Masuk"Sendirian," jawab Alexander.
"Oh begitu ... baiklah. Jika kamu sudah ada waktu, berkunjunglah ke rumah. Aku ingin pergi melihat pertunjukkan Ballet bersama, lalu berselancar, berkuda, pokoknya ... banyak hal yang ingin aku lakukan berdua." "Ya, pilih saja yang ingin kamu lakukan." "Woah ... membayangkannya saja sudah membuatku merasa senang, apalagi saat waktu itu tiba." "Aku juga ikut senang." "Omong-omong sedari ta“Hei, kita baru bertemu lagi." Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis yang dulu mungkin mampu membuat wanita itu salah tingkah.Sayangnya, bagi Ella, senyum itu kini justru terasa menjengkelkan."Bagaimana kabarmu?" tanya Joseph lagi. "Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu."Ella menyesap sedikit minuman di tangannya sebelum menjawab dingin, "Masih hidup."Joseph terkekeh. "Kau benar-benar berubah setelah pulang dari Milan. Apa yang telah terjadi?""Aku tidak ingat pernah memintamu menilai perubahan hidupku."Joseph hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak memedulikan ketusnya sikap Ella. "Baiklah. Kalau begitu aku ganti pertanyaan." Senyuman pria itu kembali merekah. "Bagaimana di Milan? Menyenangkan? Ah, tapi di sana tidak ada diriku, pasti jawabannya tidak."Ella tetap diam sambil mencoba tiramisu cup.Joseph melanjutkan tanpa merasa canggung sedikit pun. "Ngomong-ngomong, apa kau dekat dengan seseorang di sana? Tidak, 'kan? Memang tidak ada pria yang lebih baik d
***Pukul 10.45 PM.Ella melangkah melewati halaman rumah Grace sambil menenteng sebuah paper bag kecil.Begitu melewati pintu depan, suasana yang menyambutnya benar-benar kacau.Musik menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan. Puluhan anak muda memadati rumah sambil tertawa, mengobrol, menari, mengabadikan foto dan video, dan saling bersulang dengan gelas di tangan. Ella menyapu ruangan dengan pandangan perlahan.Ada banyak wajah yang dikenalnya. Namun, jauh lebih banyak lagi orang-orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya.Rumah Grace malam itu sudah kehilangan kesan sebagai sebuah rumah. Tempat itu lebih menyerupai pesta liar yang dipenuhi tawa, kebisingan, dan energi anak-anak muda yang seolah tidak akan habis hingga matahari terbit.Hingga matanya menangkap sosok Grace yang sedang mengobrol bersama beberapa tamu.Tanpa ragu, ia menghampiri. "Hai, Grace."Grace segera menoleh. Wajahnya langsung berbinar. "Oh, hai, Ella! Kau datang."Barulah Ella memperhatikan penampilan t
7 Hari Kemudian.Pukul 11.00 AM.Ella duduk diam di kursi kamarnya.Tangan kanannya mengusap-usap perut tanpa sadar hingga ujung kaus yang dikenakannya terangkat. Tapi siapa peduli, hanya ada dirinya di tempat.Sementara itu, pandangannya tidak lepas dari laptop yang terletak di atas meja di depannya.Sudah lebih dari satu jam ia berada dalam posisi yang sama.Selama itu pula, ia terus berpindah dari satu video ke video lainnya di internet. Semua membahas topik yang sama, yakni cara menggugurkan kandungan.Mulai dari makanan yang dipercaya dapat memicu keguguran, ramuan herbal, aktivitas fisik yang berlebihan, hingga berbagai mitos dan pengalaman orang-orang yang mengaku pernah mengalaminya.Namun, tak ada satu pun yang mampu memberinya jawaban pasti. Semuanya terdengar omong kosong.Oh iya, jika ada yang bertanya bagaimana hasil 'Hadiah' yang diberikan Daisy seminggu lalu ...Jawabannya sederhana.Gagal total!Sedangkan semuanya sudah habis tanpa sisa.Kemarin, Ella bahkan kembali me
“Tapi tunggu." Ella menggaruk pelipisnya pelan. "Semua ini tidak akan meracuniku, bukan?"Daisy mengangkat bahu. "Kurasa tidak.""Kurasa?""Yang penting, target kita kandungannya berhenti berkembang 'kan?"Ella langsung menoleh tajam. "Ah, Daisy. Aku serius. Jika ujung-ujungnya aku ikut mati, lebih baik kau langsung saja bawakan tali atau peluru."Daisy malah terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Tak kusangka kau masih peduli nyawa dirimu."Ella tetap menatapnya datar.Tawanya perlahan mereda. Daisy merespon, "Ya ... berdoa saja semoga kau tidak kenapa-kenapa, sebab aku juga belum pernah kebobolan."Ella hanya bisa mendengus kesal, walau yang dikatakan temannya benar.Ia meraih salah satu botol alkohol yang tergeletak "Baiklah. Aku akan minum yang ini dulu. Kau ambil saja yang satunya."Mata Daisy langsung berbinar. "Untukku? Oh, terima kasih," gembiranya memeluk botol tersebut.Ella mengangguk asal. Lagi pula memang Daisy yang membelinya."Menurutku juga, lebih baik kau
Tin Tong ...! Rachel yang masih memegang majalah di sofa segera menutupnya, lalu berjalan menuju pintu depan dan membukanya. "Hei, Daisy," sapanya hangat. "Hallo, Mrs. Force." Daisy tersenyum lebar. "Kuharap aku tidak mengganggu." "Oh, ayolah. Jangan bicara seolah kita baru pertama kali bertemu. Ayo masuk." Daisy melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saat itu Rachel menyadari kedua tangan gadis itu penuh oleh dua kantong belanja berukuran cukup besar. "Kau pasti ingin menemui Ella," ujar Rachel. "Dia ada di kamarnya. Langsung saja." "Benar." Daisy mengangkat salah satu kantong belanja ke arah Rachel. "Aku barusan ke supermarket. Kuharap Anda mau menerimanya." Rachel menerimanya sambil tersenyum hangat. "Terima kasih, Sayang. Tapi lain kali tidak perlu repot-repot seperti ini." "Hahaha ... supaya terlihat seperti tamu yang tahu sopan santun." Rachel ikut tertawa sambil menggeleng geli. Daisy akhirnya berjalan lebih jauh memasuki rumah. Tapi saat melewati ruang keluarga, lang
***Pintu ruangan Dr. Amelia Hart terbuka.Ella keluar sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Langkahnya lambat disertai wajah lesu, sesuai dengan situasi yang tengah menimpanya.Ia menutup pintu itu pelan.Namun, baru satu langkah, mata Ella langsung membelalak."Ella?!"Suara itu membuat tubuhnya menegang.Di depannya berdiri Daisy yang tampak sama terkejutnya. Wanita itu berkedip beberapa kali, seolah memastikan dirinya tidak salah lihat.Lalu tanpa sadar tatapannya naik ke papan kecil di samping pintu.Dr Amelia HartObstetrician & GynaecologistEkspresi Daisy berubah. Matanya makin membesar dan bibirnya terbuka. "Kau-""Tidak, tidak, tidak." Ella langsung berjalan cepat menghampirinya lalu menutup mulut Daisy dengan panik. "Tolong jangan katakan apa pun. Aku bisa jelaskan!"Daisy langsung menyingkirkan tangan Ella dari mulutnya dengan wajah penuh keingintahuan. "Yeah, jelaskan cepat. Semuanya."Ella langsung menoleh ke kanan dan kiri. Lorong rumah sakit bukan tempat
"Francescohhh lebihh cepat ... akuhh- aku keluarhh." Ranjang hotel di Moskow bergetar hebat. Kuku Chloe mencakar punggung Francesco saat mereka mencapai puncak. Nafasnya berat, tubuhnya gemetar, dan lenguhannya mengisi seluruh ruangan. Keduanya menyatu dalam klimaks
"Sepertinya ... Anda salah orang," celak Ella jantung yang berdetak kencang. Bibirnya ia usahakan tetap tenang, tak bergetar sedikitpun."Jangan menyangkal, Nona muda. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kalian sempat bertengkar saat akan datang ke sini." sanggah Mathilda, sorot ma
"Jika aku ingin bersama Chloe, sudah kubawa dia ke sini. Tapi yang bersamaku sekarang adalah kau, Ella. Tidakkah kau mengerti??""IYA AKU TIDAK PAHAM! AKU SANGAT TIDAK PAHAM DAN TIDAK AKAN PERNAH PAHAM DENGAN ISI PIKIRANMU."Alexander semakin mendekat, tatapannya menyala tajam.
Alexander melepaskan celananya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas Ella yang terbaring lemah di lantai. Tangannya menjadi tumpuan, menjaga agar berat tubuhnya tidak sepenuhnya menimpa wanita mungil itu. "Posisinya ... agak aneh," bisik Ella pelan dan malu-malu. "An







