ログインBenar saja, beberapa detik setelah Beni mengakhiri teleponnya, tiba-tiba ada panggilan masuk lain yang tidak ada namanya. Marissa sudah tahu itu siapa. Ia pun segera menerima telepon itu. Tanpa ditanya oleh orang yang ada di seberang telepon, Marissa pun langsung menjelaskan. "Masalah Pak Beni, itu sungguh hanya salah paham! Aku tidak diberi tugas olehnya, tidak pula oleh orang lain. Semua itu tidak ada! Jadi Pak Jimy, sebaiknya Anda tidak lagi mempermasalahkan hal ini, apalagi sampai memecat Pak Beni!" jelas Marissa tanpa jeda. Ia tidak membiarkan orang yang ada di seberang telepon menyela ucapannya. "Lalu, kenapa tadi kau bilang pada Bos Besar kalau kau ada tugas yang harus dikerjakan di rumah? Bahkan, tugas itu harus sudah selesai besok pagi! Apa kau tahu, itu sama saja dengan kau mengadukan kami!" balas Jimy pada Marissa. Suara di belakang Marissa memang sangat berisik, tapi pria itu masih bisa mengerti dengan ucapannya. "Bos besar?" Marissa pun mulai mengingat-ingat. Tadi
Waktu memang sudah tidak siang lagi. Di jam 11 malam Marissa berjalan sendiri di trotoar jalan dengan memakai sepatu boots dan jaket hitam. Ia mencari tempat makan yang buka 24 jam. Tid! Dari belakangnya, tiba-tiba sebuah taksi berjalan lambat mengikuti Marissa. "Eh, taksi!" Marissa pun menoleh ke belakang. Ia segera menghentikan taksi itu, lalu masuk ke dalam mobil. Setelah itu, ia pergi dari sana. "Mau diantar ke mana, Nona?" tanya sang sopir karena Marissa tidak kunjung mengatakannya. "Euh ... ke ...." Ke mana? Marissa sendiri pun bingung harus mencari tempat makan yang buka 24 jam itu ke mana. "Jalan saja, Pak! Nanti berhenti kalau ada tempat makan yang masih buka!" ucap Marissa dengan singkat. Kalau harus menentukan tempat tujuannya, Marissa masih bingung. Ia tidak tahu, dirinya mau makan apa dan di rumah makan yang mana. "Baik, Nona!" Sopir itu pun mengerti. Ia segera mengangguk dan mengendarai mobilnya menyusuri jalan di Kota A. Entah sudah berapa tempat makan yang me
Marissa hanya terdiam. Ia tidak menyangkal ucapan Zain karena itu memang benar. "Kenapa sekarang kau pandai berbohong? Tidak jarang kau pun menghindariku! Apa karena pria itu?" tanya Zain dengan nada yang cukup keras. Mengendarai mobilnya pun dengan kecepatan tinggi membuat Marissa syok dan juga takut. "Ah ... aku .... Kemarin Danen memang mengajakku pergi, tapi itu karena anak-anak! Dia mau mengajak kami makan bersama! Bukan karena hal lain!" jawab Marissa sambil menahan ketakutannya. Pria di sampingnya masih terlihat marah dan juga kesal dengan jawaban Marissa. "Hah ... makan bersama? Sejak kapan kalian menjadi keluarga yang harmonis? Apa setelah kembali ke negara ini, kau berpaling lagi padanya? Lupa untuk rencanamu membuat mereka semua menderita secara mental?" Kalau membuat mereka menderita secara materil, itu pasti tidak akan bisa. Yang mungkin bisa Marissa lakukan hanya membuat Danendra dan ibunya menderita secara mental karena mereka telah menelantarkan anak laki-laki pe
Di dunia ini Marissa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayahnya sudah lama meninggal, dan ibunya meninggal saat Marissa sedang hamil. Sedangkan anggota keluarganya yang lain, ia benar-benar tidak tahu. Dari kecil Marissa sudah hidup bertiga dengan ayah dan ibunya tanpa saudara. Ia pun tidak tahu keluarga ayah dan ibunya ada di mana dan seperti apa. Yang Marissa tahu, dulu keluarga ayahnya—keluarga berada—tidak menyukai Merina yang hanya gadis biasa. Ayah Marissamembawa Merina pergi ke Kota B dan memulai hidup dari nol hingga cukup mapan sebelum akhirnya meninggal karena sebuah kecelakaan. Itulah yang membuat Marissa sedikit trauma dengan orang tua yang tidak merestui hubungan anaknya. Bukan hanya si menantu yang akan hidup menderita, tapi juga anak-anaknya. "Maaf, Tante! Aku sudah tidak punya keluarga! Ayah dan ibu sudah meninggal, kalau Paman dan Tante, atau Kakek dan Nenek, aku tidak punya! Sekarang ini aku hanya hidup berdua bersama Michael! Hehe!" Marissa tersenyum penuh deng
"Karena anak-anak dibawa pergi oleh Fanny dan Wilyam, aku mau pulang saja! Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan di rumah! Be-besok pekerjaan itu harus sudah selesai!" ucap Marissa yang terpaksa harus berbohong. Ia harus segera pulang, mandi, mengganti pakaian, lalu pergi ke rumah orang tua Zain. Kalau sampai membuang-buang waktunya di tempat Danendra, Marissa bisa terlambat. "Pekerjaan? Pekerjaan apa itu sampai kau harus mengerjakannya di rumah? Bukankah tugas karyawan hanya bekerja di kantor dan di jam kerja saja? Kalau belum selesai, ya tinggal besok dilanjutkan, tidak perlu sampai mengerjakannya di rumah, kan?" Danendra benar-benar tidak mengerti, bagaimana bisa ada karyawan yang mengerjakan pekerjaannya di rumah dan di luar jam kerja? Kalau bekerja lembur pun, itu dikerjakan di kantor. Nantinya akan ada tambahan uang lembur di luar gaji mereka. "En-entahlah! Di perusahaan tempatku bekerja memang seperti itu! Kami harus bekerja di rumah juga!" "Heh??? Perusahaan macam apa, pu
Satu kali kecupan. Marissa membulatkan bola matanya menatap Danendra, mengisyaratkan pria itu untuk tidak melakukan apa pun karena mereka berdua bukan lagi pasangan. Namun sepertinya Danendra tidak mau mengerti dengan isyarat itu. Ia masih mengunci Marissa dengan kedua tangan yang ditekan ke meja hingga wanita itu terus condong ke belakang untuk menghindar. "Danen ... se-sebaiknya kita simpan piring dan mangkok ikut ke depan dulu," ucap Marissa dengan gugup. Ia pun segera memegang kedua bahu Danendra, lalu bersiap loncat ke bawah untuk turun. Belum sempat kakinya menyentuh lantai, Danendra malah menahannya lagi. Ia menekan Marissa ke belakang hingga tidak ada ruang untuk kakinya bergerak lagi. "Eh ...." Belum sempat Marissa merespon, wajah Danendra kembali mendekat. Pria itu mencium Marissa langsung dengan gerakan yang cukup intens. 'Maaf ....' "Amh ... Danen—" Mulutnya benar-benar terkunci. Tidak ada celah untuknya melepaskan diri ataupun berbicara. Lidah pria itu terus meny
Harusnya, setelah Marissa yang menyamar menjadi Sely kembali ke ruangan yang gelap, Sely segera beraksi dengan mengecoh penjaga di depan, lalu mencuri kunci ruangan itu. Sely harus membuka ruangan gelap yang saat ini ditempati oleh Marissa sebelum Darius kembali. "Apa Sely mengkhianatiku? Dia tida
Langit sudah gelap lagi, ruangan itu kembali dingin dan sepi. Marissa terbangun di ruangan yang terang dengan alas yang terasa hangat dan empuk, bukan lagi di lantai yang dingin. Sekarang sudah ada selimut berukuran sedang yang menutupi tubuh rampingnya, membuatnya sedikit lebih hangat. Dari luar
Luka yang pernah Danendra terima, itu datangnya dari ayahnya sendiri. Josep memaksa Danendra untuk menikah dengan wanita seperti Lisa. Dia mengandung bayi dari pria lain, juga terus berhubungan dengan pria itu walau Lisa dan Danendra sudah menikah. Mau marah, tapi itu adalah ayahnya. Mau benci, d
Keringat sudah bercucuran dari kening dan lehernya. Tangan Marissa terasa panas dan pegal. Ia sudah tidak sanggup lagi berpegangan, tenaganya sudah hampir habis. "Mario!" Marissa memanggil anak itu dengan pelan. Untuk berbicara pun, rasanya sudah sangat lelah. "Ada apa, Ma? Mama baik-baik saj







