LOGINDua hari yang lalu, Sinta datang ke apartemen Zain dan bertamu ke tempat Marissa yang posisinya saling berhadapan dengan tempat tinggal Zain. Sinta pun sempat bertemu dengan Michael yang sangat tampan dan lucu itu, lalu berbincang bersama. Sekarang, ia dan putranya sengaja datang ke tempat itu ingin mengajak Marissa dan putranya pergi jalan-jalan. Sinta ingin mendekatkan diri pada calon menantu dan anak tiri putranya itu. "Tunggu sebentar! Biar aku panggil Michael dulu!" Zain pun menghampiri pintu di belakang Marissa, lalu berdiri sambil menatap wanita di sampingnya. Seketika Marissa terdiam. Inginnya ia menolak, tapi rasanya tidak enak. Ingin mencari alasan, namun mulut Marissa terasa kaku dan susah untuk digerakan. Mau tidak mau, ia harus memberitahu kata sandi rumahnya pada Zain karena pria itu akan mengajak putranya keluar. Sambil menunggu Zain masuk ke dalam untuk memanggil Michael, Marissa pun bertanya pada Sinta. "Tante! Kenapa datang tidak memberitahuku dulu? Kalau ta
"Hah ... jangan pedulikan?" Marissa menatap Danendra dengan senyum kecutnya. Ia merasa pria di depannya ini sangar egois. Danendra terus mengganggu Marissa, meminta wanita untuk kembali bersamanya. Tapi, dia tidak berusaha meyakinkan ibunya agar bisa menerima Marissa. "Danen... jangan lupa, Tante Ambar itu adalah ibumu! Kau harus berbakti padanya, menjauhi semua yang dia tidak suka! Menuruti semua keinginannya, termasuk menjauhi aku! Karena, walau bagaimanapun, dia adalah wanita yang telah melahirkanmu, berkorban banyak untukmu dari kau lahir sampai detik ini! Jadi, kau jangan menentangnya," ucap Marissa dengan pelan. Sebagai seorang ibu, Marissa tidak akan suka jika nanti putranya—Mario maupun Michael—menentang dirinya hanya demi seorang wanita. Marissa pun tidak ingin menjadi penyebab bertengkarnya ibu dan anak—Ambar dan Danendra. Karena itu akan berimbas ke hal-hal yang lainnya. "Untuk semua yang terjadi sebelumnya, kebaikanmu, kepedulianmu, cintamu, dan semua usahamu men
"Eh... tunggu! Tunggu! Ngomong-ngomong ... dari mana kau tahu tentang karyawan baru itu?" Jimy benar-benar tidak mengerti. Mengapa Danendra tahu tentang karyawan wanita yang baru masuk itu? "Apa kau datang kemari karena hal ini?" tanya Jimy lagi yang semakin penasaran. Terdengar, Danendra menjawab dengan asal, "Ya! Ada masalah dengan karyawan baru itu! Dia juga mantan karyawan KJKnGroup, tapi itu dulu ... lima tahun yang lalu! Di perusahaan kami, dia mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas, dia kabur begitu saja setelah mengirim surat pengunduran dirinya! Sebagai pemilik dan pendiri perusahaan WiFoods ini, tentu aku harus berhati-hati terhadap karyawan itu, kan?" "Ehhh, tunggu sebentar! Rasanya, telingaku sudah tidak asing lagi dengan nama itu!" Jimy mulai berpikir. Ia mengingat-ingat nama yang tadi disebutkan oleh Danendra. "Marissa, ya?" tanya Jimy meyakinkan. Walau hari ini di perusahaan itu ada karyawan baru, tapi Jimy tidak tahu itu siapa. Tidak tahu juga kalau Maris
"Marissa!" "Enh!" Ia menjawabnya dengan singkat. Dari seberang telepon, terdengar Danendra bertanya, "Kenapa baru mengangkat teleponku sekarang? Ke mana saja kau?" "Tadi malam, kenapa pergi tanpa menungguku? Ditelepon tidak bisa, dicari pun tidak ada! Apa kau mau menghindariku lagi?" tanyanya lagi yang terdengar tidak suka. Di dalam toilet itu, Marissa tidak nyaman mendengarnya, juga tidak ingin membahas masalah semalam dengan Danendra. Marissa segera menjawab pertanyaan pria itu, "Eh, semalam, ada sesuatu hal yang terjadi di tempat tinggalku, jadi aku pulang tanpa memberitahumu!" "Sesuatu hal? Apa kau dijemput oleh pria itu?" Akhirnya Danendra bertanya tentang Zain. Ia ingin menanyakannya dari semalam, tapi Marissa tidak bisa dihubungi. "Enh!" Marissa pun mengerti dengan pertanyaan itu. Ia segera mengangguk. Tapi tidak membahas apapun lagi tentang kejadian semalam. "Kita perlu bicara! Sekarang kau ada di mana? Aku akan menjemputmu!" tanya Danendra yang tidak tahu di
Hari ini adalah hari pertama Marissa bekeja di perusahaan yang waktu itu mewawancarai dirinya. Ia tetap menerima pekerjaan itu dan menolak tawaran Zain untuk bekerja di perusahaan keluarganya. "Marissa! Kita makan bareng, yuk! Kebetulan hari ini ada teman kami yang beulangtahun! Dia akan mentraktir kita makan! Ayolah ...." ajak teman kerjanya yang bernama Ara. Ara ini seusia dengan Marissa, tapi dia menikah. Ara sudah bekeja di perusahaan itu sejak empat tahun yang lalu, dari perusahaan WiFoods ini didirikan. Jadi, dia baik terhadap semua orang di perusahaan itu, terutama karyawan baru seperti Marissa. "Oh, Ya! Duluan saja! Aku tidak makan di luar!" jawab Marissa yang masih duduk di meja kerjanya. Saat ini Marissa tidak ingin pergi ke manapun, tidak ingin makan dan mengobrol dengan siapapun. Kejadian tadi malam masih menguasai isi kepalanya. Di mana Ambar terus menjelek-jelekan Marissa, juga mengancam agar Danendra tidak bersamanya lagi. Marissa mendengar semua percakapan mere
Di tempat parkir apartemen, Ambar masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh sopir. Ia duduk di kursi belakang bersama cucu kesayangannya—Drizela. "Danen! Apa kau tidak mau pulang sekarang?" tanya Ambar pada putranya yang berdiri di samping mobil. "Sebentar lagi, Ma! Masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Nanti setelah selesai baru pulang!" "Oh! Baiklah! Mama pulang dulu! Awas, jangan macam-macam! Mama tahu apa yang kau lakukan! Kalau sampai membawa wanita itu ke apartemenmu, Mama tidak akan segan membuatnya pergi dari kota ini!" ancam Ambar yang masih mengandalkan instingnya sebagai seorang ibu. Di pikirannya masih sama, ada seseorang di tempat tinggal putranya. Danendra yang ada di depannya hanya terdiam. Tidak mengiyakan, juga tidak membantah. "Baiklah! Kami pergi dulu!" Setelah itu, mobilnya pergi meninggalkan tempat itu. *** Di lorong apartemen yang nampak sepi, Danendra keluar dari lift, lalu berjalan menuju pintu unit apartemennya dengan langkah yang te
Di ruang perawatan yang sangat luas dan nyaman dengan pasilitas yang lengkap, Zain membawa Mario masuk ke dalam. Ia menuntun tangan anak itu menuju tempat tidur pasien. "Diego! Ayahmu ingin bertemu," ucap Zain dengan pelan saat mereka sudah berdiri di samping Darius. Pria lemah itu masih berbari
Suasana di ruang IGD rumah sakit itu seketika menjadi ribut dan ramai. Semua orang melihat perkelahian antara Danendra dengan Ethan yang sama-sama saling serang. Tidak ada dari keduanya yang mau mengalah. Hingga para petugas keamanan datang dan memisahkan mereka. "Dasar brengsek! Kau Berani mengh
Di jalan yang cukup ramai, Danendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia terus memikirkan ucapan Zain tadi tentang Marissa dan Mario yang dibawa pergi oleh orang-orang asing. Saat Danendra menghubungi ponsel Marissa, awalnya terhubung, tapi, beberapa detik kemudian panggilannya ditut
Di dalam rumah yang tata letaknya sama dengan rumah Marissa, wanita itu berjalan masuk ke dapur lalu mencari makanannya sendiri. Ada begitu banyak makanan cepat saji di dapur milik Zain, beberapa mie dan sayuran, juga ada kompor dan panci juga. Terlihat bahwa pria itu sering memasak makanannya di







