Se connecter"Iya, Dek. Gapapa kan ya? Biar enak aja nyelip-nyelip gitu.”
Novaria hanya mengangguk. Dia kemudian naik ke jok belakang, tapi mengambil posisi duduk yang agak jauh dariku. Kedua tangannya bahkan diletakkan ke belakang, bertumpu pada behel pegangan motor. Jarak di antara kami jadi terasa renggang.
‘Duh, kok dia duduknya gini amat, ya? Malah berasa jadi pasutri yang lagi berantem!’ batinku.
"Dek, nggak kemunduran duduknya? Entar jatuh loh," tegurku, merasa aneh.
Men
Miya tersenyum ramah. “It’s okey, Lori. Sini duduk. Aku ambil minum dulu.”“Oh, no no, don't worry, Miya! Nanti saja. Aku tidak mau bikin kamu repot,” tahan Lori ramah.“Lori kamu ajak ngobrol Miya ya. Biar aku yang buatin minum,” kataku, hendak masuk ke dalam.Namun Novaria langsung menahanku. “Biar Nova aja yang bikin tehnya.”Aku mengangguk dan mengulas senyum. “Makasih, Nov.”Novaria pun bergegas masuk ke dalam, membawa kue laklak di tangannya.Lori duduk di kursi santai dekat Miya, sementara Choco sibuk mengendus rumput sebelum akhirnya pasrah dielus-elus oleh Karina yang bersandar di tepi kolam.“How are you feeling today, Miya? Little baby sehat, kan?” tanya Lori penuh perhatian dengan aksen bulenya.“Sehat banget, Lori. Thanks for u asking,” jawab Miya tersenyum. “Aku boleh rebahan lagi ya? Maklum, aku sudah nggak tahan duduk tegak terlalu lama.”“Oh, silakan! Rebahan saja! Bali sore hari memang paling best buat santai,” kekeh Lori.Tak lama kemudian, Novaria pun kembali sambi
Empat hari berlalu...Semuanya berjalan aman tanpa kendala. Miya dan Karina kembali ceria, tak marah sama sekali padaku. Hanya saja, ada yang berubah dari Masha. Dia lebih banyak diamnya. Bahkan terkesan menjauhiku.Aku pun tidak memaksanya dan mencoba memberinya ruang untuk sendiri.Di sisi lain, di lingkungan baru ini, aku sudah mulai mengenal beberapa tetangga.Tepat di depan rumah, ada pasangan suami istri berusia 50-an yang belum dikaruniai anak meski usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun ke-25. Untuk mengobati rasa sepi, mereka memelihara seekor anjing.Pasutri itu adalah Rick dan Lori, warga negara asal Swedia yang kini menetap di Bali karena pekerjaan Rick.Sejak awal kedatangan kami, mereka sangat ramah dan cukup oversharing ke kami, makanya aku bisa langsung tahu kisah hidup mereka.Di sebelah kiri rumahku, penghuninya bernama Florin. Dia hidup hanya sendirian di rumah itu.Kata Lori, Florin adalah seorang janda berusia 25 tahun yang sudah pernah menikah tiga kali.Per
Masha perlahan mendorong dadaku pelan, meminta jarak.Dia mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatapku dengan mata yang tampak memerah dan sembap.“Gus... kamu itu laki-laki. Kamu harus belajar ngambil keputusan sebagai seorang pria, bukan cuma berdasarkan rasa bersalah atau ketakutan kamu kehilangan aku,” ucapnya dengan nada yang mulai berangsur tenang, meski getar di suaranya masih terdengar jelas.Aku menatapnya diam, menunggu kelanjutan kalimatnya.“Pergi ke kamar Mama sama Karina,” lanjut Masha tegas, walau matanya kembali berkaca-kaca. “Minta maaf sama mereka. Minta maaf karena kamu sempat berpikiran sekonyol itu. Nikahin mereka sesuai rencana awal kamu. Mereka lagi ngandung anak kamu, Gus. Mereka butuh kepastian itu.”“Tapi kamu—”“Aku bakal tetap ada di sini sampai Karina melahirkan,” potong Masha cepat, menahan ucapanku. “Aku bakal nemenin kamu sama mereka melewati proses ini. Tapi tolong... jangan pernah tahan aku lagi kalau saatnya udah tiba nanti. Bi
Kini di ruang makan hanya tersisa aku, Masha, dan Novaria. Karina sendiri sudah menyusul Miya sembari menangis sesenggukan.Masha menoleh ke arah Novaria. “Dek, kamu boleh ke ruangan lain sebentar? Kakak mau ngobrol sama Mas Argus,” ucapnya pelan.Novaria menatapku sekilas. Aku mengangguk pelan padanya, memberi isyarat ‘tidak apa-apa, pergi saja.’Tanpa banyak bicara, Novaria pun beranjak pergi meninggalkan kami berdua di ruang makan.Begitu hanya sisa kami berdua di meja makan, Masha langsung menatapku tajam. Kemarahannya pecah. “Maksud kamu apa sih, Gus? Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu di depan mereka?”“Aku nggak punya pilihan, Yang. Semalam aku kepikiran sama omongan kamu. Aku yakin ini keputusan yang paling benar. Aku nggak bakal nikahin siapa pun.”“Kamu wajib nikahin mereka, Argus! Kamu sudah buat mereka hamil!” desak Masha dengan nada tinggi.
Keesokan paginya, pukul tujuh…Aroma harum masakan sudah memenuhi area ruang makan.Aku baru saja menyajikan piring terakhir di atas meja kayu panjang. Semua hidangan sarapan sudah tertata rapi, siap untuk disantap bersama.Tadi subuh, saat langit Bali masih gelap, aku terbangun karena udara terasa sangat dingin.Saat keluar kamar, aku melihat Novaria ternyata sudah bangun juga dan sedang peregangan di ruang tamu.Akhirnya, aku pun mengajak Novaria pergi ke pasar tradisional yang lokasinya tak jauh dari rumah kami di Sanur.Pasar tradisional Bali di pagi hari terasa sangat hidup. Bau wangi janur segar, bunga kamboja, dan dupa berpadu dengan aroma rempah-rempah yang dijajakan para pedagang.Suasana riuh tawar-menawar dalam bahasa Bali yang khas, dipadu dengan ramahnya para pedagang lokal, memberikan kesan hangat bagiku sebagai pendatang baru.Di sana, aku dan Novaria memilih sayuran segar, bumbu dapur, berbagai jenis ikan
“Ya sudah. Kalau mau liat, tinggal ke lorong sebelah. Kamar kamu juga nggak kalah cantik kok dari kamar ini.”Masha mengangguk kecil sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah taman.Pak Doni kemudian menyerahkan serangkaian kunci rumah kepadaku.“Kalau begitu, Pak Argus, ini kunci-kunci rumahnya. Dokumen penyerahan dan daftar inventarisnya juga sudah lengkap. Silakan diperiksa nanti. Kalau ada yang ingin ditanyakan, Bapak bisa langsung menghubungi saya.”Aku menerima kunci tersebut dan memeriksanya sekilas sebelum memasukkannya ke saku.“Baik, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya.”“Sama-sama, Pak. Saya tunggu di depan, ya. Kalau ada yang perlu dibicarakan lagi, silakan menyusul.”“Iya, Pak. Nanti saya menyusul ke depan.”Pak Doni berpamitan, lalu melangkah keluar kamar. Masha juga akhirnya meninggalkan ruangan untuk menyusul Karina dan Novaria.Setel
Begitu pun dengan Mbak Masha, matanya yang semula sayu-sayu mengantuk langsung melotot segar begitu melihat kami.Menyadari tatapan mematikannya, aku langsung peka dan buru-buru melepaskan tangan Karina. Aku lalu menjauh satu langkah, panik dan ingin segera klarifikasi sebelum dia salah paham.Tapi
Novaria hanya diam. Dia tidak meringis ataupun marah. Selama seminggu aku di sini, dia memang yang paling tertutup. Jarang berinteraksi dengan kakak-kakaknya, apalagi dengan ibu tirinya. Waktunya lebih banyak habis di dalam kamar setelah pulang kuliah.Nova menatapku dengan mata bulat yang jernih,
Saat ini, aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisku. Suasananya membuatku merinding, persis seperti suasana mencekam di ruang BK setelah aku tertangkap basah merokok di belakang sekolah."P-paman... maaf kalau saya ada salah selama tinggal disi
Wajah Karina yang tadinya merah karena malu, mendadak berubah jadi senyum menyeringai yang licik. Dia melipat tangan di dada, membuat tank top ketat yang dipakainya semakin menjiplak bentuk tubuhnya yang sintal.Mataku yang nakal refleks melirik ke dadanya sebentar, lalu kembali menatap matanya den







