登入Kirana hanya dapat terdiam saat ia melihat Raka yang berjalan ke arah Widya untuk menjabat sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun pada wanita yang telah melahirkan dirinya itu.
Apa Kirana benar-benar tidak terlihat di mata suaminya? "Ngapain duduk bengong di situ?" Kali ini kakak iparnya yang berbicara. "Suamimu baru datang, kenapa malah diam aja? Ambilin makan sama minumnya, dong," sinis Puspa yang memang tidak pernah suka dengan kehadiran Kirana. Kirana yang terhenyak pun lantas menarik salah satu kursi di dekat Raka, di samping sang suami. Tangan wanita itu lantas dengan terampil mengambilkan nasi beserta lauknya di atas piring lantas ia berikan pada Raka. Setelah mengambilkan nasi untuk suaminya, Kirana mengambil satu piring lagi untuk ia isi nasi beserta lauk pauknya untuk dirinya sendiri. Kegiatan itu tidak luput dari tatapan mertua dan iparnya. "Kamu baru pulang kerja, Raka?" tanya Widya. "Hm. Iya, Bu." Satu suap nasi telah masuk ke dalam mulut Raka. Pria itu menikmati setiap kunyahan dari rasa yang keluar dari makanan yang ada di depannya. Seolah mengerti akan pias wajah bahagia dari Raka karena makanan yang di makan, Widya lantas berkata, "Enak? Malam ini ibu masak khusus buat kamu di hari ulang tahun ibu." Benar saja, Raka merasa dirinya tidak asing dengan rasa masakan yang selalu membuat ia seolah berada di atas awan. Enak sekali! "Kamu, kan, jarang main ke rumah jadi ibu masakin khusus buat kamu." Widya mengambilkan lauk yang menjadi kesukaan Raka dan diletakkan di atas piring anaknya. "Kamu ini kerja terus, jangan gila kerja. Nanti enak dong orang yang menikmati hasil kerja kerasmu ini dan dia hanya duduk, enak-enakan di rumah." Kirana menghentikan kegiatannya makan, sendok yang hampir masuk ke dalam mulutnya itu tertahan di udara. Meski Widya tidak gamblang menyebut namanya, tetapi Kirana tahu persisi siapa yang disebut Kirana. Sebenarnya, dulu Kirana juga seorang wanita karir. Ia bekerja di kantor Raka sebelum pada akhirnya kesalahpahaman itu terjadi dan membuat Raka dengan terpaksa menikahi Kirana. Kirana berharap Raka akan membuka suaranya dan membela dirinya. Namun, yang ia dengar sungguh berbeda. "Aku kerja karena bosan di rumah, Bu. Tidak ada yang bisa aku lakukan." Sekali lagi, Kirana harus tertohok dengan fakta yang harus ia dengar. Malam ini, setelah mendatangi ibunya, Raka pulang bersama Kirana mengendarai mobil hitam, mobil kesayangan Raka. Hening, untuk beberapa saat tidak ada yang mau membuka suara lebih dulu. Raka dan Kirana terlalu sibuk dengan pemikiran masing-masing. Raka yang sibuk dengan pekerjaan dan Kirana yang masih memikirkan semua kalimat mertuanya. Bukan hanya mertua, tetapi kalimat suaminya juga menjadi alasan kuat Kirana tidak membuka mulutnya sama sekali. Bahkan Raka bosan di rumah dan memilih bekerja? Apa itu benar satu-satunya alasan? Hingga sampai di rumah, tidak ada yang saling membuka suara. Kirana masuk ke dalam rumah lebih dulu tanpa menunggu Raka. Raka yang tidak biasa dengan sikap Kirana hanya terpaku menatap istrinya yang berjalan semakin menjauh. Sesampainya di kamar, Raka melepas jas yang masih membungkus tubuh kokohnya. Pria itu menatap Kirana yang sedang menghapus polesan tipis riasan di wajah ayunya. "Kamu kenapa dari tadi diam aja?" Menyadari perubahan sikap Kirana membuat Raka bertanya pada akhirnya. "Aku enggak apa-apa, Mas," jawab Kirana tanpa menghentikan kegiatannya. Raka mengedikkan bahu, ia merasa mungkin ia yang terlalu banyak berpikir. "Siapkan baju aku mau mandi!" perintah Raka yang menuju kamar mandi dan melepas setelan jasnya. Kini wajah Kirana telah bersih tanpa riasan sedikit pun. Meski tanpa riasan di wajahnya, tetapi paras Kirana benar-benar cantik luar biasa. Beberapa menit berlalu, Kini Raka telah selesai dari kegiatan mandinya. Pria itu juga telah berganti dengan pakaian rumah dan celana pendek. Ranjang yang berderit menandakan jika seseorang tengah naik ke atasnya. Kirana yang merebahkan dirinya di atas ranjang pun menoleh ke arah Raka. Kirana mengerjapkan kedua matanya menatap sang suami yang tepat berada di depannya. Bertahun-tahun membina rumah tangga dengan Raka, tentu saja Kirana dapat menerka apa maksud tatapan Raka pada dirinya malam ini. Raka mencium bibir Kirana sekilas, meraba dua gundukan di tubuh istrinya. Meremas dengan kuat dan mampu membuat Kirana mendesah. Bukan desah kenikmatan yang Kirana rasakan, tetapi rasa sakit sebab Raka meremas dadanya terlalu kuat. Tidak ada sentuhan lembut atau sebuah obrolan ringan di sana. Dengan kasar Raka melepaskan tali yang ada di baju Kirana. Kirana tidak dapat menolak, jika suaminya mau meminta haknya malam ini maka Kirana harus bersedia melayani. Raka membasahi tangan kirinya dengan air liur dan mengarahkan pada adiknya di bawah sana. "Auh," jerit Kirana merasakan milik Raka masuk ke dalam tubuhnya. Sakit? tentu saja. Tubuhnya yang belum siap, tetapi Raka tidak peduli akan itu semua. Raka hanya peduli tentang penyatuan mereka dan kepuasan dirinya saja. Sementara itu Kirana harus benar-benar bisa menahan rasa sakit di tubuhnya hingga suaminya selesai. "Ah," desah panjang itu membuat Kirana sedikit bernapas lega karena itu bearti Raka akan sampai pada puncaknya. Kirana meringis kesakitan karena tubuh bagian bawahnya terasa nyeri. Setelah penyatuan mereka, Kirana melihat Raka yang telah memakai kembali celananya dan memainkan ponselnya. Itu sudah menjadi hal yang biasa Sedangkan Raka yang sibuk dengan ponselnya membalas pesan dari rekan kerjanya. Setelah selesai membalas pesan itu, Raka memutuskan untuk pergi ke alam mimpi karena besuk pekerjaan menanti dirinya. Jika sepasang suami istri biasanya akan tidur saling berpelukan, tetapi tidak bagi Raka dan Kirana, Raka memunggungi Kirana yang saat ini sedang memakai pakaiannya kembali. Kirana menggigit bibirnya menahan segala yang ia rasa. Seperti halnya malam-malam sebelumnya, tanpa kelembutan sentuhan cinta mereka melakukan penyatuan. Kirana merasa jika ia melakukan ini hanya sebagai kewajiban seorang istri yang harus dijalani. Setelah selesai berpakaian, Kirana turun dari ranjang perlahan agar tidak semakin menyakiti dirinya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, Kirana membayangkan bagaimana jika Raka bersikap sedikit lembut padanya saat mereka bersetubuh? Bukan hanya kepuasan Raka yang tercapai, tetapi kepuasan dirinya juga ia dapat. Tidak, bagaimana bisa berharap seperti itu? Sedangkan sikap Raka pada Kirana saja acuh. Menyesal pun sudah tidak ada gunanya. Ia membersihkan tubuhnya dan segera kembali ke kamar. Saat Kirana sudah sampai di dekat ranjang, ia tanpa sengaja melihat layar ponsel Raka yang menyala tanpa suara itu. Sebuah notifikasi pesan dari Widya tidak sengaja ia baca. 'Kirimin uang ke rekening ibu dong, Ka. Ibu mau arisan sama teman ibu besuk.' Begitu pesan yang ia baca, Kirana mendengus kasar. Jadi sekarang siapa yang menikmati hasil kerja keras Raka hanya dengan duduk dan ongkang-ongkang kaki? Rasanya dunia lucu sekali.Matahari telah menampakkan sinarnya. Sinar itu menembus melalui celah-celah kamar. Pusing yang ia dera membuat Kirana begitu berat hanya sekedar bangun dari kasur.“Kenapa, sih, aku?” gumamnya seorang diri.Namun, Kirana tidak mau jika ia terus berada di dalam kamar. Ia harus segera beraktivitas agar pusing di kepala segera sembuh. Lagi pula beberapa novel menunggu dirinya untuk dikerjakan.Tiba-tiba tubuh Kirana limbung. Pandangannya mendadak berkunang-kunang saat kakinya baru melangkah beberapa langkah dari ranjang."Aw ...."Kirana mengaduh kesakitan.Wanita itu berusaha meraih ujung meja sebagai penopang, tetapi jemarinya gagal menggapainya.Bruk!Tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai kamar.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Sementara itu, sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah. Heni turun sambil membawa beberapa kantong belanja yang sengaja ia siapkan untuk menantu kesayangannya.Semalam Gio berulang kali mengingatkan agar dirinya datang pagi-pagi. Awalnya Heni mengangga
Kirana menutup ritsleting koper dengan kedua tangannya lalu menghembuskan napas pelan. Semua kebutuhan Gio untuk perjalanan dinas malam ini sudah ia siapkan. Mulai dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, berkas yang harus dibawa, hingga obat-obatan yang biasa dikonsumsi suaminya saat mengalami sakit kepala akibat kelelahan bekerja.Ia menggeser koper itu ke dekat pintu kamar sebelum meluruskan punggungnya. "Harusnya cukup,” gumam Kirana menatap koper yang sudah rapi itu.Pandangan Kirana beralih ke jam dinding. Gio masih punya waktu dua jam berada di rumah. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengalir. Gio masih membersihkan diri setelah pulang bekerja.Kirana duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya perlahan. Entah kenapa tubuhnya terasa lebih cepat lelah akhir-akhir ini. Hanya memasukkan beberapa barang ke dalam koper saja ia merasa lelah.Pintu kamar mandi terbuka. Gio melangkah keluar sambil mengacak rambutnya yang masih basah dengan handuk. Aroma sabun yang segar l
Entah apa yang terjadi, tetapi sejak pagi tadi perasaan Gio tidak tenang. Meski tubuhnya duduk di ruang rapat, pikirannya terus kembali pada Kirana. Wajah istrinya tampak lebih pucat dari biasanya. Wanita itu juga beberapa kali terlihat mudah lelah dalam beberapa hari terakhir. Namun, setiap kali Gio mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, Kirana selalu menolak dengan alasan hanya kelelahan. Kekhawatiran itu membuat Gio sempat menceritakan kondisi Kirana kepada ibunya. "Mungkin saja Kirana sedang hamil.” Begitu jawaban Heni kala itu. Kalimat tersebut terus terngiang di kepala Gio. Bukan karena ia tidak menginginkan anak. Justru sebaliknya, ia akan sangat bahagia jika suatu hari dirinya dan Kirana dipercaya untuk menjadi orang tua. Namun, Gio tidak berani menyampaikan dugaan itu kepada istrinya. Ia terlalu mengenal Kirana. Wanita itu pernah melalui begitu banyak kekecewaan dalam hidupnya. Gio tidak ingin menambah satu lagi harapan yang berakhir menjadi luka. Bagaimana
Kirana menundukkan pandangan. Entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Hembusan napas dari keduanya dapat mereka rasakan masing-masing.Ada semburat merah yang samar terlihat, sudah lama Kirana tidak melakukan hal seperti ini. Malam ini akan menjadi yang pertama setelah mereka menjadi sepasang suami istri.Gio mengangkat dagu Kirana perlahan agar wanita itu menatapnya. Tatapan mata sayu itu benar-benar menggoda Gio. Hasrat sang pria begitu menggebu untuk ia salurkan.“Kamu yakin?” tanya Gio menanyakan kesanggupan Kirana perihal malam yang akan mereka lakukan.Kirana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gio. "Bukan karena terpaksa?" Kali ini Kirana menggelengkan kepalanya cepat.Tidak, Kirana melakukan ini bukan karena terpaksa."Lalu kenapa?” Alih-alih segera menuntaskan hasratnya, Gio memilih untuk menggoda istrinya yang cantik lebih dulu.“A-aku ….”Seringai jelas terlihat di bibir penuh milik Gio. Pria itu sangat menyukai Kirana yang tersipu malu.“Ken
Pertengkaran tidak terelakan terjadi antara Adhisti dan juga Raka. Pulang dari pernikahan Gio dan juga Kirana sepasang suami istri itu terlibat pertikaian yang hebat.Tidak ada lagi kerapian yang biasa menyambutnya. Berbagai botol parfum, kotak perhiasan, alat rias, hingga bingkai foto kecil berserakan di atas lantai. Beberapa lipstik terguling hingga kolong meja, sementara bedak yang pecah meninggalkan serbuk halus di keramik berwarna krem.Laci meja rias terbuka setengah, Adhisti menariknya dengan kasar. Cermin besar di atas meja masih berdiri utuh, tetapi permukaannya dipenuhi bekas sidik jari yang berantakan.Kemarahan dan kecemburuan Adhisti terjadi Raka datang ke pernikahan mantan istrinya itu. Semua emosi itu dilampiaskan pada benda-benda di kamar ini.Raka menatap kekacauan tersebut dalam diam. Di antara pecahan bedak dan perhiasan yang tercecer, ia bisa merasakan betapa besar amarah yang membakar hati Adhisti hingga membuat wanita itu kehilangan kendali.“Kenapa, Mas?” Amarah
Pintu kamar perlahan tertutup di belakang Kirana. Suara riuh para tamu yang sejak pagi memenuhi rumah keluarga Gio kini mulai menghilang satu per satu. Tinggal kesunyian yang membuat jantung Kirana berdetak semakin keras.Ia berdiri mematung di dekat pintu. Lalu Kirana berjalan mendekat ke arah cermin yang ada di kamar. Kamar dirinya dan Gio.Wanita itu kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Gaun putih masih menempel di tubuhnya dan juga olesan make up tipis urung luntur dari wajahnya.Matanya perlahan menyapu kamar yang kini menjadi tempat tinggalnya bersama Gio. Kamar yang didominasi warna putih dan begitu besar. Sangat berbeda dengan kamar yang ia miliki.Di atas nakas terdapat foto keluarga Gio. Ada foto Gio bersama ibunya. Keluarga? Mungkin hanya Gio dan ibunya, sekarang ada dirinya. Ia berjanji pada diri sendiri akan menjadi keluarga yang baik untuk mereka.Dulu, ada ketakutan tersendiri kala Kirana masuk ke dalam rumah mewah ini. Ia takut dengan statusnya ibu Gio t
Raka yang mendengar permintaan Kirana pun menghela napas sejenak. Pria itu menatap dengan tatapan tajam pada wanita yang dinikahinya seraya menjawab, “Aku baru aja selesai ngomong kalau pekerjaan aku banyak. Malah diminta pulang sore.”Benar saja, meski Kirana bicara dengan kehati-hatian, tetapi Ra
Mengenakan apron berwarna merah muda, Kirana dengan cekatan membuat sarapan untuk suaminya. Jemarinya bergerak lincah memotong bahan makanan yang akan ia olah pagi ini. Meski Kirana merasa badannya tidak sehat, tetapi ini adalah kewajiban yang harus ia lakukan setiap hari. Kewajiban? Hah … ras
Seringai tergambar jelas pada wajah Gio, pria itu menatap lekat Kirana yang berdiri di sampingnya. Meski baru kemarin mereka bertemu, tetapi entah mengapa Gio sudah merasa rindu pada istri sahabatnya itu. Belum lagi, bagaimana Raka yang acuh pada Kirana membuat Gio semakin yakin jika wanita itu me
“Bagaimana? Lebih enak aku apa suamimu?” Kedua alisnya terangkat menanti jawaban dari bibir tipis milik wanita yang baru saja ia cumbu beberapa waktu yang lalu. Gio Baskara, pria yang telah menjamah tubuh seorang wanita yang telah bersuami itu menatap penuh cinta pada wanita yang saat ini sedang m







