FAZER LOGINJarrel mungkin akan marah padaku karena aku baru saja menghancurkan ponselnya seperti ini. Aku menggeram sekali lagi bahkan sebelum aku bisa menyesali perbuatanku, bel pintu berbunyi nyaring. Aku mengedipkan mata dan menyadari bahwa itu adalah makanan yang aku tunggu. Seluruh kemungkinan aku kesampingkan sembari aku segera menyiapkan hati dan mengatur ekspresi wajah sebelum berjalan dengan agak tertatih ke arah pintu. Setidaknya aku tidak boleh terlihat seperti seorang wanita yang disetubuhi semalaman suntuk selama dua hari berturut-turut. Itu aib bagiku. Secara perlahan aku membuka pintu dan mendapati seorang pria yang tinggi badannya nyaris sama denganku. Matanya tampak seperti orang yang mengantuk, tetapi terlepas dari itu semua ia tersenyum sopan padaku dan terlihat malu-malu. Aku pikir ia adalah salah satu staff hotel, bila dilihat dari seragam yang dia kenakan. “Room service,” katanya dengan ramah pada wanita itu.Aku tersenyum pula padanya seraya membuka pintu lebar-lebar memp
Aku menyadari diriku tertidur ketika mendapati suasana disekitar sudah berubah lagi. Kurasa aku ketiduran karena tubuhku cukup kelelahan tetapi disaat yang sama aku mendapatkan kenyamanan. Aku tidak tahu tepatnya berapa lama aku tertidur pulas, tetapi ketika aku terbangun sekali lagi aku menyadari bahwa Jarrel sudah tidak berada disekitarku dan kehadirannya juga tidak terdeteksi berada di ruangan itu.Belajar dari pengalamanku sebelumnya, kali ini aku tidak langsung menapak lantai. Aku lebih memilih berguling ke samping dengan hati-hati untuk kemudian mengubah posisi menjadi duduk di sisi ranjang sambil melirik jam kecil yang berada di nakas dekat ranjang. Aku mendapati sudah pukul lima kurang sepuluh menit, dan secara tidak sadar aku mulai menghitung berapa lama tepatnya aku tertidur. Aku baru saja hendak mengalihkan pandanganku dari benda itu sebelum aku mendapati sesuatu yang menarik perhatian disebelahnya. Tepat di bawah jam weker terselip sebuah kertas kecil.Secara perlahan aku
“Ah! pinggangku sakit.” Adalah kalimat yang berulang kali aku rapalkan bak mantra sebagai bentuk dari mengeluarkan rasa frustasi yang ada. Ranjang yang tengah kutiduri adalah saksi bisu yang menyaksikan seluruh rangkaian peristiwa sehingga aku berada dititik ini. Aku sudah menduga sejak semula bahwa hal menyebalkan ini sudah pasti akan terjadi. Istilahnya belum pula aku beristirahat dengan benar, Jarrel malah menambah jumlah sesi bercinta kami hingga aku kehilangan hitungan lantaran digempur habis-habisan tanpa henti. Tentu saja rasa sakit yang aku rasakan pun terakumulasi lebih banyak lagi lagi. Namun aku tidak mengira bahwa rasanya akan jadi semenyiksa ini. Tapi perlu digarisbawahi bahwa bukan berarti aku menyesalinya, hanya saja rasa sisa-sisa dari pertempuran kami cukup bisa dikatakan membunuhku perlahan.Jarrel sebagai si pelaku, malah menyeringai sambil berbaring dengan nyaman di posisinya. Bajingan itu bahkan malah terkesan puas atas hasil perbuatannya dan tidak terlihat peduli
Memang tolol benar aku, jelas tantangan selalu bekerja pada Jarrel. Pria itu sudah pasti sekarang punya ambisi untuk memuaskanku lagi. Jiwa kompetitifnya pun akan ikut menyala otomatis selepas mendengar kalimat terakhir dariku tadi. Lihat saja kemilau dari dua bola matanya yang dipenuhi dengan idealisme yang berkilatan. Aku dengan mudah bisa menangkap ekspresinya yang keras dan kuat. Persona yang selalu lelaki itu pakai sehari-hari untuk bergaul di lingkungan sosial. Aku tanpa sadar membasahi bibirku sendiri ketika ada tensi yang mulai kuat di antara kami.“Oh… itulah yang memang sedari tadi ingin kudengar darimu, Yaya.”Aku yang sudah basah di bawah sana hanya bisa menantikan kegilaan pria itu lagi. Sebetulnya Jarrel tidak perlu pembuktian apapun, karena lelaki itu memang sudah sengklek sejak semula. Malah ini adalah moment dimana aku menabrak aturan dan nilai-nilai moralku sendiri. Membangkang dari pada sosok wanita konservatif yang klise dan membosankan dimata orang.Aku menonton b
Aku jadi penasaran tetapi tak bisa berpikir jernih karena setiap kali Jarrel menekan permukaan klitorisnya, maka gugur pula sisi kewarasan di dalam kepala. Yang tersisa hanya fokus pada geli-geli sedap yang dihantarkan oleh pria itu hingga menjalar sepanjang tulang belakang sebelum pecah di dalam otak.Hanya butuh waktu yang singkat untuk memicu madu di dalam tubuhku. Namun Jarrel selalu saja melahapnya dengan lumat cepat, tak bisa membiarkan mulutnya kosong dari jus cinta yang keluar dariku.Aku menggelinjang ketika Jarrel menyapu atas bawah, bolak-balik daging kecil kaya sel saraf yang kurasa sudah membengkak karena ulahnya. Sensasi luar biasa, bagai kebahagiaan yang tumpah ruah ke seluruh saluran dalam tubuhku. Aku cepat-cepat menangkup mulutku sendiri karena desahan yang keluar cukup memenuhi ambang batas kata ‘berisik’. Riskan terdengar oleh orang lain.Namun upayaku sia-sia, karena Jarrel baru saja mengarahkan jari tengah dan jari manisnya pada bukaan rekah di bawah sana, melesa
Mulut Jarrel terasa begitu hangat dan basah. Lidahnya yang bertekstur memutar-mutar area sekeliling puncak. Perlahan mendekat, lalu mendorong kecil untuk kemudian menarik dan menghisap. Mengembuskan desah rendah, aku memandangi Jarrel dengan celah di bibirnya. Alisnya saling dekat dan memunculkan kerut di kening. Pria itu menyeringai tipis sambil menjetik-jentik. Satu tangan berkelana di puncak yang lain, memilin lembut dengan ibu jari dan telunjuk.“Oh… Jarrel,” satu desah lolos di detik yang sama ketika pelupuk mataku terasa memberat. Aku membusungkan sedikit tubuhku seakan meminta Jarrel menelan semuanya.“Aku bisa berlama-lama disini, kalau itu yang kau mau,” sahut Jarrel sebelum melahap yang sebelah bergantian. Memanjakanku dengan kulum lezat dan pijat jemari. Terkadang ia menggigit main-main, menggesekan gigi pada area yang membuatku mengernyit dan merintih secara tertahan dalam kondisi telapak yang satu mendarat di belakang kepalanya, sementara yang lain menutup mata putus asa.







