LOGINLeonard tidak langsung membawaku keluar rumah. Ia hanya berjalan menuju lorong samping, langkahnya panjang dan tegas, seolah ingin segera mengakhiri percakapan yang tak ia inginkan.
Kami berhenti di depan ruang kerjanya.
“Masuk,” katanya singkat.
Nada itu bukan ajakan. Lebih seperti perintah.
Aku menurut.
Begitu pintu tertutup, udara di ruangan itu berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Leonard berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu di meja.
“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan pada Lysandra?” tanyanya tanpa menoleh.
“Aku hanya bertanya,” jawabku pelan.
“Kau berbicara seolah-olah ada seseorang yang mendorongmu ke danau,” katanya tajam. “Itu tidak pantas.”
Aku menelan ludah. “Dan jika memang begitu?”
Leonard berbalik cepat. Tatapannya keras.
“Elira,” ucapnya menekan. “Kau jatuh ke danau karena kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri.”
Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras dari yang kuduga.
“Kau begitu yakin?” tanyaku.
“Aku tahu bagaimana keadaanmu saat itu,” katanya. “Kau hancur. Kau tahu aku tidak mencintaimu. Kau tahu aku tidak bisa memberimu apa yang kau inginkan.”
Aku tersenyum pahit. “Jadi menurutmu… itu alasan yang cukup?”
Ia menghela napas kasar. “Jangan memutarbalikkan keadaan. Kau pergi ke danau itu sendiri.”
“Apakah kau melihatnya?” tanyaku.
Leonard terdiam sesaat.
“Tidak,” katanya akhirnya.
“Lalu bagaimana kau bisa begitu yakin?”
Ia mengepalkan rahang. “Karena tidak ada siapa pun yang akan menyakitimu.”
Aku mengangkat wajah. “Tidak ada siapa pun… atau tidak ada siapa pun yang ingin kau curigai?”
Tatapannya mengeras.
“Jangan bawa Lysandra ke dalam ini,” katanya dingin.
Aku menatapnya lama. “Aku tidak menyebut namanya.”
Keheningan jatuh di antara kami.
Leonard menarik napas dalam-dalam. “Lysandra selalu berada di sisiku. Ia tidak akan—”
“—menyakitiku?” potongku lembut.
Nada suaraku terlalu tenang. Itu yang membuatnya marah.
“Kau sedang menyiratkan sesuatu,” katanya. “Dan aku tidak menyukainya.”
“Aku hanya ingin kebenaran,” jawabku. “Bukan versi yang paling mudah kau terima.”
Leonard melangkah mendekat. Jarak kami kini terlalu dekat.
“Kebenaran itu menyakitkan,” katanya rendah.
Aku menatap matanya—dan di sana aku melihatnya.
Bukan kemarahan.
Tapi ketakutan.
Takut jika kenyataan yang ia bangun runtuh.
“Jika aku memang ingin mati,” ucapku pelan,
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Leonard tidak menjawab.
Ia berpaling, berjalan menjauh. “Percakapan ini selesai.”
Aku tahu—aku kalah untuk saat ini.
Tapi satu hal juga jelas.
Leonard tidak marah karena aku salah.
Aku belajar satu hal sejak terbangun di tubuh Elira:
Rumah sebesar ini bisa terasa seperti penjara, jika semua orang di dalamnya sepakat untuk diam.
Pagi itu, mansion terasa terlalu rapi. Terlalu tenang. Seolah kejadian di danau tidak pernah hampir merenggut nyawa pemilik tubuh ini. Seolah aku—Elira—tidak pernah berdiri di ambang kematian.
Aku duduk di ruang duduk kecil dekat jendela, secangkir teh di tangan yang sudah dingin. Pikiranku terus kembali pada percakapan dengan Leonard kemarin.
“Kau jatuh ke danau karena kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri.”
Kalimat itu bukan hanya menyakitkan.
Itu penolakan.
Bukan padaku—
Aku menghela napas pelan.
Kalau Leonard belum siap melihat kebenaran, maka aku harus mencarinya sendiri.
“Nyonya.”
Aku menoleh. Mira berdiri ragu di ambang pintu.
“Kau tampak pucat,” katanya. “Apa Nyonya ingin kembali beristirahat?”
Aku menggeleng. “Tidak. Aku ingin bertanya sesuatu.”
Mira menegang. Tangannya mencengkeram ujung celemek.
“Tentang malam itu,” lanjutku pelan. “Malam sebelum aku jatuh ke danau.”
Ia menunduk.
“Aku tahu kau tahu sesuatu,” kataku lembut. “Dan aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kau diam… aku mungkin tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.”
Mira terdiam lama. Lalu ia melangkah masuk dan menutup pintu perlahan.
“Malam itu,” ucapnya lirih, “Nyonya menerima telepon sekitar pukul sembilan.”
Telepon lagi.
“Dari siapa?” tanyaku.
“Aku tidak tahu,” jawabnya. “Nomornya tidak tersimpan. Tapi setelah itu… Nyonya berubah.”
“Bagaimana?”
“Wajah Nyonya pucat. Seperti… orang yang baru kehilangan sesuatu.”
Dadaku mengencang. Rasa itu—kehilangan—terlalu akrab.
“Apa aku mengatakan mau ke danau?” tanyaku.
Mira menggeleng cepat. “Tidak. Nyonya bilang ingin keluar sebentar. Katanya… ingin bicara.”
“Dengan siapa?”
“Itu yang aneh,” bisik Mira. “Tidak ada tamu yang datang ke mansion. Tapi—”
Ia berhenti.
“Tapi apa?” desakku.
“Tapi sepuluh menit kemudian, mobil kecil keluar dari gerbang samping.”
Mobil.
Bukan mobil utama keluarga Veyron.
“Kau yakin?” tanyaku.
Mira mengangguk. “Mobil hitam. Tanpa lambang keluarga. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.”
Aku menelan ludah.
“Dan setelah itu?”
“Sekitar satu jam kemudian… aku melihat Nyonya berjalan kembali dari arah taman.”
Berjalan.
Bukan diantar.
“Sepatu Nyonya basah,” lanjut Mira, suaranya bergetar. “Tapi mantel Nyonya kering. Itu yang membuatku takut.”
Aku memejamkan mata.
Jika seseorang melompat ke danau, air akan membasahi semuanya.
Jika seseorang dijatuhkan… atau ditinggalkan di tepi danau—
“Mira,” kataku perlahan, “kenapa kau tidak mengatakan ini pada Leonard?”
Ia tersenyum pahit. “Karena Tuan tidak ingin mendengarnya.”
Jawaban itu terasa lebih menyakitkan dari yang kuduga.
Siang itu, aku berjalan sendiri ke taman belakang. Danau terlihat tenang, berkilau di bawah matahari—seolah menyembunyikan kegelapan di bawah permukaannya.
Aku berdiri di tepiannya.
Tubuh ini mengingat sesuatu.
Bukan ingatan yang utuh—lebih seperti gema emosi.
Takut.
Ditinggalkan.
Aku berjongkok, menyentuh tanah di dekat air. Jari-jariku meraba sesuatu yang keras.
Aku menariknya.
Sebuah kancing mantel.
Bukan milikku.
Kancingnya berwarna gelap, dengan ukiran kecil di tengah—simbol yang asing, tapi terasa… mahal.
Jantungku berdegup keras.
Jika ini masih ada di sini setelah semua waktu berlalu, berarti tidak ada yang benar-benar membersihkan tempat ini.
Berarti seseorang tidak menyangka aku akan hidup.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
“Elira?”
Aku berdiri cepat, menggenggam kancing itu di telapak tanganku.
Leonard berdiri beberapa meter dariku. Wajahnya serius, sorot matanya gelap.
“Kau tidak seharusnya ke sini sendirian,” katanya.
“Aku hanya berjalan,” jawabku, mengulang kalimat yang sama seperti Elira malam itu.
Ia terdiam.
“Kau masih memikirkan hal itu?” tanyanya.
Aku menatap danau. “Aku memikirkan kenapa aku masih hidup.”
Leonard menghela napas, jelas tidak sabar. “Kita sudah membicarakan ini.”
“Tidak,” aku menoleh padanya. “Kau yang membicarakan. Aku hanya mendengarkan.”
Ia mendekat satu langkah. “Aku tidak ingin kau menyiksa dirimu sendiri dengan dugaan-dugaan yang tidak ada buktinya.”
Aku membuka telapak tanganku.
“Kau tahu ini?” tanyaku.
Leonard menatap kancing itu. Alisnya berkerut.
“Bukan milikmu,” katanya yakin.
“Dan bukan milik siapa pun di rumah ini,” tambahku.
Keheningan menyelimuti kami.
“Itu bisa saja terbawa siapa pun,” katanya akhirnya.
“Ke tepi danau?” tanyaku pelan. “Di malam hari?”
Leonard terdiam.
Aku tahu ia masih menyangkal. Tapi retakan kecil itu sudah muncul.
“Aku tidak menuduh siapa pun,” kataku lembut. “Aku hanya tidak ingin dianggap gila karena bertanya.”
Ia menatapku lama. “Berhentilah.”
Satu kata. Tegas. Memohon.
“Untuk saat ini,” lanjutnya. “Tolong berhenti.”
Aku mengangguk pelan.
Tapi dalam hati, aku tahu—
aku tidak akan berhenti.
Malam itu, aku kembali ke kamar dengan pikiran penuh. Aku menyembunyikan kancing itu di laci terdalam meja rias.
Saat aku duduk di depan cermin, pantulan wajah Elira menatap balik.
“Kau tidak sendirian lagi,” bisikku pada bayangan itu.
Karena sekarang…
Dan siapa pun yang mencoba membuat kematianmu terlihat seperti pilihanmu sendiri—
akan menyesal telah gagal.
Malam di mansion Veyron terasa lebih panjang dari biasanya.Lampu-lampu lorong menyala redup, menciptakan bayangan yang memanjang di dinding marmer. Setiap langkah terasa bergema, seolah rumah besar ini ikut mengingat terlalu banyak hal yang selama ini dipendam.Aku duduk di tepi ranjang, memeluk bantal.Tidak menangis.Tidak bergerak.Hanya… kosong.Alea sadar sepenuhnya. Otakku bekerja, mencoba menata ulang potongan-potongan kebenaran.Namun tubuh ini—tubuh Elira—masih menyimpan sisa rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
Ruang makan itu dingin, meski lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan.Aku duduk di kursi Elira—kursi seorang istri yang sah, namun tak pernah benar-benar dianggap ada. Di hadapanku, keluarga Valen duduk dengan sikap tenang dan senyum tipis yang terlalu terlatih.Ini bukan jamuan keluarga.Ini pertemuan bisnis.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya keras, rahangnya mengatup. Ia bahkan tidak menatapku—seolah kehadiranku hanya formalitas yang terpaksa diterima.“Elira,” suara pria paruh baya itu terdengar datar. “Kami dengar kondisimu sempat… mengkhawatirkan.”Arman Valen.Ayah kandung Elira.
Ruang makan utama mansion Veyron malam itu dipenuhi suara—bukan tawa, bukan kehangatan, melainkan denting sendok yang terlalu keras dan napas yang ditahan.Aku duduk di kursi yang sama. Kursi Elira.Namun malam ini, untuk pertama kalinya, keluarga besar Elira hadir di hadapanku.Mereka datang tanpa senyum. Tanpa basa-basi.Seolah kedatanganku bukan sebagai menantu… melainkan sebagai peringatan.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya datar, dingin, seperti dinding batu yang tak ingin disentuh.Di hadapanku, seorang pria paruh baya dengan rahang tegas dan tatapan tajam menatap tanpa berkedip.“Sudah lama sekali sejak kau terlihat cukup s
Leonard tidak langsung membawaku keluar rumah. Ia hanya berjalan menuju lorong samping, langkahnya panjang dan tegas, seolah ingin segera mengakhiri percakapan yang tak ia inginkan.Kami berhenti di depan ruang kerjanya.“Masuk,” katanya singkat.Nada itu bukan ajakan. Lebih seperti perintah.Aku menurut.Begitu pintu tertutup, udara di ruangan itu berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Leonard berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu di meja.“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan pada Lysandra?” tanyanya tanpa menoleh.“Aku hanya bertanya,” jawabku pelan.“Kau berbicara seolah-olah ada seseorang yang mendorongmu ke danau,” katanya tajam. “Itu tidak pantas.”Aku menelan ludah. “Dan jika memang begitu?”Leonard berbalik cepat. Tatapannya keras.“Elira,” ucapnya menekan. “Kau jatuh ke danau karena kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri.”Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras dari yang kuduga.“Kau begitu yakin?” tanyaku.“Aku tahu bagaimana keadaanmu saat itu,” katanya. “Kau h
Pagi itu udara terasa lebih ringan, tapi entah kenapa dadaku justru terasa penuh. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah Elira—kulit pucat, mata lembut, dan garis rapuh yang selalu membuat orang mengira ia mudah dihancurkan.Namun hari ini berbeda.Ada sesuatu yang hidup di balik mata itu. Sesuatu yang tidak lagi mau tunduk.“Gaun ini cocok sekali,” ujar Mira sambil merapikan lipatan kain biru muda di bahuku. “Tuan pasti… terkejut.”Aku tersenyum tipis. “Itu tujuannya.”Mira terdiam, lalu ikut tersenyum kecil. Ia pasti juga merasakan perubahanku. Elira yang dulu tak pernah peduli dengan penampilan—seolah ingin menghilang—kini berdiri tegak, tenang, dan sadar akan keberadaannya.Saat aku melangkah menuju ruang makan, langkah kakiku mantap. Tidak tergesa, tidak ragu.Meja makan sudah terisi.Leonard duduk di ujung meja, seperti biasa. Posturnya tegap, wajahnya tenang, tapi sorot matanya selalu dingin—seperti dinding yang tak pernah bisa ditembus.Dan di sisi kanannya, Lysand
Malam turun dengan cepat, menyelimuti rumah besar keluarga Valdez dengan keheningan yang dingin. Lampu-lampu taman sudah dinyalakan, memantulkan cahaya lembut di permukaan danau yang tenang.Aku berdiri di jendela kamar, menatap ke arah gelapnya air itu. Bayangan pohon-pohon besar di sekelilingnya tampak seperti sosok-sosok raksasa yang berjaga. Ada sesuatu di sana… aku bisa merasakannya.“Kalau memang jawabannya ada di tempat itu,” gumamku, “aku harus melihat sendiri.”Dengan hati-hati aku mengenakan mantel tipis, lalu membuka pintu kamar. Koridor sunyi, hanya cahaya lilin kecil yang menerangi. Aku melangkah pelan, menahan napas setiap kali papan lantai berderit di bawah kakiku.Beruntung, Mira sudah memberitahuku jalur yang lebih sepi menuju taman belakang—melewati lorong samping dapur, bukan lewat aula utama.Begitu keluar, udara malam menyambut. Dingin menusuk tulang, tapi aku tetap melangkah, menuruni anak tangga batu yang mengarah ke halaman belakang.Taman itu luas, dipenuhi bu







