Share

Tunangan Palsu

Penulis: Suharni
last update Terakhir Diperbarui: 2024-05-01 21:55:33

Puas rasanya mengerjai mantan yang menyebalkan. Wajah Aditya terlihat merah padam.

Harus aku akui, akting Yoga sungguh menakjubkan. Seperti sudah terlatih sebelumnya. Walau di awal sandiwara terjadi sedikit kesalahpahaman.

Menariknya adalah ketika aku melihat kekasih Aditya cemburu. Sebab, Yoga adalah pemilik toko berlian ini.

Bisakah aku berkata tidak salah memilih teman sandiwara?

"Sekarang giliranmu, jadilah tunanganku," ucap Yoga.

"Sekarang?" tanyaku masih kebingungan. Aku pikir sandiwara selanjutnya dilain kesempatan.

"Tentu saja, memangnya kau pikir kapan lagi?"

"Tapi..."

"Tidak ada waktu lagi. kemarilah..."

Mendadak Yoga menarikku, lalu menutup wajahku dengan tubuh kekarnya.

"Itu dia Tuan Yoga Iskandar. Ayo cepat ambil gambar mereka. Dia sedang bersama wanita."

Tiba-tiba ada banyak kilatan kamera mengarah ke kami. Pantas saja Yoga buru-buru menarikku. Seakan hendak menyembunyikan identitasku dari orang-orang itu.

Namun, siapa mereka? Mengapa tiba-tiba memotret kami berdua? Sebenarnya siapa pria yang ku ajak bersandiwara ini? Apakah seorang artis?

Jika benar, maka aku sedang dalam masalah besar. Bukankah para artis identik dengan berbagai macam skandal? Mereka sangat menyukai sensasi tanpa menunjukkan prestasi.

"Tuan Yoga, apakah dia kekasih Anda?"

Aku terkesiap ketika salah satu dari mereka mengajukan pertanyaan seputar diriku.

"Tolong jangan dipotret lagi. Dia tidak terbiasa dengan kamera."

"Siapa mereka?" tanyaku tak sabar lagi.

Sejak tadi aku hanya diam dari balik tubuh kekar Yoga.

"Tenanglah, mereka tidak akan menyakitimu."

"Tapi siapa mereka? Mengapa tiba-tiba memotret kita?"

Yoga tidak memberiku jawaban memuaskan. Lelaki itu hanya memintaku untuk tetap tenang.

Tenang? Sementara ada kamera dimana-mana tengah meliput kami berdua. Bagaimana jika masuk berita dan ditonton oleh Ibu di rumah. Ibu pasti akan membunuhku jika terlibat skandal para artis.

"Mereka adalah wartawa... Tapi kau jangan khawatir. Aku tidak akan menyulitkanmu. Sekarang ikuti arahanku. Putar badan dalam hitungan ketiga."

"Ha?"

"Perkenalkan, dia adalah calon tunanganku, Yumi."

"Wanita itu tunangan Tuan Yoga Iskandar. Ayo ambil gambar mereka."

Tiba-tiba otakku terasa pening. Seperti hendak muntah. Sementara orang-orang itu terus memotret kami, sampai membuat mataku sakit.

Seketika aku merasa tengah mendapat karma Aditya, karena telah mengerjainya.

"Nona, siapa nama lengkap Anda? Dan apa profesi Anda? Sejak kapan kalian menjalin hubungan? Dan apakah kalian akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat?"

"Ha? menikah? Aku harus menikahi pria yang bahkan tidak ku ketahui asal-usulnya? Oh Tuhan, sepertinya aku harus meluruskan masalah ini," batinku mulai panik.

"Katakan saja apa adanya. Selebihnya biar aku yang atur." Yoga membisikku. Sekali lagi memintaku untuk berakting. Dia tidak tahu saja kalau aku adalah artis yang buruk.

"Tapi aku tidak mau menikah denganmu!" seruku, membalas bisikan Yoga.

"Maaf, teman-teman sekalian. Dia sangat pemalu. Jadi, belum bisa mengatakan apa-apa. Jika waktunya sudah tepat, aku akan memberitahu kalian, permisi."

Kemudian Yoga membawaku masuk ke dalam mobil. Meninggalkan sepeda buntut andalanku.

"Hei, kau mau membawaku kemana? Sepedaku."

"Tenanglah, aku akan membelikanmu yang baru. Sekarang turuti perintahku dan jangan banyak bicara!"

"Aku? Banyak bicara? Bukankah sejak tadi kau yang banyak bicara? Mengapa jadi aku yang salah?" sarkasku tak terima.

Aku hanya mengingatkan dia tentang sepedaku yang ketinggalan. Apakah itu termasuk banyak bicara?

Aku pikir satu-satunya lelaki menyebalkan hanya Aditya. Rupanya masih ada Yoga. Seketika aku menyesali keputusanku mengajaknya bersandiwara.

"Maafkan aku soal tadi... Aku tidak sempat memberitahumu tentang para wartawan itu. Sejak tadi mereka mengikutiku."

Jadi seperti itu. Rupanya Yoga telah merencakannya sejak awal. Hanya saja aku yang pertama kali memberinya jalan.

"Soal sepedamu, aku akan menggantinya dengan yang baru. Kau tenang saja, aku tidak akan menyia-nyiakan bantuanmu."

Aku tidak serendah itu, menerima uang orang asing begitu saja. Lagi pula dia juga telah membantuku barusan.

"Tidak perlu. Kau juga telah membantuku. Jadi, kita impas," jawabku tegas.

"Tidak masalah, lagi pula aku lihat sepedamu sudah usang. Sudah tidak layak pakai. Belilah yang baru..."

Yoga memberiku beberapa lembar uang seratus ribuan.

"Pria ini sungguh keterlaluan. Dia pikir dia siapa? Berani merendahkanku seperti ini," batinku mulai kesal.

"Sudah ku bilang tidak perlu. Aku tidak butuh sepeda baru. Aku lebih nyaman memakai sepeda lama."

"Baiklah, tidak masalah. Terserah kau mau gunakan untuk apa uang ini." Yoga memberiku paksa uangnya.

"Aku bilang tidak perlu! Aakk..."

"Astaga, apa yang aku pegang ini? Rasanya seperti kenyal, tapi mendadak mengeras."

Baru saja aku berencana mengembalikan uang Yoga, tetapi mendadak supir menginjak pedal rem mobil. Sehingga membuatku terpental ke arah pria itu.

Sialnya, tanganku justru mengarah ke burungnya.

"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya supir, yang membuatku segera menarik diri dari burung perkutut Yoga. Sumpah demi apapun, aku sangat malu.

"Apa kau tidak bisa menyetir dengan benar?" hardik Yoga kepada supirnya.

"Maaf, Tuan. Tadi ada seekor ular melintas."

"Ular? Mana ular..."

Mendengar nama ular disebut, seketika membuatku ketakutan. Alhasil aku pun memeluk Yoga tanpa sengaja.

"Hei, Singkirkan tanganmu!" Yoga berteriak. Sontak aku pun segera menarik diri.

"Maafkan aku... Aku tidak sengaja menyentuh bur..."

"Tidak masalah."

"Ha?"

"Maksudku jangan bahas soal itu... Kau ambil saja uangnya dan segera keluar dari sini. Terimakasih atas bantunmu!"

Astaga, apakah Yoga mengusirku?

"Baiklah, terimakasih juga atas bantunmu tadi. Semoga harimu menyenangkan!"

Brak!

Aku membanting keras pintu mobil Yoga begitu keluar. Tentu saja dengan harapan kami tidak perlu bertemu lagi. Terlebih harus terlibat skandal tunangan palsu.

"Keterlaluan! Seharusnya aku yang marah, bukannya dia. Dasar pria aneh!"

Aku mengumpat seorang diri di jalan yang sunyi.

"Sial! Aku lupa kalau ini adalah jalan yang berlawanan dengan toko... Ini semua karena pria menyebalkan tadi. Semoga saja dia disambar gledek!"

"Uti, tolong jemput aku di jalan bintaro. Aku melupakan sepeda di toko berlian."

Terpaksa aku meminta sahabatku untuk dijemput. Dia bekerja padaku sebagai asisten. Ya... walau hanya toko kecil, tetapi setidaknya itu adalah milikku. Dan aku adalah bosnya. Untuk asisten? Itu hanya ala-ala saja. Supaya dibilang keren sama tetangga. Padahal faktanya hanya kami berdua di sana.

"Dimana sepedamu?"

"Nanti saja ceritanya, Panjang... Cepat jemput aku. Sebelum pemilik cincin berlian ini datang."

"Iya, iya. Aku akan segera menjemputmu," jawab Uti.

"Yumi!"

Lima belas menit menunggu, akhirnya Uti datang juga dengan mobil sedannya.

Uti adalah Anak orang kaya, tetapi dia bersedia bekerja padaku. Padahal jika mau, Uti bisa saja meminta ayahnya untuk menjadi Direktur utama. Mengingat latar belakang pendidikannya yang tinggi. Uti merupakan mahasiswa lulusan kampus Harvard.

"Apakah Ibu Ely sudah datang?" ucapku sembari mengenakan sabuk pengaman.

"Tenang saja, dia belum datang."

"Syukurlah. Aku pikir hari ini akan terkena masalah lagi."

"Lagi?"

Aku nyaris keceplosan memberitahu Uti tentang sandiwara tadi.

"Maksudnya aku takut kehilangan pelanggan. Kau tahu sendiri, kan? Betapa susahnya memenangkan hati pelanggan," sanggahku buru-buru meluruskan.

"Ya, kau benar." Alasanku cukup klasik, tapi barhasil. Uti tak lagi bertanya.

"Berita terkini, pengusaha Yoga Iskandar rupanya telah bertunangan. Dan dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan."

Setibanya di toko, kami disambut dengan berita yang mengejutkan.

"Yumi, ini-- Kau sudah bertunangan?"

Akhirnya aku hanya bisa terkulai lemas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Milyader    Dekapan Hangat

    "Aku ingin menuntut balas Paman Hartanto." Ucapan itu ibarat jarum menusuk kalbu Yoga. Parasnya yang tampan mendadak suram."Apa maksudmu?" Kening pria itu mengernyit penasaran."Kau tidak akan mengerti." Aku tidak berani menatap mata suamiku. Nalusirku seolah menahan agar tidak memberitahunya."Kalau begitu beritahu aku agar aku mengerti. Jika ceritanya panjang, maka buat lebih singkat, padat, dan jelas. Kau bukan anak kecil yang tak pandai menyusun paragraf." Siapa sangka bila Yoga justru mengatakan banyak hal.Sontak aku berpaling, menatap dalam netra suamiku. Di sinilah aku bisa menangkap kesungguhannya. Yoga bisa dipercaya."Paman Hartanto adalah penyebab Ayah meninggal." Suaraku bergetar ketika memoriku tertuju kepada mendiang ayah.Semua peristiwa menyakitkan dulu, kembali menari-nari di pelupuk mata. Seolah tengah mengejek."Dia merebut semua yang kami miliki. Aset, rumah, mobil, perhiasan, hingga beberapa lahan hasil kerja keras ayah. Namun, yang tak kalah menyakitkan adalah.

  • Terjerat Cinta Milyader    Mintalah Bantuan Yoga

    "Apa?" Bahkan suaraku nyaris tercekat. Duaniaku seketika runtuh."Ibu dilecehkan?" Aku tak kuasa mendengar semua cerita Uti. Jika hanya berbicara soal harta, aku masih bisa merelakan. Namun, ini menyangkut ibu. Wanita yang telah melahirkanku. Bukankah aku tidak berguna sebagai anak?"Aku tahu kau pasti terkejut begitu mendengar ceritaku. Itulah sebabnya aku sempat mengurung niat untuk memberitahumu, tapi sepertinya kau berhak tahu. Walau bagaimanapun juga dia adalah ibumu.""Uti, apa kau yakin dengan apa yang ditemukan Papimu?" Aku berdiri, memegang kedua lengan Uti. Menatap wanita itu dengan derai air mata.Aku terkulai lemah ketika tahu kehormatan ibu dilecehkan. Apa yang harus aku katakan padanya nanti? Haruskan aku mempertanyakan kejadian memalukan itu?"Yumi, aku tahu kau terkejut mendengar ini. Bukan hanya kamu, aku dan papi juga masih belum percaya. Mengingat hubungan ayahmu dengannya. Pria itu menutup rapat cerita. Bahkan orang di sekitarnya pun tidak tahu apa-apa saja. Namun,

  • Terjerat Cinta Milyader    Fakta Baru

    Aku tidak ingat part mana melakukan kesalahan. Menurutku, mengunjungi ibu bukanlah sebuah dosa. Aku sungguh membutuhkan sandaran setelah melalui beberapa peristiwa menyesakkan dada."Apa maksudmu melanggar kontrak? Aku tidak mengerti.""Jelas saja kau tidak mengerti, karena kau tidak pernah memikirkan perjanjian kita. Kau hanya sibuk menyusun rencana balikan sama mantan!"Aku rasa kali ini Yoga sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal buruk tentangku. Sedangkan semalam aku sudah mengatakan, bahwa tidak ada hubungan apapun antara aku dan Aditya. Apa bercinta membuatnya hilang ingatan?"Yoga, aku rasa kau sudah melewati batas," ujarku masih menguasai diri."Aku tidak melakukan kesalahan apapun.""Kau--""Jika kau masih menemui ibu di sana tanpa sepengetahuanku, maka aku tidak akan segan-segan membatalkan semua perjanjian kita. Dan orang-orang pasar itu--""Cukup!"Aku sudah tak tahan lagi mendengar semua ocehan Yoga. Dia sudah terlalu jauh melangkah."Yoga, apa aku pernah mel

  • Terjerat Cinta Milyader    Anggap Kesalahan

    Tujuan pernikahan adalah membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, warohma. Setidaknya itulah salah satu ajaran agama yang kami anut.Tuhan sangat membenci perceraian. Pun mempermainkan pernikahan atas dasar kontrak. Manusia tidak boleh semena-mena memperlakukan sebuah hubungan sebagai simbol simbiosis mutualis.Selayaknya cerita drama korea ataupun china. Kisah kami hampir sama. Menikah secara kontrak, seolah mengenyampingkan perintah agama. Padahal sudah jelas tertera dalam kitab suci kami, bahwa tidak lengkap agama seseorang bila tidak menikah. Dalam hal ini yang berarti usia sudah mencapai baligh.Haruskah aku memperjelas urusan agama ini bersama Yoga? Bagaimana jika pria itu bertanya mengapa aku tidak mempersoalkan sedari awal?Mengapa setelah semua yang terjadi, aku justru berubah pikiran. Bagaimana jika Yoga mengira aku memanfaatkan dirinya. Atau hanya karena kami telah tidur bersama."Aakk--"Aku membekap mulutku setelah berteriak kencang. "Apa yang aku lakukan? Mengapa aku

  • Terjerat Cinta Milyader    Hasrat Otot Perut

    "Bukankah kau lebih suka dipaksa? Baiklah, aku akan memaksamu untuk bicara."Cup!Yoga membekap mulutku dengan kedua bibir tipisnya. Pria itu mencium, hingga membuatku terpaku."Aakk--"Harus ku akui, untuk sesaat aku terperangkap dalam dekapan Yoga. Ciuman itu serasa meniup ubun-ubun.Setelahnya kesadaranku kembali menyapa. Aku menggigit bibir pria itu hingga menyisakan luka.Yoga berdiri menarik diri. Akhirnya dadaku kembali lega. "Mengapa kau menggigitku?""Apa menurutmu aku harus diam saja ketika kau menindihku?" sarkasku tak terima."Kau--"Aku memalingkan wajah. Menggigit bibir bawah, tempat Yoga menciumnya. Sekali lagi deru jantungku kembali berdegup. Apakah aku telah jatuh cinta pada pria brengsek ini?Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Aku tidak boleh jadi perebut cinta wanita lain. Masih ada Mawar diantara kami.Wanita itu telah kembali. Mungkin sebentar lagi hubungan mereka berkembang. Sedang aku harus melanjutkan hidup seperti biasa.Untuk sesaat keheningan menyap

  • Terjerat Cinta Milyader    Yoga di Ujung Jalan

    Pukul lima sore aku menyelesaikan semua desai pesanan orang. Meski diterpa masalah, aku tetap profesional memperhatikan pekerjaan.Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi ibu. Lama tak bersua dengannya, membuatku rindu. Di sisi lain, aku ingin merasakan nikmatnya sambal pete buatan wanita yang telah melahirkanku itu.Aku masih belum siap bertemu Yoga. Walau bagaimanapun juga pria itu telah membuatku terluka.Dalam perjalanan menuju rumah ibu, ponselku terus berdering. Aku menepi untuk memastikan siapa yang menghubungiku."Yoga." Adalah suamiku, orang yang membuat perjalananku terhambat.Aku menolak panggilan itu. Namun, ponselku kembali berdering. Lagi-lagi aku tidak bersedia bicara dengannya. Aku berencana ingin menenangkan diri di kediangan ibu."Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai rumah.Pukul setengah delapan malam, akhirnya aku menyambangi kediaman ibu. "Yumi? sedang apa kau kemari, Nak? Apa kau datang sendirian? Mana suamimu?"Bisa dipastikan ibu menanyakan Yoga. Mengingat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status