Share

3. Satu Kisah

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-01-03 14:55:18

Akhirnya malam yang dijanjikan oleh Sagara pun tiba. Aku sudah bersiap sejak satu jam yang lalu tetapi tak ada suara mobil yang datang menjemputku. Pelayan wanita yang biasa mengurus pemilik tubuh ini pun sudah tidak terlihat lagi berkeliaran di dalam rumah.

"Mungkin ia sudah pulang seperti biasa aku sendiri dalam malam sepi," gumamku.

Jika keadaan rumah sudah kosong aku baru berani mengeluarkan suara, hal ini sengaja aku lakukan demi alasan yang belum bisa aku ungkap sekarang.

Benda pipih hitam yang tergeletak begitu saja di meja mulai bergetar, lalu suara notif terdengar. Kuraih benda itu, rupanya ponsel milik Sagara tertinggal. Atau mungkin sengaja ditinggal agar aku bisa menggunakan benda tersebut.

Kutekan tombol khusus untuk membuka benda itu sesuai arahan Saga waktu itu. Dan berhasil. Sayangnya dalam tampilan layar utama terlihat kemesraan mereka berdua. Ah, tidak rupanya itu bukan milik Sagara. Hal ini kusimpulkan dari semua karakter isi ponsel bernuansa wanita yang lembut. Tiba-tiba ponsel itu berdering membuatku kaget.

Sungguh aku tidak sanggup lagi melihat Semua aktifitas yang terlihat di dunia maya. Sangat terlihat senyum Sagara saat berinteraksi dengan wanita itu, senyum yang tulus tidak seperti saat bersamaku.

"Hem, rupanya ini memang kau sengaja agar aku bisa melihat semua kemesraan kalian, Aurel."

Ada suara mobil memasuki halaman, aku segera membenarkan cara dudukku dan mengembalikan benda pipih itu ke tempat semula. Pintu utama terbuka, Sagara berjalan tergesa dengan pandangan yang bingung seakan ia sedang mencari sesuatu dan melupakan janjinya padaku.

"Dimana ponsel Aurel, apa kau melihatnya?" tanya Sagara dengan bahasa isyarat.

Aku hanya menggeleng saja, padahal benda itu tergeletak begitu saja di depanku tetapi mengapa pria tersebut seolah tidak melihat keberadaanya. Aneh.

"Segera bersiaplah, acara akan segera dimulai," katanya saat sudah menemukan ponsel itu.

Aku berdiri, lalu meraih tas selempang yang sejak tadi sudah terdampar di pinggiran sofa lalu kupakai. Pandanganku beralih pada wajah Sagara, ia pun mengibaskan jas hitam lalu memberikan lengannya padaku agar aku berpegang di sana.

"Ayo segera berangkat!"

Ku ikuti setiap ayunan langkah Sagara hingga sampai di depan mobil sedan hitam berplat khusus. Pintu belakang dibuka membuat dahiku menyatu.

"Maafkan aku, Kak. Untuk sementara tempat kamu di belakang ya, perutku sedang tidak baik," kata Aurel tanpa aku tanya lebih dulu.

Aku tetap diam, lalu melangkah masuk ke dalam mobil. Sagara tidak bersuara menjelaskan keadaan itu hingga sampai di tempat acara. Kedua insan itu berjalan beriringan melupakan kehadiranku malam ini. Bibirku sedikit kupaksa untuk melempar senyum pada setiap orang yang berpapasan.

"Nona Gendhis, apa kabar?"

Seseorang pria datang menyapaku, kutaksir usianya sudah senja sekitar 50th. Namun, logat dan caranya menyapaku begitu sopan dan menghargaiku. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk ringan.

"Apakah Anda juga melupakan saya?"

Dengan sedikit ragu kugerakkan lenganku menjawab pertanyaan itu, dalam ingatan pemilik tubuh ia adalah asisten setia ayahnya bernama Roland. Melihat jawabanku bibirnya tersenyum dan mengangguk.

"Kali ini saya berharap Anda tidak salah pilih, Nona," katanya.

"Semoga sesuai dengan ekspetasi Anda," jawabku dengan bahasa isyarat.

Tanpa berkata lagi, Roland langsung berbalik. Pria itu melangkah naik ke panggung, meraih mikrofon dan mulai berbicara. Wajahnya yang terlihat ragu terus menatap ke arahku mencari jawaban atas pernyataan sebelumnya bahwa aku akan menyerahkan semua saham dan perusahaan itu pada Sagara.

Suara Roland terdengar tegas dan yakin jika semua keputusan ini murni dan nyata, bahwa semua saham akan berganti nama menjadi Sagara Stinzky. Namaku pun akhirnya terdengar, aku melangkah menuju ke panggung. Kulihat seluruh isi ruangan itu dan berhenti pada sosok pria yang wajahnya sama persis dengan wajah Senopati Ranggalawe.

'Mungkinkah pria itu juga melintasi waktu di saat terakhir memeluk tubuhku?' tanyaku sendiri.

Roland menyodorkan file dengan sebuah pena khusus padaku, kuterima, membaca sekilas lalu mengulas senyum tipis. Setiap poin terlihat hampir sama, keuntungan penuh ada pada kekuasaan Sagara Stinzky aku hanya hiasan belaka. Perlahan, kuangkat file itu, dengan santai kurobek itu perjanjian membuat kedua mata Sagara melotot tidak percaya.

Pria itu melangkah cepat naik ke panggung dan berdiri di sisiku di susul oleh Aurel. Ternyata hingga kesadaranku kembali semua masih sama, bahwa aku hanya menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan rahasia yang menuntut kekuasaan.

"Apa ini maksudnya, Gendhis?'' tanya Saga.

"Kak, bukankah kau sudah berjanji pada kami jika tanah itu berhasil didapat Kak Saga maka semua saham dan perusahaan milikmu akan beralih nama jadi Kak Saga. Mengapa sekarang berubah?''

Sungguh, ternyata selama ini aku buta dan terlalu cinta pada pria yang gila kekuasaan dan nafsu. Dengusanku terasa panas dan kasar, kubiarkan mereka berdua terus menatapku penuh tanya tanpa kujawab satu kata pun. Justru aku melangkah mendekat pada pria itu. Tanpa bersuara kuraih Jemarinya, kutautkan jemariku pada jari kekar miliknya dan menatapnya penuh harap.

Tidak ada kata, ia pun menggenggam kuat tautan itu. Sagara berjalan menuju ke arah kami, tatapannya tajam ke arahku. Tiba-tiba sebuah tangan lentik melayang hendak menamparku, tetapi segera ditahan oleh pria ini.

"Jangan tunjukkan kekuasaan Anda di sini, Nona Aurel! Saat ini Gendhis adalah milikku, katakan apa perlunya Anda berdua?" Suara pria ini terdengar begitu dingin dan mendominasi.

"Gendhis, apakah kau tahu siapa pria ini? Kau tak layak berdiri sejajar dengannya," oceh Aurel, "Tuan, Anda baru datang ke acara kami jadi jangan kotori hidup Anda dengan menjalin hubungan bersama wanita bisu."

"Gendhis, datanglah padaku agar semua menjadi lebih baik dan aku berjanji akan memulai semua dari awal bersamamu. Percayalah!" rayu Sagara.

Aku tetap diam, telingaku masih bisa mendengar semua kalimat yang meluncur dari mulut pengkhianat itu. Namun, jiwaku sudah merasa sedikit lega karena sosok pria ini begitu familiar dalam otakku.

"Tidak ada hak untuk kalian mengatur hidupku, apalagi Anda, Nona Aurel.'' Suaranya sangat mendominasi hingga suasana ruangan menjadi hening.

Untuk sesaat aku termangu, lalu kugerakkan lenganku menjawab semua,"Ini adalah pilihanku meskipun tidak tahu sosoknya tetapi aku yakin bersamanya hidupku akan baik-baik saja, Tuan Sagara."

Tatapan Sagara beralih pada pria di sampingku, tatapan penuh harap agar pria itu mau melepaskan dan tidak mengikuti inginku. Begitu juga dengan Aurel, ia pun mencoba meraih pergelangan tanganku lalu menarikku agar menjauh.

Akan tetapi, pria ini justru menggenggam erat jemariku, "Aku sebagai tamu tidak bisa menolak apa yang diinginkan tunangan Anda. Lalu dimana letak salahku, Sagara Stinzky?"

Kulihat wajah Sagara memerah, kedua tangannya mengepal kuat. Ia begitu menahan emosi. Sementara aku menatap heran pada sosok asing tetapi bisa buatku nyaman. Siapakah pria ini sebenarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   72.

    Aku menarik napas panjang. Dalam. Menahan semua gemuruh yang hampir pecah di dadaku.“Cukup.”Suaraku tidak keras, tapi cukup untuk memotong ketegangan di antara kami. Kedua pria itu terdiam—untuk sesaat—seolah memberi ruang pada kata yang baru saja keluar dari bibirku.Aku membuka mata, menatap lurus ke arah Anusapati.“Pergi.”Hanya satu kata. Namun kali ini, tidak ada keraguan di dalamnya.Sorot mata Anusapati berubah. Ada sesuatu yang retak di sana—amarah, keterkejutan, mungkin juga luka yang tak sempat ia sembunyikan. Tapi aku tidak lagi goyah.“Aku tidak akan ikut denganmu,” lanjutku, lebih tenang. “Apa pun yang kau janjikan… sudah terlambat.”Rahangnya mengeras. “Gendhis—”“Aku sudah memilih,” potongku.Meski, jauh di dalam hati… aku tahu pilihanku belum sepenuhnya jelas.Di sampingku, Ranggalawe bergerak sedikit. Kehadirannya terasa—tenang, kokoh, seperti tembok yang tak mudah runtuh. Tangannya kembali menyentuh bahuku, bukan menahan, tapi seolah memastikan aku tidak berdiri s

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   71.

    Dia bergeming, masih menatapku penuh tanya. Hingga akhirnya kalimat itu terucap, jelas dan singkat. “Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?”Nada itu tajam.Penuh tuduhan.Membuatku menutup mata sesaat. Anusapati. Mantan suamiku.Aku menatap lurus ke depan. Ke arah pria yang dulu pernah menjadi pusat hidupku. Kini … hanya bagian dari masa lalu.“Tidak ada yang kami sembunyikan,” ucapku tenang.Tatapan Anusapati menajam. “Jangan bohong, Gendhis.”Aku tidak menghindar. Tidak juga menunduk seperti dulu. Sebaliknya, aku menahan tatapannya—mantap, tanpa ragu.Ada jeda sejenak. Cukup untuk membuat udara di sekitar kami terasa lebih berat.Lalu, tanpa berputar-putar lagi, aku berkata, “Aku hamil.”Sunyi. Benar-benar sunyi.Bahkan angin seolah berhenti berembus. Aku bisa melihat perubahan itu di wajah Anusapati—kejutan, ketidakpercayaan, lalu sesuatu yang lebih gelap yang perlahan muncul ke permukaan. Namun, kali ini … aku tidak mundur.Tanganku terangkat perlahan, menyentuh perutku sendiri—

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   70.

    Aku terdiam cukup lama, menunggu jawaban dari pria ini. Hening, tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.Ada sesuatu yang sejak tadi mengusik pikiranku—lebih dalam dari sekadar sidang, lebih tajam dari sekadar bisikan istana. Dan kali ini … aku tidak ingin menghindarinya lagi.Langkah itu sangat jelas siapa pemiliknya. Langkah yang semakin dekat, tetapi terhenti di sana. Di balik pilar yang ke sekian, dan cukup terjangkau untuk pria itu melihat seluruh aktifitasku di sini, bersama pamannya. “Ranggalawe,” panggilku pelan, namun nadanya berbeda. Lebih tegas.Ia menatapku, menyadari perubahan itu.“Ada yang ingin kutanyakan.”Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil. “Tanyakan.”Aku menarik napas panjang. Lalu langsung menatap matanya. “Dunia modern itu.”Hening.Untuk pertama kalinya sejak ia duduk di hadapanku, sorot mata Ranggalawe berubah. Tipis.Hampir tak terlihat. Namun, aku menangkapnya. "Apakah kau juga di sana?" “Kau tahu tentang itu, bukan?” lanjutku, kal

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   69.

    POV GendhisAku mengembuskan napas panjang, membiarkan sisa-sisa ketegangan dari ruang sidang perlahan luruh bersama angin sore. Kutinggalkan ruang itu setelah kepergian Ranggalawe tanpa menoleh lagi meskipun suara Anusapati terus menyebut namaku. Aku tidak peduli. Akhirnya langkahku sampai di depan istana keputren khusus milikku dan pelayan setiaku sudah menyambutku di depan pintu. Dia tersenyum ragu saat melihatku sudah datang, tubuhnya membungkuk sesaat lalu membukakan pintu itu. "Apakah putri ingin segera berendam atau istirahat dulu?" tanya dia dengan nada rendah. "Lebih baik kau siapkan air hangat untuk putri kita membersihkan diri dan segarkan otaknya. Benar begitu 'kan, Putri?" jawab dan tanya pelayan yang sejak tadi mengikutiku. Sementara pelayan yang lain justru menatapku bingung, aku mengangguk padanya. Wanita sederhana itu memberi hormat sekilas padaku, baru berbalik untuk melakukan apa yang disarankan rekannya itu. Aku duduk menunggu semua siap, tidak butuh waktu lam

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   68.

    "Satu lagi, aku hamil dan ini bukan milikmu!" Djer! Bagai petir menyambar tubuhku, aku tersentak. Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa peringatan. Nada bicaranya pun begitu tegas dan dingin. Namun, dampaknya menghancurkan segala yang tersisa dalam diriku.“Hamil?” Suaraku keluar lirih, nyaris tak terdengar. Namun, gema dari kata itu terus berulang di kepalaku, memukul tanpa ampun.Mungkinkah benih itu dari pamanku? Atau justru dari pria lain. Bukankah selama beberapa bulan ini dia sering menghilang entah kemana. Tiba-tiba muncul dengan pakaian yang berbeda bukan dari bangsa kami. Seolah Gendhis bisa menjelajah waktu. Pernah aku melihatnya masuk ke sebuah lingkaran bercahaya dan aku pun pernah mengikutinya. Namun, lingkaran itu menghilang. Kutatap lebih dalam kedua manik matanya, tidak ada kerinduan di sana. Dadaku mengencang, napasku tercekat di tenggorokan melihat semua itu. Ada sesuatu yang retak—bukan di luar, tapi di dalam diriku sendiri.Dan sebelum aku sempat memproses sem

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   67.

    Langkahku terhenti beberapa meter dari mereka.Suara napasku terasa lebih berat dari seharusnya, seolah setiap detik yang berlalu menarik sesuatu dari dalam dada. Kata-kataku menggantung di udara malam yang dingin dan tajam, penuh tuduhan yang bahkan belum sempat dibantah.Mendengar suaraku, Gendhis seketika bangkit. Gerakannya tenang, tanpa tergesa. Tidak ada keterkejutan di sana, tidak pula kegugupan seperti yang mungkin kuharapkan. Dia berdiri tegak, menatapku lurus tanpa bertanya dan berusaha menjelaskan, ataupun berusaha membela diri.Itulah yang justru membuat dadaku terasa sesak. Begitu tenang, tidak riak di sorot matanya. Perlahan, ia melangkah mundur.Bukan menjauh dariku sepenuhnya, tetapi lebih mendekat ke arah Ranggalawe yang masih duduk dengan sikap tenang. Dadaku terasa sesak, keduanya terlihat seakan sudah memperkirakan kedatanganku sejak awal.Jarak di antara keduanya menyempit. Sementara jarakku dengannya terasa makin jauh.Bibir itu bergerak, pelan dengan ritme yang

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   36. Pelaku Berbelok

    Mobil terus melaju di kendarai oleh Siska, aku melihat ke samping sepanjang jalan menuju ke lokasi yang dimaksud dalam rekaman vidio. Ada yang aneh dari perjalanan ini, bagaimana bisa Siska selancar ini menjalankan kendaraan menuju ke lokasi itu. Ini aneh bagiku, aku tetap diam sambil mengirim siny

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   36. Ternyata

    Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaan

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   32. Pilihan Yang Sulit

    Cukup lama aku menunggu jawaban dari pria itu, tetapi dia justru mengingatkan aku akan kejadian awal aku masuk kedunia modern. Aku hanya mengulum senyum saja tanpa bersuara. "Mengapa juga Tuan Senopati harus menolongku jika untuk menanyakan hal ini?""Karena aku merindukan kebersamaan kita di Bala

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   33. Makin Terjepit

    Tawa Sagara justru makin terbahak dengan tatapan yang masih hangat tertuju ke arahku. Aku bungkam. Tatapan ku lurus ke arah manik mata hitam yang penuh misteri. Jika jiwa ini pemilik tubuh mungkin saja dia sudah meleleh mendapatkan perhatian yang sedemikian rupa, tetapi sayangnya saat ini tubuh in

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status