LOGINMarissa terpaku. Ia masih berjongkok di lantai sambil menatap kepergian mereka sampai menghilang di balik tembok. Ancaman dari Ambar tadi sangat keterlaluan. Melarang Marissa mendekati Mario lagi. "Mereka pikir, aku ini siapa? Seorang penculik? Yang ada malah mereka semua lah yang penculik Mario!" Marissa sudah sangat geram. Sebagai pengusaha sukses dan masuk ke dalam daftar nama orang terkaya di negara itu, memang sangat mudah bagi keluarga Adipraja untuk menjebloskan Marissa ke dalam penjara. Tapi dalam kasus ini, sama sekali tidak ada tindak pidana apapun. Marissa tidak menculik siapapun, tidak pula menghasut anak itu agar menangis sepanjang hari dan minta diantar pulang ke rumah Marissa. Marissa pun masuk ke rumah keluarga Adipraja sebagai pelayan agar bisa bersama dengan anak itu. Sama sekali bukan untuk menculiknya. "Bagaimana kalau Marii bukan cucu kalian? Aku yang akan menuntut kalian atas tuduhan penculikan anak!" gerutu Marissa masih belum puas. Sesuai dengan apa
Di depan pintu lift, semua orang terpaku di tempat. Terutama Marissa dan juga Fanny. Mereka baru saja mendengar Mario memanggil Marissa dengan panggilan Mama. Di depan Marissa saat ini ada Tuan Josep dan Nyonya Ambar. Mereka tidak tahu tentang Marissa dan Mario. "Mama sedang apa di sini? Kenapa Mama tidak tinggal di rum—" Kata selanjutnya terhenti karena Marissa segera menutup mulut anak itu. Saking terkejutnya, Marissa malah menunjukan bahwa dia dan Mario ada hubungan. "Eh, siapa ini? Kenapa Diego memanggilmu dengan panggilan Mama? Apa kau orang yang telah merawat cucu kami?" Tiba-tiba Ambar mengatakan hal itu pada Marissa. Ambar menatap sinis Marissa dari atas hingga ke bawah. Ekspresi wajahnya menunjukan bahwa dia tidak suka dengan wanita muda dan cantik ini. Sebagai seorang wanita dan seorang ibu, insting Ambar sangatlah kuat. Mendengar cucunya memanggil seorang wanita dengan panggilan Mama, lalu wanita itu menutup mulut cucunya, ia sudah bisa menebak, hubungan mereka p
Ternyata yang dipikirkan oleh Marissa bukan tentang uang, tapi tentang pekerjaannya. "Bukankah kau memasukan rambut palsu itu ke dalam koper, ya?" tanya Fanny. Marissa pun mengangguk. "Ya, sudah! Besok pas kita pulang, kau langsung pakai saja!" Fanny menyarankan, "Kita cari dulu! Besok, adakah pesawat yang terbang dini hari? Kalau ada, kita pulang dini hari saja! Bagaimana?" Fanny segera membuka ponsel untuk mencari jadwal penerbangan di aplikasi. "Perjalanan dari kota ini ke kota kita hanya satu jam, kan? Jadi, kalau kita berangkat dari sini dini hari, kau masih sempat pergi ke rumah itu sebelum pukul enam pagi!" "Enh, ya! Boleh juga!" Marissa mengangguk. Ia setuju dengan ide Fanny. Dengan cara itu, dirinya masih bisa menginap di hotel bersama Fanny dan Ray, juga masih bisa pergi bekerja di pagi harinya. Itu ide yang bagus. Tidak lama, taksi sudah sampai di depan gedung hotel. Marissa dan Fanny segera turun dari dalam mobil, lalu mengeluarkan satu koper berisi pakai
Dua hari kemudian adalah tepat hari Minggu. Marissa dan Mario masih belum puas menghabiskan waktu bersama, tapi mereka sudah harus berpisah. Hari Minggu ini, Mario diajak pergi oleh tuan dan nyonya ke luar kota untuk menyusul Danendra yang sudah berangkat dari dua hari yang lalu. Danendra pergi ke kota itu untuk perjalanan bisnis. Dan sekarang, ayah dan ibu beserta putranya akan menyusulnya. Pagi ini, setelah tuan dan nyonya pergi ke bandara, Marissa pun bergegas pergi karena ini hari liburnya. Selain itu, Marissa juga tidak betah tinggal di rumah mewah itu kalau tidak karena putranya. Beberapa dari pelayan di sana selalu membuat masalah. Apalagi hari ini tuan dan nyonya tidak ada, mungkin mereka akan lebih berani lagi pada Marissa. Daripada seperti itu, lebih baik dirinya pergi saja. Di dalam taksi, Marissa yang masih memakai pakaian besar yang waktu itu dibelikan oleh Fanny, duduk di kursi belakang dengan wajah hitam dan rambut palsu yang menutupi setengah dari wajanya. Ia cuk
"Mama! Apa benar Mama sakit karena memikirkan aku? Aku baik-baik saja di sini bersama bos Mama!" Yang Mario tahu hanya itu. Pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu adalah bos ibunya di kantor. Mereka pernah bertemu sebelumnya dan mereka pernah menginap di apartemennya. Itulah yang membuat Mario tidak takut tinggal di rumah ini. Karena ada orang yang dia kenal. "Hem ... hem!" Marissa tersenyum. Ia menyeka air mata di wajahnya sambil menjawab, "Tidak! Mama sakit bukan karena memikirkanmu! Mama sakit karena penyakit dalam! Mario jangan khawatir, ya! Sekarang Mama sudah sembuh, kok!" "Sudahlah! Ini sudah siang! Diego harus segera berpakaian dan pergi sarapan!" Danendra mengalihkan pembicaraan. Ia masih berdiri di depan mereka dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang sangat tenang. Seolah, tadi malam tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Marissa. "Bantu dia menyiapkan keperluan sekolahnya yang ada di sana," tunjuk Danendra ke arah kiri, tempat belajar milik Mario. "Se
Pukul enam pagi, semua pelayan sudah memakai seragam dan mulai bekerja di rumah mewah itu. Begitupun dengan Marissa. Wanita itu kembali memakai rambut palsu yang menutupi mata indahnya, dan sudah memakai krim kulit anti air berwarna sawo matang. Ia kembali menjadi Bety Wijaya yang jelek. Marissa diberi arahan oleh Nima sebelum memulai pekerjaannya karena dia merupakan pelayan baru. "Bety! Sebelum pukul tujuh pagi, kau sudah harus ke kamar Tuan Muda dan membantunya berpakaian, juga menyiapkan semua keperluan sekolah! Pukul tujuh, ajak Tuan Muda turun ke bawah untuk sarapan! Setelah selesai, kau tidak perlu mengikuti Tuan Muda ke sekolah, karena ada sopir yang akan mengantarnya! Selama Tuan Muda pergi sekolah, kau sama seperti pelayan yang lain, mengerjakan apa yang pelayan lain kerjakan! Apa kau mengerti?" jelas Ibu Kepala pada Marissa setelah para pelayan selesai apel pagi di taman belakang. Marissa pun mengerti. Ia segera membungkukan badan pada Nima. "Baik, Bu! Saya mengerti







