LOGIN
Hujan turun sejak sore. Sebuah taksi berhenti perlahan di depan rumah mewah berarsitektur modern. Gerimis mengguyur kaca jendela, memburamkan pandangan Kanara yang duduk diam di bangku belakang, menatap rumah itu dengan tatapan kosong.
Hari ini, Kanara menjejakkan kaki ke tempat yang seharusnya tidak perlu dia datangi, jika saja dunia bersikap sedikit lebih adil. Hujan yang membasahi tubuhnya tak seberapa dibanding dinginnya kenyataan yang harus dia telan. Rumah besar di depannya berdiri megah. Berkali lipat lebih besar dari rumah masa kecilnya — rumah yang kini hanya tersisa dalam kenangan. Rumah itu telah dijual. Sekarang, dia dan ibunya tinggal di sebuah kosan kecil yang pengap dan sempit. Kanara kini berdiri di depan pintu rumah itu. Rumah ayahnya yang baru bersama istri barunya yang kaya raya. Tangannya terangkat, tapi tak segera mengetuk. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Harga dirinya sudah dia kubur dalam-dalam hari ini, demi satu alasan yang tak bisa ditawar: nyawa ibunya. Ibunya terbaring lemah di rumah sakit, tubuhnya perlahan rusak karena alkohol, stres, dan penyakit ginjal yang makin parah. Biaya cuci darah, obat-obatan, perawatan… semuanya menumpuk seperti utang luka yang memberatkan pundak Kanara seorang diri. Dia mengetuk pintu. Tak lama, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu, mempersilahkan masuk tanpa banyak bicara. Di ruang tamu yang luas, ayahnya duduk santai di atas sofa mahal. Kaki disilangkan, kemeja licin tanpa cela, wajah puas seperti pria yang hidup tanpa beban. Tatapan remeh itu menusuk seperti sembilu. Kanara duduk di hadapannya, tubuhnya masih basah kuyup, rambutnya meneteskan sisa air hujan ke lantai marmer putih yang mengilap. Tangan Kanara mengepal di atas pahanya, menahan gemetar. Antara marah, benci, dan putus asa yang saling berkejaran dalam dadanya. “Apa yang kau mau, Kanara?” suara pria itu terdengar malas, seolah berbicara dengan orang asing, bukan darah dagingnya sendiri yang dulu dia gendong, dia ajak bermain, dia sayangi. Setidaknya itu yang Kanara ingat sebelum semuanya hancur. Butuh beberapa detik bagi Kanara untuk menelan egonya. Suaranya akhirnya keluar, parau, nyaris retak. “Ibu… butuh biaya tambahan untuk perawatan. Cuci darahnya makin sering… obatnya mahal… Aku tidak sanggup lagi sendiri,” ucapnya, hampir berbisik, nyaris tercekik oleh perasaan malu yang tak tertahankan. Ayahnya menaikkan satu alis, lalu tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip ejekan. “Bukankah kau sudah besar? Mandiri? Kenapa sekarang datang merengek ke sini?” Darah Kanara mendidih. Sakit… Rasanya jauh lebih sakit dari dihina orang asing, karena yang melontarkan kata-kata itu adalah ayahnya sendiri, atau dulu dia memanggilnya begitu. “Aku tidak datang untuk merengek,” Kanara berusaha mengontrol suaranya, meski suaranya bergetar, “Aku cuma minta tanggung jawab terakhirmu sebagai suami ibu.” Pria itu tertawa kecil, nadanya sinis. “Tanggung jawab? Tanggung jawab itu udah selesai waktu kau dan ibumu memutuskan pergi dari hidupku. Hidup itu pilihan, Kanara. Dan aku sudah pilih jalanku.” Kanara terdiam. Tenggorokannya tercekat. Dia tahu jawaban itu akan menyakitkan, tapi tetap saja, kenyataan terasa seperti ditampar berkali-kali. Hujan di luar semakin deras, seolah ikut menertawakan keputusasaannya. Saat itulah, sosok lain masuk ke ruang tamu. Istri muda ayahnya tapi usianya lebih tua dari ibunya. Perebut ayahnya. Di usianya yang menginjak hampir kepala 5 wanita itu masih cantik dan anggun. Di tambah dia janda kaya raya. Tentu saja ayahnya lebih memilih wanita itu. Dia tidak perlu bekerja keras banting tulang, tinggal menikmati hasilnya. Selain uang ayahnya juga mendapat kekuasaan di perusahaan yang Bu Jeniffer miliki. "Tamu tak diundang rupanya," ucap Jennifer saat memasuki ruang tamu. Senyumnya manis, tapi tajam. Reza langsung berdiri dan menyambut istrinya dengan hangat. Ia menggandeng tangan Jennifer, membawanya duduk di sebelahnya seperti pasangan baru yang tak peduli dunia. "Apa yang membawamu kemari?" tanya Jennifer santai, tatapannya lurus ke arah Kanara. Kanara diam. Rahangnya mengeras. Ia menahan diri agar tidak menunjukkan rasa muaknya. Mereka terlihat sangat menikmati hidup, sementara ibunya menderita. "Dia minta aku bayarkan biaya rumah sakit ibunya," sahut Reza ringan, seolah yang diminta hanya hal sepele. Jennifer tertawa kecil. "Masih berharap belas kasihan dari mantan suami rupanya." Kanara menatap keduanya. Matanya dingin, tapi suaranya tetap tenang. "Ibu masih istrimu." Reza menjawab tanpa ragu, "Aku akan segera menceraikannya." "Ibu jadi seperti ini juga karena ulah kalian berdua." Nadanya tak meninggi, tapi tegas dan jelas. "Kalau bukan karena pengkhianatan ini, dia tidak akan hancur sampai segitunya. Jadi kalau kalian mau cuci tangan, silakan. Tapi jangan pura-pura bersih." Kanara bangkit berdiri. Sudah cukup. Dia sudah membiarkan dirinya dihina, direndahkan, diabaikan. Dia tidak mendapatkan sepeserpun, bahkan seulas rasa kasihan. Tenggorokannya tercekat menahan tangis dan amarah. Tapi dia tidak akan menangis di depan mereka. Tidak lagi.Rumah itu kembali tenang. Sarah tidak lagi tinggal bersama di rumah ini, dia di jemput pulang oleh suaminya Riko. Setelah semua kebohongan, manipulasi, dan drama yang Sarah buat terbongkar, udara di dalam rumah terasa jauh lebih ringan. Seperti satu beban besar akhirnya tersingkirkan.Luna sedang mengganti bunga di vas ruang tengah ketika pintu utama terbuka. Athalla masuk, menutup pintu pelan, seolah tidak ingin merusak ketenangan yang baru stabil.Luna menoleh. Athalla berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan sorot mata yang sudah lama tidak ia lihat hangat, teduh, penuh ketulusan yang dulu membuat Luna jatuh cinta tanpa pikir panjang."Kau sudah pulang," ucap Luna lirih."Aku sudah pulang," jawab Athalla, langkahnya mendekat perlahan. Luna berhenti merapikan bunganya. "Bagaimana Sarah?""Dia kembali bersama suaminya. Mereka akan memperbaiki semuanya," jawab Athalla. “Dan aku sudah membatasi diriku. Tidak akan mencampuri urusan mereka lagi.”Ada kelegaan kecil yang muncul di dada
Athalla pulang lebih cepat setelah Bu Asih menelponnya dan mengatakan bahwa Sarah sakit. Luna sedang pergi ke butiknya, jadi Athalla memutuskan segera pulang.Di kamar, Sarah terbaring lemah. Begitu Athalla masuk, Sarah langsung berusaha bangkit. Athalla refleks menahan bahu perempuan itu dan membantu mendudukannya.“Kita ke dokter,” ucap Athalla tegas.Sarah cepat-cepat meraih tangannya, menggenggam erat seolah takut Athalla akan pergi begitu saja. “Thal, sudah cukup.” Suaranya lirih namun penuh tuntutan. “Kau berhasil membuatku sadar bahwa aku juga mencintaimu. Kalau tujuanmu menikah hanya untuk membuatku cemburu, kau berhasil. Aku akan mengurus surat cerai secepatnya…”“Sarah…” Athalla menatapnya tidak percaya. Dugaan itu jauh dari apa pun yang ia bayangkan. Ia tidak mungkin melangkah sejauh menikahi Luna hanya untuk permainan kecil seperti itu. “Aku benar-benar mencintai Luna.”“Stop, Athalla.” Sarah memotong, wajahnya berubah getir. “Aku tidak ingin mendengar omong kosong itu.”A
Sarah berdiri kaku di depan pintu kamar tamu, jari-jarinya menggenggam gagang pintu sampai memutih. Suara-suara itu terdengar jelas. Terlalu jelas. Dinding rumah Athalla tidak cukup tebal untuk menutupi apa yang sedang terjadi di kamar pengantin baru itu.Napasnya tercekat ketika Luna menyebut nama Athalla dengan suara yang tak berusaha disembunyikan, bahkan seolah sengaja meninggikan nada di beberapa bagian. Setiap desah, setiap helaan napas, seperti pukulan telak yang mendarat di dada Sarah tanpa ampun.Sarah tidak tahu apakah Luna sengaja atau memang mereka sedang terlalu larut. Tapi dari cara Luna menyebut nama Athalla tidak ada keraguan lagi. Itu provokasi. Pamer kekuasaan. Pengingat kalau Athalla bukan miliknya sejak lama dan kini tidak akan pernah jadi miliknya.Sarah mundur selangkah, lalu bersandar ke dinding, menutup mulutnya dengan punggung tangan agar tidak terdengar. Dadanya naik turun cepat, bukan hanya karena malu tapi karena marah. Panas. Tersinggung. Terkhianati oleh
Mobil berhenti di halaman rumah. Begitu Athalla menoleh, Luna sudah tertidur di kursi penumpang dengan napas teratur.Athalla turun lebih dulu, lalu membukakan pintu samping. Ia merunduk, melepas sabuk pengaman Luna dengan hati-hati sebelum menyelipkan satu tangan ke bawah tubuh Luna untuk mengangkatnya.Gerakan Athalla terhenti ketika lengan luna melingkar di lehernya. Mata luna yang semula terpejam kini menatapnya dengan penuh godaan, napasnya hangat menyentuh pipi Athalla yang masih menunduk.“Luna...” suara Athalla melemah, antara terkejut dan tak berdaya dibuatnya. “Kau pura-pura tidur?”Luna tersenyum kecil, menggigit bibir bawahnya seolah sedang menahan tawa. “Siapa bilang pura-pura tidur? Aku hanya menunggu kau menggendongku.”Athalla hendak menarik diri, tapi luna menahan tengkuknya, menarik wajah mereka semakin dekat. Sentuhan itu membuat dada Athalla mengencang, seolah sinyal tubuhnya langsung bereaksi tanpa bisa ia cegah.“Apa kau ingin mencobanya di dalam mobil, hm?” goda
“Ikutlah makan malam disini, Thal.” Ucap Arga mengusulkan.Athalla yang sejak tadi memperhatikan Luna yang berjalan naik tangga bersama Kanara akhirnya menoleh. Ekspresinya datar, tapi ada kegelisahan yang tidak berhasil ia sembunyikan.Arga mengamati perubahan kecil itu. “Kau sedang ada masalah dengan Luna?” tanyanya langsung.Athalla terdiam sesaat.Arga menghela napas pelan. “Pengantin baru tidak seharusnya saling menghindar. Luna memang gampang tersinggung kalau menyangkut orang yang dia sayang, tapi kau tahu sendiri, dia bucin setengah mati denganmu.” Nada Arga lembut, bukan menghakimi. “Dan aku tahu kau juga begitu, hanya saja kau sering terlihat dingin. Luna tidak akan bilang apa-apa. Kau yang harus peka.”Athalla tidak membalas, tapi caranya mengeraskan rahang sudah cukup menjadi jawaban.***Malam itu, mereka berempat makan bersama di meja makan Arga. Kanara sibuk mengatur piring Hiroshi yang terus mengulurkan tangan ingin mencicipi makanan dari piring mamanya. Arga menggendo
Setelah pulang bekerja, Athalla tidak langsung menuju rumah. Pikiran yang sejak pagi memberatkan kepalanya membuat pria itu memutar kemudi ke arah lain, rumah Arga.Beberapa menit kemudian, keduanya sudah duduk berhadapan di ruang kerja Arga. Pintu ditutup, percakapan yang selama ini tertunda akhirnya menemukan waktunya.Arga membuka berkas yang sudah ia siapkan. “Aku sudah pikirkan ini lama,” ucapnya, suaranya tenang namun jelas membawa beban. “Ayah punya saham cukup besar di perusahaan. Dan, Thal kau juga berhak atas itu sama seperti aku.”Athalla terdiam. “Arga—”“Tunggu dulu.” Arga mengangkat tangan, menghentikan bantahan yang sudah terlihat dari ekspresi saudaranya. “Aku cuma ingin semuanya jelas sejak awal. Kita keluarga. Aku tidak ingin urusan harta nanti malah jadi api untuk anak-anak atau cucu kita. Ayah mungkin punya caranya sendiri, tapi aku tidak mau kita mengikuti pola yang sama.”Athalla menarik napas panjang, menatap meja sebentar sebelum mengangkat wajah. Ada sesuatu







