Share

Bab. 6

Author: Layli Dinata
last update Last Updated: 2025-10-01 15:27:59

“Jadi total semuanya, 350 ribu rupiah, Mbak.” Pelayan restoran dengan name tag bertuliskan Sania menyerahkan struk ke Yara.

Yara mengangguk sambil menyeruput sisa jus jeruknya. “Boleh pakai kartu, kan?”

“Boleh.”

Yara mengeluarkan kartu debitnya. Sania langsung menggesekkan ke mesin EDC.

Beep. Gagal.

“Mbak, nggak bisa,” ucap Sania sambil menyerahkan kembali kartunya.

Yara menegakkan duduk, wajahnya memucat. “Kok bisa? Coba yang ini.” Ia buru-buru memberikan kartu lainnya.

Namun hasilnya tetap sama.

“Maaf, Mbak. Nggak bisa juga. Kalau bisa pakai cash aja, ya?”

Mampus!

Jantung Yara langsung berdegup kencang. Ia memejamkan mata sebentar, menahan panik. Papa keterlaluan banget! Apa emang maunya bikin aku sengsara begini?

Dengan wajah memelas, Yara kembali merogoh tas, mengeluarkan ponselnya. “Sebentar ya, Mbak. Aku telpon orang dulu.”

Ekspresi Sania jelas tak nyaman, seolah mencurigai Yara.

Tak ada satu pun teman yang mengangkat panggilan. Bahkan Arunika pun tak merespons.

“Ya Tuhan… orang-orang ke mana sih?” gerutunya, sambil mencoba lagi menghubungi Kaivan.

Sania melipat tangan di dada, menatap sinis. “Mbak, punya uang nggak sih? Atau… jangan-jangan ini akal-akalan Mbak aja?”

Mata Yara langsung membelalak. Rasa takut mulai menggerayapi. “Mbak, tolong tunggu sebentar, ya. Aku lagi usaha buat telpon dulu.”

Sania mendengus, lalu dengan nada meremehkan menirukan ucapan Yara, “Tolong tunggu sebentar ....”

Yara benar-benar ingin meledak. Dengan wajah merah padam, ia mencoba tetap tenang meski tatapan pengunjung restoran sudah tertuju padanya.

“Duh! Mereka semua ke mana, sih?! Kompak banget nggak ada yang angkat telpon!”

“Jadi gimana, Mbak? Punya uang apa enggak?”

Yara berdiri, menahan malu. “Mbak, sabar dikit ya, Mbak? Aku juga nggak bakal kabur,kok.”

“Tapi kerjaan saya banyak. Saya nggak harus nunggu—”

“Iya, Mbak, aku juga lagi usaha. Tolong tunggu sebentar aja.” Yara nyaris menangis, ia malu setengah mati, apa lagi tatapan para pengunjung lain yang tak menyenangkan. seolah tatapan itu seperti cibiran, ini trik kuno yang dilakukan para pengunjung yang tak kuat membayar.

“Apa jangan-jangan ini akal-akalan Mbak biar makan gratis? Saya akan panggilkan sat—”

“Aku enggak bohong. Tolong, saat mereka mengangkat, aku akan bayar semua, bahkan sama uang tip."

Suasana makin panas. Beberapa pengunjung mulai berbisik-bisik, membuat Yara ingin menghilang dari muka bumi. 

Tiba-tiba, sebuah suara berat terdengar.

“Ada apa ini?”

“Ini, Pak Mirza. Mbak ini nggak punya uang buat bayar,” adu Sania cepat begitu melihat manager restorannya datang.

Pria tampan dengan kemeja rapi itu menoleh, tatapannya jatuh pada Yara. Seketika wajah Yara memucat.

“Bukan gitu, Mas… eh, Pak. Aku lagi coba hubungi teman. Ternyata rekeningku dibekukan. Tapi Mbak ini nyolot, nggak sabaran,” jelas Yara dengan suara gemetar, mencoba bertahan.

Mirza baru hendak bicara ketika suara bariton menggelegar, membuat semua kepala menoleh.

“Yara?”

Wajah Yara langsung berubah lega. Ia buru-buru menghampiri sumber suara. “Om! Untung ada Om.”

Elvaro mengernyit, pandangannya serius. “Ada apa?”

“Papa bekuin semua rekeningku. Aku nggak ada cash, telepon teman juga nggak ada yang angkat…” bisik Yara, suaranya penuh malu. Tanpa sadar, jemari mungilnya sudah menggenggam lengan Elvaro erat.

“Berapa semuanya?” tanya Elvaro dingin.

“Tiga ratus lima puluh ribu, Pak,” jawab Sania cepat.

Elvaro mengeluarkan dompetnya, menyodorkan uang tunai empat ratus ribu. “Sisanya ambil aja.”

Sania menunduk cepat. “Baik, Pak. Terima kasih.”

Mirza ikut menunduk sopan. “Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Pak.”

Elvaro hanya mengangguk. “Nggak apa. Ayo, Yar.”

Yara mengikuti langkah Elvaro. Namun sebelum keluar, ia sempat menoleh dan mencebik ke arah Sania. Pelayan itu menunduk, jelas gentar setelah tatapan tegas Mirza.

“Lain kali jangan begitu lagi,” tegur Mirza singkat, lalu berlalu.

---

Di dalam mobil, Yara masih menunduk, sungkan. “Makasih, ya, Om…”

Elvaro menyalakan mesin mobil, menatap lurus ke depan. “It’s okay.”

“Oh iya, kok Om bisa ada di sana?”

“Saya tadi ketemu klien. Bahas rancangan,” jawabnya santai.

Yara terdiam sejenak, lalu memberanikan diri. “Om… Om ada kenalan nggak yang bisa kasih lowongan kerja buat aku?”

Elvaro langsung menoleh cepat, keningnya berkerut. “Kamu mau kerja?”

Yara mengangguk mantap. “Ya, Om. Aku harus bisa hidupin diri sendiri. Papa udah keterlaluan—rekeningku dibekuin semua.”

Elvaro menghela napas panjang. “Sepertinya kamu memang harus berdamai dengan papa kamu.”

“Om, aku capek dianggap beban. Aku mau cari uang sendiri. Apapun kerjaannya, aku mau.”

“Untuk saat ini belum ada. Tapi nanti saya coba tanyakan,” ucap Elvaro tenang.

Senyum Yara meluruh. Ada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.

Elvaro melirik sebentar, lalu menambahkan, “Untuk sementara, biar saya bantu kamu dulu.”

Mata Yara langsung berbinar. “Om baik banget… Makasih. Kalau nanti aku udah punya uang, aku ganti.”

Elvaro terkekeh pelan. “Nggak perlu, Yara.”

Spontan, Yara merangkul lengan pria itu, wajahnya penuh syukur. “Untung ada Om tadi. Kalau nggak, aku bisa malu banget.”

Elvaro cepat-cepat berdeham, pandangannya kaku ke depan. Yara mengangkat wajah, menatap sekilas guratan gugup yang muncul di wajah dewasa itu. Ia langsung nyengir jahil, lalu perlahan melepas pelukan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 141

    Arunika duduk kaku di kursi besi di sisi ranjang. Tubuhnya terbungkus baju steril yang terasa dingin, jauh lebih dingin dari dadanya yang sesak. Tangannya menggenggam tangan Kaivan—dingin, lemah, penuh selang infus dan alat yang tak pernah ia bayangkan akan menempel di tubuh lelaki yang selalu tampak kuat itu.Air matanya menetes satu per satu, jatuh di punggung tangan Kaivan.“Bangun ya,” bisiknya, suaranya pecah, hampir tak bersuara.“Aku capek sendirian.”Jarinya mengerat, seolah takut kalau genggaman itu terlepas, Kaivan akan pergi untuk selamanya. Dada Arunika naik turun tak beraturan. Ia menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan itu.“Kamu janji,” lanjutnya lirih, ada getir yang menyayat di tiap kata.“Kamu bilang nggak bakal ninggalin aku. Kamu bilang aku nggak perlu kuat sendirian.”Isakannya tertahan, bahunya bergetar. Ia mengusap pipinya asal, tapi air mata terus jatuh, tak peduli.“Aku takut, Kaivan.” Arunika menyeka air matanya sebentar.“Aku beneran takut.”Matanya menata

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 140

    Mereka membawa kantong-kantong makanan itu keluar dari restoran. Elvaro membuka bagasi, satu per satu memasukkan bungkusan dengan rapi, memastikan tidak ada yang tumpah. Yara ikut membantu sebisanya, meski Elvaro beberapa kali menahan pergelangan tangannya, menyuruhnya pelan-pelan saja. Setelah semuanya beres, Yara lebih dulu masuk ke dalam mobil, menyandarkan punggung sambil menghela napas puas.Begitu mobil melaju, Yara meraih ponselnya. Jarum jam sudah bergeser cukup jauh dari siang, pikirannya langsung tertuju pada Arunika. Jempolnya menekan nama itu, menunggu nada sambung dengan perasaan sedikit cemas.“Runi,” sapa Yara begitu panggilan terangkat. “Kamu di mana? Kapan pulang? Mau makan apa? Aku sama Papa baru habis beli makanan.”Di seberang sana, suara Arunika terdengar pelan, jauh dari ceria yang biasanya. “Aku masih di kantor Kaivan, Ya. Kayaknya aku makan di luar aja. Nggak usah siapin apa-apa, ya.”Nada itu, lesu, datar, dan berusaha terdengar baik-baik saja, langsung membu

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 139

    Mereka menunggu pesanan datang. Di antara suara piring beradu dan obrolan pengunjung lain, suasana meja mereka perlahan mengendap, tidak lagi riuh seperti beberapa menit lalu.Yara memainkan ujung sendoknya, lalu mengangkat wajah.“Mas,” panggil Yara, suaranya pelan, ragu. “Kaivan gimana?”Elvaro menarik napas panjang sebelum menjawab. Tatapannya teralihkan sejenak ke meja, lalu kembali pada Yara.“Belum sadar,” katanya jujur. “Masih di ICU.”Gerakan Yara terhenti. Tangannya yang tadi memegang ponsel perlahan turun. Ia menunduk, bahunya sedikit merosot.“Oh….” Hanya itu yang keluar, tapi nadanya penuh dengan rasa sesak.Elvaro segera meraih tangan Yara, menggenggamnya erat di atas meja. Hangat, menenangkan.Yara menautkan jari-jarinya dengan jari Elvaro, matanya mulai berkaca-kaca.“Aku kasihan sama Arunika, Mas,” ucapnya lirih. “Dia kelihatan kuat, tapi aku tahu, hatinya pasti hancur.”Elvaro mengangguk pelan. Matanya ikut memerah, meski ia berusaha tetap tenang.“Mas juga ngerasain

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 138

    Yara memilih beberapa buah apel, pir, dan anggur, lalu meletakkannya ke dalam troli. Pikirannya tertuju pada Arunika dan Kaivan. Ia ingin memastikan asupan buah cukup untuk beberapa hari ke depan. Tangannya baru hendak meraih jeruk ketika sebuah suara memanggil namanya.“Yara?”Tubuh Yara menegang seketika. Ia menoleh sekilas, lalu refleks mengalihkan pandangan, berharap suara itu hanya salah dengar. Namun langkah kaki yang mendekat membuatnya mendesah kesal. Lionel—mantan pacarnya, berdiri tak jauh, menatapnya seolah waktu tak pernah benar-benar berlalu.“Yara,” ulang Lionel, lebih pelan.Yara menarik napas, lalu berbalik. Wajahnya dingin, datar. “Ada apa?”Lionel menelan ludah. “Kamu beneran nikah?”“Iya.” Jawaban Yara mantap, tanpa ragu, tanpa senyum. “Aku sudah menikah.”Nada suaranya jelas tidak memberi celah untuk percakapan panjang. Lionel menatapnya nanar, seolah berharap menemukan retakan kecil, tanda keraguan. Namun yang ia temui hanya ketegasan. Penyesalan terpancar jelas d

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 137

    Pagi itu rumah terasa lebih hening dari biasanya. Sinar matahari masuk lewat jendela dapur, memantul di meja makan yang sudah tertata rapi. Yara berdiri di depan kompor bersama Bi Darmi, menyiapkan sarapan sederhana, sup hangat, telur dadar, dan teh manis. Tangannya bergerak pelan, sesekali pikirannya melayang ke kamar rumah sakit.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Elvaro turun dengan setelan kerja rapi, jas disampirkan di lengan. Wajahnya terlihat tenang, meski garis lelah masih tertinggal samar. Ia menghampiri Yara, mengecup puncak kepala istrinya singkat sebelum duduk.Arunika munculjuga dari lantai atas, kamarnya. Pagi ini ia sudah rapi, kemeja sederhana, rambut terikat. Tidak ada tangis, tidak ada wajah kusut. Namun, ketenangannya justru terasa berbeda. Terlalu diam. Terlalu menahan.“Runi mau ke rumah sakit?” tanya Yara lembut, sembari menuang teh ke cangkir.Arunika mengangguk kecil. “Iya, Yar, eh Ma. Sebentar lagi.”Elvaro menatap putrinya beberapa de

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 136

    Yara baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih setengah basah, terurai di bahu, aroma sabun lembut memenuhi kamar. Ia mengenakan piyama longgar, langkahnya pelan menuju ranjang. Dari balik pintu, terdengar suara langkah kaki mendekat.Elvaro masuk ke kamar setelah dari lantai bawah. Jas rumah sakitnya sudah berganti kaus sederhana, raut wajahnya lelah, tapi setidaknya tidak setegang beberapa jam lalu.Yara menoleh. Sorot matanya langsung mencari wajah suaminya, seolah ingin membaca kabar dari sana.“Runi gimana?” tanyanya pelan, suaranya penuh kehati-hatian.Elvaro mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas pendek sebelum menjawab. “Baru saja tidur. Tadi capek banget, nangis terus. Akhirnya ketiduran.”Yara menghembuskan napas lega. Bahunya yang sejak tadi terasa kaku perlahan mengendur. “Syukurlah,” gumamnya lirih. “Dari pagi aku takut dia nggak berhenti nangis.”Elvaro mengangguk. Tatapannya kosong sesaat, lalu kembali fokus pada Yara. “Aku juga. Aku nggak tega liha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status