Share

4. Sakit

last update publish date: 2026-01-19 03:46:57

Mengenakan apron berwarna merah muda, Kirana dengan cekatan membuat sarapan untuk suaminya. Jemarinya bergerak lincah memotong bahan makanan yang akan ia olah pagi ini.

Meski Kirana merasa badannya tidak sehat, tetapi ini adalah kewajiban yang harus ia lakukan setiap hari.

Kewajiban? Hah … rasanya Kirana ingin menertawakan dirinya sendiri atas kejadian semalam. Bukan hanya semalam, sebuah kewajiban yang harus ia lakukan dengan sepenuh hati meski sang suami melakukan tanpa kelembutan.

Asap mengepul di udara, sebelum ia menyajikan di atas meja, Kirana lebih dulu mencicipinya. Dahinya mengernyit, rasa masakannya kenapa tidak seperti biasa?

Suara langkah kaki terdengar, Kirana mengabaikan rasa masakan yang baru saja ia cicipi. Tidak buruk meski rasanya ada yang sedikit aneh.

Kirana tidak ingin Raka menunggu terlalu lama. Secangkir kopi juga telah tersaji di atas meja. Dengan penuh kesabaran, Kirana mengambilkan sarapan untuk suaminya lantas diletakkan di atas meja.

Sedikit melirik ke arah ponsel Raka, pria itu ternyata membalas pesan ibunya semalam.

‘Tentu, nanti aku transfer, ya, Bu.’

Begitu pesan yang dapat Kirana baca dari mengintip ponsel suaminya.

Kirana tersenyum getir.

Setelah mengambilkan sarapan untuk Raka, Kirana kini mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Namun, baru saja Kirana mendudukkan dirinya di atas kursi, suara dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring memenuhi indera pendengarannya.

“Makanan apa ini!” marah Raka seraya membanting sendoknya.

Kirana yang mendengar kemarahan sang suami pun lantas merasakan masakannya sendiri.

Asin, sangat asin.

Tidak ada yang salah dengan bumbunya. Kirana yakin ia telah mencicipinya sebelum menyajikan di atas meja untuk suaminya.

“Kamu mau racuni aku pakai makanan yang asin banget ini!” bentak Raka. Suaranya meninggi membuat Kirana hanya mampu menggeleng kuat menyangkal tuduhan suaminya itu.

“Enggak, Mas!” bantah Kirana. Karena memang bukan itu tujuannya.

“Halah!”

Setelah kemarahannya, Raka meninggalkan Kirana, pergi begitu saja.

Kirana berdiri dari duduknya, tetapi tubuh wanita itu terhuyung. Hampir saja Kirana jatuh, beruntung wanita itu masih berpegang pada meja makan.

Kepalanya terasa berat, seperti ada yang menekan dari dalam. Wanita itu mencoba memijat pelipisnya berharap dapat mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.

Namun, denyutan di kepalanya tidak juga mereda. Kirana memaksakan diri untuk tetap bangkit. Ia mengambil obat untuk meredakan pusingnya.

Ya, Kirana harus segera sembuh atau setidaknya rasa pusing yang ia rasakan dapat berkurang meski hanya sedikit. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah, sebelum Raka pulang dan marah karena kondisi rumah yang masih berantakan.

Kirana yang baru saja selesai meminum obat memilih untuk tidur sejenak setelah membersihkan meja makan. Ia berharap setelah bangun nanti kondisi tubuhnya segera pulih.

Baru lima menit Kirana memejamkan matanya, pintu depan terbuka begitu saja.

Sang tamu yang baru saja datang itu melihat Kirana yang tidur si sofa. Ibu dan anak itu menatap satu sama lain, kemarahan yang mereka rasakan sama besarnya.

“Heh … kamu!” Widya mendorong kasar bahu ringkih Kirana.

Kirana yang merasakan ada seseorang yang mengganggu tidurnya membuka mata. Kedua netranya membola menatap dua wanita yang sama bencinya pada dirinya.

Kirana mencoba berdiri tegak dan mengucek matanya. Kepalanya masih terasa berat, seperti benar-benar belum sembuh dari istirahatnya.

Melihat mertuanya yang ada di depannya saat ini, Kirana terdiam membisu dan lidahnya kelu.

“I-ibu,” panggil Widya.

“Kamu enak-enakan tidur di sini sedangkan suamimu kerja keras, banting tulang?”

“Bu, aku merasa enggak enak badan. Aku pusing.”

“Cuma pusing, jangan manja. Rumahmu masih berantakan. Belum punya anak aja udah males gini, gimana nanti punya anak.”

Kirana tidak dapat menolak apa yang dikatakan Widya. Ia lekas bangun dari tidurnya lantas segera mengambil sapu untuk membereskan rumah.

“Cuma pusing aja manja banget,” celetuk Puspa, kakak iparnya.

“Eh … buatin kami minum dulu!” perintah Widya yang kini duduk di sofa.

Kirana menghentikan langkahnya, ia kembali ke dapur dan membuatkan dua cangkir minuman untuk Widya dan Puspa.

Meski langkah kaki Kirana gontai, tetapi wanita itu tidak menolak permintaan mertuanya. Ia hanya ingin dianggap menantu olehnya.

***

Kirana menarik sudut bibirnya tatkala ia mendengar suara mesin mobil suaminya. Sudah sejak tadi Kirana menunggu kepulangan Raka, tapi seperti yang telah ia bayangkan sebelumnya jika Raka pasti akan pulang terlambat.

“Mas, kamu baru pulang?” aku mencoba berbasa-basi pada suamiku.

Sebenarnya kami sangat jarang untuk berkomunikasi.

“Hm.” Ya, hanya dua huruf itulah yang sering Raka ucapkan padaku.

“Aku udah masakin kamu ….”

“Aku udah makan di rumah ibu. Siapkan aku air hangat untuk aku mandi.”

Kirana terdiam mematung, makan di rumah ibu?

“Sekalian nganter uang. Ibu butuh uang,” lanjut Raka.

Kirana jelas ingat jika semalam mertuanya itu mengirimkan pesan singkat pada Raka untuk meminta uang. Namun, jika Raka tadi datang ke rumah ibunya, mengapa siang tadi Widya dan Puspa juga mampir ke rumahnya?

Hati yang telah tertusuk duri berkali-kali, kini seolah kembali lagi. Dada Kirana terasa sesak, dia ingin memberikan penghargaan untuk dirinya sendiri yang telah sanggup menjalani rumah tangga dengan Raka selama 2 tahun ini.

Kirana menuruni beberapa anak tangga untuk menuju ke dapur. Wanita itu terpaku menatap makanan di atas meja yang dianggurkan begitu saja.

Tak tersentuh.

“Apa mas Raka takut rasa masakanku seperti pagi tadi?” batin Kirana meratapi.

Makanan yang ia buat dengan penuh cinta dan penuh kehati-hatian malah tidak tersentuh sedikit pun.

Terpaksa, Kirana membuang makanan yang baru saja matang itu. Mau bagaimana lagi? Tidak ada yang mau memakannya, kan?

Air mata berlinang menuruni pipinya yang putih. Ia bertanya dalam hati, kapan suaminya akan berubah?

Bukan hanya suaminya, ipar dan mertuanya kapan akan mengakui dirinya ada dan menganggapnya sebagai seorang keluarga?

Hanya mengharapkan sesuatu yang tidak pasti kapan akan terjadi, Kirana memukul pelan dadanya berharap rasa sesak yang tadi ia rasakan hilang begitu saja.

Pagi ini Kirana merasa jauh lebih baik dari pada kemarin. Seperti biasa, ia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.

Namun, ada yang berbeda pagi ini. Wajahnya jauh lebih ceria.

Kirana bersenandung dengan merdu seraya tangannya mengaduk masakan yang menjadi kesukaan suaminya. Aroma harum dari masakan itu pun menguar hingga ke seluruh penjuru ruangan.

Kirana yang sedang memindahkan masakan yang tengah matang ke dalam mangkok, terkejut dengan suara derit kursi. Raka telah duduk di sana dengan pakaian yang sudah rapi.

Kirana mengernyitkan dahi, ini masih terlalu pagi untuk Raka berangkat bekerja.

Masakan yang telah siap pun disajikan di atas meja. Dengan penuh hati-hati Kirana mengambilkan makanan untuk suaminya.

"Udah mau berangkat, Mas?" tanya Kirana menyerahkan piring yang telah berisi makanan pada Raka.

"Iya, pekerjaanan akhir-akhir ini banyak sekali."

Kalau sudah menyangkut soal pekerjaan, Kirana tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Karena ia tahu bagaimana suaminya yang gila pada pekerjaannya.

"Nanti bisa kamu pulang agak sore, Mas?" pinta Kirana dengan nada yang berhati-hati takut jika Raka marah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   39. Karma

    “Gio?” Nama itu berkumandang. Widya tidak menyangka jika Gio akan dengan sangat berani menunjukkan kemesraannya dengan Kirana di depannya. Sang empunya nama menyinggungkan senyum. Senyum ramah yang selalu ia berikan pada Widya. Widya selalu ia anggap seperti ibunya sendiri. Pria itu selalu menghormati wanita yang menjadi ini dari sahabat baiknya.“Selamat pagi, Tante,” sapanya dengan ramah.Widya dan Puspa saling menatap dalam diam. Mereka tentu sudah mendengar jika Kirana memiliki pria lain selain Raka. Desas-desus yang beredar pun mereka juga tahu jika Gio adalah orangnya. Hanya saja melihat Gio dan Kirana berinteraksi secara intim membuat keduanya kehabisan kata.“Tante tidak menyangka kamu benar-benar merebut Kirana dark Raka!” tuding Widya yang hanya ditanggapi dengan kekehan pelan Gio.“Gio! Apa kamu lupa persahabatan kalian? Jangan mau diadu domba sama wanita ini!” tuduh Puspa seraya jari telunjuknya terangkat tajam mengarah ke Kirana.Gio yang berada di samping Kirana lantas

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   38. Bersemu

    Sepasang netra bermanik hitam milik Kirana mendelik ke arah Gio. Tatapan mata wanita itu melayangkan protes pada pria di sampingnya. Mengapa Gio malah melepas ikat rambut yang ia kenakan? Sudah lebih dari lima belas menit ia berdandan di depan cermin agar terlihat rapi, tetapi karena Gio penampilannya kini menjadi berantakan.Meskipun perkenalannya dengan Gio terbilang singkat dan dalam ‘keadaan’ yang aneh, tetapi entah mengapa jika dengan Gio, Kirana bisa menjadi dirinya sendiri. Gio memberikan rasa aman dan nyaman untuknya.“Kamu kenapa, sih?” tanya Kirana memukul ringan bahu Gio.Tidak sakit memang, bahkan Gio harus menahan senyum karena Kirana yang terlihat lucu saat marah. Mendapati Gio yang hanya menyunggingkan senyum membuat Kirana berdecak. Ia memilih untuk melihat kaca spion tengah yang ada di mobil Gio. Dengan gerakan yang terlatih, Kirana mulai merapikan rambutnya dan berniat untuk menggulungnya lagi, tetapi sebuah tangan menghentikan kegiatannya.“Kenapa? Ya ampun. Nanti

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   37. Andai saja

    Gio menatap wajah wanita yang saat ini sedang terlelap. Napasnya yang teratur, seolah semesta selalu berpihak padanya. Nyatanya, wanita itu menyimpan kecewa pada takdir yang diberikan sang pencipta.Cahaya lampu tidur yang samar jatuh pada wajah ayu Kirana. Menampakkan garis di sekitar mata terlihat jelas. Ada bekas tangis yang bahkan tidak benar-benar hilang. Namun, bayi Gio, Kirana tentu wanita paling cantik.Cantik dengan cara membuat dadanya sesak.Andai saja dulu semesta mempertemukan dengan dirinya lebih awal pasti Kirana tidak akan mengalami penderitaan dalam hidupnya.Gio teringat akan pertemuan pertamanya dengan Kirana yang membawa mereka pada hubungan yang salah.Dulu, wanita itu selalu tersenyum saat Raka pulang dari kantor. Suaranya yang mendayu lembut menjadi sambutan bagi Raka. Namun, yang dapat Gio ingat, Raka sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Kirana. Gio sengaja membawa Kirana ke rumahnya setelah pertemuannya dengan Raka. Gio rasanya ingin tertawa saat Raka ya

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   36. Melepas

    Napasnya tersengal, peluh membasahi dahinya, dadanya naik turun saat kedua matanya terpaksa terbuka. Beberapa detik pria itu menatap langit-langit kamar. Ia terdiam sejenak berusaha mencerna jika semua yang terjadi hanyalah mimpi belaka. Namun, bayangan Kirana yang berdiri berhadapan dengan pria lain dan saling memakaikan cincin di jari manis mereka urung hilang dari pikiran. Jantungnya berdegup kencang, tenggorokannya tercekat dan rasa sesak memenuhi dadanya. Raka mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, tetapi kegelisahan yang ia rasakan tak juga hilang. Melihat seseorang yang dulu menjadi istrinya dan hanya tersenyum padanya malah bersanding dengan pria lain. Teringat jelas dalam bena, beberapa jam yang lalu, Kirana meminta Raka untuk menceraikan dirinya apabila Raka benar-benar peduli padanya. Satu-satunya hal yang diminta Kirana pada Raka. “Jika itu bisa buat kamu bahagia.” Raka bergumam. Tatapan pria itu lantas beralih pada ranjang yang ada di sampingnya. Pria

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   35. Mimpi

    Adhisti mendongak menatap wajah Raka, wanita itu mengernyit tatkala pias wajah pria itu yang sulit untuk dijelaskan. Sang wanita berpikir dalam benak, mungkinkah Raka sedang dalam masalah pekerjaan atau yang lainnya? Atau tentang Kirana.“Raka,” panggil Adhisti dengan kedua mata yang berkaca-kaca.Suara lembut nan mendayu itu membuat lamunan Raka buyar seketika. Pria itu menunduk menatap wajah Adhisti yang penuh dengan air mata. Pria itu mengusap punggung Adhisti berharap memberikan ketenangan pada sang wanita.“Kita duduk di sana dulu, ya?” ajak Raka menuntun tangan. Adhisti untuk duduk di tepi ranjang.Perlahan, mereka berjalan ke ranjang dan duduk di sana. Raka masih setia memberikan usapan lembut di punggungnya. Sedangkan sang wanita menyandarkan kepalanya pada dada bidang Raka.Merasa tangisan Adhisti sudah mereda dan napasnya yang sudah teratur, Raka berdiri dari duduknya. Namun, sebelum Raka berdiri, Adhisti lebih dulu menahan lengan Raka dan berkata, “Jangan pergi,” pintanya.

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   34. Pada Siapa?

    Belum selesai rasa terkejutnya karena Kirana yang mulai berani mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya. Raka kembali dikejutkan dengan permintaan Kirana. Bayaran? Apa maksudnya? “Pembantu? Apa aku pernah menganggap kamu seperti itu?” seloroh Raka meminta penjelasan akan kalimat yang diucapkan oleh Kirana.“Lalu apa? Aku kan cuma tukang masak, bersih-bersih rumah dan jangan lupa hinaan dari ibu dan kakakmu.” Raka tidak suka jika Kirana membawa nama ibu dan kakaknya. Bagaimanapun mereka adalah keluarganya.“Jangan pernah memfitnah keluargaku, Kirana!” bentak Raka.Pria itu sepertinya lupa jika ia sedang bersusah payah meminta maaf pada Kirana. Lalu sekarang bentakan itu malah akan semakin membuat Kirana benci padanya.“Kamu enggak terima, ya, kalau aku bilang gini ke mereka? Padahal dulu mereka lebih dari ini menghinaku tapi kamu diam aja.”Jika mengingat kejadian yang sudah termakan waktu, Kirana merasa perih di dalam hatinya semakin lara. Luka yang belum sembuh itu bahkan kembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status