Mag-log inAurora sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dengan fasilitas VVIP. Apalagi Leo adalah pemilik rumah sakit ini, tentu saja ia ingin yang terbaik untuk sang istri.“Gimana keadaan kamu, Sayang?” tanya Leo ingin memastikan jika istrinya dalam kondisi baik-baik saja.Dengan wajah pucat Aurora tersenyum, memancarkan Aurora keibuan yang disukai oleh Leo.“Aku baik-baik saja, Mas. Asal ada kamu di sini semuanya akan baik-baik, Mas. Kamu gak perlu khawatir dengan kondisiku,” jawab Aurora dengan lembut.Leo mengelus pipi Aurora yang terasa dingin. “Mas hanya ingin memastikan kamu gak kesakitan, Sayang. Sudah banyak rasa sakit yang kamu dapatkan. Perjuangan kamu sungguh luar biasa,” ujar Leo dengan tersenyum.Aurora menggenggam tangan Leo dengan erat. Ia bersyukur memiliki Leo di dalam hidupnya yang lebih mengutamakan dirinya.“Iya, Mas. Aku tahu. Aku sudah gak sabar bertemu dengan kedua putri kembar kita, Mas. Kok lama sekali diantar ke sini? Mereka baik-baik saja, kan?” tanya Aurora cemas ka
Lima tahun kemudian…. Kehidupan Aurora dan Leo sudah membaik, kedua pasangan itu bahkan terlihat sangat bahagia sekali. Apalagi Alvaro sudah semakin besar bahkan anak itu sudah bersekolah. Ia bertambah bahagia ketika sebentar lagi ia akan mempunyai adik. Ya, Aurora sedang hamil anak kedua setelah beberapa tahun memulihkan keadaannya. Sekarang ia sudah benar-benar sehat, bahkan kandungannya sudah memasuki usia sembilan bulan. Beberapa hari lagi Aurora akan operasi cesar. Sebenarnya Aurora ingin lahiran normal tetapi tidak diizinkan oleh Leo. Lebih baik cesar saja, kata suaminya itu. “Mama kapan adik bayi akan lahir?” tanya Alvaro mengelus perut Aurora yang sudah sangat membesar, karena kata dokter Aurora mengandung bayi kembar makanya besar perutnya melebihi orang hamil pada umumnya. “Seminggu lagi, Nak. Kamu sudah tidak sabar ya?” jawab Aurora sambil bertanya kepada sang anak yang tumbuh semakin tampan saja. Bahkan Aurora tidak menyangka jika anaknya sudah tumbuh secepat
Shopia dan Raja berkunjung di rumah Leo dan Aurora dengan membawa anak mereka. Keduanya datang untuk menjenguk Aurora.“Aurora gimana keadaan kamu sekarang? Aku bahagia sekali kamu sudah diperbolehkan pulang,” tanya Shopia sambil memeluk Aurora dengan rasa bahagia yang luar biasa karena sahabat sekaligus mama sambungnya itu sudah sehat setelah dirawat di rumah sakit karena kecelakaan.“Aku baik-baik saja, Shopia. Berkat doa kalian aku bisa sehat lagi,” sahut Aurora dengan tersenyum.Shopia melepaskan pelukannya, ia menatap Aurora dengan sendu. Wanita kuat seperti Aurora pantas bahagia, walaupun Aurora mama sambungnya ia akan tetap di pihak Aurora selagi wanita itu benar.Dan ia akan melawan mama kandungnya jika mamanya jahat.“Maafkan kesalahan mamaku ya, Aurora. Mamaku sudah menabrakmu dengan sengaja, dan sekarang mama sudah menerima ganjarannya,” ucap Shopia dengan sendu.Walaupun ia tidak ikut melakukan kejahatan seperti yang dilakukan mamanya, tetap saja Shopia merasa bersalah den
Aurora menyaksikan proses pemakaman Darma. Wanita itu sama sekali tidak menangis, ia hanya diam dan melihat bagaimana tanah itu mengubur seluruh tubuh papanya bersama peti di dalamnya.“Mas ayo pulang aku pusing,” ucap Aurora mengajak suaminya untuk pulang.Ia sudah tidak sanggup berada di pemakaman. Tubuhnya terasa sangat lemas, rasanya seperti mau pingsan.Leo dengan sigap menggendong istrinya, apalagi ia melihat wajah Aurora kembali pucat. Padahal sebelumnya wajah istrinya sudah tampak seperti biasa.“Iya, Sayang. Kita pulang sekarang ya,” sahut Leo dengan tegas.Aurora hanya diam di saat Leo menggendongnya, karena ia sudah tidak mampu untuk berjalan.Sebelum benar-benar jauh, Aurora menatap makam papanya yang sudah bertabur bunga.“Aku harap Papa jika papa sudah bertemu mama semoga papa meminta maaf langsung kepadanya,” gumam Aurora di dalam hati.Keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Aurora memejamkan matanya, hari ini sangat berat baginya, ia ingin beristirahat sejenak untuk meng
Selama seminggu pasca pemulihan di rumah sakit. Aurora terus tampak membaik, dan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun, seminggu sekali wanita itu masih harus kontrol untuk melihat bekas operasi yang ada di kepala wanita itu.“Mas nanti rambutku bakal lebat lagi gak ya?” tanya Aurora menatap sang suami, keduanya sudah berada di dalam kamar dengan Alvaro yang tidur di pangkuan Aurora dan tidak mau lepas dari sang mama sama sekali, mungkin karena sudah lama berpisah Alvaro tidak ingin jauh-jauh dari mamanya lagi.Leo yang mendengarnya tersenyum tipis. “Bisa, Sayang. Perlahan rambut kamu tumbuh lagi kok. Jangan khawatir ya. Tapi menurut Mas mau bagaimana pun kamu, tetap cantik di mata Mas, Sayang,” jawab Leo dengan jujur.Karena ia mencintai Aurora bukan karena kecantikan Aurora, tetapi karena hati wanita itu yang tulus kepadanya.Aurora tersenyum mendengarnya, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya terlebih wajahnya karena rayuan Leo yang mendebarkan dadanya.Ia membuang muka k
Leo menoleh ketika Aurora menunjuk ke arah seseorang yang duduk di atas kursi roda. Awalnya Leo tidak percaya, tapi setelah diperhatikan itu benar Darma—papa dari Aurora.“Kamu benar, Sayang. Itu Papa,” jawab Leo.Kenapa Darma bisa ada di sini? Pria itu terlihat sangat kurus dan pucat. Kenapa ia tidak tahu jika Darma dirawat di sini?Ke mana saja dirinya?“Kamu mau ketemu Papa, Sayang?” tanya Leo tak ingin egois jika sang istri ingin bertemu dengan Darma sekarang.Karena bagaimana pun Aurora adalah anak kandung Darma. Sejahat apa pun Darma, ia tetap ayah kandung Aurora.Aurora tampak ragu, tetapi ia sangat penasaran dengan kondisi papanya yang terlihat tidak baik-baik saja.“Ayo ke sana, Mas. Aku penasaran papa kenapa bisa di sini. Dan kalau sakit, papa sakit apa?” ucap Aurora dengan penuh keyakinan.Leo menuruti keinginan istrinya, ia mendorong kursi roda Aurora dengan perlahan menuju ke arah Darma. Yang terlihat melamun seorang diri.“Pa,” panggil Aurora dengan sedikit keras.Darma







