ログインSuara denting sendok yang beradu pelan dengan cangkir porselen menjadi musik latar di kafe elegan tempat Miranda dan Martha bertemu. Aroma kopi dan kue-kue manis menguar di udara.
"Jadi... bagaimana, Mar? Apa kata Aurora soal makan malam kemarin?" tanya Miranda, senyum antusias tak lepas dari wajahnya. Ia menyesap latte-nya dengan gerak anggun. Martha menghela napas pelan, meletakkan cangkirnya. "Justru itu yang mau aku bicarakan, Mir," Ia berhenti sejenak, ragu. "Sejujurnya... Aurora bilang makan malamnya tidak berjalan lancar. Dia merasa canggung dan... yah, dia memintaku untuk tidak memaksanya lagi. Jadi, perjodohan ini harus berhenti di sini." Senyum Miranda sedikit memudar, digantikan oleh kerutan bingung di dahinya. "Loh, kok bisa beda begitu? Rasya justru sebaliknya. Waktu aku tanya, dia dengan mantap bilang setuju untuk melanjutkan perjodohan ini." Kini giliran Martha yang terkejut. "Benarkah? Aneh sekali. Aurora bersikeras kalau suasananya kaku dan tidak ada percakapan yang berarti." Miranda melambaikan tangannya di udara, seolah mengusir keraguan. "Anak muda, Mar. Mungkin mereka hanya belum menemukan cara berkomunikasi yang benar. Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Rasya sudah setuju, itu awal yang bagus. Aku rasa putraku itu benar-benar tertarik pada Aurora." "Tapi, Mir, aku tidak bisa memaksa putriku satu-satunya, walai sebenarnya aku juga berharap ini tetap berlanjut." balas Martha, nadanya memohon sekaligus berharap. "Aku tidak bilang memaksa," sahut Miranda cepat, matanya berbinar penuh siasat. "Kita hanya perlu menciptakan kesempatan. Coba pikirkan, Mar. Apa yang bisa membuat mereka mau tidak mau harus bertemu dan bekerja sama? Sesuatu yang tidak bisa mereka tolak?" Miranda mengetukkan jarinya ke dagu, matanya menerawang sejenak sebelum berbinar terang. "Tunggu dulu... Bukannya kamu pernah cerita kalau Aurora sedang mencari sponsor untuk acara fashion show-nya yang akan datang? bagaimana perkembangannya?" Martha mengangguk. "Iya, proposalnya sudah disebar ke beberapa perusahaan, tapi belum ada yang benar-benar cocok." "Sempurna!" seru Miranda pelan. "Bagaimana kalau Aetherion Group yang menjadi sponsor utamanya?" Mata Martha membelalak. "Perusahaan suamimu? Tapi, Mir..." "Ssst, dengarkan dulu rencanaku," potong Miranda, tubuhnya mencondong ke depan. "Nanti aku yang atur strateginya. Aku akan pastikan proposal Aurora bisa sampai ke meja suamiku tanpa halangan, persetujuannya hanya masalah waktu." Ia berhenti sejenak, menatap Martha dengan tatapan penuh kemenangan. "Dan bagian terbaiknya? Aku akan memberitahu Rasya bahwa dia, harus ikut mengawasi proyek sponsor ini. Dengan begitu, mau tidak mau, Aurora harus sering bertemu dan berdiskusi dengan Rasya. Atas nama profesionalisme. Mereka tidak akan bisa menolaknya." Martha terdiam, terpana oleh rencana cerdik sahabatnya. Di satu sisi, ia merasa ini adalah bentuk paksaan terselubung. Tapi di sisi lain, mungkin ini adalah satu-satunya cara agar mereka benar-benar saling mengenal. "Kalau rencana ini gagal," tambah Miranda, seolah membaca pikiran Martha. "Kalau seumpama mereka sudah saling mengenal tapi masih belum bisa menemukan kecocokan, maka aku menyerah. Berarti mereka memang bukan jodoh." Pernyataan itu sedikit melegakan Martha. Ia mengangguk pelan. "Baiklah, Mir... aku percaya padamu soal rencana itu," ucapnya akhirnya. "Tapi... jangan terlalu berharap, ya. Putriku itu... ambisius." Martha menatap Miranda dengan sungguh-sungguh. "Dia tidak mau menikah muda, Mir. Dia bilang masih mau fokus membangun kariernya, meraih semua mimpinya dulu sebelum terikat pada seseorang." Miranda tersenyum lembut, menepuk punggung tangan Martha. "Justru karena itu, Mar. Rasya adalah pasangan yang tepat untuknya. Kamu bisa tenang, dia bukan tipe pria yang suka mengekang. Memang, dia sedikit protektif dan posesif—tapi dalam batas wajar," Miranda menambahkan cepat, "itu pun hanya pada apa yang sudah menjadi miliknya. Jika mereka sampai menikah, aku jamin Rasya tidak akan menjadi hambatan untuk karier Aurora. Justru sebaliknya, dia akan mendukung penuh." Miranda bersandar puas. "Lagi pula, usia Rasya juga sudah cukup matang. Sudah waktunya dia serius. Percayalah, Mar. Mereka akan saling melengkapi." Penjelasan itu seolah menjadi penenang bagi kegelisahan Martha. Dalam hatinya yang terdalam, ia juga ingin putrinya bisa membuka hati lagi. Ia pun menegakkan duduknya, sisa keraguan di wajahnya sirna. "Ya, baiklah," ujar Martha mantap. "Aku akan melakukan bagianku. Setelah persetujuan sponsor didapat, biar aku yang menyerahkannya pada Aurora. Aku juga akan pastikan, dia menerima kerja sama itu." Miranda tersenyum lebar. "Nah, begitu lebih baik. Dengan kerja sama kita, mereka tidak akan punya jalan untuk lari." Keduanya saling melempar senyum penuh makna, sebuah aliansi para ibu telah terbentuk. Namun, Martha kembali menghela napas. "Melihat energimu yang begitu antusias jadi membuatku takut, Mir. Aku takut ini tidak berjalan sesuai rencana." Miranda tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Mar. Sebuah kegagalan itu wajar, yang penting sudah berusaha. Anggap saja tantangan. Rencana kita ini bukan untuk memaksa, tapi untuk membuka mata mereka. Begitu mereka terjun dalam proyek ini, dinamikanya akan berubah." Martha menghela napas, pandangannya menerawang. "Aurora punya masa lalu percintaan yang sangat buruk yang membuatnya trauma, Mir. Aku rasa itulah sebabnya dia jadi seperti ini. Sangat tertutup dan takut untuk membuka hati." Miranda mencondongkan tubuh, penuh empati. "Seberat itukah, Mar?" Martha mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Baginya sangat berat. Terlebih itu terjadi pada masa-masa keemasannya. Dia pernah dibohongi dan dipermalukan dengan cara yang sangat menyakitkan oleh pria yang sangat ia percayai. Sejak saat itu, dia membangun tembok yang sangat tinggi di sekeliling hatinya. Dia tidak lagi mudah percaya pada komitmen. Pendidikan dan karier menjadi pelariannya. Luka itu... sepertinya belum benar-benar sembuh." Mendengar cerita itu, raut wajah Miranda berubah total. Ia menggenggam erat tangan Martha. "Ya Tuhan, Martha... kasihan sekali Aurora." Miranda terdiam sejenak, namun sorot matanya justru menunjukkan keyakinan yang baru. "Sekarang aku semakin yakin, Mar. Justru karena masa lalunya yang seperti itu, dia membutuhkan pria seperti Rasya. Putraku mungkin kaku, tapi dia paling membenci ketidakjujuran. Dia pria yang memegang teguh komitmen. Aurora butuh seseorang yang bisa mengembalikan kepercayaannya. Rencana kita ini bukan lagi sekedar perjodohan, Mar. Ini adalah kesempatan untuk menyembuhkan hati putrimu." Miranda mengangguk. "Dan tentunya bagi Rasya juga. Dia akan menemukan seseorang yang benar-benar tulus." Ia menghela napas ringan. "Selama ini, Rasya pernah dekat dengan beberapa wanita. Tapi, ya ampun, Mar... aku merasa tidak ada satu pun yang benar-benar tulus. Niat mereka terlalu transparan. Mereka mendekat dengan sikap manja yang berlebihan, lebih tertarik pada apa yang bisa Rasya berikan, daripada siapa Rasya sebenarnya. Yang mereka lihat bukanlah putraku, tapi nama besar di belakangnya. Rasya butuh seseorang yang mandiri dan bisa berdiri sejajar dengannya. Mereka berdua sama-sama terluka oleh kepalsuan, Mar. Mungkin... mereka bisa menjadi obat bagi satu sama lain." Keesokan harinya... Rasya melonggarkan dasinya seraya menatap layar laptop yang menampilkan grafik performa saham. Pintu ruang kerjanya di Aetherion Tower terbuka tanpa ketukan, sebuah keistimewaan yang hanya dimiliki oleh orang tuanya. Miranda melangkah masuk dengan keanggunan yang khas, meletakkan sebuah map berwarna krem di atas meja Rasya. "Ada proyek sponsor baru yang harus kamu awasi," ujarnya langsung ke inti, tanpa basa-basi. Rasya mengangkat alis, tidak mengalihkan pandangan dari layarnya. "Tim marketing bisa menanganinya, Ma. Aku sedang fokus pada akuisisi." "Yang ini berbeda," sahut Miranda. "Ini investasi citra perusahaan yang penting. Sebuah fashion show dari desainer muda yang sedang naik daun. Prospeknya sangat bagus." Rasya akhirnya menoleh, rasa penasarannya terusik oleh nada bicara ibunya yang tidak biasa. Ia meraih map itu dan membukanya. Di halaman pertama, sebuah nama tercetak tebal di bawah logo butik yang elegan. Aurora Meschach. Seketika, Rasya mengerti. Ini bukan soal bisnis. Ini bukan kebetulan. Makan malam beberapa waktu lalu, persetujuannya yang setengah hati hanya untuk mengakhiri desakan ibunya, dan sekarang ini. Semua adalah bagian dari sebuah rancangan besar. Dia menutup map itu perlahan, tatapannya tajam menembus senyum diplomatis Miranda. "Ini bukan tentang bisnis kan, Ma?" Miranda tidak gentar. "Tentu saja ini bisnis, Rasya. Proposalnya sangat profesional dan menjanjikan. Papamu juga bilang hal yang sama, ada potensi di sana. Tapi jika dalam prosesnya kamu bisa mengenal pribadi di baliknya, bukankah itu bonus yang menarik?" Rasya menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. Berdebat dengan ibunya adalah usaha yang sia-sia. Dinding argumen sehalus apa pun akan selalu ditembus oleh keyakinan Miranda yang sekeras baja. Sebagian kecil dari dirinya—bagian yang tidak akan pernah ia akui—merasa sedikit penasaran. Aurora, dengan sikapnya yang menjaga jarak dan tatapannya yang tajam, memang berbeda dari wanita-wanita yang pernah mendekatinya. "Baik," ucap Rasya akhirnya, nadanya datar dan tegas. "Aku akan awasi proyek ini. Tapi catat, Ma. Ini murni urusan bisnis. Tidak lebih." Miranda tersenyum penuh kemenangan. "Tentu saja, Sayang. Profesionalisme adalah segalanya." Setelah ibunya pergi, Rasya kembali membuka map itu. Jemarinya berhenti pada foto profil Aurora yang terlampir. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap wajah itu dalam diam, merasakan campuran antara jengkel pada campur tangan ibunya dan sebersit rasa ingin tahu yang enggan ia namai. Rasya bersandar di kursinya, dan memutarnya. Ia menatap pemandangan kota dari jendela kantornya. Senyum kemenangan yang sedikit arogan terukir di wajahnya. 'Ternyata,' batinnya. 'Semesta pun merestui tekadku.'Keesokan paginya, cahaya matahari yang keemasan menembus jendela-jendela kaca tinggi di ruang makan utama hôtel particulier.Setelah perdebatan kecil yang diwarnai rayuan maut, Aurora akhirnya berhasil membujuk Rasya untuk mengizinkannya sarapan di luar kamar.Di atas meja marmer yang panjang, Mbak Jayanti dengan cekatan menata piring-piring porselen. Di hadapan Aurora, ia menyajikan semangkuk Nasi Tim Ayam Jamur yang masih mengepulkan uap panas, teksturnya dibuat sangat lembut dengan siraman kaldu ayam kampung yang kaya nutrisi, khusus untuk memulihkan stamina sang nyonya.Sementara itu, untuk Rasya, tersaji sepiring Nasi Goreng Rempah dengan telur mata sapi yang bulat sempurna dan berpinggiran lembut, ditemani potongan daging wagyu tipis sebagai pelengkap.Aroma gurih kaldu, bawang putih goreng, dan semilir wangi minyak wijen menguar memenuhi udara, sangat menggugah selera.Aurora menatap hidangan di depannya dengan mata berbinar, lalu mendongak menatap kedua staf yang sudah meraw
Di ruangannya, Raka bersandar di kursi sambil menatap langit-langit tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak cemas melihat Leonil yang memilih bungkam dan memohon kematian. Biarkan saja ruangan bersuhu minus derajat itu yang bekerja menguliti kewarasan putra konglomerat itu.Raka menegakkan punggungnya. Fokusnya kini tertuju pada tablet di tangannya, menatap lekat-lekat pada sebuah titik koordinat merah yang berkedip di atas peta digital.Saat membeberkan bukti kepada Leonil tadi, ada satu kepingan informasi krusial yang sengaja Raka tahan dan tidak ia ucapkan. Sebuah keanehan yang terlalu sensitif untuk dilempar ke meja interogasi begitu saja.Semuanya bermula saat para algojo menyerahkan barang bawaan Leonil yang mereka sita kepadanya. Mengabaikan hukum privasi, Raka langsung mengambil ponsel pemuda itu dan menghidupkannya.Ponsel itu tampak seperti perangkat baru, terlihat dari antarmuka dan isi galerinya yang masih kosong melompong. Namun
Leonil gemetar hebat. Udara dingin di ruangan itu seakan menusuk langsung ke sumsum tulang belakangnya. Di saat itulah, ia menyadari sebuah fakta bahwa mereka tidak tahu tentang sepupunya. Mereka mengira ini murni rencananya."A-aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan!" bantah Leonil dengan suara bergetar, berusaha meronta meski sabuk kulit tebal itu mengunci pergelangan tangannya tanpa ampun. "Itu... itu murni kecelakaan! Temanku mabuk dan kehilangan kendali! Aku hanya membantunya karena tidak tega dia berada di penjara! Aku bersumpah tidak tahu kalau wanita yang ditabrak temanku itu istri Rasya Pradana!"Di seberang layar monitor raksasa, wajah Raka tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. Ia hanya menatap Leonil dalam diam selama beberapa detik. Raka lalu menghela napas pendek, sebuah desahan sarat akan kekecewaan yang sangat merendahkan. "Sangat disayangkan," respons Raka dengan nada datar. "Bos saya paling benci orang yang mem
Leonil berusaha menerobos, namun tangan besar pria di belakangnya langsung mencengkeram lengan dan bahunya dengan kekuatan baja yang menyakitkan. "Sebuah kehormatan bisa menyambut kedatangan Anda di Jakarta," lanjut pria di depannya, mengabaikan sama sekali kepanikan Leonil. Sudut bibirnya berkedut, membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. "Tuan Rasya Pradana sudah menyiapkan tempat istirahat yang sangat istimewa untuk Anda."Mendengar nama itu disebut, lutut Leonil seketika lemas tak bertulang. Wajahnya pias pasi. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar, tergantikan oleh kengerian yang mencekik nadinya. 'Mustahil. Ini mustahil!' jerit Leonil dalam hati. 'Bagaimana iblis itu bisa tahu?!' "I-ini salah paham!" ronta Leonil putus asa, suaranya bergetar hebat. "Aku tidak kenal—" "Tolong jangan membuat keributan di tempat umum, Tuan Adyasan," potong pria itu dengan suara rendah, tatapannya menyiratkan peringatan terakhir. "Ikut kami secara sukarela, atau kami har
Hawa panas dan pengap memenuhi sebuah ruangan yang terlihat tak terawat. Asbak yang menggunung oleh puluhan puntung rokok begitu mencolok. Di tepi ranjang yang berantakan, seorang pria duduk membungkuk. Tangan kirinya mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar, sementara tangan kanannya menempelkan ponsel ke telinga. Matanya memerah, dilingkari warna hitam yang pekat akibat kurang tidur berhari-hari. 'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silakan coba—' "Bangsat!" umpat pria itu, melempar ponselnya ke atas kasur. Ini sudah panggilan kelima belasnya dalam dua jam terakhir, dan orang di seberang sana sama sekali tidak bisa dihubungi. Napasnya memburu. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang meletup-letup. Kepengecutan sepupunya itu benar-benar di luar batas toleransinya. Leonil berani mengabaikan panggilannya di saat krusial seperti ini? Dengan gerakan kasar, pria itu kembali menyambar ponselnya. Jari jempolnya bergerak cepat di atas l
Aurora mengangguk semangat. Senyum manis tak lepas dari bibirnya. "Udaranya seger banget. Rasanya kayak baru hidup lagi setelah kemarin-kemarin mencium bau obat rumah sakit." Tangan Aurora kemudian turun, menangkup kedua pipi Rasya yang berada tepat di hadapannya. Ia mengusap rahang tegas suaminya itu dengan ibu jarinya. "Makasih ya, Mas," ucap Aurora, kali ini nada suaranya berubah jauh lebih pelan dan sarat akan emosi yang tulus. Rasya tersenyum tipis. "Berhentilah berterima kasih, Aurora. Aku suamimu, ini sudah menjadi tugasku." Aurora menggeleng pelan. "Aku tetap harus bilang, Mas. Itu bentuk kecil penghargaanku untuk kamu. Makasih untuk semuanya. Untuk penjagaanmu, ketegasanmu, dan untuk selalu menempatkan aku di atas segalanya. Aku tahu, pikiranmu pasti lagi penuh banget sekarang memikirkan urusan di luar sana. Tapi saat kamu di depanku... kamu selalu berhasil bikin aku merasa jadi satu-satunya hal yang paling penting di dunia ini." Mendengar penuturan tulus itu,







