로그인Emma memberikan uang di hadapan Darma setelah mereka selesai bercinta.“Uang apa ini?” tanya Darma dengan ekspresi berpura-pura bingung.“Gak usah banyak tanya ambil saja!” sahut Emma dengan ketus.Wanita itu membenarkan pakaiannya yang masih terlihat berantakan, ia melirik ke arah Darma sekilas.Emma ingin melangkah pergi. Namun, tangannya dicekal pelan oleh Darma. Mata mereka bertemu pandang.“Terima kasih, Sayang. Kalau kamu butuh aku untuk memuaskanmu di atas ranjang panggil saja aku ya,” ucap Darma mengedipkan mata.Emma tak membalas ucapan Darma. Wanita itu langsung melenggang pergi dari hadapan Darma.Setelah pintu tertutup, Darma mengambil uang pemberian Emma di atas meja dan menciumnya diakhiri dengan tawa kebahagiaan karena mendapatkan uang cukup banyak dari wanita murahan itu.“Kalau begitu terus aku bisa kaya,” gumam Darma dengan bahagia.“Dapat enaknya sekaligus uang yang banyak. Hahaha… Wanita itu benar-benar menguntungkan sekali. Tidak menyesal jika aku harus bekerja sa
Aurora terkekeh mendengar perkataan suaminya, dari nadanya terdengar kecemburuan di sana. Alih-alih bukannya kesal, Aurora malah tertawa geli dan mencubit lengan suaminya. “Baru beberapa hari Alvaro hadir loh, Mas. Kamu sudah secemburu ini? Anak kita baru saja minum asi,” ucap Aurora setelah tawanya reda.Leo merengut. Namun, wajahnya sama sekali tidak pantas menunjukkan ekspresi manja seperti itu di hadapan istrinya. Apalagi jika diketahui orang luar, di mana citra yang ia bangun selama ini akan sirna jika orang lain mengetahui sisi lain dari dalam dirinya.“Kamu sudah gak sayang Mas lagi ya?” tanya Leo dengan sendu—ekspresinya dibuat sesedih mungkin.Aurora menghela napasnya, ia menatap suaminya dengan ekspresi datar. Kemarin anaknya di dalam kandungan ditunggu-tunggu kelahirannya. Sekarang sudah lahir, Leo cemburuan sekali.“Sayang, Mas. Tapi anak kita butuh asi loh.”Leo langsung tersenyum. “Iya, Sayang. Mas tahu kamu sayang sama Mas kok. Maaf ya sudah buat kamu kesal,” ujar Le
Shopia terkapar lemas di atas kasur setelah percintaan panasnya dengan Raja. Napasnya masih menderu, terasa panas.Bahkan dadanya masih naik turun, ia mencoba mengatur napasnya yang masih begitu berantakan.Rambutnya yang acak-acakan, keringat yang terasa lengket memperlihatkan kulit Shopia yang mengkilap.Begitu juga dengan Raja. Pria itu nampak puas dengan apa yang baru saja mereka lakukan, tak lama ia melirik ke arah istrinya.Raja tersenyum kecil melihat betapa seksinya sang istri.“Sayang,” panggil Raja tepat di telinga Shopia.“Hmmm…”Shopia hanya berdehem saja, ia masih kelelahan. Tenaganya terkuras habis, karena melayani nafsu suaminya.“Kamu seksi sekali,” bisik Raja.Tangan Raja bergerak ke kedua payudara Shopia dan meremasnya dengan lembut.Shopia langsung membuka matanya dan melotot ke arah sang suami.“Mas apa yang kamu lakukan? Singkirkan tangan kamu dari sana,” tanya Shopia sambil menyuruh sang suami menyingkir dari tubuhnya.Tetapi Raja sama sekali tidak bergeming, ia
Raja melihat sang istri murung setelah pulang dari rumah sakit sambil mengelus perutnya sendiri.“Sayang,” panggil Raja dengan pelan agar tidak mengagetkan Shopia.Tetapi percuma saja Shopia tetap tersentak mendengar suaranya.“Kenapa, Sayang? Kamu masih kepikiran soal kamu yang belum hamil sampai sekarang ya?” tanya Raja sambil mengelus rambut Shopia.Wajah Shopia semakin murung mendengar pertanyaan suaminya. Tak lama ia mengangguk, hatinya nyeri, bahkan matanya juga perih siap untuk menumpahkan lelehan panas itu.Ia tidak iri dengan Aurora yang sudah melahirkan. Namun, ada rasa sedih di hatinya ketika ia belum dikaruniai seorang anak.Apa karena dosa-dosanya yang terlalu banyak?“Sayang jangan banyak pikiran ya. Kata dokter kita sehat tinggal tunggu waktu saja kalau tidak kunjung hamil juga kita bisa program bayi tabung,” ucap Raja menyemangati Shopia.Shopia menghela napasnya dengan berat. Matanya bergerak menatap suaminya dengan dalam.“Jelas aku kepikiran, Mas. Kenapa sampai seka
Suara tangisan bayi terdengar nyaring memenuhi seisi ruangan. Aurora sudah berhasil melahirkan seorang anak berjenis kelamin laki-laki.Suaranya masih menggelegar, Aurora tampak lega mendengar tangisan tersebut. Rasa sakit yang ia rasakan saat kontraksi tadi sudah menghilang begitu saja, digantikan dengan rasa bahagia yang tak tergambarkan dengan apa pun.Leo menggendong anaknya, tatapannya penuh kelembutan. Tangannya hati-hati mengelus bagian paha anaknya.“Gantengnya Papa akhirnya lahir juga,” gumam Leo menyentuh pipi sang anak dengan lembut—takut menyakiti tubuh anaknya yang masih rapuh.Leo menatap sang anak tidak ada berkedip, ternyata seperti ini wajah sang anak. Tampan, dan mirip dengan dirinya juga Aurora.“Aku mau gendong, Mas,” pinta Aurora dengan suara yang masih lemah.Tenaganya belum pulih sepenuhnya, ia masih lemas. Tetapi Aurora sudah sangat ingin menggendong sang anak.“Iya Sayang sebentar,” balas Leo dengan lembut.Leo meletakkan anaknya di samping Aurora dengan hati-
Aurora terus merintih kesakitan, membuat Leo dan Shopia panik. Tetapi untungnya Leo bisa mengontrol dirinya, sebab dia adalah seorang dokter.“Kita ke rumah sakit sekarang ya, Sayang. Kamu tarik napas lalu hembuskan dengan perlahan,” ucap Leo dengan tenang—walaupun di dalam hatinya ia sudah merasa tidak karuan.Leo melihat ke arah Shopia. “Panggil Raja suruh siapkan mobil. Sepertinya Aurora mau melahirkan,” perintah Leo sambil menjelaskan kondisi sang istri kepada anaknya.“Iya, Pa,” sahut Shopia sambil mengangguk mengerti.Shopia langsung berlari mencari keberadaan suaminya.Sedangkan Leo menuntun Aurora dengan perlahan.“S-sakit banget, Mas.”Aurora memegang perutnya, keringat dingin muncul di dahinya, wajahnya pucat pasih. Ia mencoba mengatur napasnya, air matanya mengalir begitu saja. Ternyata sesakit ini melahirkan.Leo yang tidak tega dengan kondisi istrinya saat ini memilih untuk menggendong Aurora.Aurora mencengkeram lengan Leo bahkan menggigit pundak sang suami untuk meredak
Desahan Aurora memenuhi kamar, beriringan dengan gerakan Leo yang begitu cepat. Suara penyatuan mereka terdengar mengalun indah untuk melepas rasa rindu keduanya.Peluh membasahi tubuh keduanya, kamar yang tadinya rapi kini sudah berantakan, pakaian mereka berserakan di lantai. Bahkan AC di kamar
Malam ini Leo sama sekali tidak bisa tidur, ia menatap Emma. Berpikir, mencari jawaban yang terus berputar di otaknya.Tidak ada lagi perasaan yang tertinggal, semuanya terasa hambar.Apakah benar rasa cintanya sudah hilang?Dulu ia sangat mencintai Emma, saat mereka berpacaran dulu mereka juga san
Tubuh Aurora terkapar tidak berdaya di pelukan Leo setelah mereka selesai bercinta, rambutnya berantakan, mulutnya sedikit terbuka untuk mengatur napasnya yang memburu. “Nanti kita lanjutkan lagi. Sekarang benahi pakaianmu dulu,” ucap Leo mengusap dahi Aurora yang berkeringat. “Eugh…” Aurora mele
Sungguh Aurora merasa jantungnya meloncat dari tempatnya, ia terkejut bahkan telinganya sampai berdenging mendengar ajakan gila dari Leo. Bercinta di dalam mobil? Ini gila! Leo gila! Otak pria itu sepertinya bermasalah. “A-aku gak mau, Om.” Aurora menolaknya dengan cepat. Wajahnya pucat, ia mel







