로그인"Di waktu perpisahan kita, adalah waktu paling menyedihkan dalam hidupku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tak berada di sisiku. Gu Qingran, bagaimana caranya aku bisa melupakanmu, sementara dirimu tak mau pergi dari pikiranku?" — Gu Jixuan "Kau!" Tubuh Gu Qingran nyaris jatuh ke lantai dingin atap gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Di hadapannya, seorang lelaki berdiri dengan balutan jas Armani hitam yang mahal. Lelaki itu tersenyum kepadanya, tetapi bukan senyumnya yang membuat Gu Qingran terpaku, bukan pula wajahnya yang begitu tampan, melainkan karena pria itu adalah... "Gu Jixuan!" Gu Qingran membekap mulutnya dengan telapak tangan. Mungkin dia sedang bermimpi. Jika memang ini mimpi, dia berharap bisa terus berada di sini dan tidak pernah terbangun lagi. Namun ketika dia mencubit lengannya sendiri, rasa sakit yang teramat nyata langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. "Ini bukan mimpi," gumamnya lirih. Kedua tangan lelaki di hadapannya yang semula
"Dokter Gu, Anda sudah sadar!" Suara perawat berdenging di telinganya, terdengar samar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Gu Qingran perlahan mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya putih yang memenuhi ruangan. Langit-langit berwarna putih. Bau obat-obatan yang begitu familiar, dan juga suara mesin yang berdetak teratur di samping ranjang. Semuanya terasa begitu nyata. Namun, entah kenapa, justru membuat dadanya terasa sesak. Gu Qingran menatap sekeliling ruangan dengan tatapan kosong. Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali menyerbu pikirannya. Pohon persik. Gu Jixuan. Gu Jinyi. Pelukan terakhir. Dan tubuhnya yang perlahan kehilangan kesadaran dalam pelukan pria yang paling dicintainya. Air mata langsung mengalir dari sudut matanya. "Aku kembali," ujarnya lirih. Sementara itu, perawat tersebut sudah berlari keluar untuk memanggil dokter yang menangani Gu Qingran selama satu bulan terakhir. Gu Qingran hanya terbaring diam. Tubuh
Manusia itu tak bisa hidup abadi, jika sudah saatnya pergi, kita hanya bisa diam, membisu tanpa kata, hanya air mata yang mewakili rasa sakit yang nyata di dalam hati."Ibu, Ibu, jangan tinggalkan Jinyi. Bukankah kata Ibu sudah berjanji pada Jinyi. Ibu bangun, kenapa Ibu pergi seperti Putra Mahkota."Semua orang diam, para pelayat itu datang dalam keheningan setelah kabar kematian mendadak istri Gu Jixuan.Tabib mengatakan paru-parunya telah rusak, dan tidak disadari.Gu Jixuan diam terpukul, kepalanya menunduk dengan pakaian berkabung. Dia tidak bicara sepatah katapun sejak malam itu. Bahkan kotak yang dia temukan di kamar mendiang istrinya belum dia buka."Jinyi sudah, jangan menangis. Biarkan Ibu pergi dengan tenang. Ibu sudah bahagia bersama para dewa." Gu Yanli mencoba menenangkan. Namun anak itu enggan beranjak pergi dari sisi peti ibunya. Dia terus duduk di sana, menangis dan berteriak histeris. Berharap ibunya akan terbangun lagi, dan memeluknya erat."Bibi Yanli, padahal Ibu
Malam semakin larut. Namun, Gu Qingran belum ingin kembali ke kamar. Setelah memastikan Gu Jinyi tertidur pulas, dia berjalan keluar dari kediaman bersama Gu Jixuan. Keduanya kemudian berhenti di halaman belakang Kediaman Gu, tepat di bawah pohon persik yang sedang mekar. Angin malam berembus perlahan. Kelopak-kelopak bunga persik berwarna merah muda berguguran satu per satu, terbawa angin dan jatuh di atas rerumputan. Gu Qingran mendongak, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Namun, tak seperti pemandangan di hadapannya, hatinya justru dipenuhi kesedihan yang tak bisa dia ungkapkan. "Indah sekali..." Gu Jixuan berdiri di sampingnya. "Mm, kau benar, indah sekali." Gu Qingran menoleh. Namun, dia hanya mendapati suaminya terus menatapnya tanpa berkedip. Tatapan itu begitu dalam hingga membuat jantungnya berdebar. "Kau tidak melihat bunganya?" "Aku sedang melihat sesuatu yang lebih indah dari bunga persik yang sedang mekar." Gu Qingran terdiam beberapa saat. Kemudian
Gu Qingran buru-buru menarik napas panjang, lalu membasuh kembali wajahnya hingga tak tersisa sedikit pun noda darah. Ketika dia memastikan semuanya telah bersih, wanita itu memaksakan seulas senyum sebelum kembali ke dapur. "Aku kembali." Gu Jixuan yang sedang mengupas bawang langsung menoleh. "Lama sekali. Kau tadi sedang apa?" "Tadi tanganku terkena minyak. Jadi aku mencucinya lebih lama." Gu Jixuan mengangguk tanpa menaruh curiga. Dia kemudian kembali fokus mengupas bawang. "Kalau begitu cepat selesaikan masakanmu. Jinyi sudah berkali-kali bertanya kapan bisa makan." "Anak itu selalu saja tak sabaran. Sepertimu, selalu saja keras kepala dan suka marah-marah," godanya. Tangan Gu Jixuan berhenti mengupas bawang. Dia menoleh pada sang istri dengan wajah cemberut. "Itu kan salahmu. Kenapa kau lebih dekat dengan Putra Mahkota Xiao Yinfe, dan bukannya aku? Bukankah yang sering kau ajak membolos pelajaran Sifu adalah aku." Gu Qingran terkekeh. Ingatan si pemilik tubuh asli mel
Matahari mulai condong ke barat ketika kereta keluarga Gu memasuki pasar utama ibu kota. Sebelum kereta kuda membawa Gu Qingran ke pasar, mereka lebih dulu pulang ke Kediaman Gu guna menjemput Jinyi. Suasana begitu ramai ketika mereka tiba di sana. Para pedagang berteriak menawarkan dagangannya. Aroma roti kukus, daging panggang, dan manisan haw beterbangan di udara, membuat Gu Jinyi yang duduk di samping jendela terus menempelkan wajah mungilnya ke tirai kereta. "Ibu! Lihat! Ada penjual kelinci! Aku mau beli, apa boleh!" teriaknya penuh semangat. Bocah itu menunjuk seekor kelinci putih yang sedang memakan daun kubis. Gu Qingran tertawa kecil melihat tingkah putranya itu. "Kau suka kelinci?" Gu Jinyi buru-buru mengangguk. "Iya, kelinci-kelinci itu sangat lucu. Boleh ya, Bu? Jinyi mau pelihara dua!" Gu Jixuan langsung membuka dompet kain di pinggangnya tanpa basa-basi. "Sana beli kalau kau suka." Gu Qingran segera menahan tangannya. "Jangan langsung dituruti. Nanti anakmu ja
Matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan, menyisakan semburat jingga yang menerpa atap-atap kediaman keluarga Gu. Lampion merah mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang koridor utama, membuat suasana malam terlihat megah dan hangat. Aula utama keluarga Gu malam itu tampak ramai. Para
Pagi berikutnya, seluruh kediaman Gu ramai sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Para pelayan mondar-mandir membawa kain sutra, baki makanan, dan hiasan jamuan menuju aula utama. Malam nanti keluarga Gu akan mengadakan jamuan makan bersama beberapa kerabat penting, dan sebagai keluarga terpanda
Gu Qingran mengangkat alis. "Apa maksud Ibu?" Gu Lanying ingin bicara, namun logika mengatakan jika semua itu hanya karena kebetulan saja. "Lupakan saja." Akan tetapi, mata Gu Lanying tetap menatap aneh pada sosok menantunya Tentu saja aneh, dan berbeda. Karena Gu Qingran yang asli sudah ma
Gu Qingran bisa memahami alasannya. Selama ini, Gu Qingran yang asli memang terkenal emosional, dan kasar pada para pelayan. "Letakkan di sana," ucapnya santai. Chen Duhan segera menaruh baki di atas meja lalu mundur setengah langkah. Biasanya, pada situasi seperti ini Gu Qingran akan mula







