แชร์

Bab 178 Menemui Mario

ผู้เขียน: Tusya Ryma
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-08 23:17:36

Pukul dua belas siang, di rumah keluarga Adipraja, Marissa sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rapi. Rambut panjangnya diikat ke atas, dan wajahnya dirias sedikit agar nampak lebih cantik dan segar.

Dari nakas yang ada di samping tempat tidur, terdengar nada dering dari ponselnya. Ia pun segera melihat.

Dari layar ponsel yang masih menyala, Marissa melihat nama Darius ada di sana. Ia pun segera menggeser tombol hijau, lalu manyapa orang yang ada di seberang telepon.

"Halo!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 184 Gelas Pecah

    Padahal, Danendra sendiri tahu itu dari ibunya. Foto itu dikirim oleh temannya yang juga ikut menghadiri acara tersebut. "Sudahlah! Jangan dipikirkan lagi! Kalau memang tidak melakukannya, kenapa harus marah? Aku pun tidak apa-apa, kan? Masalah Mama, jangan didengarkan! Abaikan saja! Nanti juga Mama lupa sendiri," balas Danendra dengan enteng. Padahal Marissa sangat kesal dengan tuduhan itu pada dirinya. Di acara itu, Marissa sudah mencoba menghindari Ethan. Ia sudah mengusir pria itu, tapi Ethan tetap tidak pergi. Akhirnya Marissa sendiri yang mengalah. Ia pergi demi menghindari Ethan. Dan sekarang, setelah apa yang dirinya lakukan, Ambar malah terus menuduhnya, juga menghinanya. Bahkan, ibu mertuanya itu juga meragukan janin yang ada di dalam perut Marissa. Ambar sudah sangat keterlaluan. "Sayang! Sudahlah! Ya! Jangan dipikirkan lagi! Nanti malah jadi setres. Bukankah kata dokter kau tidak boleh banyak pikiran?" ucap Danendra saat tidak ada jawaban dari Marissa. "Sekaran

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 183 Pelayan Bergosip

    Melihat sikap dan ucapan kasar Ambar pada dirinya, Marissa pun berdiri, lalu mundur dua langkah ke belakang untuk menghindar. Perasaannya menjadi tidak enak. Kenapa Ambar tiba-tiba membahas tentang hal itu? Padahal yang tahu tentang kejadian tadi malam hanya dirinya dan Danendra. 'Apa Danen mengadu pada Mama?' tebak Marissa tanpa menjawab pertanyaan ibu mertuanya. Semalaman Marissa tidak bisa tidur karena memikirkan foto yang ada di laptop Danendra. Siapa yang mengirim foto itu pada Danendra! Juga siapa yang memotretnya di acara jamuan makan malam itu? Marissa tidak berani menanyakan hal itu pada suaminya, karena takut pria itu akan marah lagi. Dan sekarang, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ibu mertua membahas hal itu pada Marissa. 'Kalau bukan dari Danendra, mau dari siapa lagi?' "Marissa! Danen itu pernah dikhianati, pernah dikecewakan oleh pasangannya dan menghasilkan anak yang bukan darah dagingnya! Jangan sampai kau melakukan hal menjijikan itu pada Dane

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 182 Pria itu Mengadu

    Setelah mengantar Mario ke kamar hotel, Marissa segera pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Sesampainya di rumah, ia melihat suasana di ruang keluarga terasa hening dan dingin. Tidak ada satu orang pun di sana. Padahal biasanya di ruang keluarga itu selalu hangat dan ramai, tidak pernah sepi. Ambar, Josep, dan Wilyam selalu menghabiskan malam di ruang keluarga sambil berbincang. Karena sepi, Marissa pun segera naik ke atas menuju kamarnya. Di dalam kamar, Danendra duduk bersila di sofa sambil memegang laptop sambil menggerakan jari tengahnya dengan serius. Saking seriusnya, keningnya sampai mengerut dan matanya disipitkan. Ia pun tidak mempedulikan saat istrinya masuk ke dalam kamar. "Sayang! Kau sudah pulang?" tanya Marissa yang segera menghampiri Danendra. Tas dan paper bag yang isinya pakaiannya, ia letakan di samping tempat tidur. Di lihat dari pakaian yang dikenakannya, juga dengan rambutnya yang sedikit basah disisir ke belakang, Marissa bisa tahu, pria itu baru se

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 181 Sebuah Permohonan

    "Marissa?" Ethan datang menghampirinya. Pria berpakaian rapi itu berjalan menghampiri Marissa sambil membawa gelas di tangannya. Tanpa rasa canggung, dia duduk dan meletakan gelasnya di atas meja. "Ethan ... sedang apa kau di sini?" Melihat mantan kekasihnya tiba-tiba datang dan duduk di mejanya, Marissa pun merasa tidak nyaman. Ia masih ingat dengan pertemuan terakhir mereka tempo hari, Ethan menculik dirinya dan Mario. Ia dibawa ke sebuah vila yang jauh dari kota. Itu pengalaman yang tidak akan pernah Marissa lupakan. "Hey ... kau Mario, ya! Senang bisa bertemu denganmu lagi! Bagaimana kabarmu sekarang? Emmh, sepertinya kau tumbuh dengan baik di bawah asuhan ibu angkatmu!" Bukannya menjawab pertanyaan Marissa, Ethan malah berbicara pada anak yang duduk bersamanya. Dia pun menjelaskan sesuatu hal yang tidak seharusnya diucapkan. "Ethan! Kau jangan berkata omong kosong! Kami tidak membutuhkanmu di sini! Sebaiknya kau duduk di tempat lain!" Dengan lantang Marissa mengus

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 180 Ikut Bersamamu

    Keesokan harinya, Marissa kembali meminta izin pada Danendra untuk menemui Mario. "Ini hari terkhir Mario ada di Kota A. Besok pagi dia akan kembali ke Kota K," jelas Marissa sambil memeluk Danendra yang sudah berpakaian rapi dan wangi. Pria itu sudah siap untuk pergi ke kantor. Melihat istrinya terus memohon dan begitu manja padanya, Danendra pun tidak tega untuk berkata "Tidak!". Ia segera mengangguk sambil mengelus kepala Marissa dengan pelan. "Pergilah! Nanti pulangnya biar aku jemput!" "Emh, baiklah! Terima kasih, Sayang!" balas Marissa dengan bahagia. Ia memeluk Danendra, menyandatkan kepalanya di dada kekar pria itu. "O, iya!" Tiba-tiba Danendra mengatakan sesuatu pada Marissa. "Hari ini Fanny tidak bisa menemanimu! Ada pekerjaan yang harus dia kerjakan dengan timnya. Dia tidak bisa pergi ke luar!" "Hah???" Marissa membuka mulutnya lebar. Ia baru tahu, ternyata Fanny datang kemarin atas perintah dari suaminya. Pantas saja, kemarin itu Fanny tahu semua hal tentan

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 179 Sukses Menikahi Pria Kaya

    Saat pintu kamar dibuka, Marissa melihat seorang wanita mengenakan pakaian formal berdiri sambil menatap Marissa dengan mulutnya yang terbuka. Detik berikutnya, wanita itu meninju lengan Marissa sambil menggerutu. "Keterlaluan! Dasar tidak tahu diri! Kau ini ... habis manis sepah dibuang! Saat susah, kau selalu bersamaku, tapi setelah sukses menikahi pria kaya, kau mendadak amnesia! Jangankan bersamaku, saat kita berkomunikasi pun kau tidak pernah mengatakan hal ini! Dasar teman yang sangat licik!" Melihat teman baiknya marah, Marissa segera menarik Fanny masuk ke dalam kamar. Ia memeluk Fanny dengan senyum lembut di bibirnya. "Maaf!" Hanya itu yang bisa Marissa katakan. Marissa tidak ingin mengumbar hubungannya dengan Danendra karena pria itu merupakan atasan Fanny dan Ray di kantor. Marissa juga tidak ingin orang-orang di kantor bergunjing dan bergosip tentang Danendra yang menikahi seorang janda beranak satu seperti Marissa. Karena kesan mereka tentang Marissa, ya, itu, dia

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status