LOGINMengenakan apron berwarna merah muda, Kirana dengan cekatan membuat sarapan untuk suaminya. Jemarinya bergerak lincah memotong bahan makanan yang akan ia olah pagi ini.
Meski Kirana merasa badannya tidak sehat, tetapi ini adalah kewajiban yang harus ia lakukan setiap hari. Kewajiban? Hah … rasanya Kirana ingin menertawakan dirinya sendiri atas kejadian semalam. Bukan hanya semalam, sebuah kewajiban yang harus ia lakukan dengan sepenuh hati meski sang suami melakukan tanpa kelembutan. Asap mengepul di udara, sebelum ia menyajikan di atas meja, Kirana lebih dulu mencicipinya. Dahinya mengernyit, rasa masakannya kenapa tidak seperti biasa? Suara langkah kaki terdengar, Kirana mengabaikan rasa masakan yang baru saja ia cicipi. Tidak buruk meski rasanya ada yang sedikit aneh. Kirana tidak ingin Raka menunggu terlalu lama. Secangkir kopi juga telah tersaji di atas meja. Dengan penuh kesabaran, Kirana mengambilkan sarapan untuk suaminya lantas diletakkan di atas meja. Sedikit melirik ke arah ponsel Raka, pria itu ternyata membalas pesan ibunya semalam. ‘Tentu, nanti aku transfer, ya, Bu.’ Begitu pesan yang dapat Kirana baca dari mengintip ponsel suaminya. Kirana tersenyum getir. Setelah mengambilkan sarapan untuk Raka, Kirana kini mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Namun, baru saja Kirana mendudukkan dirinya di atas kursi, suara dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring memenuhi indera pendengarannya. “Makanan apa ini!” marah Raka seraya membanting sendoknya. Kirana yang mendengar kemarahan sang suami pun lantas merasakan masakannya sendiri. Asin, sangat asin. Tidak ada yang salah dengan bumbunya. Kirana yakin ia telah mencicipinya sebelum menyajikan di atas meja untuk suaminya. “Kamu mau racuni aku pakai makanan yang asin banget ini!” bentak Raka. Suaranya meninggi membuat Kirana hanya mampu menggeleng kuat menyangkal tuduhan suaminya itu. “Enggak, Mas!” bantah Kirana. Karena memang bukan itu tujuannya. “Halah!” Setelah kemarahannya, Raka meninggalkan Kirana, pergi begitu saja. Kirana berdiri dari duduknya, tetapi tubuh wanita itu terhuyung. Hampir saja Kirana jatuh, beruntung wanita itu masih berpegang pada meja makan. Kepalanya terasa berat, seperti ada yang menekan dari dalam. Wanita itu mencoba memijat pelipisnya berharap dapat mengurangi rasa sakit yang ia rasakan. Namun, denyutan di kepalanya tidak juga mereda. Kirana memaksakan diri untuk tetap bangkit. Ia mengambil obat untuk meredakan pusingnya. Ya, Kirana harus segera sembuh atau setidaknya rasa pusing yang ia rasakan dapat berkurang meski hanya sedikit. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah, sebelum Raka pulang dan marah karena kondisi rumah yang masih berantakan. Kirana yang baru saja selesai meminum obat memilih untuk tidur sejenak setelah membersihkan meja makan. Ia berharap setelah bangun nanti kondisi tubuhnya segera pulih. Baru lima menit Kirana memejamkan matanya, pintu depan terbuka begitu saja. Sang tamu yang baru saja datang itu melihat Kirana yang tidur si sofa. Ibu dan anak itu menatap satu sama lain, kemarahan yang mereka rasakan sama besarnya. “Heh … kamu!” Widya mendorong kasar bahu ringkih Kirana. Kirana yang merasakan ada seseorang yang mengganggu tidurnya membuka mata. Kedua netranya membola menatap dua wanita yang sama bencinya pada dirinya. Kirana mencoba berdiri tegak dan mengucek matanya. Kepalanya masih terasa berat, seperti benar-benar belum sembuh dari istirahatnya. Melihat mertuanya yang ada di depannya saat ini, Kirana terdiam membisu dan lidahnya kelu. “I-ibu,” panggil Widya. “Kamu enak-enakan tidur di sini sedangkan suamimu kerja keras, banting tulang?” “Bu, aku merasa enggak enak badan. Aku pusing.” “Cuma pusing, jangan manja. Rumahmu masih berantakan. Belum punya anak aja udah males gini, gimana nanti punya anak.” Kirana tidak dapat menolak apa yang dikatakan Widya. Ia lekas bangun dari tidurnya lantas segera mengambil sapu untuk membereskan rumah. “Cuma pusing aja manja banget,” celetuk Puspa, kakak iparnya. “Eh … buatin kami minum dulu!” perintah Widya yang kini duduk di sofa. Kirana menghentikan langkahnya, ia kembali ke dapur dan membuatkan dua cangkir minuman untuk Widya dan Puspa. Meski langkah kaki Kirana gontai, tetapi wanita itu tidak menolak permintaan mertuanya. Ia hanya ingin dianggap menantu olehnya. *** Kirana menarik sudut bibirnya tatkala ia mendengar suara mesin mobil suaminya. Sudah sejak tadi Kirana menunggu kepulangan Raka, tapi seperti yang telah ia bayangkan sebelumnya jika Raka pasti akan pulang terlambat. “Mas, kamu baru pulang?” aku mencoba berbasa-basi pada suamiku. Sebenarnya kami sangat jarang untuk berkomunikasi. “Hm.” Ya, hanya dua huruf itulah yang sering Raka ucapkan padaku. “Aku udah masakin kamu ….” “Aku udah makan di rumah ibu. Siapkan aku air hangat untuk aku mandi.” Kirana terdiam mematung, makan di rumah ibu? “Sekalian nganter uang. Ibu butuh uang,” lanjut Raka. Kirana jelas ingat jika semalam mertuanya itu mengirimkan pesan singkat pada Raka untuk meminta uang. Namun, jika Raka tadi datang ke rumah ibunya, mengapa siang tadi Widya dan Puspa juga mampir ke rumahnya? Hati yang telah tertusuk duri berkali-kali, kini seolah kembali lagi. Dada Kirana terasa sesak, dia ingin memberikan penghargaan untuk dirinya sendiri yang telah sanggup menjalani rumah tangga dengan Raka selama 2 tahun ini. Kirana menuruni beberapa anak tangga untuk menuju ke dapur. Wanita itu terpaku menatap makanan di atas meja yang dianggurkan begitu saja. Tak tersentuh. “Apa mas Raka takut rasa masakanku seperti pagi tadi?” batin Kirana meratapi. Makanan yang ia buat dengan penuh cinta dan penuh kehati-hatian malah tidak tersentuh sedikit pun. Terpaksa, Kirana membuang makanan yang baru saja matang itu. Mau bagaimana lagi? Tidak ada yang mau memakannya, kan? Air mata berlinang menuruni pipinya yang putih. Ia bertanya dalam hati, kapan suaminya akan berubah? Bukan hanya suaminya, ipar dan mertuanya kapan akan mengakui dirinya ada dan menganggapnya sebagai seorang keluarga? Hanya mengharapkan sesuatu yang tidak pasti kapan akan terjadi, Kirana memukul pelan dadanya berharap rasa sesak yang tadi ia rasakan hilang begitu saja. Pagi ini Kirana merasa jauh lebih baik dari pada kemarin. Seperti biasa, ia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Wajahnya jauh lebih ceria. Kirana bersenandung dengan merdu seraya tangannya mengaduk masakan yang menjadi kesukaan suaminya. Aroma harum dari masakan itu pun menguar hingga ke seluruh penjuru ruangan. Kirana yang sedang memindahkan masakan yang tengah matang ke dalam mangkok, terkejut dengan suara derit kursi. Raka telah duduk di sana dengan pakaian yang sudah rapi. Kirana mengernyitkan dahi, ini masih terlalu pagi untuk Raka berangkat bekerja. Masakan yang telah siap pun disajikan di atas meja. Dengan penuh hati-hati Kirana mengambilkan makanan untuk suaminya. "Udah mau berangkat, Mas?" tanya Kirana menyerahkan piring yang telah berisi makanan pada Raka. "Iya, pekerjaanan akhir-akhir ini banyak sekali." Kalau sudah menyangkut soal pekerjaan, Kirana tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Karena ia tahu bagaimana suaminya yang gila pada pekerjaannya. "Nanti bisa kamu pulang agak sore, Mas?" pinta Kirana dengan nada yang berhati-hati takut jika Raka marah.Raka yang mendengar permintaan Kirana pun menghela napas sejenak. Pria itu menatap dengan tatapan tajam pada wanita yang dinikahinya seraya menjawab, “Aku baru aja selesai ngomong kalau pekerjaan aku banyak. Malah diminta pulang sore.”Benar saja, meski Kirana bicara dengan kehati-hatian, tetapi Raka tetap saja menyalurkan kemarahannya.“Hari ini aja, Mas. Hari ini, kan, hari ….”“Hari apa? Hari Jumat besuk Sabtu. Kamu mau bicara besuk pengen liburan?” potong Raka cepat sebelum Kirana selesai dengan kalimatnya.Raka membuka dompet miliknya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan ia letakkan di atas meja. “Aku kerja juga buat banyak duit, buat kamu kalau pengen liburan atau pengen ini itu bisa dituruti.”Kirana merasakan sesak di dalam dadanya. Seolah sebuah batu besar menimpa dirinya, sakit.“Bu-bukan itu, Mas. Maksudku ….”“Aku udah terlambat. Kalau mau pergi liburan pergi aja pakai uang itu.” Setelah mengatakannya, Raka berlalu begitu saja tanpa peduli bagaimana pe
Mengenakan apron berwarna merah muda, Kirana dengan cekatan membuat sarapan untuk suaminya. Jemarinya bergerak lincah memotong bahan makanan yang akan ia olah pagi ini. Meski Kirana merasa badannya tidak sehat, tetapi ini adalah kewajiban yang harus ia lakukan setiap hari. Kewajiban? Hah … rasanya Kirana ingin menertawakan dirinya sendiri atas kejadian semalam. Bukan hanya semalam, sebuah kewajiban yang harus ia lakukan dengan sepenuh hati meski sang suami melakukan tanpa kelembutan. Asap mengepul di udara, sebelum ia menyajikan di atas meja, Kirana lebih dulu mencicipinya. Dahinya mengernyit, rasa masakannya kenapa tidak seperti biasa? Suara langkah kaki terdengar, Kirana mengabaikan rasa masakan yang baru saja ia cicipi. Tidak buruk meski rasanya ada yang sedikit aneh. Kirana tidak ingin Raka menunggu terlalu lama. Secangkir kopi juga telah tersaji di atas meja. Dengan penuh kesabaran, Kirana mengambilkan sarapan untuk suaminya lantas diletakkan di atas meja. Sedikit me
Kirana hanya dapat terdiam saat ia melihat Raka yang berjalan ke arah Widya untuk menjabat sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun pada wanita yang telah melahirkan dirinya itu.Apa Kirana benar-benar tidak terlihat di mata suaminya?"Ngapain duduk bengong di situ?" Kali ini kakak iparnya yang berbicara."Suamimu baru datang, kenapa malah diam aja? Ambilin makan sama minumnya, dong," sinis Puspa yang memang tidak pernah suka dengan kehadiran Kirana.Kirana yang terhenyak pun lantas menarik salah satu kursi di dekat Raka, di samping sang suami.Tangan wanita itu lantas dengan terampil mengambilkan nasi beserta lauknya di atas piring lantas ia berikan pada Raka.Setelah mengambilkan nasi untuk suaminya, Kirana mengambil satu piring lagi untuk ia isi nasi beserta lauk pauknya untuk dirinya sendiri. Kegiatan itu tidak luput dari tatapan mertua dan iparnya."Kamu baru pulang kerja, Raka?" tanya Widya."Hm. Iya, Bu."Satu suap nasi telah masuk ke dalam mulut Raka. Pria itu menikmati setia
Seringai tergambar jelas pada wajah Gio, pria itu menatap lekat Kirana yang berdiri di sampingnya. Meski baru kemarin mereka bertemu, tetapi entah mengapa Gio sudah merasa rindu pada istri sahabatnya itu. Belum lagi, bagaimana Raka yang acuh pada Kirana membuat Gio semakin yakin jika wanita itu memiliki perasaan kecewa pada Raka dan itu semakin bertambah. “Gio, duduk.” Suara Raka memecah keheningan yang menyelimuti mereka. Raka merasa tatapan yang dilayangkan Gio pada Kirana tidak biasa, atau hanya perasaannya saja? Meski pada awalnya Raka terlihat kebingungan dengan tingkah sang istri serta sahabatnya itu, tetapi pria itu segera mengusir pikiran yang penuh tanda tanya. Tatapan Gio beralih pada Raka, pria itu menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. “Maaf, terlambat,” ujarnya menyesal. Tangan Raka seolah mengibas di udara. “Tidak apa-apa. Kami juga baru sampai.” Ketiganya menggeser kursi dan duduk di sana. Dua cangkir kopi hitam yang ada di atas meja, menjadi pi
“Bagaimana? Lebih enak aku apa suamimu?” Kedua alisnya terangkat menanti jawaban dari bibir tipis milik wanita yang baru saja ia cumbu beberapa waktu yang lalu. Gio Baskara, pria yang telah menjamah tubuh seorang wanita yang telah bersuami itu menatap penuh cinta pada wanita yang saat ini sedang menatap dirinya dengan matanya yang sayu. “Aku tidak akan meneruskan apa yang telah kita mulai jika kamu tidak mau menjawabnya.” Kirana tidak bisa membiarkan pria itu pergi begitu saja saat ia sudah mulai menikmati permainan pria yang menjadi sahabat suaminya itu. Ia ingin lebih dari sekedar cumbuan yang baru saja ia terima. Tangannya yang putih terulur untuk meraba lengan kokoh pria yang sedari tadi berada di atas tubuhnya. Napasnya masih memburu akibat cumbuan yang diberikan oleh Gio. “Kamu yang terbaik, Gio,” pujinya seraya tangannya kini mengusap lembut tengkuk Gio memberikan sensasi aneh dalam diri pria itu. Gio menyeringai, tentu saja jawaban itulah yang ia tunggu dari Kirana. Gio







