Share

Bab 5

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-11 12:43:24

Kepanikan seketika melahap habis sisa gairah yang beberapa detik lalu memenuhi ruangan. Wajah Tante Meri pucat pasi, matanya bergerak liar mencari pakaiannya yang berserakan di lantai.

Tanpa meperdulikan Rehan yang masih mematung bertelanjang dada di atas ranjang, Tante Meri menyambar gaunnya dengan tangan yang bergetar hebat.

Dia berusaha memakai gaunnya secara terburu-buru hingga beberapa kali salah memasukkan lengan.

Melihat Tante Meri menyambar tasnya dan bersiap melangkah keluar kamar, Rehan tersentak. Dia melompat dari ranjang, buru-buru memakai celananya, lalu menyambar kemejanya yang berantakan.

Sebelum tangan Tante Meri menyentuh gagang pintu, Rehan langsung memotong jalan dan berdiri menghadangnya.

​“Tante! Tunggu dulu, Tante!” cegat Rehan penuh kepanikan, suaranya getar.

​“Minggir, Rehan! Kamu nggak dengar tadi?! Putriku sedang sakit di rumah sakit! Aku harus ke sana sekarang juga!” bentak tante Meri dengan mata melotot merah, amarah dan kepanikan bercampur menjadi satu.

​“Tapi bagaimana dengan uang saya, Tante?” tuntut Rehan, menyatukan kedua tangannya dengan tatapan memohon sekaligus mendesak.

​“Kamu ini gila ya? Anakku sedang kritis, dan kamu masih sempat-sempatnya mikirin uang! Kamu benar-benar tidak punya otak dan tidak punya pengertian sama sekali!” bentak Tante Meri dengan murka, dadanya naik-turun menahan emosi.

“Tapi Ibu saya juga harus dioperasi tante! Tante sudah janji bakal bantu saya! Saya butuh uang itu untuk nyawa ibu saya!” teriak Rehan tidak mau kalah, matanya mulai memerah menahan air mata keputusasaan.

Tante Meri mendengus kasar, wajahnya merah padam karena kejengkelan yang memuncak. Tanpa mau berdebat lebih lama, dia membuka tasnya secara kasar, menarik seikat uang tunai dari dalam sana, lalu melemparnya tepat ke dada Rehan hingga lembaran uang itu berserakan ke lantai.

​“Nih! Cuma ada sepuluh juta di tas saya! Ambil itu dan jangan halangi jalan saya!” semprot tante Meri penuh penghinaan.

“Hei, tapi ini kurang banyak Tante!” teriak Rehan.

“Aku buru buru. Kita bisa bicara lain kali!”

Tanpa menunggu balasan Rehan, tante Meri mendorong bahu pemuda itu dengan kuat dan langsung berlari keluar menelusuri lorong kamar, menyisakan suara hentakan sepatu hak tingginya yang bergema dan semakin menjauh dari kamar itu.

Sepuluh juta? Uang itu bahkan tidak ada sepuluh persennya dari dari total biaya operasi ibunya yang mencapai seratus lima puluh juta rupiah.

Namun, meski jumlah uang itu masih kurang, Rehan tetap memungut uang yang berserakan dilantai tersebut. Lalu dengan cepat dia memasukannya ke dalam tas.

Rehan sudah punya hutang pada rentenir yang harus segera dia lunasi. Jadi, dia harus kembali mengejar Tante Meri untuk melengkapi uang untuk pembayarannya.

Usai memungut uang itu, Rehan bergegas mencari kemeja yang dia kenakan tadi, yang entah dimana keberadaanya sekarang, matanya clingukan ke semua sudut, hingga terlihat baju itu di bawah tivi.

“Aku harus mengejar Tante Meri! Aku tidak bisa membiarkan Tante Meri pergi begitu saja, sebelum memberikan aku uang lebih, jangan sampai sumber keuanganku pergi begitu saja!” seru Rehan sambil mengancing kemejanya.

Setelah kembali rapi, Rehan segera keluar agar tidak tertinggal oleh jejak Tante Meri. Diam diam, dia mengikuti mobil Tante Meri menuju ke rumah sakit.

Tak berselang lama tibalah Rehan di parkiran Rumah sakit, dadanya berdegub kencang sambil terus membuntuti langkah Meri.

Tepat saat Tante Meri masuk ke sebuah kamar rawat inap, tiba tiba ponsel Rehan bergetar. Terlihat nama Winda yang memanggil. Rehanpun langsung menerimannya.

“Halo win, tumben malam malam telpon! Ada apa ya?” tanya Rehan tanpa basa basi.

“Rehan, Liona masuk Rumah sakit, tadi dia menelponku untuk datang kerumahnya. Ternyata dia sudah terkapar lemas” terang Winda dibalik telepon.

“Apa Win, Liona masuk rumah sakit! Kenapa dia tidak mengabari aku?” ucap Rehan.

“Dia gak mau ngrepotin kamu, dia tahu kamu sedang mengurus ibumu yang sedang sakit!” jawab Winda dibalik telepon.

“Astaga! Baiklah kamu kirim aja alamat rumah sakit dan nomor kamarnya. Sekitar satu jam lagi aku akan ke sana. Sekarang, aku masih ada sedikit pekerjaan,” jawab Rehan dengan begitu khawatir.

“Ya udah, aku chat ya!”

Panggilan mereka pun berakhir. Meski dalam hati Rehan ingin segera menemui kekasihnya, tetapi urusannya dengan Tante Meri tidak kalah pentingnya.

Sambil menunggu balasan pesan dari Winda, Rehan berjalan mendekat ke pintu kamar tempat tante Meri masuk. Di sana terdapat kaca kecil. Rehan mencoba mengintip dari kaca tersebut.

Di sana, Rehan bisa melihat punggung Tante Meri. Perempuan itu sedang duduk cemas, menjaga putrinya. Namun, wajah Liona tertutup badan Tante Meri, sehingga Rehan tidak bisa melihatnya.

Rehan berdiam diri menunggu di depan pintu. Lalu, tidak lama kemudian, sebuah pesan dari Winda masuk. Di sana tertulis, alamat rumah sakit serta nomor kamar tempat Liona dirawat.

Usai membaca pesan itu, sontak seketika Rehan terkejut bukan main. Alamat rumah sakit dan kamar yang dikirim oleh Winda, sama persis dengan Rumah Sakit dan nomor kamar tempat Rehan berdiri.

“Apa? Jika Liona dirawat di kamar ini, lalu bagaimana dengan putri Tante Meri? Apa itu artinya, Tante Meri adalah Ibunya Liona?” kejut Rehan bukan main, sambil kembali mencocokkan nomor kamar serta alamat yang dikirim oleh Winda.

Dan meski sudah di cek berkali kali, tetap saja nomor kamar tersebut sama. tapi dia masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa mungkin dia yang salah baca atau mungkin Winda yang salah kasih informasi

Rehan sejenak mematung. Lalu, dia kembali memperhatikan ke arah kaca kotak yang ada di pintu.

Saat tubuh Meri sedikit bergeser untuk mengambil buah, Rehan dapat melihat dengan jelas itu adalah wajah Liona, kekasihnya.

Melihat wajah kekasihnya yang tampak pucat dan lemas. Jantung Rehan seketika terasa berhenti berdetak, karena rasa terkejut yang luar biasa, rasa yang seperti dihantam petir berkekuatan tinggi itu membuatnya seperti membeku, seakan aliran darahpum berhenti mengalir, dada terasa sesak.

“Astaga! Jadi benar, Liona adalah putri Tante Meri? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” kejut Rehan bercampur rasa tidak Terima.

Rehan masih belum bisa percaya pada kenyataan itu. Dia adalah kekasih Liona, sementara dia sedang mengejar Ibu dari kekasihnya itu demi mendapat bayaran besar.

“Laki laki bejat macam apa aku ini? Harusnya aku masuk ke ruangan ini, lalu memeluk dan menjaga kekasihku yang sedang sakit, tapi? Aku justru berdiri di sini karena ketakutan akan ketahuan bahwa wanita yang barusan tidur denganku adalah Ibunya?”

Belum sempat Rehan bisa mencerna kenyataan pahit yang dia hadapi, tiba-tiba sebuah suara muncul mengejutkan Rehan.

“Rehan! Kamu kok di sini?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 119

    ​"Terserah Tante mau bilang apa lagi!" Imbuh Rehan dingin tanpa menatap wajah Tante Meri.​Rehan langsung berbalik melangkah menuruni anak tangga, meninggalkan Tante Meri yang berdiri kaku menahan gemuruh emosi di dada.Rehan bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mesin motornya, dan melaju pergi meninggalkan rumah mewah itu.​Tante Meri mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk sikap dingin Rehan.Tapi, rasa khawatir akan kondisi putrinya perlahan mengikis rasa kesalnya. Dia memutar tubuhnya, melangkah menuju kamar Liona dan memutar gagang pintu secara perlahan.​Di atas kasur, Liona terbaring dengan wajah yang tampak pucat. Tante Meri mendekat pelan, lalu duduk di tepi ranjang.​"Liona… Kamu kenapa, sayang? Kata Rehan kamu lemas banget ya?" Ucap Tante Meri lembut seraya mengusap rambut putrinya.​Liona membuka matanya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang tampak redup dan lelah."Mama... Liona cuma capek banget, Ma. Kepala Liona terasa berat!"​"Aduh, kan Mama sudah

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 118

    ​Suara riuh tepuk tangan dan gema pembawa acara menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara gladi bersih wisuda siang itu.Gedung auditorium yang tadinya penuh sesak mulai mengurai. Tanpa membuang waktu, Rehan dan Winda langsung melangkah cepat setengah berlari menuju tempat penonton.​Dia takut kondisi fisik Liona yang belum pulih sepenuhnya akan drop akibat lamanya durasi acara dan hawa pengap ruangan.​"Liona! Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing?" Panggil Rehan terengah-engah.Begitu tiba di hadapan kekasihnya. Tangannya langsung menempel di dahi Liona, memeriksa suhunya. ​Winda yang ikut menyusul di belakangnya berlutut di samping kursi Liona dengan raut wajah tak kalah panik."Iya, Li! Kamu tidak lelahkan? Aduh, maaf ya tadi kita agak lama di panggung!" Imbuh Winda khawatir.​Liona justru terkekeh pelan melihat kepanikan dua orang terdekatnya itu. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.​"Astaga, Rehan... Winda... aku tidak apa-apa kok!" ujar Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 117

    ​Pagi harinya, aroma wangi nasi goreng buatan Bu Rahmi sudah mengisi seluruh sudut dapur rumah.Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, membawa kehangatan yang menenangkan.Rehan yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam melangkah mendekati meja makan.​"Pagi, Ibu," sapa Rehan lembut seraya mencium tangan ibunya.​"Pagi, Nak. Ayo sarapan dulu. Hari ini gladi bersih wisuda kan?" Balas Bu Rahmi tersenyum hangat, menaruh piring berisi nasi goreng telur di hadapan Rehan.​"Iya, Bu. Hari ini gladi bersih di kampus," jawab Rehan seraya menyendok sarapannya.​Bu Rahmi mengelus pelan bahu Rehan dengan binar mata penuh kebanggaan."Ibu masih tidak menyangka, anak Ibu sebentar lagi sudah resmi jadi sarjana. Rasanya baru kemarin Ibu antarkan kamu masuk TK."​Rehan tersenyum tipis, menatap wajah ibunya yang mulai digaris keriput."Ini semua berkat doa dan kerja keras Ibu juga. Kalau tidak ada Ibu, Rehan tidak mungkin bisa sampai di titik ini."​"Ibu cuma bisa

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 116

    ​Setibanya mereka bertiga di ruang tamu, langkah Tante Meri mendadak terhenti sejenak. Liona yang duduk di sofa langsung melayangkan tatapan tajam penuh amarah ke arah Tante Meri.Rasa kecewa dan jengkel akibat ulah Tante Meri yang terus memaksakan Dion di hadapannya masih membakar dada gadis itu.​Rehan yang menyadari tatapan sengit Liona segera melangkah maju, memangkas jarak lalu duduk di samping kekasihnya demi mencairkan suasana yang kembali menegang. Dia mengelus lembut jemari Liona yang terasa dingin.​"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bisik Rehan lembut, menatap lekat paras Liona.​Liona mengabaikan Tante Meri dan berbalik menatap Rehan dengan sorot mata penuh penyesalan."Rehan... aku mau minta maaf ya soal kedatangan Dion tadi. Aku beneran tidak tahu kalau dia mau datang. Kamu jangan marah atau salah paham ya?"​Rehan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Liona dengan hangat."Tidak apa-apa, Liona. Aku mengerti kok. Kamu tidak usah merasa bersalah begitu."​Tante Meri yang b

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 115

    ​Suara derap langkah kaki Winda yang semakin mendekati dapur membuat dada Rehan dan Tante Meri seketika berdebar hebat.Kepanikan yang amat sangat mencengkram mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, Rehan menyambar pergelangan tangan Tante Meri. Lalu menyeretnya masuk ke dalam pintu kecil gudang penyimpanan bahan makanan yang berada tepat di samping mereka, lalu menutup pintunya rapat-rapat.“Ya ampun, Rehan!” Bisik Tante Meri terkejut.“Ssssttt… Tante diam!” Pinta Rehan, dengan mengacungkan telunjuk dibibirnya.​Di dalam ruangan sempit dan gelap itu, nafas mereka berdua beradu. Jarak yang sangat intim membuat Tante Meri bisa merasakan detak jantung Rehan yang berdegup kencang.Sementara Rehan berusaha keras menahan nafasnya agar tak terdengar ke luar.​Srek... Krek.​Pintu dapur terdorong terbuka. Winda melangkah masuk dengan santai, langsung berjalan menuju kulkas tanpa menyadari dua pasang mata tengah mengintip pasrah dari celah pintu gudang.​"Mana ya jus buah sama cemilan yang Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 114

    ​Tante Meri tersentak kaget hingga gelas kristal di tangannya nyaris terlepas saat memutar badan dan mendapati Rehan sudah berdiri tepat di belakangnya.Belum sempat dia bersuara, Rehan langsung memangkas jarak, mencengkram kedua lengan Tante Meri dan mendorong tubuh wanita itu hingga punggungnya menempel rapat di tembok dingin dapur.​Air didalam gelas terciprat ke atas meja. Tante Meri menahan nafasnya yang memburu, matanya membelalak menatap Rehan yang kini menguncinya begitu rapat dan mengintimidasi.​"Rehan! Kamu apa-apaan? Nanti Liona dan Winda lihat!" Bisik Tante Meri panik dengan suara bergetar dan melirik cemas ke arah lorong. ​"Tolong diam, Tante. Saya mau bicara sama Tante." Tekan Rehan dengan intonasi sangat rendah namun penuh ancaman yang dingin. ​Tante Meri mencoba mendorong dada Rehan, tapi tenaga pemuda itu jauh lebih kuat."Lepaskan, Rehan! Kamu jangan gila kamu seperti ini!"​"Sebenarnya apa yang Tante mau, hah?" Cecar Rehan makin menekan, menatap lurus ke dalam ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status