Share

Bab 4.

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-11 12:37:56

Bab 4

Berkat bantuan Aldo, Rehan mendapat kesempatan lagi untuk menemui tante Meri di club malam.

“Tante, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku mengaku salah. Tolong beri kesempatan padaku lagi. Aku akan menuruti apapun perintah Tante,” ujar Rehan meminta maaf di depan Meri sambil duduk di lantai, memegang kaki Meri.

“Kamu mau aku memaafkanmu?” tanya Meri sambil mengangkat gelas isi minumannya.

“Iya Tante. Apapun perintah Tante, akan aku lakukan,” jawab Rehan meyakinkan

“Baiklah. Sekarang, buka semua pakaianmu!” titah Meri dan seketika membuat Rehan mematung.

Suara dentuman musik DJ seolah samar, tergantikan oleh suara helaan napas berat Rehan yang tertahan di tenggorokan.

“Bu…buuuka pakaian Tan?” tanya Rehan terbata bata.

“Iya, kenapa? Kamu nggak mau? Ya udah, lupakan permintaan maaf itu!” tegas Meri. Dia sengaja memanfaatkan rasa bersalah Rehan, untuk melayani perintahnya.

Sementara Rehan, dia tidak punya pilihan lain lagi. Bayangan wajah Ibunya yang sakit, dan wajah para rentenir yang bersiap menagih utang, sudah terbayang. Membuat dia harus segera mendapatkan uang secepatnya.

​Rehan mendongak. Matanya yang tadinya meredup kini memancarkan tatapan yang berbeda, dingin, nekat, dan penuh akan kepasrahan yang pekat.

​Rehan berdiri tegak dari posisinya yang berlutut. Tanpa mengalihkan pandangan dari mata Meri, jemarinya bergerak cepat melepas kancing kemejanya satu per satu.

Dengan satu gerakan mantap, dia melucuti kemejanya dan membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai yang dingin. Dada telanjangnya yang tegap dan berotot kini terekspos di bawah remang lampu neon club.

​Tante Meri tertegun sejenak. Saat melihat perubahan drastis pada sikap Rehan. Pemuda yang tadinya ragu dan polos itu kini melangkah mendekatinya dengan aura yang begitu agresif.

​“Tante mau permainan yang seperti apa?” bisik Rehan, suaranya terdengar berat dan tepat di samping telinga tante Meri.

​Sebelum tante Meri sempat menjawab, Rehan meraih gelas minuman beralkohol di tangan wanita itu dan meletakkannya begitu saja di meja. Tanpa ragu, Rehan menyambar pinggang Meri, menarik tubuh berbalut gaun satin merah itu merapat ke tubuhnya yang bertelanjang dada.

​“Re, Rehan” gumam Meri kaget, suara sengau kejengkelannya berganti menjadi desahan halus ketika kulit hangat Rehan bersentuhan langsung dengan kulit lengannya.

​Rehan tidak memberi ruang untuk tante Meri berpikir. Dia menundukkan kepala, mendaratkan ciumannya langsung di bibir berpoles gincu merah itu.

Ciuman kali ini bukan lagi balasan pasif seperti di hotel tadi, melainkan sebuah lumat intens yang agresif dan menuntut. Rehan membiarkan hasrat buatan dan rasa nekat menguasai geraknya.

Tante ​Meri yang awalnya berniat mempermainkan Rehan kini justru terbawa arus. Jemari lentiknya meremas bahu kokoh Rehan, membalas lumatan bibir pemuda itu dengan napas yang mulai memburu. Kepuasan tak terkira menjalar di dada tante Meri, pria muda yang tadi menolaknya kini bertekuk lutut dan bertindak sedemikian liar di bawah kendalinya.

​“Ikut aku sekarang!” ucapMeri di sela-sela ciuman mereka yang makin memanas.

​Meri menarik tangan Rehan, menuntunnya keluar dari area VIP menuju sebuah kamar suite privat di lantai atas club malam tersebut yang memang disediakan khusus untuk tamu berdompet tebal.

​Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan terkunci, hening malam seolah menelan mereka dalam gejolak keintiman yang kian membakar. Rehan mendorong lembut tubuh Meri hingga punggung wanita itu menyentuh daun pintu.

​Rehan kembali menyapu bibir tante Meri, memindahkan ciuman panasnya turun menelusuri garis rahang, menyusuri leher jenjang Tante Meri, hingga meninggalkan jejak napas hangat di sana. Tangan Rehan yang terampil, yang selama ini bekerja keras di bar, kini bergerak menelusuri pinggang tante Meri, mencari resleting gaun indah tersebut.

​Srett!

​Dengan satu tarikan perlahan, gaun mahal itu meluncur turun melintasi lekuk tubuh Meri, menumpuk di sekitar pergelangan kakinya. Meri kini hanya dibalut pakaian dalam renda hitam yang kian menonjolkan keindahan bentuk tubuhnya yang terawat.

​Desahan Meri makin tak beraturan. Jemarinya mencengkeram rambut Rehan, menarik kepala pemuda itu agar semakin merapat pada dadanya.

“Kamu luar biasa malam ini, Rehan, Aku suka” bisiknya manja, terbakar oleh sentuhan-sentuhan agresif Rehan yang tak membiarkannya bernapas lega.

​Rehan menyapu perlahan kulit mulus paha dalam Meri, mengangkat tubuh wanita itu ke dalam pelukannya dan memindahkannya ke atas ranjang berukuran besar di tengah ruangan.

Rehan menyusul naik, menindih tubuh Meri secara perlahan. Tangannya bergerak cepat menanggalkan sisa pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua, melucuti celananya hingga keduanya kini sama-sama bertelanjang dada dan menyisakan kehangatan kulit yang saling menempel rapat.

​Sentuhan demi sentuhan, bisikan lembut bermuatan gairah, serta hembusan napas yang saling beradu memenuhi setiap sudut kamar suite mewah itu. Rehan memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemari Meri di atas sprei satin, berusaha menimbun rasa bersalahnya dalam-dalam demi uang seratus lima puluh juta rupiah yang sudah di depan mata.

​Meri melengkungkan punggungnya saat jemari Rehan meraba pinggulnya, bersiap membawa keintiman mereka ke puncaknya. Tatapan mata Meri penuh dengan hasrat yang membara, memandang Rehan yang berada di atasnya dengan napas terengah-engah.

​“Malam ini... kamu milikku seluruhnya, Rehan,” bisik Meri penuh dominasi.

​Rehan mengangguk pelan, menyeka peluh di dahinya. Dia mengatur napas, memposisikan tubuhnya dan bersiap melakukan penyatuan yang akan menuntaskan perjanjian kotor mereka malam itu.

Selangkah lagi, uang untuk operasi ibunya akan berada di tangan. ​Namun, tepat saat penyatuan itu hendak terjadi, di detik paling krusial ketika batas keheningan kamar begitu pekat, sebuah suara nyaring mendadak memecah udara.

​Kringgg! Kringgg! Kringgg!

​Dering nada panggil dari ponsel milik Tante Meri yang tergeletak di atas meja samping ranjang berbunyi nyaring, memotong percikan gairah yang sedang memuncak.

​Rehan membeku di tempatnya. Napasnya tertahan di dada. Sementara ​Meri mendengus jengkel. Matanya menyipit marah karena momen keintimannya terganggu pada puncaknya.

“Abaikan saja! Jangan berhenti, Rehan!” perintah Meri dengan nada terikat kejengkelan, mencoba menarik tengkuk Rehan agar kembali menciumnya.

​Namun, ponsel itu terus berdering tanpa henti. Layarnya yang menyala terang memantulkan nama penelepon di atas meja.

​Melihat dering yang tak kunjung berhenti dan merasa terganggu, Meri akhirnya mendorong pelan dada Rehan dengan wajah bersungut-sungut.

“Sebentar... Mungkin ada urusan bisnis penting,” sungut Meri kesal.

​Dengan tubuh yang masih polos tanpa helai benang, Meri meraih ponselnya di atas meja. Dia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan nada suara yang judes.

​“Halo! Ada apa malam-malam begini telfon?! Kamu tahu tidak kalau….”

​Kalimat gertakan Meri terhenti seketika. Wajah cantiknya yang tadinya kemerahan karena gairah, mendadak berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut dan ketakutan yang sangat luar biasa.

​“A apa? Liona Putriku masuk rumah sakit!” teriak Meri. Suaranya melengking tinggi hingga menggema di dalam kamar yg sunyi sepi itu.

Rehan yang duduk dengan telanjang dada pun kaget mendengarnya, seperti ada nama yang tidak asing terdengar di telinga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 8

    Bab 8​Pagi berganti dengan cepat, membawa sinar matahari yang terasa begitu terik menembus jendela kamar Rehan. Setelah melewati malam yang kelam tanpa memejamkan mata sedikit pun di sudut kamarnya yang dingin, Rehan berusaha merapikan penampilannya di depan cermin. Dia membasuh wajahnya berkali-kali, merapikan kemeja kusamnya, dan menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membingkai matanya yang sayu. Namun, demi Liona yang saat ini masih terbaring di rumah sakit, dia memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah topeng untuk menutupi kehancuran jiwanya.​Rehan tahu, menjenguk Liona di rumah sakit adalah pertaruhan yang sangat gila. Setiap sudut tempat itu bisa saja memepertemukannya dengan Tante Meri. Sebelum melangkahkan kaki ke kamar rawat inap Liona, Rehan bergeming di lorong yang sepi. Dia menyandarkan bahunya di balik pilar besar, matanya mengawasi pintu kamar nomor 304 dari kejauhan. Dia harus memastikan terlebih dahulu bahwa wanita itu sedang tidak berada di sana.​

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 7

    Bab 7​Dunia Rehan seolah runtuh, menyisakan puing-puing kehancuran yang tak bertepi. Di sudut remang parkiran rumah sakit yang berbau asap kendaraan dan tanah basah, pemuda itu meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Udara malam yang berhembus kencang tak mampu mendinginkan kepalanya yang serasa mau pecah. Kenyataan bahwasanya wanita yang memeluknya di atas ranjang hotel beberapa jam lalu adalah ibu kandung dari Liona, gadis berhati tulus yang sangat dia cintai, hal itu merupakan pukulan paling mematikan dalam hidupnya.​Lututnya melemas hingga tubuhnya meluruh sepenuhnya, terduduk pasrah di atas permukaan lantai yang kasar. Rehan mengangkat kedua tangannya, memandangi jemari yang gemetar hebat di bawah cahaya redup lampu tiang. Dengan jemari inilah dia pernah mengusap lembut rambut Liona, namun dengan jemari yang sama pula dia menelusuri lekuk tubuh Tante Meri demi imbalan rupiah. Rasa mual yang teramat sangat mendadak bergolak dari dasar lambungnya.​Rehan membungkuk, memegangi perutn

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 6

    Bab 6​"Rehan! Kamu kok di sini?!"​Suara Winda yang melengking kencang di lorong rumah sakit yang sepi itu menghantam kesadaran Rehan bagai petir di siang bolong. Rehan bergeming, tubuhnya kaku seperti patung. Lewat kaca kecil di pintu kamar rawat, dia melihat Tante Meri tampak tersentak dan mulai menoleh ke arah pintu karena mendengar kegaduhan di luar.​Kepanikan hebat yang mencekam langsung melingkupi dada Rehan. Pandangannya memburam, jantungnya berdegup begitu kencang hingga seluruh tubuhnya gemetar. Jika Tante Meri melihatnya di depan kamar ini, di depan Liona, semua rahasia kelam, kebohongan, dan hubungan kotornya akan terbongkar seketika. Liona yang begitu mencintainya akan hancur jika tahu pria yang dicintainya menjual diri kepada ibunya sendiri demi uang.​Tanpa mengindahkan panggilan Winda, Rehan memutar tubuhnya.​"Rehan! Mau ke mana kamu? Itu kamarnya Liona di situ!" teriak Winda heran, mencoba melangkah mendekati teman prianya itu.​Namun, Rehan tidak meperdulikan pangg

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 5

    Bab 5 Kepanikan seketika melahap habis sisa gairah yang beberapa detik lalu memenuhi ruangan. Wajah Tante Meri pucat pasi, matanya bergerak liar mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Tanpa meperdulikan Rehan yang masih mematung bertelanjang dada di atas ranjang, Tante Meri menyambar gaunnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berusaha memakai gaunnya secara terburu-buru hingga beberapa kali salah memasukkan lengan. Melihat Tante Meri menyambar tasnya dan bersiap melangkah keluar kamar, Rehan tersentak. Dia melompat dari ranjang, buru-buru memakai celananya, lalu menyambar kemejanya yang berantakan. Sebelum tangan Tante Meri menyentuh gagang pintu, Rehan langsung memotong jalan dan berdiri menghadangnya. ​“Tante! Tunggu dulu, Tante!” cegat Rehan penuh kepanikan, suaranya getar. ​“Minggir, Rehan! Kamu nggak dengar tadi?! Putriku sedang sakit di rumah sakit! Aku harus ke sana sekarang juga!” bentak tante Meri dengan mata melotot merah, amarah dan kepanikan bercampu

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 4.

    Bab 4 Berkat bantuan Aldo, Rehan mendapat kesempatan lagi untuk menemui tante Meri di club malam. “Tante, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku mengaku salah. Tolong beri kesempatan padaku lagi. Aku akan menuruti apapun perintah Tante,” ujar Rehan meminta maaf di depan Meri sambil duduk di lantai, memegang kaki Meri. “Kamu mau aku memaafkanmu?” tanya Meri sambil mengangkat gelas isi minumannya. “Iya Tante. Apapun perintah Tante, akan aku lakukan,” jawab Rehan meyakinkan “Baiklah. Sekarang, buka semua pakaianmu!” titah Meri dan seketika membuat Rehan mematung. Suara dentuman musik DJ seolah samar, tergantikan oleh suara helaan napas berat Rehan yang tertahan di tenggorokan. “Bu…buuuka pakaian Tan?” tanya Rehan terbata bata. “Iya, kenapa? Kamu nggak mau? Ya udah, lupakan permintaan maaf itu!” tegas Meri. Dia sengaja memanfaatkan rasa bersalah Rehan, untuk melayani perintahnya. Sementara Rehan, dia tidak punya pilihan lain lagi. Bayangan wajah Ibunya yang sakit, dan wajah par

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 3

    Bab 3 Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Bagi Rehan, nyawa Liona menjadi prioritas utama yang melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa peduli akan tatapan murka dan ancaman yang terucap dari Meri, Rehan membalikkan badan. ​“Maafkan saya Tante, saya harus pergi!” seru Rehan dengan lantang. Suaranya pecah oleh keputusasaan. Dia bergegas keluar, menepis pegangan tangan tante Meri, dan menerobos pintu kamar hotel tersebut dengan cepat, meninggalkan Tante Meri yang berdiri mematung dalam balutan gaunnya yang berantakan. Emosi Tante Meri membumbung tinggi hingga ke puncaknya. Wajah cantiknya kusam oleh amarah dan harga diri yang terinjak-injak. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria, terlebih seorang pemuda simpanan yang dia bayar mahal, beraninya melangkah pergi begitu saja. Dengan napas terengah dan tangan yang menyentak kasar, Tante Meri meraih tas brandednya di atas meja. Dia menarik ponselnya dan jemarinya yang terawat menekan tombol panggilan dengan emosi membara. Nama Aldo dip

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status