ВойтиAkhirnya malam yang dijanjikan oleh Sagara pun tiba. Aku sudah bersiap sejak satu jam yang lalu tetapi tak ada suara mobil yang datang menjemputku. Pelayan wanita yang biasa mengurus pemilik tubuh ini pun sudah tidak terlihat lagi berkeliaran di dalam rumah.
"Mungkin ia sudah pulang seperti biasa aku sendiri dalam malam sepi," gumamku. Jika keadaan rumah sudah kosong aku baru berani mengeluarkan suara, hal ini sengaja aku lakukan demi alasan yang belum bisa aku ungkap sekarang. Benda pipih hitam yang tergeletak begitu saja di meja mulai bergetar, lalu suara notif terdengar. Kuraih benda itu, rupanya ponsel milik Sagara tertinggal. Atau mungkin sengaja ditinggal agar aku bisa menggunakan benda tersebut. Kutekan tombol khusus untuk membuka benda itu sesuai arahan Saga waktu itu. Dan berhasil. Sayangnya dalam tampilan layar utama terlihat kemesraan mereka berdua. Ah, tidak rupanya itu bukan milik Sagara. Hal ini kusimpulkan dari semua karakter isi ponsel bernuansa wanita yang lembut. Tiba-tiba ponsel itu berdering membuatku kaget. Sungguh aku tidak sanggup lagi melihat Semua aktifitas yang terlihat di dunia maya. Sangat terlihat senyum Sagara saat berinteraksi dengan wanita itu, senyum yang tulus tidak seperti saat bersamaku. "Hem, rupanya ini memang kau sengaja agar aku bisa melihat semua kemesraan kalian, Aurel." Ada suara mobil memasuki halaman, aku segera membenarkan cara dudukku dan mengembalikan benda pipih itu ke tempat semula. Pintu utama terbuka, Sagara berjalan tergesa dengan pandangan yang bingung seakan ia sedang mencari sesuatu dan melupakan janjinya padaku. "Dimana ponsel Aurel, apa kau melihatnya?" tanya Sagara dengan bahasa isyarat. Aku hanya menggeleng saja, padahal benda itu tergeletak begitu saja di depanku tetapi mengapa pria tersebut seolah tidak melihat keberadaanya. Aneh. "Segera bersiaplah, acara akan segera dimulai," katanya saat sudah menemukan ponsel itu. Aku berdiri, lalu meraih tas selempang yang sejak tadi sudah terdampar di pinggiran sofa lalu kupakai. Pandanganku beralih pada wajah Sagara, ia pun mengibaskan jas hitam lalu memberikan lengannya padaku agar aku berpegang di sana. "Ayo segera berangkat!" Ku ikuti setiap ayunan langkah Sagara hingga sampai di depan mobil sedan hitam berplat khusus. Pintu belakang dibuka membuat dahiku menyatu. "Maafkan aku, Kak. Untuk sementara tempat kamu di belakang ya, perutku sedang tidak baik," kata Aurel tanpa aku tanya lebih dulu. Aku tetap diam, lalu melangkah masuk ke dalam mobil. Sagara tidak bersuara menjelaskan keadaan itu hingga sampai di tempat acara. Kedua insan itu berjalan beriringan melupakan kehadiranku malam ini. Bibirku sedikit kupaksa untuk melempar senyum pada setiap orang yang berpapasan. "Nona Gendhis, apa kabar?" Seseorang pria datang menyapaku, kutaksir usianya sudah senja sekitar 50th. Namun, logat dan caranya menyapaku begitu sopan dan menghargaiku. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk ringan. "Apakah Anda juga melupakan saya?" Dengan sedikit ragu kugerakkan lenganku menjawab pertanyaan itu, dalam ingatan pemilik tubuh ia adalah asisten setia ayahnya bernama Roland. Melihat jawabanku bibirnya tersenyum dan mengangguk. "Kali ini saya berharap Anda tidak salah pilih, Nona," katanya. "Semoga sesuai dengan ekspetasi Anda," jawabku dengan bahasa isyarat. Tanpa berkata lagi, Roland langsung berbalik. Pria itu melangkah naik ke panggung, meraih mikrofon dan mulai berbicara. Wajahnya yang terlihat ragu terus menatap ke arahku mencari jawaban atas pernyataan sebelumnya bahwa aku akan menyerahkan semua saham dan perusahaan itu pada Sagara. Suara Roland terdengar tegas dan yakin jika semua keputusan ini murni dan nyata, bahwa semua saham akan berganti nama menjadi Sagara Stinzky. Namaku pun akhirnya terdengar, aku melangkah menuju ke panggung. Kulihat seluruh isi ruangan itu dan berhenti pada sosok pria yang wajahnya sama persis dengan wajah Senopati Ranggalawe. 'Mungkinkah pria itu juga melintasi waktu di saat terakhir memeluk tubuhku?' tanyaku sendiri. Roland menyodorkan file dengan sebuah pena khusus padaku, kuterima, membaca sekilas lalu mengulas senyum tipis. Setiap poin terlihat hampir sama, keuntungan penuh ada pada kekuasaan Sagara Stinzky aku hanya hiasan belaka. Perlahan, kuangkat file itu, dengan santai kurobek itu perjanjian membuat kedua mata Sagara melotot tidak percaya. Pria itu melangkah cepat naik ke panggung dan berdiri di sisiku di susul oleh Aurel. Ternyata hingga kesadaranku kembali semua masih sama, bahwa aku hanya menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan rahasia yang menuntut kekuasaan. "Apa ini maksudnya, Gendhis?'' tanya Saga. "Kak, bukankah kau sudah berjanji pada kami jika tanah itu berhasil didapat Kak Saga maka semua saham dan perusahaan milikmu akan beralih nama jadi Kak Saga. Mengapa sekarang berubah?'' Sungguh, ternyata selama ini aku buta dan terlalu cinta pada pria yang gila kekuasaan dan nafsu. Dengusanku terasa panas dan kasar, kubiarkan mereka berdua terus menatapku penuh tanya tanpa kujawab satu kata pun. Justru aku melangkah mendekat pada pria itu. Tanpa bersuara kuraih Jemarinya, kutautkan jemariku pada jari kekar miliknya dan menatapnya penuh harap. Tidak ada kata, ia pun menggenggam kuat tautan itu. Sagara berjalan menuju ke arah kami, tatapannya tajam ke arahku. Tiba-tiba sebuah tangan lentik melayang hendak menamparku, tetapi segera ditahan oleh pria ini. "Jangan tunjukkan kekuasaan Anda di sini, Nona Aurel! Saat ini Gendhis adalah milikku, katakan apa perlunya Anda berdua?" Suara pria ini terdengar begitu dingin dan mendominasi. "Gendhis, apakah kau tahu siapa pria ini? Kau tak layak berdiri sejajar dengannya," oceh Aurel, "Tuan, Anda baru datang ke acara kami jadi jangan kotori hidup Anda dengan menjalin hubungan bersama wanita bisu." "Gendhis, datanglah padaku agar semua menjadi lebih baik dan aku berjanji akan memulai semua dari awal bersamamu. Percayalah!" rayu Sagara. Aku tetap diam, telingaku masih bisa mendengar semua kalimat yang meluncur dari mulut pengkhianat itu. Namun, jiwaku sudah merasa sedikit lega karena sosok pria ini begitu familiar dalam otakku. "Tidak ada hak untuk kalian mengatur hidupku, apalagi Anda, Nona Aurel.'' Suaranya sangat mendominasi hingga suasana ruangan menjadi hening. Untuk sesaat aku termangu, lalu kugerakkan lenganku menjawab semua,"Ini adalah pilihanku meskipun tidak tahu sosoknya tetapi aku yakin bersamanya hidupku akan baik-baik saja, Tuan Sagara." Tatapan Sagara beralih pada pria di sampingku, tatapan penuh harap agar pria itu mau melepaskan dan tidak mengikuti inginku. Begitu juga dengan Aurel, ia pun mencoba meraih pergelangan tanganku lalu menarikku agar menjauh. Akan tetapi, pria ini justru menggenggam erat jemariku, "Aku sebagai tamu tidak bisa menolak apa yang diinginkan tunangan Anda. Lalu dimana letak salahku, Sagara Stinzky?" Kulihat wajah Sagara memerah, kedua tangannya mengepal kuat. Ia begitu menahan emosi. Sementara aku menatap heran pada sosok asing tetapi bisa buatku nyaman. Siapakah pria ini sebenarnya.Pov RanggalaweSudah hampir satu minggu aku tidak menemukan wanitaku bahkan di sudut istananya sendiri. Malam ini kuberanikan diri untuk menerobos paviliun milik Gendhis."Aku harus menemukan sesuatu yang mungkin tertinggal di sana, terutama isi kamarnya."Gegas aku memakai pakaian sederhana selayaknya seorang pelayan istana belakang. Kemudian melangkah masuk ke istana Anusapati. Aku tidak menyangka baru memasuki istana itu sudah mendengar gosip yang tidak sedap untuk di dengar." Sungguh kasian Putri Gendhis, meskipun statusnya adalah permaisuri pangeran dia tetap kalah dengan seorang mantan pelacur itu," ucap salah satu dayang.Aku bersembunyi di balik pohon untuk mendengar kalimat selanjutnya dari pembicaraan para dayang istana Anusapati itu." Iya, apa yang kau katakan memang benar. Buat apa menikah hanya dijadikan status dan alat untuk menutup kebusukan suami. Aku no ogah!""Sejak awal menikah saja sudah dipermainkan seperti ini, apalagi nanti saat tua. Bisa jadi tak pernah terse
POV RanggalaweWaktu terus berlalu, tanpa terasa hubunganku dengan Gendhis makin dalam dan wanita itu terus memberiku kehangatan. Hidupku yang dulu dipenuhi dengan darah sekarang makin berwarna. Makin ke sini semua rahasia hidup Gendhis terbuka. Kisahnya begitu menyayat hati. Siksaan hati dan badan bagi wanita itu sudah biasa, tetapi justru dengan banyaknya buly membuat hatinya serta jiwanya terasa. Tanpa mereka sadari Gendhis tumbuh menjadi wanita muda yang multitalenta, bahkan dia yang seorang wanita pun sangat paham strategi perang. Cahaya fajar perlahan menyelinap melalui celah-celah jendela ruang kerjaku.Hangat.Tenang.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku terbangun tanpa suara denting pedang ataupun teriakan perang yang memenuhi kepalaku. Wajah cantik alami Gendhis menjadi pandangan pertamaku. Kubelai lembut pipi putih halus, dia menggeliat sambil menyingkirkan tanganku. Aku tersenyum, tetapi tidak berhenti di sana. Kutundukkan kepalaku hingga menyentuh dahinya, k
POV RanggalaweEntah dorongan apa yang menggerakkan. Ada gairah yang sulit kutahan lagi. Aroma tubuhnya menguar menerpa ujung hidungku. Aroma yang begitu membuatku candu. "Gendhis..."Perlahan kuangkat dagunya agar menatapku. Matanya sembap. Masih dipenuhi sisa air mata yang belum sempat mengering.Dadaku terasa diremas. Namun, bibir itu begitu menggoda. Kurapatkan tubuhnya pada tubuhku, dapat kurasakan sentuhan lembut itu. Tubuhnya menegang, begitu juga dengan tubuhku. Gairahku perlahan merambat naik ke ubun-ubun. "Paman," panggilnya dengan suara berat. Beberapa detik kemudian, perlahan ia membalas pelukanku. Kepalanya bersandar di dadaku, sementara kedua tangannya mencengkeram bagian belakang pakaianku seolah takut aku ikut menghilang dari hidupnya.Aku memejamkan mata.Aroma rambutnya memenuhi indera penciumanku. Harum bunga melati yang begitu lembut. Detak jantungnya terdengar jelas di telingaku.Cepat.Gelisah.Sama seperti detak jantungku saat itu. Selama bertahun-tahun aku
POV RanggalaweMalam itu angin berembus lebih dingin daripada biasanya.Aku masih duduk di ruang kerja, meneliti laporan para mata-mata yang baru kembali dari perbatasan timur. Cahaya lampu minyak menari di atas lembaran peta yang penuh coretan strategi.Namun, sejak beberapa saat lalu pikiranku tak mampu lagi berkonsentrasi. Entah mengapa dadaku terasa sesak. Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.Kriet! Pintu kayu itu terbuka perlahan, menampilkan wajah sendu wanitaku. Aku terdiam.Gendhis.Perempuan itu berdiri di ambang pintu dengan selendang putih menutupi bahunya. Rambut hitamnya tergerai sederhana, tetapi yang paling menyita perhatianku bukanlah penampilannya.Melainkan sorot matanya.Kosong.Tatapan yang biasanya hangat kini terasa hampa.Tanpa mengucapkan apa pun, dia melangkah masuk lalu duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerjaku.Dia hanya menundukkan kepala. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan."Gendhis..."Aku bangkit dari kursiku. "Ada
POV RanggalaweAku tidak pernah menyangka bahwa persembunyianku di kamar pengantin itu bukan menjadi pertemuan pertama sekaligus yang terakhir.Justru sejak malam itu...Aku mulai sering kembali.Bukan karena aku kehilangan tempat bersembunyi.Melainkan karena ada seseorang yang tanpa sadar membuat kakiku selalu menemukan jalan menuju kamar itu.Gendhis.Perempuan bisu yang seharusnya hanya menjadi istri keponakanku.Hubungan sembunyi-sembunyi ini perlahan membuat kewarasanku terkikis.Setiap kali perang usai dan malam mulai turun, entah bagaimana aku selalu mencari alasan untuk memastikan dirinya baik-baik saja.Kadang aku datang membawa laporan keamanan.Kadang hanya memastikan penjagaan istana.Kadang...Aku bahkan datang tanpa alasan yang jelas.Begitu melihatnya membuka pintu dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat, seluruh penat setelah seharian memimpin perang seolah menguap begitu saja.Aneh.Aku, Ranggalawe.Seorang senopati yang ditakuti di medan perang.Justru menjadi
POV RanggalaweDarah.Aroma darah begitu pekat memenuhi udara Gerbang Utara Kerajaan Balai Kambang. Dentangan besi beradu dengan besi terus menggema tanpa jeda. Jeritan prajurit yang terluka bercampur dengan pekikan kuda perang, menciptakan simfoni kematian yang telah berlangsung sejak matahari mulai condong ke barat.Aku masih berdiri di sini, di antara para prajurit yang mencoba melawan ketidak adilan negeriku. Pemberontakan yang menggila membuatku harus menyamar menjadi salah satu di antara mereka, semua hanya demi kemakmuran Balai Kambang. "Hancurkan gerbangnya!""Tangkap pemimpinnya. Di sana!" Suara komandan musuh memekakkan telinga menunjuk ke arahku. Aku mengayunkan pedangku sekali lagi.Srak!Satu kepala prajurit terlepas dari tubuhnya. Bahkan sebelum jasad itu menyentuh tanah, dua tombak telah meluncur ke arahku.Trang!Aku menangkis tombak pertama. Namun tombak kedua berhasil menggores bahu kiriku.Bruk!Tubuhku terdorong beberapa langkah ke belakang."Sial..."Aku mengg







