LOGINAku terbangun sebelum matahari benar-benar naik.Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada teriakan.Justru sebaliknya—kepalaku terasa terlalu jernih, seolah-olah semalam aku baru saja menata ulang kepingan-kepingan diriku sendiri.Aku duduk di tepi ranjang, menatap kedua tanganku.Tangan Elira.Putih, halus, selalu terlihat seperti milik seseorang yang tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. Seseorang yang hidupnya diatur, dilindungi, tapi juga… dikurung.Elira, apa yang sebenarnya kau rasakan sebelum jatuh ke danau itu?Bayangan air gelap itu kembali muncul di kepalaku. Dinginnya, beratnya, rasa sesak yang me
Aku terbangun di tengah malam dengan dada sesak.Bukan karena mimpi buruk—melainkan karena ingatan yang tidak sepenuhnya milikku.Kamar gelap. Jam dinding menunjukkan pukul 00.17.Waktu yang sama.Waktu ketika Elira keluar dari mansion malam itu.Aku duduk perlahan, meraba sisi tempat tidur yang dingin. Udara malam merayap masuk dari jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah dan danau.Kakiku menyentuh lantai.Dan tanpa sadar, aku berjalan.Lorong mansion sunyi. Lampu-lampu temaram menciptakan bayangan panjang yang terasa terlalu hidup. Setiap langkah seolah memanggil kenangan yang ingin tetap terkubur.Tangga belakang.Pintu samping.Semua terasa… familiar.Seolah tubuh ini tahu jalan bahkan ketika pikiranku menolak.Kau yakin mau keluar malam-malam begini?”Suara itu muncul samar di kepala Elira.“Aku hanya sebentar,” jawabnya. “Aku hanya ingin bicara.”“Dengan siapa?”Tak ada jawaban.Hanya getaran ponsel di genggaman.Aku berhenti di depan pintu samping, napasku memb
Malam di mansion Veyron terasa lebih panjang dari biasanya.Lampu-lampu lorong menyala redup, menciptakan bayangan yang memanjang di dinding marmer. Setiap langkah terasa bergema, seolah rumah besar ini ikut mengingat terlalu banyak hal yang selama ini dipendam.Aku duduk di tepi ranjang, memeluk bantal. Tidak menangis. Tidak bergerak.Hanya… kosong.Alea sadar sepenuhnya. Otakku bekerja, mencoba menata ulang potongan-potongan kebenaran. Namun tubuh ini—tubuh Elira—masih menyimpan sisa rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.Leonard masuk.Ia tidak menatapku. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya kusut. Rambutnya sedikit berantakan—tanda kecil bahwa malam ini tidak mudah baginya.“Kau belum tidur,” katanya datar.Aku mengangguk. “Kau juga.”Ia berhenti beberapa langkah dari ranjang. Diam. Terlalu lama.“Kata-katamu tadi,” ujarnya akhirnya, “tidak semuanya benar.”Aku menoleh perlahan. “Bagian yang mana?”Ia menghindari tatapanku. “Bahw
Ruang makan itu dingin, meski lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan.Aku duduk di kursi Elira—kursi seorang istri yang sah, namun tak pernah benar-benar dianggap ada. Di hadapanku, keluarga Valen duduk dengan sikap tenang dan senyum tipis yang terlalu terlatih.Ini bukan jamuan keluarga.Ini pertemuan bisnis.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya keras, rahangnya mengatup. Ia bahkan tidak menatapku—seolah kehadiranku hanya formalitas yang terpaksa diterima.“Elira,” suara pria paruh baya itu terdengar datar. “Kami dengar kondisimu sempat… mengkhawatirkan.”Arman Valen.Ayah kandung Elira.
Malam turun perlahan, menyelimuti mansion dengan keheningan yang terlalu sempurna. Lampu-lampu taman menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke permukaan danau yang tampak tenang—terlalu tenang untuk tempat yang hampir merenggut nyawa seseorang.Aku duduk di tepi ranjang, memutar-mutar kancing mantel di antara jari-jariku. Logamnya dingin. Beratnya terasa nyata, seperti bukti kecil yang menolak dibantah oleh penyangkalan siapa pun.Ketukan pelan di pintu membuatku terkejut.“Elira.”Suara Leonard.Aku menyembunyikan kancing itu ke laci terdalam, lalu berdiri. “Masuk.”Leonard melangkah masuk dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia menutup pintu, berdiri beberapa langkah dariku, seolah menjaga jarak yang tak kasatmata.“Kita perlu bicara,” katanya.Aku mengangguk. “Tentang apa?”Ia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. “Tentang kau.”Aku menatapnya, menunggu.“Kau berubah,” lanjutnya. “Dan perubahan itu… membuat orang-orang di rumah ini tidak nyaman.”“Orang-orang?” ulangku pel
Leonard tidak langsung membawaku keluar rumah. Ia hanya berjalan menuju lorong samping, langkahnya panjang dan tegas, seolah ingin segera mengakhiri percakapan yang tak ia inginkan.Kami berhenti di depan ruang kerjanya.“Masuk,” katanya singkat.Nada itu bukan ajakan. Lebih seperti perintah.Aku menurut.Begitu pintu tertutup, udara di ruangan itu berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Leonard berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu di meja.“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan pada Lysandra?” tanyanya tanpa menoleh.“Aku hanya bertanya,” jawabku pelan.“Kau berbicara seolah-olah ada seseorang yang mendorongmu ke danau,” katanya tajam. “Itu tidak pantas.”Aku menelan ludah. “Dan jika memang begitu?”Leonard berbalik cepat. Tatapannya keras.“Elira,” ucapnya menekan. “Kau jatuh ke danau karena kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri.”Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras dari yang kuduga.“Kau begitu yakin?” tanyaku.“Aku tahu bagaimana keadaanmu saat itu,” katanya. “Kau h







