ログインAku baru saja kelar mandi setelah membawa Mbak Masha ke kamarnya. Sekarang badanku terasa jauh lebih segar, tapi tidak dengan pikiranku.Aku lalu melangkah ke dapur, hendak menyeduh kopi hitam, berharap kafein bisa sedikit mengurai benang kusut di kepalaku.Di sana, aku melihat Novaria sedang menuangkan makanan kering ke mangkuk kucingnya.Mengingat kejadian canggung di ruang tamu tadi, aku pun berdeham pelan, mencoba mencairkan gunung es di antara kami. "Dek Nova, Karina ada di rumah, kan? Dia nggak keluyuran keluar?”Novaria menghentikan gerakan tangannya sebentar. Dia menggeleng tanpa melihat ke arahku. "Nggak tau. Nova nggak merhatiin,” jawabnya ketus.Setelah menjawab dengan nada dingin itu, Novaria langsung berbalik dan berjalan pergi begitu saja. Dia bahkan tidak menghiraukan Jeno, kucingnya, yang masih asik makan.Aku hanya bisa menghela napas panjang melihat punggungnya yang menjauh. Sikapnya benar-benar berubah drastis. Makin hari makin dingin.Namun, fokusku langsung berali
Kini kami sudah berada di mobil, dalam perjalanan pulang ke rumah.Mbak Masha menyandarkan kepalanya di jok mobil sambil menatapku yang sedang menyetir. Senyum tipis tidak pernah surut dari wajahnya."Gus," panggil Mbak Masha, suaranya terdengar sangat lembut, melebihi lembutnya suara temen yang mau minjem duit."Iya, Mbak?""Malam ini aku seneng banget. Rasanya lega bisa keluarin semua unek-unek yang selama ini aku pendam sendiri," ucapnya sambil memandangi jalanan di luar jendela, lalu kembali menatapku. "Makasih banyak ya, Gus. Kamu udah mau nemenin aku makan malam dan dengerin semua cerita aku tadi."Mendengar itu, aku pun membalas senyumnya dan mengangguk pelan. "Sama-sama, Mbak. Saya malah senang kalau bisa bikin perasaan Mbak Masha jadi lebih baik."Mbak Masha terkekeh kecil, lalu tanpa diduga, tangannya bergerak menyentuh lengan kiriku dan mengusapnya sekilas dengan mesra. "Kamu itu emang selalu bisa diandelin, Gus. Nggak tau deh apa jadinya rumah kalau nggak ada kamu.”Sentuh
Ya, tiga hari yang lalu Paman Karyo pamitnya ke Medan, katanya ada kerjaan di sana. Tapi kenapa malam ini dia malah ada di restoran Jakarta?Aku masih agak ragu dan ingin memastikan lagi, soalnya pria itu duduk membelakangiku, jadi hanya punggungnya saja yang kelihatan.Tapi sumpah, dari belakang benar-benar mirip Paman Karyo! Gestur tubuh dan potongan rambutnya tidak salah lagi.Dia tidak sendirian. Ada seorang perempuan muda yang menemaninya di meja itu. Mereka tampak begitu akrab dan mesra. Perempuan itu berambut merah gelap, kulitnya putih bersih dengan gaun yang cukup terbuka.‘Rambut merah?’Oh damn!Aku langsung teringat omongan Mas Syukur di warung Bu Asih waktu itu. Gosip yang beredar kan memang katanya Paman Karyo beberapa kali ketangkap jalan sama perempuan rambut merah yang diduga selingkuhannya.‘Apa jangan-jangan gosip itu memang benar?’Karena penasaran dan ingin meyakinkan diri,
"M-mbak, nggak usah... saya bisa makan sendiri kok.""Udah, buruan ih, pegel tau tanganku," paksanya sambil memajukan garpu itu.Terpaksa aku membuka mulut dan menerima suapannya. Demi apa pun, rasa daging premium itu mendadak hambar karena fokusku telanjur pecah melihat senyum manis Mbak Masha yang jaraknya begitu dekat.Setelah momen mendebarkan itu lewat, suasana makan malam perlahan berubah menjadi lebih intim dan serius. Mbak Masha menatap minumannya, lalu menghela napas panjang."Gus... kamu tau kan gimana beratnya jadi anak pertama?""Tau, Mbak. Pasti berat banget.""Bukan cuma berat, tapi melelahkan. Setelah Mama meninggal sepuluh tahun lalu, aku terpaksa jadi pengganti figur ibu buat adik-adikku. Aku yang urus Nova, aku yang urus Karina. Aku harus kelihatan kuat di depan mereka. Dan aku berhasil, Gus. Aku bisa urus mereka dengan baik pas Papa lagi sibuk-sibuknya bekerja."Raut wajah Mbak Masha mendadak mengeras, menyiratkan kekecewaan yang mendalam. "Tapi tiba-tiba Papa malah
"Hehehe, biasa aja sih, Mbak. Lagian sudah jadi tugas saya juga buat mastiin Mbak Masha aman," jawabku agak salah tingkah sambil menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal."Oh ya, ngomong-ngomong... selama ini kan kita cuma ngobrol langsung aja kalau pas di rumah. Aku tuh kadang pengen ngobrol atau nanya-nanya sesuatu lewat chat juga, Gus. Misal pas aku lagi di kantor atau di jalan gitu. Tapi aku belum punya nomor kamu. Gimana kalau kita saling simpan kontak, biar gampang komunikasinya.”"Boleh, Mbak.""Yaudah sini hp kamu, biar aku ketikin nomerku.”Tanpa pikir panjang, aku langsung menyerahkan ponselku yang dalam posisi tidak terkunci. Aku benar-benar lupa kalau sebenarnya aku sudah menyimpan nomornya sejak lama—pemberian dari Paman Karyo waktu itu. Masalahnya, kami memang belum pernah bertukar pesan karena aku selalu merasa sungkan dan agak segan untuk memulai duluan.‘Waduh, mampus!’ Aku langsung keringat dingin saat mengingat sesuatu.Aku baru ingat!! Ternyata aku menamai ko
Bagaimana bisa kabar burung yang belum jelas kebenarannya dijadikan bahan omongan mereka di sore yang cerah ini? Bukankah lebih baik membahas program pemerintah, atau hobi, atau apapun yang lebih bermanfaat?Setelah mengambil kantong belanjaanku dari Bu Asih, aku melangkah tegap mendekati kerumunan mereka. Suasana mendadak hening.“Saya mau minta tolong ke Bapak-Bapak sekalian,” ucapku dengan suara rendah tapi tegas. "Jangan menyebarkan gosip yang tidak-tidak soal majikan saya. Kalau kalian bicara seperti ini tanpa ada bukti, jatuhnya fitnah."Pak Sugono malah terkekeh meremehkan. "Halah, Gus! Gosip itu kan fakta yang tertunda!""Iya, Mas Argus," timpal Mas Syukur membela diri. "Saya juga nggak bakal cerita begini kalau nggak ada info dari tetangga sebelah. Nggak mungkin toh mereka tega bohongi kita? Cuma ya itu, emang kemarin Bu Darsih lupa fotoin, jadi belum ada buktinya.”"Saya tidak mau dengar pembelaan kalian,” potongku
Detik berikutnya, aku merasakan sesuatu yang basah, hangat, dan lembut menempel di bibirku.Awalnya hanya sebuah kecupan singkat, namun Karina mulai menekan lebih dalam. Dia melumat bibir bawahku dengan sangat telaten, seolah sedang menikmati es krim di tengah cuaca panas.Tanganku
Tepat di depan pintu kamar Tante Miya, langkahku terhenti. Kata-kata Mbok Carmen soal ‘jamu subur’ tadi kembali berputar di otakku.Apa Tante Miya sudah menyerah pada Paman Karyo? Makanya dia begitu gencar menggodaku saat rumah sedang sepi? Bahkan pikiran gilaku meluncur lebih
Mataku melotot tidak percaya, kaget mendengar permintaannya.Tapi jujur saja, siapa juga yang mau menolak? Jangankan diminta, dari tadi pun aku sudah gatal ingin mencicipi bibirnya. Rasanya pasti ulala maknyos!"Oke," jawabku cepat, tidak mau membuang kesempatan.Saat aku mulai mendekatkan wajah, K
"M-mbak... itu... anu..." Lidahku mendadak kelu. Keringat membanjiri keningku.“Anu apa??!!!” desaknya, menuntut penjelasan."Mbak salah paham! Saya cuma... t-tadi si Jeno masuk ke keranjang cucian, takutnya dia pipisin kutangnya Mbak, jadinya saya nyium-nyium gitu, mau mastiin.” Alasanku terdengar







