Kartu kunci berkilat di antara jari Meira. Dentingan elektronik pintu terdengar, lalu aroma wangi kayu manis bercampur karpet baru langsung menyergapnya. Lampu hangat dari sudut ruangan membuat bayangan lembut di dinding, memantulkan cahaya di seprai putih yang tertata rapi di atas ranjang king size.
Ia melangkah masuk, meletakkan koper di tepi ranjang, lalu menoleh untuk berterima kasih pada Hastan. Dari jauh, sosoknya saja sudah cukup membuat orang otomatis meluruskan punggung. Letnan Kolonel Hastan Maheswara—usia masih di awal tiga puluhan—memiliki postur yang nyaris sempurna bagi seorang perwira militer: tinggi menjulang, bahu lebar yang mengisi penuh potongan seragam hijau militer, dan garis punggung yang tak pernah terlihat merunduk. Langkahnya tenang, presisi, seolah setiap derap sepatu botnya sudah diatur oleh komando tak kasat mata. Wajahnya bersih, namun tegas—rahang kokoh, hidung lurus tegas, dan alis tebal yang menaungi sepasang mata hitam dingin. Ada sesuatu pada sorotnya yang tak bisa diabaikan: tatapan tajam yang seolah bisa membaca lebih dari yang seseorang ucapkan. Rambutnya dipotong pendek rapi dengan fade tipis di sisi, gaya khas militer, namun sedikit ikal di bagian atas membuatnya tak sepenuhnya kaku. Suara baritonnya rendah, tidak perlu meninggikan nada untuk memerintah, namun cukup untuk membuat siapapun menoleh dan mematuhi. Aroma aftershave segar bercampur samar dengan wangi kulit dari sarung senjata yang menggantung di pinggangnya. Tangannya besar, kuat, dengan urat yang menonjol di punggungnya—tangan yang jelas terbiasa memegang senjata sekaligus mengetik cepat di depan layar komputer divisi sibernya. Dan di balik segala ketegasan itu, ada satu hal yang membuatnya berbahaya bagi hati siapa pun: tatapan sekilas yang hanya bertahan kurang dari satu detik, namun mampu meninggalkan sisa panas di kulit. Hastan berdiri di ambang pintu. Seragam dinasnya sudah terganti dengan kemeja hitam, lengannya digulung hingga siku, ototnya tertarik setiap kali jemarinya meremas gagang pintu. Ada tegang halus di rahangnya, dan tatapannya… seolah sedang menimbang apakah ia akan melangkah atau tidak. “Terima kasih sudah merekomendasikan hotel ini,” ucap Meira, berusaha terdengar santai. Ia menunduk, sibuk mengeluarkan pakaian. Jemarinya mengatur lipatan baju, mencoba mengabaikan rasa bahwa sepasang mata itu tak berhenti mengikutinya. Begitu koper kosong, ia menutupnya. Dan di sanalah Hastan—masih di tempat yang sama, tapi kini bahunya lebih tegap, dadanya naik-turun pelan, napasnya berat namun terkendali. “Kenapa kamu masih di sini?” tanyanya, kening berkerut. Tidak ada jawaban. Hanya langkah yang semakin mendekat—perlahan, nyaris tanpa suara—sampai Meira bisa melihat kilat gelap di matanya. “Hastan, jangan—” Terlambat. Lengan kokoh itu melingkari pinggangnya, menariknya ke dalam dada yang keras. Tubuh Meira terlonjak, tangannya refleks mendorong, namun genggaman itu bagaikan borgol yang hidup. “Apa yang kamu lakukan?!” Suaranya pecah di udara. Dan kemudian, suara itu—dalam, berat, dingin—mendarat di telinganya. “Menuntaskan perbuatanmu padaku… waktu kita sekolah dulu.” Napas Meira memburu. “A-apa? Itu sudah lama… cuma cinta monyet.” Tangannya berusaha memisahkan diri dari lingkaran besi di pinggangnya. “Bukankah aku sudah minta maaf?” Senyum menyeringai muncul di bibir Hastan, tapi matanya… penuh bara yang tak padam. “Tidak semudah itu, kakak kelasku.” Jemarinya terangkat, membelai pipinya. Kulit Meira bergetar di bawah sentuhan itu, napasnya tersengal tanpa ia inginkan. Sentuhan itu turun perlahan ke lehernya, memancing reaksi yang ingin ia bunuh sebelum terlihat. “Meski bibirmu menolak,” suaranya nyaris berdesah, “aku tahu persis di mana titik lemahnya.” “Hastan… jangan,” suaranya melemah—setengah peringatan, setengah permohonan yang bahkan ia sendiri benci mendengarnya. Dalam benaknya, wajah Octavian berkelebat, membuat dadanya semakin sesak. Tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, bibir Hastan menutup bibirnya—keras, memaksa—dan seolah mengenang sesuatu yang pernah hilang. Jemari di pinggangnya mencengkeram lebih erat, seakan takut ia menghilang jika dilepaskan. Meira membeku. Otaknya memerintah untuk melawan, tapi tubuhnya… tubuhnya justru mengkhianatinya. Dan di sela desah napas itu, ia tahu satu hal: Hastan tidak akan pergi sebelum ia mendapatkan yang ia mau.“Ra… gawat banget ini,” kata Aira tergesa-gesa, hampir terengah. “Beberapa pengiriman alat medis dari vendor macet, jadwal produksi bisa terganggu. Tim logistik panik, dan aku nggak ngerti kenapa bisa begini.” Meira menelan ludah. Baru saja ia mulai merasa lega karena Octavian pergi, tapi kini bayangan masalah baru sudah menempel di pundaknya. Aliran udara di ruangannya terasa tiba-tiba berat. Ia menatap Aira, mata mereka bertemu—dan keduanya sama-sama sadar: sesuatu tidak beres, tapi belum tahu apa yang terjadi. “Baik,” ucap Meira akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat tegas. “Kita lihat langsung ke bawah.” Tanpa menunggu, ia melangkah cepat meninggalkan ruangannya, Aira mengekor di belakang. Sepatu haknya berdetak keras di lantai koridor, seolah mengikuti ritme detak jantungnya yang mulai memburu. Sesampainya di ruang tim logistik, suasana benar-benar kacau. Beberapa staf terlihat sibuk menelpon, sebagian lain menunduk di depan laptop dengan wajah tegang. Tumpukan dokumen p
Meira menatap layar laptopnya, jari-jari tangannya bergerak cepat mengetik laporan proyek. Ruang kerjanya di Medinova Technosurgica dipenuhi tumpukan dokumen, blueprint alat medis, dan layar monitor yang menampilkan grafik perkembangan produksi. Dua bulan telah berlalu sejak perayaan anniversary yang membekas di hatinya—sejak momen itu, ia bekerja tanpa henti, menenggelamkan perasaan dalam kesibukan. Namun hati Meira tetap tak tenang. Perceraian resmi dengan Octavian tinggal sebulan lagi, dan rasa tidak sabar itu makin membesar. Setiap kali melihat Dio bermain, Meira merasakan percampuran lega dan cemas: lega karena sebentar lagi mereka bisa benar-benar bebas, cemas karena masa depan Dio tetap bergantung pada keputusan orang dewasa di sekitarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Octavian muncul di layar. Meira menelan ludah, menahan napas sejenak sebelum mengangkat telepon. “Halo?” suaranya terdengar biasa saja, tapi hatinya sedikit berdebar. “Hai, Meira… aku dapat pekerjaa
Koridor markas militer terasa dingin, walau lampu neon menyala terang. Langkah Hastan bergema pelan di lantai marmer, setiap denting sepatunya seperti menabuh irama jantung yang menegangkan. Ia menahan napas, menyiapkan diri menghadapi satu pertemuan yang ia tahu akan menjadi salah satu momen paling sulit dalam hidupnya. Di depan ruang kerja, ia berdiri sejenak, menyesap udara, mencoba menenangkan diri. Sebentar lagi, ia akan menghadap atasannya—bukan sekadar sebagai letkol yang sedang mengajukan pengunduran diri, tapi sebagai seorang prajurit yang menanggung luka hati, rasa kecewa, dan rahasia yang tak pernah terungkap. Pintu terbuka, dan tatapan mata atasannya langsung menempel pada Hastan. Mata itu bukan hanya penuh kewibawaan, tapi juga hangat—mata yang telah menyaksikan setiap pencapaian Hastan sejak pertama kali masuk divisi cyber. “Hastan…,” kata atasannya perlahan, raut wajahnya campur bingung dan khawatir. “Aku tidak percaya ini… Kau serius ingin mengundurkan diri?” H
Langkah Meira terhenti seketika ketika merasakan sesuatu yang hangat menetes di pundaknya. Ia mendongak, hanya untuk menemukan darah segar mengalir dari hidung ibunya. “Ibu!” seru Meira panik, suaranya bergetar. Ia buru-buru meraih tisu di atas meja dan menekan lembut hidung sang ibu, sementara tangannya yang lain meraih segelas air mineral. Dibimbingnya ibunya untuk duduk di sofa, meski detak jantungnya sendiri terasa seakan pecah oleh rasa takut. “Bu, kenapa bisa begini? Ini… ini tidak normal.” Suaranya serak, nyaris pecah. Namun sang ibu hanya tersenyum samar, meski wajahnya jelas pucat. Senyum yang seolah memaksa ketenangan. “Jangan takut, Nak. Kadang tubuh ini memang suka lelah, seperti hati yang memikul beban terlalu berat.” Kata-kata itu membuat dada Meira sesak. Ia merasa tertohok—karena tahu, sebagian dari beban itu bersumber dari dirinya. Dari kisah cintanya yang berantakan, dari luka yang ia bawa pulang dalam setiap tangis diam-diam. “Ibu jangan bicara begitu,
Langit sore di kediaman Maheswara berwarna kelabu. Angin berhembus pelan, namun udara di dalam rumah begitu berat seakan dipenuhi kabut gelap. Sejak kedatangannya yang tiba-tiba, Hastan tidak pernah benar-benar berbicara dengan siapa pun. Ia hanya melewati ruang tamu dengan wajah dingin, naik ke lantai dua, lalu mengurung diri. Ruangan yang paling sering didatanginya adalah gym pribadi keluarga. Samsak tinju di pojok ruangan itu kini penuh dengan bercak darah, sobek di beberapa sisi, seperti tubuhnya sendiri yang terkoyak dari dalam. “DUK! DUK! DUK! DUK!” Tinju demi tinju meluncur. Begitu keras hingga sendi tangannya berdenyut, kulitnya robek, darah menetes ke lantai kayu. Tapi ia tidak berhenti. Semakin perih, semakin keras ia menghantam. Setiap pukulan adalah teriakan dalam hati: Ciuman itu. Tatapan itu. Senyum itu. Kenapa harus aku yang melihatnya? Kenapa aku yang harus jadi saksi? Nafasnya tersengal, keringat menetes deras. Tapi yang keluar dari matanya bukan hanya keringat—
Udara malam rooftop hotel itu masih menempel di kulit Meira. Angin dingin menusuk tulang, namun yang lebih menusuk adalah rasa getir yang menggenang di dadanya. Lampu-lampu kota Selaras berkelap-kelip di kejauhan, tapi hatinya justru gelap. Seusai perayaan semu itu, Octavian pergi lebih dulu. Ia sibuk menenteng ponselnya, memastikan setiap potongan video live yang ia ambil tadi benar-benar tersimpan rapi di arsip media sosialnya. Seolah-olah, ia baru saja memenangkan sebuah panggung besar. Sementara Meira tertinggal, duduk di kursi restoran yang kini hampir kosong, hanya ditemani sisa lilin yang meredup. Meira menatap meja, seakan bekas gelas wine dan bunga yang sudah mulai layu bisa memberi jawaban. Dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena ia tadi menuruti permintaan Octavian untuk berciuman di depan kamera, tapi karena sekelebat bayangan muncul di sudut matanya—seorang pria tinggi, dengan tatapan yang ia kenal luar dalam, berdiri di pintu masuk sebelum akhirnya berbalik dan pergi