แชร์

2. Tekanan Di Rumah Mertua

ผู้เขียน: Dwi Yuni Sulastri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-02 08:01:25

Seringai tergambar jelas pada wajah Gio, pria itu menatap lekat Kirana yang berdiri di sampingnya. Meski baru kemarin mereka bertemu, tetapi entah mengapa Gio sudah merasa rindu pada istri sahabatnya itu.

Belum lagi, bagaimana Raka yang acuh pada Kirana membuat Gio semakin yakin jika wanita itu memiliki perasaan kecewa pada Raka dan itu semakin bertambah.

“Gio, duduk.” Suara Raka memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

Raka merasa tatapan yang dilayangkan Gio pada Kirana tidak biasa, atau hanya perasaannya saja?

Meski pada awalnya Raka terlihat kebingungan dengan tingkah sang istri serta sahabatnya itu, tetapi pria itu segera mengusir pikiran yang penuh tanda tanya.

Tatapan Gio beralih pada Raka, pria itu menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. “Maaf, terlambat,” ujarnya menyesal.

Tangan Raka seolah mengibas di udara. “Tidak apa-apa. Kami juga baru sampai.”

Ketiganya menggeser kursi dan duduk di sana. Dua cangkir kopi hitam yang ada di atas meja, menjadi pilihan dua pria dewasa yang ada di sana, asapnya masih mengepul ke udara. Sedangkan Kirana, wanita itu memilih menyesap coklat hangat yang ia pesan seraya melirik sekilas ke arah Gio.

Entah apa yang dipikirkan Gio, pria itu lebih memilih untuk duduk di samping Kirana ketimbang di samping Raka. Jelas, pria itu akan berusaha menggoda istri sahabat karibnya.

Setelah menyesap kopi panas yang disajikan di atas meja, Gio kembali meletakkan cangkir itu pelan. “Jadi, ada apa kamu ingin bertemu denganku?” tanya Gio seraya bersandar pada sandaran kursi.

“Rencananya aku mau membangun sebuah apartemen di dekat Rumah sakit. Aku mempercayakan kamu mendesainnya.” Obrolan itu semakin lama semakin serius.

Di bawah meja, sepasang tangan saling bergandengan. Menyentuh dengan lembut dan mengusap perlahan seakan mengingatkan akan malam panjang mereka semalam.

Wajah Kirana terlihat gelisah, jantungnya berdegup dengan cepat. Dibayangi sebuah ketakutan apabila Raka memergoki dirinya dengan Gio yang masih menggenggam tangan satu sama lain.

Namun, entah mengapa genggaman tangan Gio juga mampu memberikan kenyamanan pada diri Kirana hingga wanita itu tidak kuasa menolak atau menepis tangan besar Gio.

“Sepertinya kamu semakin sibuk saja. Kemarin baru perjalanan bisnis ke luar kota, sekarang sudah membahas ada proyek lain saja.” Raka berbicara seraya menatap Raka meski tangannya masih sibuk mengusap lembut tangan Kirana yang duduk di sampingnya.

“Aku punya lahan dan kesempatan, bukankah harus aku manfaatkan demi uang?” Tawa memenuhi meja yang hanya ada tiga orang dewasa di sana.

Raka dan Gio terlibat pembicaraan yang cukup serius mengenai proyek mereka. Gio tentu saja bersedia membantu teman karibnya itu mendesain rancangan apartemen yang menjadi proyek mereka.

***

Raka menaiki ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Hawa dingin malam ini benar-benar menembus tulang.

Raka menatap sekilas pada pintu yang terdorong pelan itu. Pria itu melihat sang istri yang baru masuk ke dalam kamar mereka. Namun, bukannya disambut dengan senyum hangat, Raka malah memunggungi Kirana yang naik ke atas ranjang.

"Ini adalah kali pertama kamu aku ajak pergi bareng. Jadi lain kali jangan minta ditemani jika kamu ingin pergi keluar."

Kirana yang duduk di tepi ranjang pun membeku dengan kalimat yang baru saja Raka ucapkan. Hingga saat ini, ia pun tidak tahu alasan apa yang membuat Raka bersedia mengajaknya keluar bertemu dengan Gio.

Perlahan Kirana naik ke atas ranjang dan berbaring di samping sang suami. Wanita itu hanya mampu menatap punggung kokoh Raka yang membelakangi dirinya.

"Mas, besuk ulang tahun ibu, kita disuruh ke sana sekalian makan malam."

Raka yang belum memejamkan kedua matanya itu pun hanya berdehem sebagai jawaban.

"Besuk, kamu cari sendiri saja kadonya. Aku pergi kerja kalau sempat aku jemput kamu dan pergi ke rumah ibu. Kalau enggak sempat kamu naik taksi saja." Kali ini Raka menutup selimut itu hingga wajah.

Meski Raka selalu bersikap seperti ini, tetapi Kirana belum terbiasa dengan rasa sakitnya. Rasanya begitu nyeri dalam dada.

Pernikahan yang ia coba ia pertahankan selama dua tahun ini tidak mampu membuat Raka sedikit saja punya rasa cinta. Akan tetapi, kebencian pria itu malah semakin menjadi.

Bukan tentang cinta, tetapi ini semua juga tentang tanggung jawab bersama. Kirana bertekad untuk mempertahankan rumah tangga yang telah terbina, tetapi orang di dalamnya enggan bersama dalam sebuah rasa.

Kirana hanya mampu tersenyum getir tatkala ia mendengar dengkuran halus dari suaminya. Raka benar-benar mencapai alam mimpinya lebih dulu.

"Mas, jika besuk ibu dan kakakmu memojokkan aku, apa kamu akan membantuku?"

Meski Kirana tahu jawabannya, tetapi entah mengapa Kirana ingin menanyakan hal itu pada suaminya walau tidak terdengar.

Jika saja Raka tidak menyuruh Kirana untuk datang ke rumah ibunya, maka Kirana sama sekali enggan menginjakkan kakinya di rumah yang bahkan lebih pantas dibilang neraka.

Kediaman yang sangat luas dan mewah ini, Kirana hanya beberapa kali saja menginjakkan kakinya. Degup jantungnya benar-benar bekerja lebih cepat dari biasanya jika ia sudah berada di depan gerbang kediaman mertuanya.

"Nona, silahkan masuk. Nyonya sudah menunggu di dalam." Seorang pelayan dengan ramah menyapa Kirana yang baru saja sampai di rumah megah itu.

Kirana hanya tersenyum sebagai jawaban, wanita itu juga mengikuti langkah kaki sang pelayan yang membawanya pada ibu mertua dan iparnya.

Di atas meja, aneka hidangan tertata rapi. Baru saja Kirana datang untuk menyapa, tatapan kedua wanita yang berbeda generasi itu begitu menyayat hati.

Namun, Kirana telah bertekad datang seorang diri dan mempersiapkan kado untuk sang mertua sepenuh hati.

"Selamat ulang tahun, ya, Bu." Ucapan itu begitu tulus dari hati.

"Hm." Hanya deheman itu yang Kirana dengar.

Tidak apa-apa, mendapatkan jawaban meski berupa deheman sudah membuat Kirana dipandang di rumah ini.

"Aku membawakan ibu ini, tas dengan model terbaru dari merek yang ibu suka." Kirana menyodorkan paper bag dengan tulisan dari merek yang terkenal di seluruh antero jagad raya.

Widya tidak serta merta langsung menerima. Wanita paruh baya itu maIah setia dengan tatapan meremehkan untuk Kirana.

Karena tidak segera diambil oleh Widya, Kirana memilih untuk meletakkan paper bag itu di atas meja dengan senyum yang masih terukir di bibir tipisnya.

"Bilang sama Raka kalau aku berterima kasih sudah dibelikan barang mahal ini."

Kenapa? kenapa harus pada Raka?

"Kamu beli ini pakai uang Raka, kan? Hasil kerja keras dia. Kalau kamu yang beli mana mungkin sanggup bayar," sinis Widya. Puspa yang berada di sana pun ikut mengejek dan meremehkan.

"Ibu, Mbak ...," panggil Raka yang membuat semua orang mengalihkan pandangan pada pria yang baru saja datang dengan setelah jasnya.

Kirana mengernyitkan dahinya, ibu, mbak? Lalu di mana Raka menempatkan namanya? Bahkan suaminya sendiri pun tidak memanggil namanya.

Lucu sekali, bukan?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   72. Masuk Rumah Sakit

    Matahari telah menampakkan sinarnya. Sinar itu menembus melalui celah-celah kamar. Pusing yang ia dera membuat Kirana begitu berat hanya sekedar bangun dari kasur.“Kenapa, sih, aku?” gumamnya seorang diri.Namun, Kirana tidak mau jika ia terus berada di dalam kamar. Ia harus segera beraktivitas agar pusing di kepala segera sembuh. Lagi pula beberapa novel menunggu dirinya untuk dikerjakan.Tiba-tiba tubuh Kirana limbung. Pandangannya mendadak berkunang-kunang saat kakinya baru melangkah beberapa langkah dari ranjang."Aw ...."Kirana mengaduh kesakitan.Wanita itu berusaha meraih ujung meja sebagai penopang, tetapi jemarinya gagal menggapainya.Bruk!Tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai kamar.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Sementara itu, sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah. Heni turun sambil membawa beberapa kantong belanja yang sengaja ia siapkan untuk menantu kesayangannya.Semalam Gio berulang kali mengingatkan agar dirinya datang pagi-pagi. Awalnya Heni mengangga

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   71. Ditinggal Sendiri

    Kirana menutup ritsleting koper dengan kedua tangannya lalu menghembuskan napas pelan. Semua kebutuhan Gio untuk perjalanan dinas malam ini sudah ia siapkan. Mulai dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, berkas yang harus dibawa, hingga obat-obatan yang biasa dikonsumsi suaminya saat mengalami sakit kepala akibat kelelahan bekerja.Ia menggeser koper itu ke dekat pintu kamar sebelum meluruskan punggungnya. "Harusnya cukup,” gumam Kirana menatap koper yang sudah rapi itu.Pandangan Kirana beralih ke jam dinding. Gio masih punya waktu dua jam berada di rumah. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengalir. Gio masih membersihkan diri setelah pulang bekerja.Kirana duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya perlahan. Entah kenapa tubuhnya terasa lebih cepat lelah akhir-akhir ini. Hanya memasukkan beberapa barang ke dalam koper saja ia merasa lelah.Pintu kamar mandi terbuka. Gio melangkah keluar sambil mengacak rambutnya yang masih basah dengan handuk. Aroma sabun yang segar l

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   70. Luar Kota

    Entah apa yang terjadi, tetapi sejak pagi tadi perasaan Gio tidak tenang. Meski tubuhnya duduk di ruang rapat, pikirannya terus kembali pada Kirana. Wajah istrinya tampak lebih pucat dari biasanya. Wanita itu juga beberapa kali terlihat mudah lelah dalam beberapa hari terakhir. Namun, setiap kali Gio mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, Kirana selalu menolak dengan alasan hanya kelelahan. Kekhawatiran itu membuat Gio sempat menceritakan kondisi Kirana kepada ibunya. "Mungkin saja Kirana sedang hamil.” Begitu jawaban Heni kala itu. Kalimat tersebut terus terngiang di kepala Gio. Bukan karena ia tidak menginginkan anak. Justru sebaliknya, ia akan sangat bahagia jika suatu hari dirinya dan Kirana dipercaya untuk menjadi orang tua. Namun, Gio tidak berani menyampaikan dugaan itu kepada istrinya. Ia terlalu mengenal Kirana. Wanita itu pernah melalui begitu banyak kekecewaan dalam hidupnya. Gio tidak ingin menambah satu lagi harapan yang berakhir menjadi luka. Bagaimana

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   69. Hasrat Tersalurkan

    Kirana menundukkan pandangan. Entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Hembusan napas dari keduanya dapat mereka rasakan masing-masing.Ada semburat merah yang samar terlihat, sudah lama Kirana tidak melakukan hal seperti ini. Malam ini akan menjadi yang pertama setelah mereka menjadi sepasang suami istri.Gio mengangkat dagu Kirana perlahan agar wanita itu menatapnya. Tatapan mata sayu itu benar-benar menggoda Gio. Hasrat sang pria begitu menggebu untuk ia salurkan.“Kamu yakin?” tanya Gio menanyakan kesanggupan Kirana perihal malam yang akan mereka lakukan.Kirana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gio. "Bukan karena terpaksa?" Kali ini Kirana menggelengkan kepalanya cepat.Tidak, Kirana melakukan ini bukan karena terpaksa."Lalu kenapa?” Alih-alih segera menuntaskan hasratnya, Gio memilih untuk menggoda istrinya yang cantik lebih dulu.“A-aku ….”Seringai jelas terlihat di bibir penuh milik Gio. Pria itu sangat menyukai Kirana yang tersipu malu.“Ken

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   68. Tidak Bahagia

    Pertengkaran tidak terelakan terjadi antara Adhisti dan juga Raka. Pulang dari pernikahan Gio dan juga Kirana sepasang suami istri itu terlibat pertikaian yang hebat.Tidak ada lagi kerapian yang biasa menyambutnya. Berbagai botol parfum, kotak perhiasan, alat rias, hingga bingkai foto kecil berserakan di atas lantai. Beberapa lipstik terguling hingga kolong meja, sementara bedak yang pecah meninggalkan serbuk halus di keramik berwarna krem.Laci meja rias terbuka setengah, Adhisti menariknya dengan kasar. Cermin besar di atas meja masih berdiri utuh, tetapi permukaannya dipenuhi bekas sidik jari yang berantakan.Kemarahan dan kecemburuan Adhisti terjadi Raka datang ke pernikahan mantan istrinya itu. Semua emosi itu dilampiaskan pada benda-benda di kamar ini.Raka menatap kekacauan tersebut dalam diam. Di antara pecahan bedak dan perhiasan yang tercecer, ia bisa merasakan betapa besar amarah yang membakar hati Adhisti hingga membuat wanita itu kehilangan kendali.“Kenapa, Mas?” Amarah

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   67. Malam Pertama?

    Pintu kamar perlahan tertutup di belakang Kirana. Suara riuh para tamu yang sejak pagi memenuhi rumah keluarga Gio kini mulai menghilang satu per satu. Tinggal kesunyian yang membuat jantung Kirana berdetak semakin keras.Ia berdiri mematung di dekat pintu. Lalu Kirana berjalan mendekat ke arah cermin yang ada di kamar. Kamar dirinya dan Gio.Wanita itu kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Gaun putih masih menempel di tubuhnya dan juga olesan make up tipis urung luntur dari wajahnya.Matanya perlahan menyapu kamar yang kini menjadi tempat tinggalnya bersama Gio. Kamar yang didominasi warna putih dan begitu besar. Sangat berbeda dengan kamar yang ia miliki.Di atas nakas terdapat foto keluarga Gio. Ada foto Gio bersama ibunya. Keluarga? Mungkin hanya Gio dan ibunya, sekarang ada dirinya. Ia berjanji pada diri sendiri akan menjadi keluarga yang baik untuk mereka.Dulu, ada ketakutan tersendiri kala Kirana masuk ke dalam rumah mewah ini. Ia takut dengan statusnya ibu Gio t

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   58. Luka Yang Tersimpan

    “Gio itu tidak pernah terbuka pada orang lain.” Heni menjeda kalimatnya sejenak. “Ia lebih memilih menutup diri.”Mendengar apa yang disampaikan oleh Heni membuat Kirana mengernyitkan dahi. Memang selama Iki Gio tidak pernah menceritakan apapun. Entah soal kerja atau kehidupan pribadinya. Namun, ap

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   22. Pergi?

    Netra sekelam malam itu menatap wajah wanita yang berdiri di sampingnya. Rahangnya mengeras saat melihat senyum manis yang terpatri di bibir tipis miliknya. Kirana, istri yang ia anggap sebagai istri yang penurut itu tengah menatapnya. Tatapan yang bahkan tidak pernah ia lihat sebelumnya.Kedua tan

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   12. Kebenaran Masa Lalu

    Kirana mengekori ibu dan anak itu dari belakang. Wanita itu melangkah kakinya perlahan, meski bukan hal yang baru datang ke rumah mertuanya, tetapi bagi Kirana setiap langkah kakinya begitu asing.Tidak ada sapaan apa kabar atau lainnya, wanita paruh baya itu hanya fokus pada anak lelakinya. Meski

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   7. Pertengkaran Di Meja Makan

    Meski Kirana harus bersusah payah bangun dari ranjang empuknya, tetapi wanita itu pada akhirnya berhasil juga. Namun, ia masih dapat merasakan nyeri pada tubuh bagian bawahnya atas perlakuan kasar Raka padanya semalam.Siapa yang menyangka jika Raka benar-benar melupakan hari ulang tahun pernikahan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status