LOGINJam di dinding menunjukkan pukul 10.00 pagi. Waktu yang disepakati antara user dan pelamar kerja melakukan interview hari ini. Ruangan mendadak terasa sedingin es saat mengetahui jika orang yang disarankan pacarnya ternyata adalah laki-laki yang paling ingin dihindari selama ini.
Tidak ada alasan khusus membencinya, lebih tepatnya dia hanya tidak menyukai apa pun mengenai pria itu. Bahkan dia sangat membenci suaranya yang masih terngiang jelas beberapa waktu lalu saat dia pergi ke luar negeri. Dan dari tatapan matanya itu dia juga bisa menangkap bahwa tidak hanya dirinya yang merasakan hal sama. Pria itu juga sebenarnya tak menginginkan pertemuan ini.
Alfa yang merasakan hawa dingin menyiksa itu jadi merasa kikuk. Basa-basi dia menawarkan minuman, namun ditolak dengan halus oleh pria yang bernama Rudra. Dia tak tahu apa yang membuat mood bosnya mendadak buruk, padahal jika dilihat dari biografinya bisa dibilang tidak bermasalah dengan pencapaian kerja yang bagus. Apakah kali ini keputusannya salah? Huwaaaa… rasanya ingin menangis saja.
Walau canggung, tanpa mengurangi sikap profesionalnya Morgan mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar pengalaman kerja Rudra sebelumnya. Hingga 30 menit berlalu dia sama sekali tak ada celah untuk menemukan kelemahan ataupun kesalahan yang bisa dijadikan alasan untuk menolaknya. Hatinya mulai bimbang, apakah akan menerimanya dengan melihat kenyataan bahwa pria itu bisa bertemu kekasihnya setiap hari, atau melewatkan karyawan berbakat sepertinya jatuh ke perusahaan lain. Ditambah saat ini perusahaannya membutuhkan orang baru secepatnya.
“Tuk… tuk… tuk!” Alfa sudah hafal betul dengan suara ketukan pulpen di meja itu menandakan kebimbangan hati atasannya.
“Kapan bisa mulai bekerja?” Akhirnya pertanyaan itu muncul ditengah keraguan Rudra yang mengira bahwa interview kali ini bisa saja gagal karena dipengaruhi perasaan pribadi.
“Tolong berikan saya waktu 2 minggu untuk membereskan pekerjaan di tempat kerja saya sebelumnya.”
“Hmmm… Ok, silakan datang 2 minggu lagi.”
“Baik, terima kasih atas keputusannya, Pak.” Morgan hanya mengangguk pelan.
Alfa membereskan berkas lamaran kerja saat bosnya meninggalkan ruang interview tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada calon karyawan barunya.
“Selamat bergabung di perusahaan ini ya, Pak.” Alfa mengulurkan tangan pada pria yang tak terlihat kesal dengan sikap atasannya itu.
“Terima kasih, Pak,” balas Rudra seraya tersenyum tipis.
“Mari, Pak saya antar ke luar.”
“Tidak perlu, Pak. Saya ingin menyapa bu Purple terlebih dulu.”
“Oh, baik, Pak. Silakan.” Keduanya meninggalkan ruangan bercat putih itu dan menuju arah yang berbeda.
“Tuk… tuk!” Purple mendongakkan kepala saat mendengar ketukan kecil di mejanya.
“Apa kamu lagi sibuk?” Purple menekan tombol save sebelum menutup layar kerjanya.
“Nggak begitu. Apa interview-nya udah selesai?”
“Udah.”
“Gimana hasilnya?”
Seraya membungkukkan badan, Rudra berbisik “ Bulan depan aku mulai kerja di sini.”
“Serius?” Mata Purple berbinar mendengar kabar baik itu yang membuat Rudra tanpa sadar juga ikut tersenyum.
“Kamu harus traktir aku kopi, ya!” ancam Purple.
“Ga sekalian pizza juga?”
“Ide bagus.”
“Ye… ngelunjak.” Keduanya tertawa bersamaan. Sama sekali tak memikirkan perasaan pria yang sedang mengawasi keduanya dengan hati membara. Yang sama sekali tak mengalihkan pandangan matanya sedetik pun, mengamati setiap gerakan tubuh mereka. Dan sesuai dugaannya, status sahabat itu hanya dalih untuk menutupi perasaan sesungguhnya pria itu. Siapapun yang melihatnya pasti bisa menebak jika sorot matanya penuh dengan harapan bahwa cintanya akan berbalas.
“Mau ke mana sekarang?”
“Balik kantor. Masih banyak yang mesti aku beresin.”
“Ya udah ayo aku anterin sampai depan.”
“Ga sampai kantor sekalian?” Tatapan tajam mata Purple membuat Rudra tertawa kembali. Keduanya berjalan keluar meninggalkan ruangan.
Sudah 10 menit berlalu, tapi Morgan belum melihat pacarnya kembali ke meja kerja. Sungguh dia sangat penasaran kenapa pacarnya tak kunjung kembali. Saat berniat untuk menuju parkiran derit pintu masuk menahan langkahnya.
Seraya mengelap keringat di pelipis, wanita itu menenteng dua gelas es kopi yang dibeli di outlet depan kantor. Outlet yang baru buka dua hari lalu itu menawarkan beli satu gratis satu. Dia menaruh satu gelas di atas mejanya lalu membawa gelas satunya ke ruangan lain.
Tahu wanita itu menuju ruangannya, Morgan pura-pura fokus melihat dokumen di atas mejanya yang sudah dibuka sejak tadi tapi sama sekali tak disentuhnya.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan permisi, wanita itu berjalan menuju meja kerja Morgan.
“Permisi, Pak. Saya beli kopi di outlet depan kebetulan ada promo. Apa Bapak ingin mencobanya?” Masih merasa kesal dengan sikap perhatian pacarnya pada pria lain, dia menjawab sekenanya.
“Nggak usah, makasih.” Pria itu menjawabnya tanpa menatap mata si pemberi.
“Baik, Pak saya kasih teman lain saja kalau begitu. Permisi.”
“Buat saya aja, Bu kebetulan saya sedang kehausan.”
Klik! Klik! Klik! Klik! Suara mouse yang ditekan dengan keras membuat Purple mengarahkan matanya pada pria yang tampak tidak baik-baik saja itu.
“Bapak mau pergi ke mana?” tanya Alfa yang melihat atasannya tiba-tiba keluar dari ruangan dengan rasa kesal.
“Pulang!”
Brak! Suara pintu ditutup dengan keras menjadi pusat perhatian karyawan yang sedang serius bekerja.
“Pulang?” Alfa dan Purple saling bertatapan tak percaya melihat manusia yang gila kerja itu tiba-tiba pulang sebelum jam istirahat.
“Bentar, Bos. Tunggu!” setengah berlari asisten pribadinya itu berusaha mengejar langkah panjang bosnya.
“Bu, makasih ya kopinya,” ucap Alfa sebelum meninggalkan Purple di ruangan besar itu sendirian.
Drrtt… drrttt… drrrttt.
Pesan kedua yang diabaikan pemiliknya walau gawai dalam genggaman.
“Apa kamu sakit? Tumben pulang jam segini?” Entah kenapa pertanyaan itu menambah rasa kesalnya saja. Dia menekan tombol off di sisi kanan gawainya hingga layar berubah jadi gelap dan dia tak dapat membaca pesan yang terus-terusan masuk.
Demi mengurangi rasa kesalnya, sesampainya di dalam rumah dia langsung merebahkan diri di atas sofa ruang tamu dan menyuruh Alfa untuk kembali ke kantor serta tidak menganggunya sementara waktu.
20 menit kemudian
“Ke… kenapa kamu ada di sini?” Mata yang baru terpejam beberapa menit itu terbuka saat mencium wangi tubuh yang sangat dia kenal siapa pemiliknya.
Wanita itu tak menjawab pertanyaannya dan justru meletakkan telapak tangan kanannya ke atas dahi pria yang setengah sadar itu.
“Aku khawatir kamu sakit lagi, tapi sepertinya kamu tidak demam.” Entah kenapa perhatian kecil itu membuat hatinya yang tadi sangat kesal dan terasa panas berubah jadi lebih tenang.
“Apa ada rasa sakit di bagian lain?” Morgan dapat melihat sorot mata penuh kecemasan itu penuh dengan ketulusan.
Dia menarik tangan mungil pacarnya yang ada di dahinya ke arah dada.
“Yang sakit di sini.”
“Hmmm….? Kenapa? Kamu lagi kesal?”
“Apakah tidak bisa jika perhatianmu hanya untukku saja?”
“Hmmm?” Purple benar-benar merasa kebingungan.
“Jika ingin memerhatikan pria lain tidak bisakah kamu memikirkan perasaanku sedikit saja?”
“Memerhatikan pria lain? Maksud kamu Alfa? Perkara kopi tadi?”
“Jika orang itu Alfa aku tak akan merasa sekesal ini.” Purple mulai kilas balik kejadian tadi pagi hingga siang ini.
“Ahaaa…. Kamu kesal karena Rudra?” Morgan memalingkan wajah.
“Kamu cemburu?” Purple menangkap wajah kesal pacarnya yang berusaha ingin disembunyikan.
“Serius kamu cemburu? Hmmm?”
“Udah jam 1 kamu ga balik kantor?” tanya Morgan berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Memang kalau aku telat siapa yang berani memarahiku?”
“Apa kamu pikir aku akan mengampuni walaupun kamu pacarku?”
“Benarkah kamu berani menghukumku?” Jarinya menjalar menuju ke arah pinggang membuat pemiliknya tak bisa menahan geli.
“Berhenti nggak?”
“Nggak! Weeekkk….”
“Benar-benar kamu, ya.” Morgan menghentikan tangan nakal Purple dan menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
“Aku benar-benar akan menghukummu tanpa ampun.” Perlahan Purple memejamkan matanya tanpa sadar.
Cttaaakk! Rasa sakit di dahinya membuat Purple langsung membuka matanya.
“Apa yang sedang kamu bayangkan?” tanya Morgan balik menggoda pacarnya.
“Nggak ada.”
“Bohong…” Purple memalingkan wajah menutupi rasa malu. Tapi justru saat itulah Morgan menarik dagu wanita itu dan langsung mendaratkan ciuman ke bibir mungil yang membuatnya gregetan sejak tadi.
Ternyata hatinya benar-benar selemah ini terhadap wanita yang dicintainya. Semarah apapun dia wanita ini sangat bisa meluluhkannya. Jadi bagaimana bisa dia hidup tanpanya?
Jam di dinding menunjukkan pukul 10.00 pagi. Waktu yang disepakati antara user dan pelamar kerja melakukan interview hari ini. Ruangan mendadak terasa sedingin es saat mengetahui jika orang yang disarankan pacarnya ternyata adalah laki-laki yang paling ingin dihindari selama ini.Tidak ada alasan khusus membencinya, lebih tepatnya dia hanya tidak menyukai apa pun mengenai pria itu. Bahkan dia sangat membenci suaranya yang masih terngiang jelas beberapa waktu lalu saat dia pergi ke luar negeri. Dan dari tatapan matanya itu dia juga bisa menangkap bahwa tidak hanya dirinya yang merasakan hal sama. Pria itu juga sebenarnya tak menginginkan pertemuan ini.Alfa yang merasakan hawa dingin menyiksa itu jadi merasa kikuk. Basa-basi dia menawarkan minuman, namun ditolak dengan halus oleh pria yang bernama Rudra. Dia tak tahu apa yang membuat mood bosnya mendadak buruk, padahal jika dilihat dari biografinya bisa dibilang tidak bermasalah dengan pencapaian kerja yang bagus. Apakah kali ini keput
Chapter 29“Selamat pagi,” sapa seorang pria jangkung yang terlihat lebih menawan dengan setelan jas abu-abunya pada seluruh karyawan yang sudah berkumpul di ruang meeting.Serentak para karyawan menjawab sapaan sang atasan yang hari ini tampak lebih sumringah dan berwajah cerah. Sedikit mengubah suasana ruang meeting yang semula tegang menjadi lebih santai.“Tolong berikan laporan per divisi masing-masing,” perintah Morgan setelah duduk di bangku utama yang menjadi pusat perhatian peserta meeting.Satu per satu perwakilan divisi mulai berbicara. Mulai dari outstanding piutang, pembelian yang belum terbayar, penjualan yang terus menurun. Hampir tidak ada laporan yang baik.“Apa ada ide dari tim marketing untuk kondisi yang buruk ini?”Glek! Suara menelan ludah dari kepala tim marketing yang baru saja dipanggil terdengar memenuhi ruangan yang mulai hening.“Kami sudah melakukan promosi gencar-gencaran di outlet namun tidak berdampak signifikan. Saat ini kami sedang fokus membangun str
“Udah tidur?” Sebuah pesan singkat muncul di notifikasi W******p wanita yang baru saja merebahkan diri dan berniat tidur.“Belum.”“Coba lihat ke jendela.” Setengah berlari Purple menghampiri jendela, lalu membuka gorden berwarna gold.Mata yang semula terasa kantuk berubah berbinar-binar diikuti senyuman mengembang di bibirnya melihat sang pacar melambaikan tangan sambil tersenyum tipis kea rah jendela kamarnya.Tak menunggu lama dia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Hatinya terasa membuncah setelah sekian hari menahan kerinduan terhadap pria yang selalu berusaha meluangkan waktu mengiriminya pesan ditengah kesibukan yang padat.Dari kejauhan Morgan dapat melihat wanita yang sudah mengenakan piyama pink berlari-lari kecil menghampirinya dengan tak sabar. Tak peduli sekeliling, dia langsung memeluk erat dirinya.“I miss you…,” bisiknya lirih di samping telinga Morgan yang terasa dingin akibat angin malam sehabis hujan.“I miss you too…,” balasnya sambil mengeratkan tangan di pi
Selangor, Malaysia – 09.00 pagi“Sial!” umpat Morgan setelah mematikan sambungan telepon dari sang kekasih. Walau tadi dia berusaha tenang dan menyembunyikan rasa cemburunya tetap saja dia merasa was-was jika sudah menyangkut sahabat kecil dari kekasihnya itu.Alfa yang berdiri di sampingnya tak berani menanyakan apa yang tengah membuat bosnya mendadak kesal saat meeting akan dimulai beberapa menit lagi.“Al, kita usahakan meeting ini selesai secepat mungkin. Ga usah terlalu banyak basa-basi. Jika pihak mereka banyak permintaan kita cari investor lain.“Baik, Pak.”Ting.Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka, keduanya menuju ruangan ujung sebelah kanan, tempat berlangsungnya meeting yang akan menguras banyak waktu.Samarinda, IndonesiaSaat Purple akan membuka pintu mobil hitam yang mengantarkannya sampai depan rumah, Rudra bertanya, “Akankah hubungan kita berubah?”“Kalau udah tahu hubungan kita gak akan sama seperti dulu lagi, bukankah sebaiknya gue ngak perlu tahu gimana perasaan
Chapter 26Tin … tinSuara klakson dari sebuah mobil hitam yang terasa sangat familiar menarik perhatian Purple yang tengah berdiri di pinggir jalan menunggu taksi dengan tangan menenteng sebuah koper. Dia akhirnya memilih pulang sendiri karena Alfa hari ini sakit dan pacarnya mendadak harus ke Malaysia untuk negoisasi harga dengan customer barunya.“Masuk,” perintah laki-laki dari dalam mobil setelah kaca bagian penumpang terbuka. Sebelum memutuskan untuk mengikuti perintah laki-laki itu, Purple mengangkat kopernya. Sebagai kode minta tolong agar supir ganteng itu mau menaruh kopernya di bagasi. Begitu sang supir keluar dari mobil dan mengambil alih koper dari tangan Purple, sang pemilik justru dengan santainya masuk ke dalam mobil.“Lo habis dari mana?” tanya Purple seraya memakai sabuk pengamannya.“Abis service monitorku rusak.”“Oh ….” Setelah mengucapkan sepatah kata itu Purple menyandarkan kepalanya dan perlahan menutup mata.“Lo habis dari mana? Berhari-hari ngak bisa dihubungi
Chapter 25Lebih baik dari perkiraan, ternyata tak sampai seminggu luka Morgan sudah mengering. Lima hari berlalu begitu saja tanpa terasa. Seperti sebelumnya, Purple tetap tekun dengan pekerjaannya. Sama sekali tak goyah dengan rengekan Morgan tiap kali wanita itu ingin berangkat kerja. Dan entah disengaja atau memang benar sibuk, Purple selalu pulang malam. Itulah yang ada di pikiran Morgan tiap kali pacarnya pulang jam 19.00 WITA.Aktivitasnya yang begitu padat membuat rumah Morgan hanya jadi tempat persinggahan untuk tidur. Tiap selesai memberikan obat dan mengganti perban, mereka mengobrol ringan. Kadang Purple tertidur saat obrolan mereka belum berakhir. Dan seperti biasa Morgan hanya dapat menahan hasratnya selama beberapa hari itu dengan amat tersiksa. Apalagi saat wanita itu tertidur di bahunya dengan hanya mengenakan tank top dibalut outer tipis. Outer berbahan satin yang kadang terbuka tanpa sengaja seakan terus mengejek dirinya ya
Belum puas dengan ciuman yang berlangsung hampir 20 menit, Morgan dengan terpaksa mengakhirinya.“Jika aku tak berhenti sekarang mungkin akan terjadi hal di luar batas kendaliku. Sebab aku sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi. Apa kamu tetap ingin meneruskannya?”Purp
“Good morning, Sayang …,” sapa Morgan pada Purple yang baru saja menaiki mobilnya.Udara dingin di pagi hari sehabis hujan tak menyurutkan niat pria dari masa lalunya itu untuk menjalankan keinginan menjemput pacarnya dan berangkat kerja bareng.“
"Mood Bapak udah baikan?” sindir Purple seraya menutup rancangan gambar yang masih harus direvisi lagi. Morgan memilih bungkam.Semilir angin berembus dari air conditioner yang mengarah ke tempat duduk mereka membuat suasana makin canggung dan kaku. Sesekali tercium wangi lavender dari pengharum rua
“Pagi, Pak.”Para karyawan yang semula serius dengan pekerjaan masing-masing segera bangkit dari duduknya. Mengucap salam pada bosnya yang baru menunjukkan batang hidung pada pukul 10 pagi. Padahal tim marketing sudah menunggu sejak satu jam yang lalu.Morgan ditemani Alfa segera menuju ruang meetin







