Share

Bab 7

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-08-20 14:36:12

​Rehan menyandarkan punggungnya pada dinding beton parkiran rumah sakit. Angin malam berhembus cukup kencang, namun fokusnya tetap terkunci lurus.

Tidak ada air mata, tidak ada tangisan panik. Kenyataan bahwa Tante Meri wanita yang menyewanya beberapa jam lalu adalah ibu kandung Liona memang sebuah pukulan keras.

Namun, tenggelam dalam drama tidak akan pernah menyelesaikan tagihan rumah sakit ibunya.

​Dia merogoh saku celananya ketika ponsel hitam di tangannya bergetar hebat. Nama Aldo berkedip terang di layar digital.

​Rehan menggeser tombol hijau, memajukan telepon ke telinganya.

​"Rehan! Di mana lu sekarang?!" cecar Aldo tanpa basa-basi, suaranya penuh dengan kepanikan.

​"Aq masih di rumah sakit Do,” sahut Rehan pendek, bernafas teratur.

​"Aku baru saja ditelpon sama koneksi rentenir itu, Han!" sergap Aldo cepat.

"Dia bilang kalau kamu tidak melunasi uang muka besok siang, bunga hariannya langsung meledak! Kamu sudah terima sisa uang dari Tante Meri belum?"

​Rehan memejamkan matanya sejenak, mengontrol intonasi suaranya agar tetap stabil.

"Aku tidak bisa ambil uang dari dia lagi, Do."

​"Hah?! Maksud kamu apa?" suara Aldo meninggi, tidak habis pikir.

"Rehan, kamu gila ya? Ini soal nyawa ibumu! Kemarin kamu bilang sendiri kamu akan lakuin apa saja demi kesembuhan ibumu!"

​"Aku katakan tidak bisa, ya tidak bisa," tegas Rehan dengan intonasi dingin dan menekan.

​"Alasannya apa, Rehan? Jangan sok gengsi di saat kepepet begini! Kamu butuh uang itu sekarang juga!" bentak Aldo frustrasi dari balik telepon

​"Kamu tidak perlu tahu alasannya, Do," balas Rehan datar.

​"Aku ini sahabatmu, Han! Aku yang bantu cari jalan keluar dari kemarin. Tante Meri itu cuma wanita kaya yang butuh kepuasan darimu. Kenapa kamu mendadak mundur? Ada masalah apa sama dia?" cecar Aldo tidak mau kalah.

​Rehan menggertakkan giginya. Keadaan jauh lebih rumit dari sekadar transaksi seksual antar orang dewasa.

Tapi, mengungkapkan kerumitan ini hanya akan membuka celah bencana baru.

​"Tidak ada masalah," sahut Rehan singkat.

"Aku cuma memutuskan buat tidak pakai jalur itu lagi."

​"Terus kamu mau cari uang seratus lima puluh juta dari mana dalam hitungan jam? Mau ngerampok bank?” seru Aldo gusar.

​"Aku bakal cari cara lain," tegas Rehan tanpa keraguan sedikitpun dalam suaranya.

​"Cara lain apa, Rehan?! Jangan ngaco kamu! Waktu lu tinggal beberapa jam sebelum dokter membatalkan jadwal operasi Ibumu!” potong Aldo tajam.

"Aku yang tanggung jawab atas Ibuku, Do. Tolong jangan desak aku lagi soal Tante Meri. Keputusanku sudah bulat." jawab Rehan dingin.

​"Kamu benar-benar bikin aku pusing, Han! Terserah kamu kalau begitu!" semprot Aldo sebelum memutus sambungan telepon secara kasar.

​Tut... tut... tut...

​Rehan menurunkan ponselnya dari telinga. Dia menatap layar hitam itu sejenak, lalu menonaktifkan daya ponselnya agar tidak ada gangguan lain yang memecah konsentrasinya.

​Langkah kaki Rehan yang teratur bergema saat dia berjalan menyusuri area luar rumah sakit menuju jalan raya.

Otaknya berputar cepat menghitung setiap opsi yang tersisa. Dia memegang kendali penuh atas situasi ini, tak peduli betapa sempitnya jalan yang ada di hadapannya.

​Uang sepuluh juta rupiah hasil pemberian awal dari Tante Meri masih tersimpan rapat di dalam tasnya.

Namun, keputusan Rehan sudah tidak bisa diganggu gugat. Dia menolak keras untuk melanjutkan transaksi kotor itu atau memeras uang tambahan dari wanita tersebut.

​Di saat yang sama, pikiran Rehan terbagi pada dua tempat. Di lantai atas rumah sakit ini, Liona sedang terbaring didampingi ibunya.

Sementara di kamar rawat lain, sang ibu berjuang melawan maut menunggu kepastian biaya operasi.

​Rehan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, menatap lurus hamparan lampu kota di malam hari. Tatapannya membakar dengan tekad yang bulat.

​"Aku yang bakal cari jalannya sendiri. Tanpa harus mengorbankan Liona, dan tanpa harus meminta-minta lagi pada wanita itu.” Gumam Rehan tajam pada kegelapan malam.

​Dengan langkah mantap dan kepala tegak, Rehan melangkah menembus dinginnya malam, siap menghadapi tenggat waktu yang kian mengepungnya demi keselamatan sang ibu.

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 119

    ​"Terserah Tante mau bilang apa lagi!" Imbuh Rehan dingin tanpa menatap wajah Tante Meri.​Rehan langsung berbalik melangkah menuruni anak tangga, meninggalkan Tante Meri yang berdiri kaku menahan gemuruh emosi di dada.Rehan bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mesin motornya, dan melaju pergi meninggalkan rumah mewah itu.​Tante Meri mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk sikap dingin Rehan.Tapi, rasa khawatir akan kondisi putrinya perlahan mengikis rasa kesalnya. Dia memutar tubuhnya, melangkah menuju kamar Liona dan memutar gagang pintu secara perlahan.​Di atas kasur, Liona terbaring dengan wajah yang tampak pucat. Tante Meri mendekat pelan, lalu duduk di tepi ranjang.​"Liona… Kamu kenapa, sayang? Kata Rehan kamu lemas banget ya?" Ucap Tante Meri lembut seraya mengusap rambut putrinya.​Liona membuka matanya perlahan, menatap ibunya dengan tatapan mata yang tampak redup dan lelah."Mama... Liona cuma capek banget, Ma. Kepala Liona terasa berat!"​"Aduh, kan Mama sudah

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 118

    ​Suara riuh tepuk tangan dan gema pembawa acara menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara gladi bersih wisuda siang itu.Gedung auditorium yang tadinya penuh sesak mulai mengurai. Tanpa membuang waktu, Rehan dan Winda langsung melangkah cepat setengah berlari menuju tempat penonton.​Dia takut kondisi fisik Liona yang belum pulih sepenuhnya akan drop akibat lamanya durasi acara dan hawa pengap ruangan.​"Liona! Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing?" Panggil Rehan terengah-engah.Begitu tiba di hadapan kekasihnya. Tangannya langsung menempel di dahi Liona, memeriksa suhunya. ​Winda yang ikut menyusul di belakangnya berlutut di samping kursi Liona dengan raut wajah tak kalah panik."Iya, Li! Kamu tidak lelahkan? Aduh, maaf ya tadi kita agak lama di panggung!" Imbuh Winda khawatir.​Liona justru terkekeh pelan melihat kepanikan dua orang terdekatnya itu. Matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.​"Astaga, Rehan... Winda... aku tidak apa-apa kok!" ujar Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 117

    ​Pagi harinya, aroma wangi nasi goreng buatan Bu Rahmi sudah mengisi seluruh sudut dapur rumah.Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah jendela, membawa kehangatan yang menenangkan.Rehan yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam melangkah mendekati meja makan.​"Pagi, Ibu," sapa Rehan lembut seraya mencium tangan ibunya.​"Pagi, Nak. Ayo sarapan dulu. Hari ini gladi bersih wisuda kan?" Balas Bu Rahmi tersenyum hangat, menaruh piring berisi nasi goreng telur di hadapan Rehan.​"Iya, Bu. Hari ini gladi bersih di kampus," jawab Rehan seraya menyendok sarapannya.​Bu Rahmi mengelus pelan bahu Rehan dengan binar mata penuh kebanggaan."Ibu masih tidak menyangka, anak Ibu sebentar lagi sudah resmi jadi sarjana. Rasanya baru kemarin Ibu antarkan kamu masuk TK."​Rehan tersenyum tipis, menatap wajah ibunya yang mulai digaris keriput."Ini semua berkat doa dan kerja keras Ibu juga. Kalau tidak ada Ibu, Rehan tidak mungkin bisa sampai di titik ini."​"Ibu cuma bisa

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 116

    ​Setibanya mereka bertiga di ruang tamu, langkah Tante Meri mendadak terhenti sejenak. Liona yang duduk di sofa langsung melayangkan tatapan tajam penuh amarah ke arah Tante Meri.Rasa kecewa dan jengkel akibat ulah Tante Meri yang terus memaksakan Dion di hadapannya masih membakar dada gadis itu.​Rehan yang menyadari tatapan sengit Liona segera melangkah maju, memangkas jarak lalu duduk di samping kekasihnya demi mencairkan suasana yang kembali menegang. Dia mengelus lembut jemari Liona yang terasa dingin.​"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bisik Rehan lembut, menatap lekat paras Liona.​Liona mengabaikan Tante Meri dan berbalik menatap Rehan dengan sorot mata penuh penyesalan."Rehan... aku mau minta maaf ya soal kedatangan Dion tadi. Aku beneran tidak tahu kalau dia mau datang. Kamu jangan marah atau salah paham ya?"​Rehan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Liona dengan hangat."Tidak apa-apa, Liona. Aku mengerti kok. Kamu tidak usah merasa bersalah begitu."​Tante Meri yang b

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 115

    ​Suara derap langkah kaki Winda yang semakin mendekati dapur membuat dada Rehan dan Tante Meri seketika berdebar hebat.Kepanikan yang amat sangat mencengkram mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, Rehan menyambar pergelangan tangan Tante Meri. Lalu menyeretnya masuk ke dalam pintu kecil gudang penyimpanan bahan makanan yang berada tepat di samping mereka, lalu menutup pintunya rapat-rapat.“Ya ampun, Rehan!” Bisik Tante Meri terkejut.“Ssssttt… Tante diam!” Pinta Rehan, dengan mengacungkan telunjuk dibibirnya.​Di dalam ruangan sempit dan gelap itu, nafas mereka berdua beradu. Jarak yang sangat intim membuat Tante Meri bisa merasakan detak jantung Rehan yang berdegup kencang.Sementara Rehan berusaha keras menahan nafasnya agar tak terdengar ke luar.​Srek... Krek.​Pintu dapur terdorong terbuka. Winda melangkah masuk dengan santai, langsung berjalan menuju kulkas tanpa menyadari dua pasang mata tengah mengintip pasrah dari celah pintu gudang.​"Mana ya jus buah sama cemilan yang Li

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 114

    ​Tante Meri tersentak kaget hingga gelas kristal di tangannya nyaris terlepas saat memutar badan dan mendapati Rehan sudah berdiri tepat di belakangnya.Belum sempat dia bersuara, Rehan langsung memangkas jarak, mencengkram kedua lengan Tante Meri dan mendorong tubuh wanita itu hingga punggungnya menempel rapat di tembok dingin dapur.​Air didalam gelas terciprat ke atas meja. Tante Meri menahan nafasnya yang memburu, matanya membelalak menatap Rehan yang kini menguncinya begitu rapat dan mengintimidasi.​"Rehan! Kamu apa-apaan? Nanti Liona dan Winda lihat!" Bisik Tante Meri panik dengan suara bergetar dan melirik cemas ke arah lorong. ​"Tolong diam, Tante. Saya mau bicara sama Tante." Tekan Rehan dengan intonasi sangat rendah namun penuh ancaman yang dingin. ​Tante Meri mencoba mendorong dada Rehan, tapi tenaga pemuda itu jauh lebih kuat."Lepaskan, Rehan! Kamu jangan gila kamu seperti ini!"​"Sebenarnya apa yang Tante mau, hah?" Cecar Rehan makin menekan, menatap lurus ke dalam ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status