Compartilhar

85.

Autor: Shaveera
last update Data de publicação: 2026-05-29 21:23:51

Aku menggigit bibir pelan, pikiranku semakin tidak tenang setelah mendengar semua kemungkinan buruk itu. Bayangan ayahku terus muncul di kepala, membuat dadaku terasa sesak.

Apa pun yang diucapkan oleh Ranggalawe tidak mampu mengurungkan niatku untuk pulang. Aku menatap lelakiku itu tanpa tanya. Dia menatapku datar.

Tidak. Aku tidak bisa hanya duduk diam di sini. "Aku ingin pulang ke Blambangan," kataku tegas dan dingin.

Ranggalawe yang masih berdiri diam di depanku terlihat mengeraskan rahang
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   85.

    Aku menggigit bibir pelan, pikiranku semakin tidak tenang setelah mendengar semua kemungkinan buruk itu. Bayangan ayahku terus muncul di kepala, membuat dadaku terasa sesak.Apa pun yang diucapkan oleh Ranggalawe tidak mampu mengurungkan niatku untuk pulang. Aku menatap lelakiku itu tanpa tanya. Dia menatapku datar. Tidak. Aku tidak bisa hanya duduk diam di sini. "Aku ingin pulang ke Blambangan," kataku tegas dan dingin.Ranggalawe yang masih berdiri diam di depanku terlihat mengeraskan rahangnya, tatapannya makin tajam padaku. "Kau sedang hamil.""Aku tahu.""Dan keadaan di sana tidak aman."Aku bangkit berdiri, menatapnya lurus tanpa gentar sedikit pun. "Itu sebabnya aku harus kembali."Ranggalawe menghela napas berat, seolah sudah menduga aku akan mengatakan hal itu. Namun, pria tersebut tetap menggeleng pelan."Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke wilayah yang sedang bergejolak.""Ayahku ada di sana!" suaraku meninggi tanpa sadar. "Bagaimana aku bisa tenang jika setiap saat nyawa

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   84.

    Aku menggenggam erat cangkir teh hangat di tangan, tetapi jemariku terasa dingin. Pembicaraan mengenai pemberontakan itu membuat dadaku sesak sejak tadi.Ranggalawe menatap lurus ke halaman depan, sedangkan pikiranku mulai dipenuhi bayangan buruk mengenai ayahku—Raja Blambangan.Pria yang selama ini berdiri kokoh menjaga kerajaan, tetapi kini mungkin sedang berada di tengah ancaman yang bahkan tidak beliau sadari."Aku takut sesuatu terjadi pada Ayah," ucapku lirih.Ranggalawe menoleh perlahan. Tatapannya melembut saat melihat wajahku yang mulai dipenuhi kecemasan."Beliau masih mempunyai banyak pengawal." Suaranya sangat pelan, bahkan seolah tidak mengijinkan aku untuk pergi. Aku menggeleng pelan, menolak pernyataan dari kalimat itu. "Pengawal tidak selalu menjamin keselamatan." Aku menelan ludah sebelum melanjutkan. "Terutama jika musuhnya berasal dari dalam istana sendiri."Ranggalawe mengernyit tipis. "Maksudmu?"Aku menarik napas panjang. Ada keraguan untuk mengatakannya, tetap

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   83.

    Kami terus berpacu mengejar kenikmatan, iya meskipun saat ini aku sedang hamil ternyata libidoku pun masih mampu bertahan. Sentuhan demi sentuhan Ranggalawe terus memberiku kenikmatan yang luar biasa.Gerakannya yang lembut mampu membangkitkan gairahku hingga di ubun-ubun. Beberapa kali aku mengalami orgasme tingkat tinggi, tetapi pria itu terlihat belum satu kali pun. Aku, mendengus, menatapnya tanpa tanya."Lanjutkan dulu apa yang masih kau inginkan, Gendhis. Sampai pagi pun akan kuberikan jika kamu masih belum puas," ujarnya dengan penuh perhatian.Jarinya bergerak perlahan mengusap keringat yang mulai mengalir di pelipisku, perhatian ini sangat nyata. Pas sesuai dengan kebiasaan Samuel saat kami menyatu." Aku hampir sampai," kataku dengan nada rendah dan manja." Tunggu, kita barengan!"Setelah berkata, Ranggalawe bergerak lebih cepat, panggulnya mendorong dengan frekuensi stabil dan lebih cepat. Aku, melenguh panjang dan Ranggalawe pun terlihat tengadah—merasakan letusan yang da

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   82.

    "Apa maksud dari biaya mahal itu, Paman?""Apakah perlu kujelaskan semua, Sayang? Tidakkah kau sadari sendiri semua ini dimana ujungnya?"Aku mengurai pelukannya, lalu kutatap lebih dalam wajah itu. Memindai keseluruhan mulai dari dua matanya hingga ujung dagunya.Semua masih sama milik Ranggalawe, lalu biaya mahal apa? Mungkinkah itu adalah Samuel Ortega, tidak ada kesamaan sedikitpun dari wajah itu. Hanya pola pikir dan nada bicara saja yang ikut terbawa."Jika kau masih ingin tinggal di sini, maka menurutlah padaku, Sayang. Semua pasti akan berada di jalannya. Aku senantiasa ada untukmu, Gendhis," paparnya sambil membelai kedua pipiku.Sungguh ini tidak kuasa kutolak, perhatiannya, sentuhannya, bahkan cara dia menenangkan aku—sama persis dengan Samuel Ortega."Paman Sam, apakah ini kamu?" tanyaku pada akhirnya.Dia tidak menjawab, tetapi tersenyum sambil kepalanya bergerak turun. Turun, dan makin dekat dengan wajahku. Kemudian, lembut ... Sangat lembut, bibir itu menyentuh bibirku.

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   81.

    Kurasakan perutku mencengkeram, seakan janin ini berontak. Dia ikut merasakan ketegangan yang saat ini kurasakan. Bukan hanya ketegangan, tetapi juga keresahan dan rasa khawatir yang terus menguasai otakku. Tanpa sadar aku merintih sambil memegang perutku. Suara teriakanku memecah fokus mereka berdua yang sedang bersiap untuk saling serang. Keduanya secara bersamaan melangkah mengikis jarak denganku dan berdiri di depanku dengan tatapan penug tanya. Bahkan, gerakan mereka pun kompak. Lengannya terulur dan menggantung di udara, hendak menyentuh ku tetapi ragu. Kutatap wajah mereka berdua bergantian. Wajah Ranggalawe terlihat begitu khawatir, tetapi tangannya seolah ragu untuk menyentuh perutku. Seperti ada dinding yang membatasi geraknya. Sementara Anusapati, wajah itu terlihat begitu menyebalkan untuk dipandang. Seakan meremehkan dan menghina. Aku mendengus. "Apa yang kau rasakan, Gendhis?" Akhirnya suara Ranggalawe pun keluar sarat kekhawatiran, "Apakah dia menyusahkanmu?" "Keh

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   80.

    Serangan kedua datang lebih cepat. Tubuh Anusapati melenting ke udara dengan sikap siap menendang dan tebasan pedang secara bersamaan. Kali ini serangan itu lebih kuat dan bertenaga. Untuk beberapa saat keduanya bertempur di udara. Namun, lagi, dan lagi. Serangan Anusapati selalu menemui ruang kosong tanpa ada perlawanan yang berarti dari Senopati. Ranggalawe sama sekali tidak melawan, gerakannya sangat ringan seperti air yang mengalir mengikuti arus dan arus ya telah tersusun secara akurat oleh Anusapati. Aku menahan napas. Lagi, lagi bayangan Samuel melintas di ujung mataku. Gerakan itu… sama persis dengan cara pria modern menyerang sekumpulan preman beberapa bulan silam. Anusapati menggeram. “Berhenti kabur!”Serangannya semakin liar. Tebasan demi tebasan dilancarkan tanpa jeda. Pertempuran kembali ke arena, serangan yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi itu membuat tanah mulai tergores. Debu beterbangan."Serang aku, lawan. Jangan menghindar terus seperti wanita!" Ranggala

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   36. Ternyata

    Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaan

    last updateÚltima atualização : 2026-03-28
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   32. Pilihan Yang Sulit

    Cukup lama aku menunggu jawaban dari pria itu, tetapi dia justru mengingatkan aku akan kejadian awal aku masuk kedunia modern. Aku hanya mengulum senyum saja tanpa bersuara. "Mengapa juga Tuan Senopati harus menolongku jika untuk menanyakan hal ini?""Karena aku merindukan kebersamaan kita di Bala

    last updateÚltima atualização : 2026-03-26
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   33. Makin Terjepit

    Tawa Sagara justru makin terbahak dengan tatapan yang masih hangat tertuju ke arahku. Aku bungkam. Tatapan ku lurus ke arah manik mata hitam yang penuh misteri. Jika jiwa ini pemilik tubuh mungkin saja dia sudah meleleh mendapatkan perhatian yang sedemikian rupa, tetapi sayangnya saat ini tubuh in

    last updateÚltima atualização : 2026-03-26
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   28. Satu Keyakinan

    Tanpa berkata lagi aku bangkit dari kursi itu, lalu berjalan menuju ke mej a kecil di sudut ruangan. Berdiri menatap ke luar di mana terlihat kesibukan kota yang begitu padat."Apa tujuanmu mengundang aku dan Siska?" "Akhirnya dapat kudengar dengan jelas suaramu, Sayang," ujar Sagara sesaat sebelu

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status