LOGINMalam ini, Marissa benar-benar sangat bahagia. Ia bisa tidur satu selimut dengan ketiga putranya. "Mama Marissa! Kenapa kakak ini tiba-tiba menjadi kakak kita? Apa dia anak Mama dan Papa juga?" tanya polos Drizela yang berbaring di samping kiri Marissa. Sedangkan di samping kanannya ada Michael dan Mario. Malam ini, anak-anak tidur di kamar Marissa, sedangkan Danendra tidur di kamar sebelah sambil melihat berkas yang tadi diberikan oleh Asisten Anas. "Bukan!" Marissa segera menepis. Ia menjelaskan, "Kakak Diego anaknya Paman Darius! Tapi dari kecil, Mario sudah tinggal bersama Mama! Begitu!" "Ohhh... kenapa Mama memanggil Kakak Diego dengan nama Mario? Sebenarnya kakak ini namanya Mario atau Diego?" Drizela benar-benar tidak mengerti. Kenapa anak laki-laki yang tinggi dan tampan itu namanya ada dua. "Hehe!" Tiba-tiba Marissa tersenyum. Ia mengecup kepala Drizela sambil berbicara. "Baiklah! Agar kalian tidak pusing, mulai sekarang, Mama akan memanggil Kakak Mario dengan
Di malam hari, Mario dan Michael masih ada di tempat Danendra. Mereka bermain dengan gembira walau usia terpaut enam tahun. Dari luar, terdengar bel berbunyi. Danendra yang baru selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai pun segera ke depan, lalu membuka pintu. Ketika dilihat, ternyata Ambar datang bersama Drizela. Danendra sampai terkejut melihatnya. "Eh ... Izela ... Mama! Kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang?" tanya Danendra dengan pelan. Walau awalnya terkejut dengan kedatangan Ambar yang tiba-tiba di jam delapan malam seperti ini, Danendra tetap mempersilakan ibunya untuk masuk. "Danen! Kau sungguh keterlaluan, ya! Michael diculik, tapi kau tidak memberitahu Mama! Untung saja Izela segera bilang. Kalau tidak, selamanya Mama tidak akan tahu tentang hilangnya Michael di arena bermain!" "Ah ... itu ...." Kedatangan ibunya ke sana karena Drizela sudah bilang pada neneknya kalau adiknya menghilang. "Tapi sekarang Mama tenang saja, Michael sudah pulang, k
Sore hari, Mario dan Michael ada di tempat tinggal Danendra, sedangkan Fanny dan Darius ada di apartemen samping. "Fanny!" Tiba-tiba Darius berbicara serius. Mereka duduk di sofa sambil menonton TV. "Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya kalau kita menikah sungguhan! Ya ... maksudku, kita jalani saja dulu pernikahan ini dengan sungguh-sungguh! Walau tidak ada cinta di antara kita, tapi lambat laun, kita akan terbiasa," jelas Darius dengan serius. Fanny sampai terkejut mendengarnya. "A-apa maksudmu? Me-menikah sungguhan?" tanya Fanny dengan bingung. Setahunya, Darius tidak mau menikah dengan wanita manapun karena masih sangat mencintai Lisa. Dia juga ingin hidup sendiri sampai maut menjemputnya. Tapi sekarang, tiba-tiba Darius berubah pikiran. 'Apa dia kesambet setan?' "Iya! Kita bisa menjadi pasangan suami istri sungguhan. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untukmu dan anak itu!" tunjuk Darius pada perut Fanny. Setelah dipikir panjang, akhirn
Pukul satu, setelah jam makan siang, Marissa diantar oleh suaminya ke rumah sakit tempat Ken dirawat. Selain melihat kondisi asisten pribadi Tuan Lim yang mengalami kelumpuhan, Marissa juga ingin bertemu dengan kakeknya. DING! Sampai di lantai atas, pintu lift sudah terbuka. Danendra memegang tangan Marissa, lalu membawanya ke ruang perawatan. Tok! Tok! Tok! Danendra mengetuk pintu tiga kali. Beberapa detik kemudian, seseorang membuka pintu, lalu mempersilakan mereka untuk masuk. "Terima kasih!" ucap Danendra pada Alex—pria yang tadi pagi datang ke tempatnya. Marissa dan Danendra pun segera masuk. "Selamat siang," sapa Danendra pada Tuan Lim dan juga Ken yang berbaring lemah di tempat tidur. Danendra masih memegang tangan istrinya. Mereka segera menghampiri Tuan Lim yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur Ken. "Akhirnya kau datang juga!" ucap Tuan Lim sinis pada Marissa. Seharusnya, Marissa datang ke rumah sakit itu dari pagi, setelah Alex datang ke tempat
"Ba-baik!" Tanpa mempedulikan Marissa dan putranya yang berjalan mendekat, Bimo segera mengambil ponselnya, ia menghubungi seseorang untuk membawa ambulans ke sana. Setelah itu, Bimo kembali memperhatikan Ken. "Se-sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?" Bimo begitu panik. Dia mengangkat Ken dan membaringkannya di sofa. Tanpa mereka sadari, Marissa dan Michael sudah pergi. Marissa membawa putranya meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Ken yang entah bagaimana kondisinya. Di dalam mobil, Marissa terdiam sambil mengendarai mobilnya. Ia terlihat aneh dan dingin pada Michael. "Ma! Mama kenapa? Apa mereka menyakiti Mama?" tanya Michael sambil menoleh ke samping, melihat ibunya yang nampak gelisah dan tidak tenang. Namun pertanyaan dari anaknya itu membuat Marissa tersadar. Ia pun balas menatap Michael beberapa detik. "Ah, tidak! Mama tidak apa-apa. Jangan khawatir, ya!" balas Marissa yang mencoba bersikap tenang. Ia menggosok kepala Michael dengan satu
"Aku?" Ken menunjuk dirinya sendiri. Ia mengulangi ucapan Marissa tentang ayahnya. "Tahu tentang ayahmu?" "Tentu saja! Aku tahu semua hal tentang Ghio!" Dulu, Ken mencari tahu semua hal tentang Ghio Wijaya. Tapi ia tidak tahu kalau Ghio punya anak perempuan yang sedang kuliah di Kota A. Ken pun tidak tahu kalau Marissa ini adalah anaknya Ghio. "K-kau ... kau juga tahu ayahku kecelakaan?" tanya Marissa yang masih tidak mengerti. Marissa sangat terkejut mendengar kecelakaan ayahnya dari mulut Ken. Dulu, saat masih kuliah, Marissa menerima kabar dari ibunya kalau ayahnya kecelakaan. Ia pun tidak menyangka kalau ayahnya akan meninggal dalam kecelakaan itu. Dan sekarang, tiba-tiba saja Ken membahas hal itu. Marissa jadi curiga, Ken tahu sesuatu tentang kecelakaan ayahnya. "Hahaha!" Bukannya menjawab, Ken malah tertawa sambil mendekati Marissa. Dia menatap Marissa dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu mencengkeram rahang wanita itu sambil mengeratkan gigi. "Kau ... sama
Di rumah tua yang sangat sepi, samar terdengar suara hewan-hewan dari sekitaran rumah tersebut. Bukan hanya suara hewan-hewan kecil saja, hewan besar seperti long-longan anjing pun begitu jelas terdengar. Marissa yang dikurung di tempat yang sepi itu merasa merinding dan sedikit takut. Marissa ma
Hari sudah sangat larut, suasana di tempat itu pun semakin malam semakin menyeramkan. Marissa tidak menyadari ponsel yang ada di dalam tasnya masih menyala, dan seseorang dari seberang telepon masih bisa mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di tempatnya.
Di ruangan yang tidak terlalu besar, seorang pria duduk di sofa ruang tamu sambil menatap sekeliling ruangan yang nampak sederhana sambil menunggu wanita yang dicarinya turun. Rumah keluarga Sony itu memang tidak terlalu besar dan mewah seperti rumah orang kaya pada umumnya. Dari luar pun sudah t
Pintu yang ada di samping rumah Marissa adalah pintu rumah Zain. Dia sudah lebih dulu menyewa di sana tanpa adanya kompor dan alat rumah tangga. Entah sengaja atau tidak, pria itu memang enggan untuk membeli semua itu. Ia lebih suka menyusahkan orang lain dan meminta air panas pada Marissa setap ha







