Share

4. Makin Seru

Author: Shaveera
last update Last Updated: 2026-01-03 14:55:51

"Hem, sudah bangun? Selamat pagi, Nyonya Ortega," sapanya saat kubuka mata.

Aku tersenyum dan tentunya pipiku pasti berubah warna. Kugeser tubuhku sedikit menjauh melepaskan dari pelukannya, tetapi lengannya kembali menarik tubuhku masuk dalam pelukannya.

"Tunggu lima menit lagi, diamlah dalam pelukku. Jangan bergerak!"

Aku terpaku, merasakan kehangatan tubuhnya yang polos. Akhirnya kubenamkan kepala ini dalam dekap dada bidang itu. Detak jantungnya terdengar begitu teratur bagai musik yang menenangkan pikiranku.

"Maafkan aku yang telah membawa Anda dalam masalah hidupku, Tuan Ortega," kataku saat kedua matanya menatapku hangat.

Pria itu tersenyum padaku, ia membenarkan surai rambutku yang berantakan hingga menutupi sebagian wajahku. Lalu wajahnya mendekat, perlahan kurasakan hangat dan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Deru napasnya yang panas kembali membangunkan gairahku.

"Baiklah, aku akan bersiap ke kantor lebih dulu. Jangan lupa sarapan sebelum kau pergi," katanya tiba-tiba sambil menggeser tubuhku lembut.

Aku hanya mengangguk ringan, tetapi tatapanku tak lepas dari pergerakan tubuhnya. Sungguh pria ini begitu sempurna, tubuhnya terlihat kekar dan bersih tanpa sedikit pun bekas luka dan kulitnya sangat lembut.

"Hai, jangan menatapku seperti itu. Tatapanmu bisa menghentikan langkahku untuk ke kantgor, Gendhis," ujarnya saat kembali menatapku.

Dengan cepat kutunjukkan senyum kilat penuh permintaan maaf, ia tersenyum dan membelai ujung kepala lalu melangkah menuju ke kamar mandi. Aku bernapas lega berhasil lepas dari singa itu, sungguh tubuhku terasa remuk seolah tulangku telah retak.

Hampir semalam ia memelukku tanpa terlepas sedikit pun, mungkin ini yang membuat tubuhku menjadi kaku. "Mengapa justru aku masuk ke sarang singa setelah lepas dari buaya darat itu?''

"Ini pilihanmu sendiri, Nona Gendhis. Jadi tak perlu kau menyesal." Tiba-tiba suara Samuel terdengar membuatku berpaling ke sumber suara.

"Bagaimana secepat itu kau bersihkan tubuh?" tanyaku dalam bahasa isyarat.

"Aku tak sanggup jauh darimu, Sayang, makanya kupercepat mandiku. Tetapi boleh saja masuk lagi jika kau ingin mandi bareng," ucapnya sambil menggerling menggodaku. "Tapi tunggu, apakah tadi suara kamu, Sayang?"

Dengan cepat aku menggeleng, lalu kutunjukkan layar ponsel yang kebetulan sedang memutar drama online.

"Jika memang itu suara kamu, mungkin bisa menunda kepergianku," katanya lembut.

Aku melotot tidak percaya, bisa saja kalimatnya begitu menggoda dan memancing hasratku. Dengan cepat aku menggeleng dan berlari ke kamar mandi. Di dalam kusandarkan tubuhku di balik pintu sambil mendekap dada menata jalan napasku. 'Sial, rupanya dia lebih mesum,' bisikku sendiri.

"Gendhis, aku berangkat. Jangan lama-lama di sana jika tidak ingin aku masuk buat mandi bareng, Sayang!"

Mendengar kalimat itu membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Segera kunyalakan air agar pria itu melanjutkan tujuannya. Tanpa menunggu lebih lama dengan cepat kuselesaikan acara mandi kilat, lalu perlahan kubuka pintu sedikit mengintip keluar untuk memastikan keberadaan Samuel.

'Huft, akhirnya ia keluar juga,' jerit ku dalam hati.

Dengan santai aku keluar dari kamar mandi, kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan untuk memastikan lagi keberadaannya dan memang tidak ada. Bahkan hanya menyisakan aroma tubuhnya.

Untuk sesaat aku ingin tertawa dan berteriak puas atas kerjaku beberapa bulan ini yang telah bebas dari sosok pria munafik itu. Sungguh meskipun aku dalam genggaman Samuel Ortega jiwaku merasa tenang, tidak sama saat dalam pelukan Sagara.

"Memang bodoh pemilik tubuh ini, mengapa memilih Sagara pria bermuka dua. Harusnya memilih Samuel dong, dia lebih gagah dan tampan, bahkan senjatanya begitu kuat." Segera kubekap mulutku sendiri karena mulut itu begitu lancang mengeluarkan suara.

'Jangan mengeluarkan suara di sembarang tempat, berbahaya Gendhis,' jeritku mengingatkan diri sendiri.

Aku menjadi gila sendiri dalam hidup dua dunia yang terasa lucu, dendam ku di jaman purbakala kini menjadi hilang berganti kisah cinta ala pegawai kantoran yang saling menjatuhkan akibat dunia bisnis yang bersaing. Aku mengulum senyum sambil menatap tampilan wajahku di cermin, "Baiklah, sebaiknya aku sarapan dulu sebelum menemui Roland lagi."

Semua jadwal sudah kulalui hari ini, dan akhirnya aku bertemu Roland di Cafe XX15. Pria paruh baya itu sudah menungguku di ruang vvip, pintu dibuka pelayan untukku sebagai pelanggan khusus Cafe itu.

Aku mengangguk dan menyerahkan selembar uang kertas receh, pelayan itu tersenyum sambul mengucap terima kasih. Aku hanya tersenyum lalu melangkah menuju ke kursi yang sudah disiapkan oleh Roland.

"Silakan, Nona."

Aku duduk lalu menatap sekilas pada pria ini, ada sedikit berbeda dari tampilannya malam ini. Kubuka file yang disodorkan Roland dan kubaca lebih seksama menyelami semua poin, kemudian setelah yakin akhirnya kububuhkan tanda tangan milikku.

"Bawa ini dan segera kau urus semua sebelum mereka sadar mengenai kebisuanku ini, Roland!"

Pria paruh baya ini menatapku penuh aura keterkejutan, rupanya ia juga kaget dengan suaraku yang ternyata bisa keluar dan dapat terdengar dengan jelas.

"Cukup sekian dulu pertemuan kita dan ingat rahasiakan kebisuanku ini!" usai memberi peringatan itu, aku pun berdiri dan melangkah meninggalkan Roland dalam keadaan bingung. Aku tidak peduli yang penting tujuanku sudah terlaksana.

Meskipun aku bisu, semua fasilitas sudah dipenuhi oleh Samuel Ortega. Ia adalah pria yang sangat menjagaku setelah lepas dari Sagara. Sungguh ini adalah anugrah buatku, yang pasti akan kumanfaatkan sepenuhnya.

Kupacu kendaraan besi roda dua yang baru saja dikirim Samuel sesuai dengan permintaanku. Sejujurnya aku lebih senang menggunakan kendaraan roda dua daripada roda empat. Ini lebih fleksibel, seperti menunggang kuda masa silam.

Jalanan kota Amarta terlihat sepi di jam kerja, kupacu kendaraan menuju ke pusat belanja mall terbesar di kota ini. Kendaraan masuk tanpa drama dan terparkir di tempat khusus sesuai arahan Samuel.

"Asyik juga dunia modern ini, rasanya betah tinggal di sini," gumam ku sambil terus melangkah masuk lebih dalam.

Tatapan setiap orang terlihat aneh di mataku, apa mereka tidak pernah melihat gadis cantik dengan gaya casual sepertiku. Ah, biarlah aku tidak peduli langkahku semakin ringan saat mencium aroma khas yang sangat kurindu. Aroma masakan tempo dulu yang begitu familiar di penciumanku, maka kusegerakan menuju ke sumber aroma.

"Lho kok banyak yang berdiri di sana," gerutuku lirih.

Tiba-tiba tubuhku terdorong ke depan hingga jatuh tersungkur, ingin marah pada siapa pun aku tidak tahu. Namun, saat tubuhku berhasil berdiri dan berbalik bersiap untuk menghardik pelaku seketika suaraku tercekat berhenti di tenggorokan.

"Hai Wanita bisu, untuk apa kau datang ke mall? Tidak cukupkah Sagara memuaskan keperluanmu selama ini hingga kau datang sendiri ke mall ini?"

Sungguh pedas mulut wanita ini hingga membuatku terdiam menatapnya bingung, tetapi akibat kalimatnya itu semua pengunjung mall berkumpul mengelilingiku seolah aku adalah tersangka. Dengan gerak cepat kujawab menggunakan bahasa isyarat.

"Haha, dasar bisu. Apakah dengan kebisuanmu itu kau akan mendapat pelayanan bagus, Nona Bisu."

"Lihatlah, si bisu ini adalah pelakor dalam hubunganku dengan CEO Sagara Snitzky. Jadi kalian pasti tahu apa yang perlu kalian lakukan jika wanita ini datang ke kedai kalian. Mengerti!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   42.

    "Kau gila, bagaimana bisa aku berbagi peluh dengan wanita jalang itu," decakku tajam dengan kedua mata melotot pada Siska.Wanita itu tidak ada rasa takut sama sekali dengan sikapku, tetapi justru tertawa terbahak melihatku seperti kebakaran jenggot."Apa kau lupa, semua harta yang didapatnya hasil dari jual organ. Dan itu ada organ mama!" Aku sangat emosi mendengar semua penuturan asisten geblek itu. Entah ini nasibku yang sial atau memang takdir sedang mempermainkan aku. Hidup di dua dunia memiliki asisten yang sama gebleknya. Bahkan di kerajaan Balai Kambang Warni lebih sulit diajari sesuatu. Angin malam menusuk jantungku membuat otakku sulit berpikir jernih.\Aku harus segera mengambil keputusan akan kuapakan pria sialan itu sebelum waktu kembali berjalan normal. Aku harus fokus dan berpikir ulang, akhirnya kuputuskan untuk memejam sesaat dengan mengatur jalan napas secara perlahan."Tunggu aku di sini untuk beberapa detik, awasi pergerakan Sagara dan Ortega. yang lain biarkan s

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   41.

    Seketika kedua mata Sagara membulat sambil kepalanya menggeleng menolak tuduhanku itu, tetapi aku tidak percaya dengan sanggahannya. Kucoba melawan gerakannya yang makin kuat mencengkeram pergelangan tanganku. Namun, apapun yang kucoba tetap tidak berhasil.Sementara di depanku Aurel terus berbicara bahwa janin dalam kandungannya adalah benih yang disebar Sagara tanpa sadar saat dia terbuai dengan alkohol dua bulan yang lalu. Pernyataannya itu terbukti dengan rekaman vidio di salah satu hotel berbintang. Bukti nyata itu tidak dapat disanggah oleh Sagara."Lepaskan calom bibi kamu itu, Saga!" Suara lantang Ortega menenggelamkan pikiranku.Aku langsung berhenti memberontak, menatap pada Ortega yang terus berusaha untuk membebaskan aku. Sagara tertawa sinis, pria ini sangat pandai memainkan peran hingga aku tidak dapat mengendus kesalahannya selama ini."Dia milikku, bukan untukmu, Paman. Dan semua organnya pun juga sudah menjadi milikku sejak dijual oleh ayahnya sebagai pengganti perusa

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   40.

    "Jika kau tidak mau tinggalkan saja, biar aku yang rawat cewek bisu itu!"Suara tegas terdengar dari arah ruang tamu dan langkahnya sangat familiar buatku. Setiap ayunan dan hentakan kaki yang menyentuh lantai porselen begitu khas, aku sangat paham intonasi dan ritme langkah ini.Otakku sudah jauh berpikir yang sesuatu tidak mungkin, tetapi hati ini selalu benar. Panggilan nama Ortega dalam hati selalu benar, iya, aku yakin suara dan pemilik langkah ini adalah Samuel Ortega."Paman!"Seketika aku termangu mendapati sosok Ortega berdiri tegak di ambang batas antara ruang tamu dan ruang makan. Sosok pria itu telah banyak berubah, ada cambang tipis mulai tumbuh di sana. Bahkan terdapat lingkar mata yang gelap.'Apakah pria ini kurang istirahat hanya untuk membebaskan aku?'Ah, ini hanya anganku saja. Tidak mungkin pria sekelas Samuel Ortega menyimpan hati untuk aku-wanita miskin dan bisu."Apa kau tidak sanggup memilih berlian di antara batu kali? Maka biarkan batu usang itu aku rawat b

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   39.

    Tidak ada hujan, tanpa suara langkah kaki, tiba-tiba terdengar suara lantang meminta tanggungjawab atas kehamilan seseorang. Ini membuatku tersentak kaget, suara ini begitu familiar. "Sagara, jangan kau kira tante inginkan kau jadi membantuku lalu dengan seenaknya menghamili Aurel." Suara itu makin dekat dan aku bisa menghirup parfum khas ibu tiriku. "Cih, ternyata sebulan ini kau menyimpan jalang bisu. Pantas saja kau tinggalkan Aurel begitu saja," cicit ibu tiriku. Aku masih diam saja, menikmati drama yang dihadirkan oleh wanita ini. Sedangkan Sagara terlihat duduk tenang, tetap menikmati makanan dihadapannya. Tidak berapa lama terdengar langkah tergesa menuju ke ruang makan. Belum aku sempat bereaksi untuk berbalik menatap ke sumber suara, sebuah tangan sudah meraih bahuku dan menariknya agar tubuhku berdiri.Aku terbawa oleh tenaga kuat wanita tua itu, belum juga keseimbanganku terjaga lengan ibu tiriku itu melayang menampar pipiku. Aku terkesiap kaget, lalu sosok Aurel berdiri

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   38.

    Satu bulan aku berada di villa milik Sagara, villa yang baru kutahu bahwa ini miliknya saat pertama kali aku dibawanya beberapa hari yang lalu. Selama ini pula pria itu selalu memperlakukan aku penuh kelembutan. Sejak membuka mata hingga memejamkan mata lagi tidak ada secuil kesakitan yang dia berikan. Ini makin membuatku bingung. Entah apa yang dia inginkan hingga berbuat sedemikian rupa. Seperti sore itu, "Sayang, tidakkah kau bosan selalu diam tanpa kata seperti ini?" Aku hanya tersenyum saja. "Ayo ikut aku sebentar, kuperlihatkan sesuatu yang indah," ajak Sagara sambil meraih lenganku. Lembut, sangat lembut pria ini memperlakukan tubuhku. Dibawanya tubuhku berjalan menuju ke balkon, tangannya tidak lepas dari bahuku. Aroma maskulin terhirup olehku. Mungkin jika saat ini bukan jiwaku yang berada di tubuh Gendhis bisa saja aku terhanyut. Sayangnya aku sudah tahu seperti apa kelakuan pria ini di belakangku. "Lihatlah di bawah sana!" Sagara berkata sambil menunjuk ke bawah. S

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   36. Ternyata

    Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaanku."Apa kabar Kakakku tercinta?"Aku mendengus lirih, lalu kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan sekitar hingga akhirnya berhenti pada kedua tanganku yang terikat di atas pangkuanku. Ku angkat kepalaku menatap pada Aurel. Wanita itu tersenyum mania membuat perutku seketika terasa mual."Apa yang kau inginkan?"Dia tertawa sumbang, lalu bertepuk tangan dua kali. Dari arah pintu muncul Sagara dengan angkuhnya berjalan mendekati aku. "Apa kabarmu, Sayang? Sebaiknya kau nurut agar tidak merasakan sakitnya," ujar Sagara sambil mengulurkan tangannya hendak meraih daguku.Aku menolaknya, kupalingkan wajahku ke arah lain hingga gerakannya tidak berhasil. Aku berdecih, pria itu mendengus kasar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status