu di dapur. “Mama lagi bikin apa?” tanya Sera pada wanita dengan wajah pucat itu.“Mama lagi bikin kue, mau coba jualan di depan rumah siapa tahu ada yang suka,” ucap Liana, wanita berusia setengah abad yang telah melahirkan seorang Seraphina. “Kenapa mama mau jualan? Kan udah ada aku yang kerja, lagian mama harus banyak istirahat nggak boleh capek-capek.” Sera mengkhawatirkan ibunya yang sedang sakit. “Mama nggak capek kok, ini juga sambil duduk. Mama kasihan lihat kamu kerja terus buat mama, mama pengen bantuin kamu. Lagian mama juga bosan nggak ngapa-ngapain seharian.” Sera terharu masih ada

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 3

    Entah Sera harus merasa beruntung atau tidak karena Rey melepaskannya begitu saja. Sera berharap Rey bersedia memenuhi keinginannya untuk memulai semua dari awal. Namun, yang tidak Sera ketahui adalah Rey tidak akan membiarkan Sera hidup dengan tenang. Beberapa hari ini Sera merasa tugasnya semakin banyak. Sera heran banyak pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya harus ia kerjakan, membuatnya jadi harus sering lembur. Sera berusaha tetap berpikir positif. Mungkin karena akhir bulan sehingga banyak yang sibuk membuat laporan. “Sera, kamu kok jadi sering lembur sih sekarang?” tanya Vina heran melihat Sera yang begitu sibuk. “Oh, iya nih nggak tahu juga Bu Risma sering kasih tugas tambahan,” jawab Sera yang juga tidak tahu kenapa. “Mana lihat, ngerjain apasih kok nggak selesai-selesai?” Vina mengambil salah satu berkas yang akan Sera kerjakan. “Loh, Ser. Inikan bukan tugas kamu, ini tugas satu divisi kok kamu kerjakan sendiri?” tanya Vina yang merasa aneh. “Nggak tahu, Vin. Bu

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 2

    Sera terpaku menatap wajah dingin itu. Otaknya mendadak kosong tak mampu mencerna situasi. Bagaiman dia bisa mengetahui nama belakangnya. Nama belakang yang sudah Sera hilangkan sejak lama. Hanya orang-orang dari masa lalunya yang mengetahui asal usul Sera. Sera sungguh tidak mengingat pernah mengenal seorang Rey. Namun, beberapa detik selanjutnya Sera membulatkan mata. Mata elang itu mengingatkannya pada seseorang. Mungkinkah …. “Sudah ingat?” Senyum miring terbentuk saat Rey menyadari Sera telah mengingat sesuatu. “Kamu … Shaka?” tanya Sera dengan jantung yang berdebar makin keras. Takut-takut jika tebakannya benar. Sementara Rey kembali memasang wajah dinginnya. Tidak sedikitpun melepaskan pandangan dari wajah cantik Sera. “Ternyata begitu mudah bagimu melupakanku.” Dengan nada dingin meremehkan kentara sekali Rey sedang menyindir Sera. “Aku … bukan begitu. Aku hanya ….” Sera menunduk tidak sanggup meneruskan kata-katanya. “Aku minta maaf.” “Maaf? Untuk apa?” Rey bersede

  • Terjebak di Antara CEO Dingin & Pemuda Tengil    Bab 1

    "Setampan apa sih CEO baru Hardian Group?” Sera bergumam terheran-heran melihat kehebohan satu kantor. Empat tahun Sera bekerja di Hardian Group baru kali ini Sera menyaksikan kehebohan seisi kantor. Bahkan acara ulang tahun perusahaan saja tidak seheboh ini. Kabarnya CEO baru ini adalah pewaris utama dari keluarga Hardian. Entah apa yang spesial dari CEO baru ini selain masih muda dan tampan. Sera jadi sedikit penasaran, tapi juga tidak terlalu peduli. Menurutnya semua lelaki tampan apalagi yang memiliki kuasa pasti sama saja. “Kamu ini bicara apa, tentu saja sangat tampan. Apa kamu nggak pernah lihat majalah bisnis? Dia sangat terkenal di kalangan pebisnis,” sahut Vina rekan satu divisi yang tidak sengaja mendengar gumaman Sera. Sementara Sera hanya melengos tidak peduli sebagai tanggapan. “Aku memang tidak pernah membaca majalah bisnis. Aku tidak tertarik.” “Pantas saja.” Vina melanjutkan kegiatannya merias diri tidak lagi memedulikan Sera. Sera yang merasa jenuh melihat s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status