INICIAR SESIÓNMarissa benar-benar terkejut, kenapa Danendra harus datang malam-malam seperti ini ke rumah sakit saat banyak orang? "Apa kau tidak lihat? Kami datang untuk menjenguk Zain!" balas Danendra dengan santai. Sudut bibirnya terangkat, ekor matanya menunjuk buket bunga yang sedang dipegangnya. Dari dalam, Sinta pun bertanya, "Siapa? Kenapa tidak dipersilakan masuk?" "Ah... ya, Tante!" Marissa menjadi bingung. Bagaimana kalau semua orang tahu, Danendra ini adalah mantan suaminya? 'Apa yang akan mereka pikirkan?' "Permisi!" Tanpa menunggu Marissa mempersilahkan, Danendra masuk dan berjalan melewati Marissa. Danendra dan Asisten Anas menghampiri semua orang yang ada di sofa. "Eh... Danen?" Darius pun melihat siapa orang yang datang. Ia segera bangkit berdiri lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Bagaimana kabarmu?" balas Danendra sambil meraih tangan Darius. "Kami baik! Kau sendiri?" "Aku juga baik!" "Haha! Syukurlah!" Sikap mereka berdua sangat santai dan te
Jam pulang kerja sudah tiba. Danendra pun bergegas meninggalkan ruangannya setelah membereskan meja. Bukannya turun ke lantai satu, Danendra malah turun di lantai empat, tempat Marissa bekerja. Di ruangan yang terdengar sangat ramai oleh suara obrolan diiringi tawa para karyawan yang sedang bersiap untuk pulang, Danendra mengetuk pintu, lalu membukanya dengan cepat. Semua orang pun segera terdiam sambil melihat bos besar datang ke ruangan mereka. "Ada Marissa?" tanya Danendra sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Tidak nampak sedikit pun wanita yang sedang dicarinya di ruangan itu. "Maaf, Pak! Marissa?" tanya Ara, memastikan. Takutnya dirinya salah mendengar. "Iya! Di mana Marissa?" tanya Danendra lagi. "Oh! Marissa sudah pulang, Pak! Baruuu saja dia keluar!" jawab Ara dengan sedikit gugup. Pasalnya, selama dirinya bekerja di perusahaan itu, belum pernah ia berbicara dengan bos besarnya. Janganlah bertegur sapa, ada di hadapannya pun belum pernah. Jadi sekar
"Aishhh, Danen! Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Luna sambil berjalan menghampirinya ke sofa. Ia pun duduk di depan Danendra. "Ya, tidak! Aku hanya bertanya saja, kenapa kau datang kemari? Apa ada masalah di kantor?" tanya Danendra. Padahal sebelumnya, Danendra sudah meminta Wilyam untuk menggantikannya di kantor. Selain itu, ia pun sudah meminta Asisten Anas untuk menangani beberapa masalah. Tapi sekarang, kenapa sekretaris pribadinya itu malah mengikutinya ke perusahaan WiFoods sambil membawa dokumen yang harus ditandatangani? "Tentu saja karena ada hal penting," jawab Luna sambil menyodorkan map hitam yang dibawanya ke hadapan Danendra. "Ada berkas yang harus kau tinjau dan tandatangani langsung!" tambahnya lagi. Di depannya, Danendra mengambil dan melihat map tersebut. Ia membuka lembar demi lembar berkas yang dibawa oleh Luna itu, lalu menyimpannya di meja. Sepertinya Danendra bersiap untuk menandatangani berkas tersebut. "O, iya ... Danen! Apa kau yang memasukann
Benar saja, kabar dipanggilnya Marissa ke ruang kerja bos besar karena seringnya bolos bekerja sudah menyebar ke semua karyawan yang satu divisi dengannya. Tidak terkecuali dengan Jesi. Dia tahu kabar itu dari grup karyawan di ponselnya. "Nah, kan! Aku bilang juga apa, Marissa tidak akan lolos begitu saja dari hukuman! Pak Jimy tidak apa-apa, tapi Bos Besar tidak mungkin membiarkannya begitu saja!" "Hemmm, benar juga! Tapi aku kasihan pada Marissa! Tidak seharusnya Bos Besar memanggilnya langsung ke ruangannya! Kalaupun harus dihukum, dipotong gaji selama dia tidak bekerja kan, sudah beres!" balas Ara di pantry ketika sedang mengambil kopi. Seringnya Marissa bolos bekerja dalam beberapa hari terakhir, membuat semua orang iri dan membicarakannya. Bahkan kabar itu sampai juga ke telinga Jimy selaku teman baik Danendra yang tahu apa hubungan Danendra dengan Marissa. Di ruang kerja yang nampak terang karena dindingnya terbuat dari kaca besar, Danendra duduk di sofa bersama Marissa. Me
"Enh?" Marissa menoleh. Ia mengangkat kedua aslinya sebagai tanda bertanya. Sedangkan tangannya sedang memegang baju berupa atasan dan bersiap memakainya. Bukannya berbicara, Danendra malah berpindah ke kursi belakang, ia pun duduk di samping Marissa. Detik berikutnya, dia memegang pipi kiri Marissa, lalu mencium bibirnya dengan penuh hasrat. Tindakannya yang tiba-tiba itu membuat Marissa terkejut. Tangan yang masih memegang pakaian pun perlahan terbuka, lalu pakaian itu terjatuh ke bawah. Danendra benar-benar menciumnya tanap berhenti membuat Marissa hampir kehabisan napas. "Emh!" Marissa berkata di sela ciumannya. "Danen! Ah ... ak-aku sudah ter-terlambat!" Jam masuk kerja sudah hampir lewat, Marissa harus segera berpakaian dan masuk ke kantor. Kalau membuang-buang waktunya, bisa-bisa dirinya benar-benar terlambat. "Sayang! Kenapa kau begitu cantik?" bisik Danendra sambil menyentuh pipi Marissa dengan tangan besarnya. Ia sudah melepaskan pautan bibir mereka, lalu men
Entah apa yang terjadi pada Zain sampai-sampai dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang akhirnya menabrak pembatas jalan. Bukan hanya tubuhnya saja yang terluka, tapi juga kaki. Kaki kanannya mengalami cedera yang cukup serius. Mobilnya pun hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi. "Sabar Tante! Kita doakan saja, Zain segera sadar dan kondisinya membaik!" ucap Marissa sambil mengelus punggung ibunya Zain. Malam ini, Marissa dan Sinta bermalam di rumah sakit untuk menjaga Zain. Mereka hanya berdua karena ayah dan adiknya pulang ke rumah. Di malam hari, Sinta tidur di tempat tidur yang khusus untuk penunggu pasien, sedangkan Marissa tidur di sofa dengan selimut yang dibawa ayahnya Zain dari rumah. Di sofa yang empuk dan nyaman, Marissa berbaring sambil memegang polsenya karena ada pesan singkat dari seseorang. Ia pun memberitahu orang itu bahwa saat ini dirinya tidur di rumah sakit untuk menunggu Zain. ["Apa mau aku jemput?"] tanya Danendra di pesan singkatnya. Ia k
Danendra terdiam. Ia melihat ke depan sambil memegang roda kemudinya dengan erat tanpa menjawab pertanyaan dari wanita di sampingnya."Aku tahu, kau tidak suka dengan perjodohan ini! Kau pun tidak suka aku terlalu menempel padamu! Walaupun begitu, cepat atau lambat kita akan menikah! Sudah seharusn
Tanpa berpikir lagi, Danendra membanting kotak itu ke lantai dan di depan Mario. Anak kecil itu ketakutan, langsung mundur ke belakang dengan taut wajah yang penuh dengan rasa trauma.Mario yang terbiasa hidup dimanja oleh Marissa, sekarang malah sering mendapatkan ancaman dan tekanan. Ia menerima
"Minggir! Aku harus menghajar si bajingan ini!" Danendra berteriak. Ia tidak mempedulikan wanita yang sudah berjongkok di lantai dan menghalangi pria itu.Danendra menarik tubuh Darius dan memaksanya untuk berdiri.Saat tangannya sudah terangkat, tiba-tiba Marissa menghalangi tindakan Danendra lagi
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, kau mau pergi ke mana? Sudah kukatakan, tunggu kami! Jangan pergi ke mana-mana!" ucap Danendra tanpa rasa bersalah sedikitpun."Ayo kita pergi! Diego sedang menunggumu di rumah!" Tiba-tiba Danendra menggenggam tangan Marissa, lalu menariknya berjalan ke mobil y







