เข้าสู่ระบบJika orang lain yang mengalami kejadian ini, mungkin pria itu sudah dibunuhnya hingga tidak ada lagi di dunia ini. "Kenapa? Kau kasihan padaku, ya?" canda Danendra, yang juga membalas tatapan Marissa padanya. Danendra mengerti dengan tatapan penuh arti dari wanita di depannya itu. Ia pun tahu, Marissa sudah mengerti benang merah antara dirinya dengan Darius. Tapi selanjutnya, Marissa segera mengalihkan pandangannya kembali pada ponsel yang ada di tangannya. Tidak lagi melihat Danendra. Marissa paham betul dengan harga diri seorang laki-laki. Mereka paling tidak suka dikasihani oleh seorang wanita. Apalagi dalam kasus pengkhianatan seperti ini. Marissa melanjutkan membaca chatnya lagi. Darius : ["Akan kupastikan, orang-orang terdekatmu akan pergi ke sisiku!"] Danendra : ["Kalau kau ingin merebut semua hal yang berharga dalam hidupku, silahkan ambil tunanganku! Dia sangat berharga dalam hidupku! Aku sangat mencintainya, dan tidak bisa hidup tanpa dia! Jika kau merebutnya,
"Danen! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Marissa berusaha melepaskan diri dari dekapan pria itu. Namun, Danendra tidak bergerak sedikitpun. Marissa ditekannya ke dinding hingga ia tidak bisa menghindar lagi. Danendra mengunci tubuhnya dengan kedua tangan yang disatukan ke dinding. Sedangkan ponselnya sudah ada di tangan Marissa. Jarak mereka sangat dekat, hembusan napas dari keduanya bisa mereka rasakan. "Lepaskan???" Danendra menggodanya. "Apa yang ingin dilepaskan? Pakaianku? Ataaauuuu ...." "Danen!" teriak Marissa dengan cepat. Ia segera menghentikan kegilaan pria di depannya. "Bukan pakaian, tapi, aku! Lepaskan aku sekarang juga!" ucap Marissa dengan sangat gugup. Walau dirinya membenci Danendra, dan mereka sudah lama tidak bertemu, tapi respon tubuhnya masih saja sama seperti dulu. Marissa masih merasakan perasaan yang sama pada pria itu. "Sudah kukatakan, aku tidak akan melepaskanmu sampai kau membaca semua percakapan antara aku dengan Darius!" ancam Danendra dengan sang
"Bagaimana bisa tiba-tiba Darius menjadi ayah biologis Mario?" tanya Marissa dengan heran. "Bukankah sebelumnya kau yang melakukan tes DNA itu dan mengambil Mario dari tanganku?" Marissa tidak akan lupa, dirinya dan anak itu terpisah karena Danendra mengambil Mario dari tangannya. Jika memang anak itu bukan darah dagingnya, seharusnya pria itu tidak merampas kebahagiaan ibu dan anak itu hingga mereka harus terpisah dan sama-sama menderita. Masih dengan keadaan menyetir, Danendra berkata pada Marissa, "Iya! Waktu itu, Sely lah yang melakukan tes DNA, bukan aku! Secara, dia adalah kembaran dari ibu kandung anak itu! Hasilnya, Sely dan Marii memang ada ikatan darah!" "Dan sekarang ... aku memberitahumu, Darius merupakan ayah biologis dari anak itu! Apa kau bisa menyimpulkan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa Darius yang menjadi ayah biologis Mario? Sedangkan aku adalah suaminya Lisa? Kalau Lisa/istriku hamil, harusnya akulah ayah dari bayi itu!" ucap Danendra dengan santai. I
"Yah, lilinnya habis! Bagaimana ini?" Semua orang menjadi panik. Ruangan itu seketika menjadi gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya dari lampu di luar dan dapur yang menyala. "Lilinnya tadi memang sedikit lagi, ya?" "Ya, sepertinya begitu!" "Emh, pantas saja sekarang mati!" Dalam kegelapan dan suara ramai para rekan kerjanya, Marissa merasakan adanya tangan besar yang menarik tubuhnya hingga ia terjatuh di pelukan seseorang. Tubuh pria itu terasa panas dan keras. Marissa sangat gugup saat tangan kecilnya menyentuh dada berotot pria itu, juga merasakan adanya tekanan dari tangan pria itu di pinggangnya. Marissa sangat gugup dengan hal itu. Ia ingin menarik tubuhnya keluar dari dekapan Danendra, tapi, tangan besar itu semakin erat memegang tubuhnya. Beberapa saat kemudian, sang pemilik kedai kembali dari dapur sambil membawa empat lilin besar berwarna putih—lilin untuk mati lampu. Dia menyarankan menggunakan lilin besar itu untuk melanjutkan acara tiup lilin. Marissa
Di kedai mie yang nampak sangat ramai, Danendra dan Mario sudah duduk di salah satu meja sambil membawa dua kotak hadiah yang sangat bagus. Mereka menyimpannya di atas meja, lalu memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan mereka disajikan, Danendra terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Namun, setelah sekian lama, pesanan mereka pun disajikan, tapi orang yang dicarinya masih tidak terlihat. "Papa Danen! Cepatlah makan! Kenapa malah memperhatikan orang lain makan? Apa tidak lapar?" "Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Danendra tersedak air liurnya sendiri setelah mendengar ucapan Mario. Anak di depannya ini, malah mengira dirinya memperhatikan orang lain yang sedang makan. Padahal, Danendra sedang mencari Marissa yang tadi pergi keluar. Tapi sudah beberapa menit berlalu, wanita itu tidak masuk lagi. 'Apa dia sudah pulang?' "Kau juga, makanlah!" Danendra segera menarik pandangannya kembali. Ia melihat mie berkuah bening di depannya yang terlihat sangat lezat
Mario terkejut ketika melihat ayahnya sudah ada di belakang. Ia segera menoleh untuk melihat. "Pa-Papa Danen???" Walau tahu Danendra sudah pulang dan masuk ke rumah, tapi anak itu tidak menyangka, ekspresi ayahnya akan seperti itu saat melihatnya di dapur. Mario pun menjadi takut dengan reaksi ayahnya. Danendra mengulangi pertanyaannya, "Sedang apa kau di meja maka dengan bolu jelek itu?" "A-aku... aku sedang ...." Mario benar-benar takut. Namun berikutnya, Danendra menggosok kepala anak itu, lalu membungkuk dan mengambil bolu yang katanya jelek itu di depan Mario. Ia memasukan kembali bolu dengan lilin-lilin yang sudah hampir habis itu ke dalam kotak yang ada di meja makan. Melihat gerakan ayahnya, Mario menjadi panik. Ia takut ayahnya akan membuang bolu ulang tahunnya ke tong sampah. "Eh, jangan dibuang, Papa Danen! Itu bolu ulang tahun Mama! Aku membeli bolu ini dari uang jajanku! Jangan dibuang!" Mario segera menghentikan tangan Danendra yang sedang mengambil penutup kotak







