MasukBisa dibilang nasib Chris cukup mujur karena bisa diterima diperusahaan penerbitan dengan modal keberanian dan nekat. Soalnya bila dilihat dari CV-nya, Chris jauh dari kata spesial sebagai anak baru lulus sarjana. Nilai akademiknya pas-pasan yang untung saja lulus sehingga tidak perlu mengulang. Mengingat biaya kuliah sekarang mahal, dan Chris sudah cukup kewalahan membagi waktunya. Berbeda dengan teman-teman sejawatnya yang menghabiskan sela-sela waktu dengan fokus mengerjakan tugas kuliah atau hangout dengan teman, Chris tidak punya privillage mahal macam itu. Dan mungkin satu-satunya hal yang berbeda dibandingkan semua orang adalah karena Chris punya pengalaman kerja part-time yang bejibun. Bukan karena alasan bullshit macam mencari pengalaman seperti kebanyakan orang akan bilang saat ditanya ‘kenapa punya banyak pekerjaan?’ tapi Chris memang banting tulang karena keadaan. Ia butuh uang untuk makan, membayar sewa kost-an dan juga biaya kuliahnya. Kondisi finansial keluarganya meman
Bisa dibilang nasib Chris cukup mujur karena bisa diterima diperusahaan penerbitan dengan modal keberanian dan nekat. Soalnya bila dilihat dari CV-nya, Chris jauh dari kata spesial sebagai anak baru lulus sarjana. Nilai akademiknya pas-pasan yang untung saja lulus sehingga tidak perlu mengulang. Mengingat biaya kuliah sekarang mahal, dan Chris sudah cukup kewalahan membagi waktunya. Berbeda dengan teman-teman sejawatnya yang menghabiskan sela-sela waktu dengan fokus mengerjakan tugas kuliah atau hangout dengan teman, Chris tidak punya privillage mahal macam itu. Dan mungkin satu-satunya hal yang berbeda dibandingkan semua orang adalah karena Chris punya pengalaman kerja part-time yang bejibun. Bukan karena alasan bullshit macam mencari pengalaman seperti kebanyakan orang akan bilang saat ditanya ‘kenapa punya banyak pekerjaan?’ tapi Chris memang banting tulang karena keadaan. Ia butuh uang untuk makan, membayar sewa kost-an dan juga biaya kuliahnya. Kondisi finansial keluarganya meman
“Ya.” Aku menjawabnya dengan anggukan pula tanpa perlu merasa harus berpikir terlalu banyak. “Dalam mimpiku aku berada di dunia yang hanya bisa aku lihat sebagai warna putih. Aku merasa begitu kesepian dan hanya sendirian saja disana. Aku tidak bisa melihat ataupun mendengar apapun, lalu tiba-tiba aku mendengar suaramu bergema ditempat itu dan aku juga mendengarmu memanggil namaku, memohon padaku untuk segera bangun. Hanya saja dalam mimpiku, aku tidak bisa mengingat siapa diriku, dan aku tidak tahu siapa kau. Aku tidak bisa menjawabmu meski akum au, aku tidak bisa keluar dari tempat itu karena aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya melarikan diri dari sana,” jelasku panjang lebar.“Jadi bagaimana caramu bisa keluar dari sana? Bagaimana kau bisa terbangun dari mimpimu?” tanyanya penuh dengan semangat, nada yang penuh dengan rasa ingin tahu yang tulus itulah yang aku rindukan dari sosoknya. Kurasa kisahku yang bagi sebagian orang ini terdengar mustahil dan mengada-ada justru membuka s
Aku mengangkat kepalaku dari dadanya untuk menatap ia secara utuh, ekspresi rasa bersalah yang besar di wajahnya membuat hatiku sembilu. “Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri karena itu sama sekali bukan salahmu, Jarrel! Tidak ada yang menyalahkanmu atas apa yang terjadi. Aku pun tidak menyalahkanmu atas hal itu, jadi sebaliknya kau tidak melakukan tindakan tidak berguna itu. Kalau ada orang yang patut disalahkan maka kau bisa tunjuk aku, karena aku adalah biang keroknya. Aku seharusnya tidak membuatmu menunggu hingga tiga tahun lamanya. Seharusnya aku langsung bangun begitu lukaku sembuh. Dan kamu …” Air mata yang aku tahan akhirnya jatuh, mengalir deras melalui pipiku. “… kau tidak akan terluka kalau aku tidak membuatmu menunggu.”Pria itu berkedip, kekhawatiran merusak wajahnya, kesedihannya terpancar di matanya yang indah begitu ia melihatku menangis mewakilinya. Ia dengan cepat terangkat dari posisinya, tetapi pada saat yang sama dengan lembut membimbingku untuk duduk juga sehi
Aku diharuskan tinggal lebih lama di rumah sakit setelah aku bangun. Katanya aku perlu menjalani beberapa tes dan terapi fisik agar aku bisa mulai kembali beraktivitas normal. Seperti terapi bicara, bergerak dan berjalan-jalan. Keluargaku datang berkunjung setiap hari bergantian antara ibu dan Naya. Sejak permintaan maaf dari Ibu, hubungan kami mulai membaik dan tidak sedingin dulu. Beliau tampaknya telah benar-benar berubah dan menjadi sosok ibu yang sebenarnya. Aku bersyukur dengan perkembangan hubungan keluarga ini. Ah, selain mereka ada pula beberapa teman kerjaku yang mampir. Zayel juga sesekali mampir untuk membawakanku bunga dan buah-buahan segar sebagai buah tangan, Bu Soraya juga mengunjungiku sesering yang ia bisa dan anehnya ia selalu ditemani Chris. Aku mencium ada gelagat yang berbeda dari mereka berdua. Tapi aku memutuskan untuk tidak bertanya, setidaknya untuk sekarang. Diantara hilir mudiknya orang-orang, hanya Jarrel yang selalu bertahan disisiku.Ia tidak pernah men
Ketika aku pertama kali membuka mata, pandanganku agak mengabur. Aku tidak bisa melihat apapun dengan jelas untuk beberapa saat, dan yang bisa aku lihat hanyalah cahaya yang menyilaukan di sekitar. Tak jelas bentuknya, tak karuan seolah terlalu menstimulasi.“L—Leiya?”Jantungku mulai berdetak dengan panik ketika suara yang begitu familiar itu terdengar jelas ditelinga. Itu adalah suara yang selalu aku dengar setiap saat di ambang bawah sadarku. Itu adalah suara dari orang yang telah sabar menungguku. Aku mengerjapkan mata, sangat berharap penglihatanku yang berkabut segera hilang sehingga aku bisa melihat sosoknya dengan jelas. Kebahagiaan segera menerpaku ketika secara perlahan aku bisa melihatnya dengan jelas.Disanalah ia, pria berambut biru yang kukenal menatapku dengan kedua mata terbelalak lebar. Manik matanya berkilauan karena rasa tidak percaya, bibirnya yang terpatri sempurna terbuka dalam hembusan napas tanpa suara. Meskipun ekspresinya tercengang, tetapi ia masih sangat ta







