Share

Ban. 134

Penulis: Layli Dinata
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 22:34:20

Sejak kejadian itu, rumah Elvaro berubah sunyi dengan cara yang berbeda. Bukan sunyi karena kosong, melainkan sunyi karena penuh kecemasan.

Yara kini tinggal di rumah Elvaro. Bukan di apartemen mereka. Keputusan itu diambil tanpa banyak diskusi, terasa paling masuk akal. Arunika sedang kacau, dan Elvaro tak mungkin meninggalkan putrinya sendirian menghadapi kenyataan Kaivan yang terbaring koma di ruang ICU.

Pagi itu, Yara berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Tangannya menggenggam cangkir teh hangat yang sejak tadi tak tersentuh. Pandangannya tertuju pada Arunika.

Putri Elvaro itu duduk di sofa, memeluk lututnya sendiri. Rambutnya dibiarkan tergerai tak terurus. Matanya sembab, merah, kosong. Sejak bangun tidur, Arunika nyaris tak berkata apa-apa. Tangisnya datang dan pergi tanpa aba-aba, kadang terisak pelan, kadang hanya air mata yang mengalir diam-diam, seperti tubuhnya sudah terlalu lelah untuk bersuara.

Yara menelan napas. Ia bingung. Ia ingin mendekat, ingin memeluk, ingin men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 137

    Pagi itu rumah terasa lebih hening dari biasanya. Sinar matahari masuk lewat jendela dapur, memantul di meja makan yang sudah tertata rapi. Yara berdiri di depan kompor bersama Bi Darmi, menyiapkan sarapan sederhana, sup hangat, telur dadar, dan teh manis. Tangannya bergerak pelan, sesekali pikirannya melayang ke kamar rumah sakit.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Elvaro turun dengan setelan kerja rapi, jas disampirkan di lengan. Wajahnya terlihat tenang, meski garis lelah masih tertinggal samar. Ia menghampiri Yara, mengecup puncak kepala istrinya singkat sebelum duduk.Arunika munculjuga dari lantai atas, kamarnya. Pagi ini ia sudah rapi, kemeja sederhana, rambut terikat. Tidak ada tangis, tidak ada wajah kusut. Namun, ketenangannya justru terasa berbeda. Terlalu diam. Terlalu menahan.“Runi mau ke rumah sakit?” tanya Yara lembut, sembari menuang teh ke cangkir.Arunika mengangguk kecil. “Iya, Yar, eh Ma. Sebentar lagi.”Elvaro menatap putrinya beberapa de

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 136

    Yara baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih setengah basah, terurai di bahu, aroma sabun lembut memenuhi kamar. Ia mengenakan piyama longgar, langkahnya pelan menuju ranjang. Dari balik pintu, terdengar suara langkah kaki mendekat.Elvaro masuk ke kamar setelah dari lantai bawah. Jas rumah sakitnya sudah berganti kaus sederhana, raut wajahnya lelah, tapi setidaknya tidak setegang beberapa jam lalu.Yara menoleh. Sorot matanya langsung mencari wajah suaminya, seolah ingin membaca kabar dari sana.“Runi gimana?” tanyanya pelan, suaranya penuh kehati-hatian.Elvaro mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas pendek sebelum menjawab. “Baru saja tidur. Tadi capek banget, nangis terus. Akhirnya ketiduran.”Yara menghembuskan napas lega. Bahunya yang sejak tadi terasa kaku perlahan mengendur. “Syukurlah,” gumamnya lirih. “Dari pagi aku takut dia nggak berhenti nangis.”Elvaro mengangguk. Tatapannya kosong sesaat, lalu kembali fokus pada Yara. “Aku juga. Aku nggak tega liha

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 135

    Arunika berdiri mematung di balik kaca pembatas ICU.Matanya tak lepas dari tubuh Kaivan yang terbaring tak berdaya. Selang-selang medis, monitor yang berbunyi pelan, wajah pucat yang begitu dikenalnya, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung selesai. Dadanya sesak. Air mata kembali jatuh, kali ini tanpa bisa ia tahan.Tangannya terangkat, menempel di kaca.“Sayang,” lirih Arunika, suaranya bergetar, hampir tak keluar. “Bangun, ya.”Matanya menyapu wajah Kaivan perlahan, seolah menghafal setiap garisnya. Rahangnya mengeras, bibirnya bergetar, lalu isak itu pecah.‘Kalau kamu bangun, Aku janji, kita nikah.’Janji itu hanya terucap dalam hati, tapi rasanya seperti sumpah paling sungguh-sungguh yang pernah Arinika buat seumur hidupnya.Di belakangnya, Yara berdiri tanpa suara. Tangannya mengusap punggung Arunika dengan lembut, gerakan pelan, penuh kesabaran. Ia tak mengatakan apa pun. Ia tahu, kata-kata sekarang hanya akan terasa kosong. Yang Arunika butuhkan bukan nasihat,

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Ban. 134

    Sejak kejadian itu, rumah Elvaro berubah sunyi dengan cara yang berbeda. Bukan sunyi karena kosong, melainkan sunyi karena penuh kecemasan.Yara kini tinggal di rumah Elvaro. Bukan di apartemen mereka. Keputusan itu diambil tanpa banyak diskusi, terasa paling masuk akal. Arunika sedang kacau, dan Elvaro tak mungkin meninggalkan putrinya sendirian menghadapi kenyataan Kaivan yang terbaring koma di ruang ICU.Pagi itu, Yara berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Tangannya menggenggam cangkir teh hangat yang sejak tadi tak tersentuh. Pandangannya tertuju pada Arunika.Putri Elvaro itu duduk di sofa, memeluk lututnya sendiri. Rambutnya dibiarkan tergerai tak terurus. Matanya sembab, merah, kosong. Sejak bangun tidur, Arunika nyaris tak berkata apa-apa. Tangisnya datang dan pergi tanpa aba-aba, kadang terisak pelan, kadang hanya air mata yang mengalir diam-diam, seperti tubuhnya sudah terlalu lelah untuk bersuara.Yara menelan napas. Ia bingung. Ia ingin mendekat, ingin memeluk, ingin men

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 133

    Arunika terbaring dengan infus di punggung tangannya. Kesadarannya belum sepenuhnya utuh, kepalanya masih terasa berat, namun suara-suara di sekitarnya mulai kembali jelas. Bau antiseptik menusuk hidungnya, lampu putih di atas ranjang membuat matanya perih.“Papa….”Suara itu lirih, hampir tak terdengar.Elvaro yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang langsung mendekat. Ia menggenggam tangan Arunika dengan hati-hati, seolah takut putrinya akan menghilang jika disentuh terlalu kuat.“Papa di sini, Runi,” jawabnya lembut, meski suaranya bergetar.Arunika mengedip pelan. Matanya mencari-cari, gelisah.“Kaivan….” Arunika mengerjab beberapa kali, napasnya tersendat. “Kaivan mana, Pa?”Elvaro terdiam.Shandy yang berdiri sedikit menjauh ikut menunduk. Tak ada yang langsung menjawab. Keheningan itu justru membuat dada Arunika semakin sesak.“Pa?” ulang Arunika, suaranya mulai gemetar. “Kaivan kenapa?”Elvaro menelan ludah. Tangannya mengusap punggung tangan Arunika perlahan, mencoba menenangk

  • Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab. 132

    Ketukan itu terdengar di pintu kamar pengantin.Tidak keras, tapi cukup tegas untuk memecah keheningan malam.Tok. Tok. Tok.Elvaro yang tengah berdiri dekat Yara refleks menoleh. Alisnya mengernyit tipis. Malam sudah larut, resepsi baru saja usai. Ia menarik napas pelan, lalu melangkah ke pintu.Begitu pintu dibuka, Deva berdiri di sana.Wajah pria itu tegang. Tidak panik berlebihan, tapi jelas ada sesuatu yang tidak beres. Tangannya terlipat di depan tubuh, sikapnya sopan seperti biasa.“Maaf, El,” ucap Deva lebih dulu, suaranya rendah. “Saya tahu ini bukan waktu yang tepat.”Jantung Elvaro langsung berdegup tidak nyaman.“Ada apa, Bu Deva?” tanyanya tenang, meski instingnya sudah memberi peringatan.Deva menelan ludah, lalu menatap Elvaro lurus-lurus.“Barusan saya dapat kabar, mobil Kaivan mengalami kecelakaan.”Dunia seolah berhenti sepersekian detik.Elvaro mencengkeram daun pintu. “Kecelakaan?” ulangnya pelan.“Iya,” jawab Deva cepat. “Kejadiannya tidak jauh dari pusat kota. Me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status