Home / Romansa / Terjerat Hasrat Bos Baru / Bab 100 Kedatangan Sely

Share

Bab 100 Kedatangan Sely

Author: Tusya Ryma
last update Last Updated: 2026-01-25 23:45:06

Di rumah besar keluarga Adipraja, semua orang sudah berkumpul. Mereka akan pergi ke luar kota dan mengunjungi tempat wisata yang belum pernah mereka datangi.

Kali ini yang tidak ikut hanya Danendra. Ia beralasan, tidak enak badan dan ingin tiduran di kamar saja. Dia tidak ingin pergi ke manapun.

Karena melihat raut wajah Danendra yang lemah dan letih, juga ada kantung mata yang begitu jelas di bawah matanya, Ambar dan Josep pun tidak memaksa. Mereka semua pergi tanpa putra sulungnya.

Di kamar pribadi yang ada di lantai dua, Danendra benar-benar berbaring di atas tempat tidurnya yang sangat besar dan empuk tanpa mengganti pakaiannya. Bahkan sepatunya pun tidak dia lepaskan. Pria itu sekarang sudah tertidur lelap tanpa ingat apapun lagi.

Saat ia masih tidur nyenyak, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar beberapa kali. Dari dalam kamar tidak ada siapapun yang merespon.

Suara ketukan itu kembali terdengar sampai beberapa kali. Tapi dari dalam masih tetap sama, sunyi dan tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 110 Jangan Pergi Lagi

    "Yah, lilinnya habis! Bagaimana ini?" Semua orang menjadi panik. Ruangan itu seketika menjadi gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu di luar dan dapur yang menyala. "Lilinnya tadi memang sedikit lagi, ya?" "Ya, sepertinya begitu!" "Emh, pantas saja sekarang mati!" Dalam kegelapan dan suara ramai para rekan kerjanya, Marissa merasakan adanya tangan besar yang menarik tubuhnya hingga ia terjatuh di pelukan seseorang. Tubuh pria itu terasa panas dan keras. Marissa sangat gugup saat tangan kecilnya menyentuh dada berotot pria itu, juga merasakan adanya tekanan dari tangan pria itu di pinggangnya. Marissa sangat gugup dengan hal itu. Ia ingin menarik tubuhnya keluar dari dekapan Danendra, tapi, tangan besar itu semakin erat memegang tubuhnya. Beberapa saat kemudian, sang pemilik kedai kembali dari dapur sambil membawa empat lilin besar berwarna putih—lilin untuk mati lampu. Dia menyarankan menggunakan lilin besar itu untuk melanjutkan acara tiup lilin. Marissa

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 109 Kejutan Kecip

    Di kedai mie yang nampak sangat ramai, Danendra dan Mario sudah duduk di salah satu meja sambil membawa dua kotak hadiah yang sangat bagus. Mereka menyimpannya di atas meja, lalu memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan mereka disajikan, Danendra terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Namun, setelah sekian lama, pesanan mereka pun disajikan, tapi orang yang dicarinya masih tidak terlihat. "Papa Danen! Cepatlah makan! Kenapa malah memperhatikan orang lain makan? Apa tidak lapar?" "Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Danendra tersedak air liurnya sendiri setelah mendengar ucapan Mario. Anak di depannya ini, malah mengira dirinya memperhatikan orang lain yang sedang makan. Padahal, Danendra sedang mencari Marissa yang tadi pergi keluar. Tapi sudah beberapa menit berlalu, wanita itu tidak masuk lagi. 'Apa dia sudah pulang?' "Kau juga, makanlah!" Danendra segera menarik pandangannya kembali. Ia melihat mie berkuah bening di depannya yang terlihat sangat lezat. Lal

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 108 Bolu Ulang Tahun

    Mario terkejut ketika melihat ayahnya sudah ada di belakang. Ia segera menoleh untuk melihat. "Pa-Papa Danen???" Walau tahu Danendra sudah pulang dan masuk ke rumah, tapi anak itu tidak menyangka, ekspresi ayahnya akan seperti itu saat melihatnya di dapur. Mario pun menjadi takut dengan reaksi ayahnya. Danendra mengulangi pertanyaannya, "Sedang apa kau di meja maka dengan bolu jelek itu?" "A-aku... aku sedang ...." Mario benar-benar takut. Namun berikutnya, Danendra menggosok kepala anak itu, lalu membungkuk dan mengambil bolu yang katanya jelek itu di depan Mario. Ia memasukan kembali bolu dengan lilin-lilin yang sudah hampir habis itu ke dalam kotak yang ada di meja makan. Melihat gerakan ayahnya, Mario menjadi panik. Ia takut ayahnya akan membuang bolu ulang tahunnya ke tong sampah. "Eh, jangan dibuang, Papa Danen! Itu bolu ulang tahun Mama! Aku membeli bolu ini dari uang jajanku! Jangan dibuang!" Mario segera menghentikan tangan Danendra yang sedang mengambil penutup kotak

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 107 Bonus dari Bos

    Waktu sangat cepat berlalu. Pagi ini, Marissa keluar dari rumah sewaannya dengan memakai seragam hitam dan tas kecil di punggung, juga sepatu kets berwarna putih tulang. Ia berjalan menyusuri jalan gang yang lumayan sempit menuju halte bus. Saat ini, Marissa bekerja di sebuah kedai mie yang ada di sudut kota A atas bantuan Ray. Pria itu selalu setia menemani Marissa, dari dia terpuruk, sedih, sampai sekarang ini. Ray juga yang membantu Marissa bersembunyi dari orang-orang yang tidak ingin dia temui, termasuk Danendra dan juga Fanny. Sekarang, setelah tiga bulan berlalu, suasana hatinya sudah kembali baik. Tidak lagi galau dan sedih seperti sebelumnya. Marissa sudah bisa menerima dan melupakan semua pengalaman buruknya atas kehilangan banyak hal, termasuk kehilangan anak, cinta, dan kebahagiaannya. Sekarang, Marissa menjalani kehidupan yang baru, yang baik dan juga tenang. Jauh dari permasalahan-permasalahan yang ada sebelumnya. Di halte bus, Marissa duduk bersama beberapa oran

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 106 Ini Bukan yang Kuinginkan

    Selama ini, Mario selalu menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan ibunya karena neneknya selalu melarang. Sebagai anak kecil yang masih polos, tentu saja Mario sangat takut dengan ancaman itu. Ia selalu menjaga jarak dengan Marissa agar ibu angkatnya tidak disakiti. Dan sekarang, setelah apa yang dia lakukan—menuruti semua perintah kakek dan neneknya—ibunya tetap pergi. Kalau tidak ada yang terjadi, ibunya tidak mungkin pergi meninggalkan Mario begitu saja. "Sebenarnya, apa yang salah dengan kami? Kenapa kalian memisahkan aku dan Mama?" Tiba-tiba Mario bertanya lagi. Pria dewasa di depannya masih juga tidak menjawab. "Aku pikir, Mama sengaja mencarikan ayah baru untukku agar kita bisa seperti keluarga! Aku punya ayah, dan Mama punya pasangan! Tapi, setelah punya ayah baru seperti yang kuinginkan sebelumnya, aku malah harus berpisah dengan Mama!" "Ini bukan yang aku inginkan!" Tangisannya semakin pecah. Mario menangis tersedu sambil terus mengusap air mata di wajahnya.

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 105 Kabur

    Melihat video antara Darius dengan seorang wanita, perasaan Fanny menjadi tidak enak. Rasanya sangat sakit, bahkan lebih sakit dari sebelumnya. "Kalau dia bersama wanita lain, berarti Marissa???" Mungkinkah dia tidak bersama Marissa. Fanny masih menebak-nebak, tiba-tiba pria di sampingnya terbangun. Ia pun segera mengambil ponsel yang masih ada di lantai, lalu mengambilnya. "Ada apa? Kenapa belum tidur?" tanya Dariys dengan suara pelan. Tangan panjangnya terulur, lalu mengelus kepala Fanny dengan pelan. Tindakannya itu membuat hati siapapun akan meleleh. Termasuk Fanny. "Ah! Tidak!" Fanny menyembunyikan ponsel itu di belakang pakaiannya. "Aku belum ngantuk! Kau tidurlah, besok kita akan pulang!" "Emh!" Darius pun mengerti. Ia kembali menarik tangannya, lalu mulai memejamkan matanya lagi. Melihatnya tidur, pelan-pelan Fanny menghapus fotonya sendiri. Gerakannya sangat pelan, setelah penyimpan ponselnya ke tempat semula, ia ke sofa dan berbaring. *** Siang hari di ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status