Share

Bab 6

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-20 13:33:34

Bab 6

​"Rehan! Kamu kok di sini?!"

​Suara Winda yang melengking kencang di lorong rumah sakit yang sepi itu menghantam kesadaran Rehan bagai petir di siang bolong. Rehan bergeming, tubuhnya kaku seperti patung. Lewat kaca kecil di pintu kamar rawat, dia melihat Tante Meri tampak tersentak dan mulai menoleh ke arah pintu karena mendengar kegaduhan di luar.

​Kepanikan hebat yang mencekam langsung melingkupi dada Rehan. Pandangannya memburam, jantungnya berdegup begitu kencang hingga seluruh tubuhnya gemetar. Jika Tante Meri melihatnya di depan kamar ini, di depan Liona, semua rahasia kelam, kebohongan, dan hubungan kotornya akan terbongkar seketika. Liona yang begitu mencintainya akan hancur jika tahu pria yang dicintainya menjual diri kepada ibunya sendiri demi uang.

​Tanpa mengindahkan panggilan Winda, Rehan memutar tubuhnya.

​"Rehan! Mau ke mana kamu? Itu kamarnya Liona di situ!" teriak Winda heran, mencoba melangkah mendekati teman prianya itu.

​Namun, Rehan tidak meperdulikan panggilannya sama sekali. Dia memacu langkahnya secepat mungkin, menghindar dari Winda. Langkah kakinya yang terburu-buru bergema keras melintasi ubin rumah sakit yang dingin. Dia terus berlari menyusuri lorong, menabrak beberapa perawat yang lewat tanpa sempat mengucap kata maaf, lalu menerobos pintu darurat dan menuruni anak tangga dengan napas memburu.

​"Rehan! Rehan!" panggil Winda sekali lagi dari kejauhan, tetapi suaranya kian samar tertutup oleh dentum pintu besi yang tertutup rapat.

​Rehan terus berlari hingga akhirnya tiba di area parkiran luar yang sepi dan remang-remang. Dia menahan pening luar biasa yang memukul kepalanya. Air mata keputusasaan yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga.

​"Dosa apa yang sudah aku perbuat..." rintihnya lirih dengan suara parau.

​Fakta bahwa Tante Meri adalah ibu kandung Liona terasa seperti tamparan takdir yang sengaja menghancurkannya. Bayangan wajah Liona yang lugu dan pucat terbaring di ranjang rumah sakit terus membayangi pikirannya, beradu dengan ingatan jemari Tante Meri yang mengusap dadanya di kamar hotel dan club malam. Perasaan jijik pada dirinya sendiri merebak begitu kuat hingga membuat perut Rehan mual dan ingin muntah.

​Dia adalah kekasih yang bejat. Hanya demi uang seratus lima puluh juta rupiah, dia nyaris menghancurkan kesucian hubungannya dan mengkhianati gadis paling tulus yang pernah ada di hidupnya.

​Di tengah kekacauan batin yang menghimpit, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama Winda kembali tertera di layar. Dengan tangan gemetar, Rehan menggeser layar dan menempelkannya ke telinga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​"Rehan! Kamu ini sebenarnya kenapa sih?!" semprot Winda dari balik telepon dengan nada sangat kesal. "Tadi aku lihat kamu berdiri di depan kamar Liona, tapi begitu aku panggil kamu malah lari kayak dikejar hantu! Kamu ada masalah sama Liona?"

​Rehan menelan ludahnya yang terasa pahit. Dia menahan getar pada suaranya, berusaha merangkai kebohongan baru agar kekacauan ini tidak semakin melebar.

​"Maaf... Maafkan aku, Win," sahut Rehan pelan, suaranya terdengar sangat lemas dan pecah. "Tadi... tadi tiba-tiba Dokter ibuku menelepon. Keadaan ibuku mendadak kritis, jadi aku panik dan harus langsung lari. Aku nggak sempat sapa kamu."

​Di ujung telepon, helaan napas Winda terdengar mengendur. Kejengkelannya mereda berganti rasa prihatin. 

"Astaga... jadi ibumu kritis lagi? Ya ampun, Rehan, maafkan aku. Aku nggak tahu kalau situasimu lagi seperti ini."

​"Nggak apa-apa, Win. Tolong... tolong jaga Liona dulu ya," pintanya lirih. "Jangan bilang ke Liona kalau tadi kamu lihat aku. Aku nggak mau bikin dia kepikiran dan makin drop. Nanti kalau keadaan ibuku sudah tenang, aku bakal langsung jenguk dia."

​"Iya, Rehan, kamu tenang saja. Liona sudah ditangani dokter kok, ibunya juga ada di dalam mendampingi dia. Kamu fokus saja dulu sama ibumu," balas Winda menenangkan.

​"Terima kasih, Win..."

​Rehan langsung memutus sambungan telepon sebelum tangisnya pecah. Kata-kata Winda bahwasanya Tante Meri sedang mendampingi Liona kian memperjelas kenyataan pahit yang harus dia hadapi.

​Dia kini terjebak di dalam labirin tanpa jalan keluar. Operasi ibunya harus tetap berjalan sebelum tenggat waktu 24 jam habis, sementara sumber uang utama yang bisa membantunya adalah Tante Meri, ibu dari kekasihnya sendiri. Jika dia meminta sisa uang itu pada Tante Meri, kebenaran tentang dirinya dan Liona sewaktu-waktu bisa terbongkar. Namun jika dia diam saja, nyawa ibunya akan terancam karena tidak memiliki biaya operasi, belum lagi ancaman para rentenir yang siap memburunya.

​Rehan merogoh tasnya, mengeluarkan kantong plastik berisi tumpukan uang sepuluh juta rupiah yang tadi dilemparkan Tante Meri kepadanya. Uang yang dia dapatkan dengan cara melucuti harga dirinya sendiri di depan wanita yang ternyata adalah ibu dari kekasihnya.

​Dengan dada yang semakin sesak dan mata memerah oleh rasa bersalah, Rehan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dia harus memilih antara menyelamatkan nyawa ibunya, atau menjaga rahasia kotor ini agar tidak menghancurkan hidup Liona selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 8

    Bab 8​Pagi berganti dengan cepat, membawa sinar matahari yang terasa begitu terik menembus jendela kamar Rehan. Setelah melewati malam yang kelam tanpa memejamkan mata sedikit pun di sudut kamarnya yang dingin, Rehan berusaha merapikan penampilannya di depan cermin. Dia membasuh wajahnya berkali-kali, merapikan kemeja kusamnya, dan menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membingkai matanya yang sayu. Namun, demi Liona yang saat ini masih terbaring di rumah sakit, dia memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah topeng untuk menutupi kehancuran jiwanya.​Rehan tahu, menjenguk Liona di rumah sakit adalah pertaruhan yang sangat gila. Setiap sudut tempat itu bisa saja memepertemukannya dengan Tante Meri. Sebelum melangkahkan kaki ke kamar rawat inap Liona, Rehan bergeming di lorong yang sepi. Dia menyandarkan bahunya di balik pilar besar, matanya mengawasi pintu kamar nomor 304 dari kejauhan. Dia harus memastikan terlebih dahulu bahwa wanita itu sedang tidak berada di sana.​

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 7

    Bab 7​Dunia Rehan seolah runtuh, menyisakan puing-puing kehancuran yang tak bertepi. Di sudut remang parkiran rumah sakit yang berbau asap kendaraan dan tanah basah, pemuda itu meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Udara malam yang berhembus kencang tak mampu mendinginkan kepalanya yang serasa mau pecah. Kenyataan bahwasanya wanita yang memeluknya di atas ranjang hotel beberapa jam lalu adalah ibu kandung dari Liona, gadis berhati tulus yang sangat dia cintai, hal itu merupakan pukulan paling mematikan dalam hidupnya.​Lututnya melemas hingga tubuhnya meluruh sepenuhnya, terduduk pasrah di atas permukaan lantai yang kasar. Rehan mengangkat kedua tangannya, memandangi jemari yang gemetar hebat di bawah cahaya redup lampu tiang. Dengan jemari inilah dia pernah mengusap lembut rambut Liona, namun dengan jemari yang sama pula dia menelusuri lekuk tubuh Tante Meri demi imbalan rupiah. Rasa mual yang teramat sangat mendadak bergolak dari dasar lambungnya.​Rehan membungkuk, memegangi perutn

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 6

    Bab 6​"Rehan! Kamu kok di sini?!"​Suara Winda yang melengking kencang di lorong rumah sakit yang sepi itu menghantam kesadaran Rehan bagai petir di siang bolong. Rehan bergeming, tubuhnya kaku seperti patung. Lewat kaca kecil di pintu kamar rawat, dia melihat Tante Meri tampak tersentak dan mulai menoleh ke arah pintu karena mendengar kegaduhan di luar.​Kepanikan hebat yang mencekam langsung melingkupi dada Rehan. Pandangannya memburam, jantungnya berdegup begitu kencang hingga seluruh tubuhnya gemetar. Jika Tante Meri melihatnya di depan kamar ini, di depan Liona, semua rahasia kelam, kebohongan, dan hubungan kotornya akan terbongkar seketika. Liona yang begitu mencintainya akan hancur jika tahu pria yang dicintainya menjual diri kepada ibunya sendiri demi uang.​Tanpa mengindahkan panggilan Winda, Rehan memutar tubuhnya.​"Rehan! Mau ke mana kamu? Itu kamarnya Liona di situ!" teriak Winda heran, mencoba melangkah mendekati teman prianya itu.​Namun, Rehan tidak meperdulikan pangg

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 5

    Bab 5 Kepanikan seketika melahap habis sisa gairah yang beberapa detik lalu memenuhi ruangan. Wajah Tante Meri pucat pasi, matanya bergerak liar mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Tanpa meperdulikan Rehan yang masih mematung bertelanjang dada di atas ranjang, Tante Meri menyambar gaunnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berusaha memakai gaunnya secara terburu-buru hingga beberapa kali salah memasukkan lengan. Melihat Tante Meri menyambar tasnya dan bersiap melangkah keluar kamar, Rehan tersentak. Dia melompat dari ranjang, buru-buru memakai celananya, lalu menyambar kemejanya yang berantakan. Sebelum tangan Tante Meri menyentuh gagang pintu, Rehan langsung memotong jalan dan berdiri menghadangnya. ​“Tante! Tunggu dulu, Tante!” cegat Rehan penuh kepanikan, suaranya getar. ​“Minggir, Rehan! Kamu nggak dengar tadi?! Putriku sedang sakit di rumah sakit! Aku harus ke sana sekarang juga!” bentak tante Meri dengan mata melotot merah, amarah dan kepanikan bercampu

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 4.

    Bab 4 Berkat bantuan Aldo, Rehan mendapat kesempatan lagi untuk menemui tante Meri di club malam. “Tante, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku mengaku salah. Tolong beri kesempatan padaku lagi. Aku akan menuruti apapun perintah Tante,” ujar Rehan meminta maaf di depan Meri sambil duduk di lantai, memegang kaki Meri. “Kamu mau aku memaafkanmu?” tanya Meri sambil mengangkat gelas isi minumannya. “Iya Tante. Apapun perintah Tante, akan aku lakukan,” jawab Rehan meyakinkan “Baiklah. Sekarang, buka semua pakaianmu!” titah Meri dan seketika membuat Rehan mematung. Suara dentuman musik DJ seolah samar, tergantikan oleh suara helaan napas berat Rehan yang tertahan di tenggorokan. “Bu…buuuka pakaian Tan?” tanya Rehan terbata bata. “Iya, kenapa? Kamu nggak mau? Ya udah, lupakan permintaan maaf itu!” tegas Meri. Dia sengaja memanfaatkan rasa bersalah Rehan, untuk melayani perintahnya. Sementara Rehan, dia tidak punya pilihan lain lagi. Bayangan wajah Ibunya yang sakit, dan wajah par

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 3

    Bab 3 Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Bagi Rehan, nyawa Liona menjadi prioritas utama yang melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa peduli akan tatapan murka dan ancaman yang terucap dari Meri, Rehan membalikkan badan. ​“Maafkan saya Tante, saya harus pergi!” seru Rehan dengan lantang. Suaranya pecah oleh keputusasaan. Dia bergegas keluar, menepis pegangan tangan tante Meri, dan menerobos pintu kamar hotel tersebut dengan cepat, meninggalkan Tante Meri yang berdiri mematung dalam balutan gaunnya yang berantakan. Emosi Tante Meri membumbung tinggi hingga ke puncaknya. Wajah cantiknya kusam oleh amarah dan harga diri yang terinjak-injak. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria, terlebih seorang pemuda simpanan yang dia bayar mahal, beraninya melangkah pergi begitu saja. Dengan napas terengah dan tangan yang menyentak kasar, Tante Meri meraih tas brandednya di atas meja. Dia menarik ponselnya dan jemarinya yang terawat menekan tombol panggilan dengan emosi membara. Nama Aldo dip

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status