Share

Bab 7

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-20 14:36:12

Bab 7

​Dunia Rehan seolah runtuh, menyisakan puing-puing kehancuran yang tak bertepi. Di sudut remang parkiran rumah sakit yang berbau asap kendaraan dan tanah basah, pemuda itu meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Udara malam yang berhembus kencang tak mampu mendinginkan kepalanya yang serasa mau pecah. Kenyataan bahwasanya wanita yang memeluknya di atas ranjang hotel beberapa jam lalu adalah ibu kandung dari Liona, gadis berhati tulus yang sangat dia cintai, hal itu merupakan pukulan paling mematikan dalam hidupnya.

​Lututnya melemas hingga tubuhnya meluruh sepenuhnya, terduduk pasrah di atas permukaan lantai yang kasar. Rehan mengangkat kedua tangannya, memandangi jemari yang gemetar hebat di bawah cahaya redup lampu tiang. Dengan jemari inilah dia pernah mengusap lembut rambut Liona, namun dengan jemari yang sama pula dia menelusuri lekuk tubuh Tante Meri demi imbalan rupiah. Rasa mual yang teramat sangat mendadak bergolak dari dasar lambungnya.

​Rehan membungkuk, memegangi perutnya yang memilit, menahan muntah yang terasa pahit di tenggorokan. Bukan sekadar rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya, melainkan jijik yang luar biasa mendalam terhadap dirinya sendiri.

​"Pria macam apa aku ini..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Suaranya serak, tenggelam oleh bising deru mesin mobil yang lalu-lalang di kejauhan.

​Dia mengingat kembali bagaimana Liona menatapnya penuh kepolosan, bagaimana tawa manja gadis itu sanggup menghapus keletihannya setelah seharian melayani pengunjung bar. Liona menerima Rehan apa adanya, tak pernah memandang status sosial apalagi isi dompetnya yang selalu tipis. Namun, sebagai balasan atas cinta sedalam lautan itu, Rehan justru terperosok ke dalam kubangan dosa paling hina. Menjual tubuhnya kepada wanita yang melahirkan Liona ke dunia.

​Setiap kali ingatan tentang bisikan gairah Tante Meri dan kehangatan kulit wanita itu melintas di benaknya, Rehan meringis kesakitan. Dia menepuk-nepuk kepalanya dengan kepalan tangan, mencoba melenyapkan bayangan buruk yang seakan sengaja menari-nari menertawakan ketidakberdayaan. Keputusasaan yang pekat mengurungnya tanpa sela untuk bernapas.

​Dalam keterpurukan yang teramat dalam, bayangan sang ibu yang terbaring lemah di ruang perawatan kembali muncul. Garis-garis keriput di wajah ibunya, selang oksigen yang menyumbat hidung, serta denyut nadi yang kian melemah seolah menagih janji keselamatan darinya. Tenggang waktu operasi makin menipis, detik demi detik merambat bagai algoritma hukuman mati. Di satu sisi, uang muka dari rentenir yang dia bayarkan baru menambal sebagian kecil biaya, sementara sisa puluhan juta, sisanya masih melayang di awan.

​Ponsel di saku celananya kembali bergetar. Rehan merogohnya lambat-lambat, berharap itu bukan kabar buruk lagi. Layar menampilkan nama Aldo.

​Dengan napas yang berat dan tertahan, Rehan menempelkan benda tipis itu ke telinganya.

​"Rehan! Kamu di mana sekarang?!" cecar Aldo tanpa pembuka, nadanya sarat akan kekhawatiran bercampur kepanikan. "Temenku yang rentenir itu baru saja telepon aku! Dia bilang bunga hariannya sudah mulai berjalan kalau kamu nggak bisa melunasi uang mukanya besok siang! Kamu sudah dapat uang dari Tante Meri belum?"

​Pertanyaan Aldo bagaikan sembilu yang mengoyak luka yang masih menganga. Rehan memejamkan mata rapat-rapat, meremas pinggiran celana jinsnya hingga kuku jarinya memutih.

​"Nggak bisa, Do... Aku nggak bisa temui dia lagi," sahut Rehan dengan nada datar, kosong, seolah nyawanya telah dicabut separuh.

​"Lho, kenapa? Bukannya tadi kamu bilang mau ketemu dengan Tante Meri di hotel?" suara Aldo meninggi, tidak habis pikir dengan perubahan sikap temannya. "Rehan, sadar Bro! Ini soal nyawa ibumu! Kalau kamu gengsi atau takut dimarahi lagi, buang jauh-jauh pikiran itu! Kamu butuh seratus lima puluh juta itu untuk ibumu!"

​"Kamu nggak akan pernah paham, Do..." potong Rehan, air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi, membasahi pipinya yang tirus. "Tante Meri... Tante Meri itu..."

​Rehan menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya mendadak tersumbat batu besar. Dia tidak sanggup mengutarakan kebenaran mengerikan itu kepada Aldo. Jika Aldo tahu, rahasia ini bisa saja merembet dan sampai ke telinga Liona. Biarlah dosa dan rasa hina ini menjadi beban yang dia pikul sendirian di dalam kegelapan.

​"Kenapa Tante Meri? Ada apa sama dia?" desak Aldo dari balik telepon, penasarannya menggebu.

​"Nggak ada," jawab Rehan cepat, memaksakan suaranya terdengar tegas meski bergetar. "Aku cuma... aku nggak bisa pakai cara ini lagi. Biar aku cari jalan lain."

​"Jalan lain apa, Rehan?! Dalam hitungan jam kamu harus pegang uang seratus lima puluh juta! Mau merampok kamu?!" bentak Aldo frustrasi.

​"Aku nggak tahu, Do. Tolong... jangan tanyakan apa-apa lagi," bisik Rehan pelan sebelum akhirnya memutus sambungan secara sepihak.

​Dia mematikan ponselnya, membiarkan layar hitam itu menghentikan masuknya semua pesan dan panggilan yang hanya akan menambah goresan luka di dadanya. Rehan menyandarkan kepala pada tembok yang keras.

​Di dalam kamar perawatan di lantai atas, ada Liona yang sedang menahannya sakit bersama ibunya. Sementara beberapa blok dari tempat ini, ada ibunya sendiri yang berjuang melawan maut. Dan di tengah-tengah dua wanita yang dia cintai itu, Rehan berdiri sebagai sosok penjahat paling menyedihkan, seorang pria yang kehilangan kehormatan, terjebak dalam tebusan dosa yang tak pernah bisa dia bayar tuntas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 8

    Bab 8​Pagi berganti dengan cepat, membawa sinar matahari yang terasa begitu terik menembus jendela kamar Rehan. Setelah melewati malam yang kelam tanpa memejamkan mata sedikit pun di sudut kamarnya yang dingin, Rehan berusaha merapikan penampilannya di depan cermin. Dia membasuh wajahnya berkali-kali, merapikan kemeja kusamnya, dan menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membingkai matanya yang sayu. Namun, demi Liona yang saat ini masih terbaring di rumah sakit, dia memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah topeng untuk menutupi kehancuran jiwanya.​Rehan tahu, menjenguk Liona di rumah sakit adalah pertaruhan yang sangat gila. Setiap sudut tempat itu bisa saja memepertemukannya dengan Tante Meri. Sebelum melangkahkan kaki ke kamar rawat inap Liona, Rehan bergeming di lorong yang sepi. Dia menyandarkan bahunya di balik pilar besar, matanya mengawasi pintu kamar nomor 304 dari kejauhan. Dia harus memastikan terlebih dahulu bahwa wanita itu sedang tidak berada di sana.​

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 7

    Bab 7​Dunia Rehan seolah runtuh, menyisakan puing-puing kehancuran yang tak bertepi. Di sudut remang parkiran rumah sakit yang berbau asap kendaraan dan tanah basah, pemuda itu meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Udara malam yang berhembus kencang tak mampu mendinginkan kepalanya yang serasa mau pecah. Kenyataan bahwasanya wanita yang memeluknya di atas ranjang hotel beberapa jam lalu adalah ibu kandung dari Liona, gadis berhati tulus yang sangat dia cintai, hal itu merupakan pukulan paling mematikan dalam hidupnya.​Lututnya melemas hingga tubuhnya meluruh sepenuhnya, terduduk pasrah di atas permukaan lantai yang kasar. Rehan mengangkat kedua tangannya, memandangi jemari yang gemetar hebat di bawah cahaya redup lampu tiang. Dengan jemari inilah dia pernah mengusap lembut rambut Liona, namun dengan jemari yang sama pula dia menelusuri lekuk tubuh Tante Meri demi imbalan rupiah. Rasa mual yang teramat sangat mendadak bergolak dari dasar lambungnya.​Rehan membungkuk, memegangi perutn

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 6

    Bab 6​"Rehan! Kamu kok di sini?!"​Suara Winda yang melengking kencang di lorong rumah sakit yang sepi itu menghantam kesadaran Rehan bagai petir di siang bolong. Rehan bergeming, tubuhnya kaku seperti patung. Lewat kaca kecil di pintu kamar rawat, dia melihat Tante Meri tampak tersentak dan mulai menoleh ke arah pintu karena mendengar kegaduhan di luar.​Kepanikan hebat yang mencekam langsung melingkupi dada Rehan. Pandangannya memburam, jantungnya berdegup begitu kencang hingga seluruh tubuhnya gemetar. Jika Tante Meri melihatnya di depan kamar ini, di depan Liona, semua rahasia kelam, kebohongan, dan hubungan kotornya akan terbongkar seketika. Liona yang begitu mencintainya akan hancur jika tahu pria yang dicintainya menjual diri kepada ibunya sendiri demi uang.​Tanpa mengindahkan panggilan Winda, Rehan memutar tubuhnya.​"Rehan! Mau ke mana kamu? Itu kamarnya Liona di situ!" teriak Winda heran, mencoba melangkah mendekati teman prianya itu.​Namun, Rehan tidak meperdulikan pangg

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 5

    Bab 5 Kepanikan seketika melahap habis sisa gairah yang beberapa detik lalu memenuhi ruangan. Wajah Tante Meri pucat pasi, matanya bergerak liar mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Tanpa meperdulikan Rehan yang masih mematung bertelanjang dada di atas ranjang, Tante Meri menyambar gaunnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berusaha memakai gaunnya secara terburu-buru hingga beberapa kali salah memasukkan lengan. Melihat Tante Meri menyambar tasnya dan bersiap melangkah keluar kamar, Rehan tersentak. Dia melompat dari ranjang, buru-buru memakai celananya, lalu menyambar kemejanya yang berantakan. Sebelum tangan Tante Meri menyentuh gagang pintu, Rehan langsung memotong jalan dan berdiri menghadangnya. ​“Tante! Tunggu dulu, Tante!” cegat Rehan penuh kepanikan, suaranya getar. ​“Minggir, Rehan! Kamu nggak dengar tadi?! Putriku sedang sakit di rumah sakit! Aku harus ke sana sekarang juga!” bentak tante Meri dengan mata melotot merah, amarah dan kepanikan bercampu

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 4.

    Bab 4 Berkat bantuan Aldo, Rehan mendapat kesempatan lagi untuk menemui tante Meri di club malam. “Tante, aku minta maaf atas sikapku kemarin. Aku mengaku salah. Tolong beri kesempatan padaku lagi. Aku akan menuruti apapun perintah Tante,” ujar Rehan meminta maaf di depan Meri sambil duduk di lantai, memegang kaki Meri. “Kamu mau aku memaafkanmu?” tanya Meri sambil mengangkat gelas isi minumannya. “Iya Tante. Apapun perintah Tante, akan aku lakukan,” jawab Rehan meyakinkan “Baiklah. Sekarang, buka semua pakaianmu!” titah Meri dan seketika membuat Rehan mematung. Suara dentuman musik DJ seolah samar, tergantikan oleh suara helaan napas berat Rehan yang tertahan di tenggorokan. “Bu…buuuka pakaian Tan?” tanya Rehan terbata bata. “Iya, kenapa? Kamu nggak mau? Ya udah, lupakan permintaan maaf itu!” tegas Meri. Dia sengaja memanfaatkan rasa bersalah Rehan, untuk melayani perintahnya. Sementara Rehan, dia tidak punya pilihan lain lagi. Bayangan wajah Ibunya yang sakit, dan wajah par

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 3

    Bab 3 Keputusan itu diambil dalam hitungan detik. Bagi Rehan, nyawa Liona menjadi prioritas utama yang melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa peduli akan tatapan murka dan ancaman yang terucap dari Meri, Rehan membalikkan badan. ​“Maafkan saya Tante, saya harus pergi!” seru Rehan dengan lantang. Suaranya pecah oleh keputusasaan. Dia bergegas keluar, menepis pegangan tangan tante Meri, dan menerobos pintu kamar hotel tersebut dengan cepat, meninggalkan Tante Meri yang berdiri mematung dalam balutan gaunnya yang berantakan. Emosi Tante Meri membumbung tinggi hingga ke puncaknya. Wajah cantiknya kusam oleh amarah dan harga diri yang terinjak-injak. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria, terlebih seorang pemuda simpanan yang dia bayar mahal, beraninya melangkah pergi begitu saja. Dengan napas terengah dan tangan yang menyentak kasar, Tante Meri meraih tas brandednya di atas meja. Dia menarik ponselnya dan jemarinya yang terawat menekan tombol panggilan dengan emosi membara. Nama Aldo dip

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status