مشاركة

Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta
Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta
مؤلف: Yuki Norin

Bab 1

مؤلف: Yuki Norin
"Bu Nikita, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi kanker endometrium yang Ibu derita sudah makin memburuk. Pengobatan konservatif hampir nggak bisa lagi memberikan hasil. Kami menyarankan agar operasi pengangkatan rahim segera dijadwalkan."

"Selama dua tahun ini, Ibu selalu datang sendiri untuk kontrol. Kondisi Ibu sudah sangat serius. Apa nggak sebaiknya suami Ibu diberi tahu?"

Sorot lampu putih di ruang praktik menyinari wajah Nikita Alinskie yang tampak begitu letih. Kulitnya yang memang pucat kini nyaris tak menyisakan sedikit pun warna.

Ucapan dokter terus bergema di telinganya. Nikita menggenggam erat lembar hasil diagnosis yang terasa begitu berat. Ujung jarinya sedingin es dan gemetar, sementara seluruh tubuhnya membeku seolah darahnya berhenti mengalir.

Tak lama setelah mereka menikah, Darwis mendapat penugasan dari kementerian dan dikirim ke Kementerian Luar Negeri Negara Marenda sebagai diplomat.

Pada malam sebelum keberangkatannya, pria itu menatapnya dengan lembut, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Maaf karena aku membuatmu menunggu lagi. Tolong pahami pekerjaanku. Setelah masa penugasanku selesai dan aku pulang, kita akan menjalani hidup dengan tenang, lalu memiliki seorang anak."

Dua tahun lalu saat pertama kali didiagnosis, dokter masih mengatakan bahwa selama Nikita menjalani pengobatan dengan sungguh-sungguh, harapan untuk menjadi seorang ibu masih ada.

Karena tak ingin Darwis yang berada jauh di negeri asing khawatir hingga pekerjaannya terganggu, Nikita memilih merahasiakan penyakit itu. Dia menahan semua rasa sakit, ketakutan, dan penderitaannya sendirian.

Namun kini ... selembar hasil diagnosis itu menghancurkan harapan terakhir yang selama ini dia pertahankan.

Sepanjang hidupnya, mungkin dia tak akan pernah lagi memiliki anak.

Hidungnya mulai terasa perih, matanya terasa panas dan dipenuhi air mata. Dengan tangan gemetar Nikita membuka kunci ponselnya, lalu menghubungi nomor yang sudah begitu lama terukir di dalam hatinya.

Nada sambung terus berbunyi berulang kali. Tidak ada jawaban.

Dengan tatapan kosong, dia berdiri di lorong rumah sakit. Kepalanya terasa berat dan pusing. Barulah dia teringat adanya perbedaan waktu.

Di Negara Marenda saat ini sudah larut malam. Mungkin Darwis sudah tidur.

Rasa tak berdaya memenuhi dadanya. Nikita hanya bisa menggenggam erat hasil pemeriksaan itu sambil berjalan ke luar dengan langkah yang limbung.

Baru saja dia sampai di pintu lobi rumah sakit, sekelompok wartawan yang membawa kamera dan mikrofon tiba-tiba menyerbu. Seseorang mendorongnya dari belakang hingga dia ikut terseret ke tengah arus kerumunan.

"Itu Pak Darwis bersama istrinya!"

"Pak Darwis diam-diam sudah pulang ke tanah air tiga hari yang lalu. Akhirnya kita berhasil menemukan dia!"

Di tengah hiruk-pikuk itu, pandangan Nikita langsung tertuju pada sosok tinggi tegap di tengah kerumunan.

Itu Darwis Susanto.

Dia mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Tubuhnya tegap, wajahnya masih setampan dan sedingin yang ada di ingatan Nikita. Hanya saja, kini auranya jauh lebih berwibawa dan membuatnya terkesan sulit didekati.

Seharusnya suaminya itu masih berada di Negara Marenda. Dia bahkan tidak pernah mengabari Nikita kapan akan pulang.

Sebelum Nikita sempat mencerna kenyataan itu, terdengar suara perempuan yang lembut dan manja. "Kak Darwis ... aku agak takut. Di sini ramai sekali. Apa bayinya nggak bakal kaget?"

Nikita menoleh mengikuti arah suara itu. Dalam sekejap, dadanya seperti diremas oleh tangan tak kasatmata, membuatnya hampir tak bisa bernapas.

Perempuan yang berdiri di samping Darwis, bersandar lemah di bahunya dengan wajah pucat ... ternyata adalah kakaknya yang seharusnya masih menempuh kuliah di Negara Marenda, Nirina Alinskie.

Detik berikutnya, Darwis refleks melangkah maju dan berdiri di depan Nirina. Dia melindungi Nirina rapat-rapat.

Sorot matanya berubah dingin saat menatap para wartawan. Dia berkata, "Harap tahu batas. Dia sedang hamil dan kondisi fisiknya lemah. Kalau terjadi sesuatu padanya, aku bisa menuntut kalian."

Setiap katanya menghantam telinga Nikita seperti petir yang menyambar.

Hamil? Kakaknya sedang mengandung anak Darwis?

Namun, sejak kapan Darwis pernah melindungi orang lain dengan begitu protektif?

Melihat sikapnya yang serius, kalau bukan anaknya sendiri, lalu anak siapa?

Dunia Nikita seakan runtuh dalam sekejap. Suara para wartawan menghilang dari pendengarannya. Yang tersisa hanyalah suara hatinya sendiri yang hancur berkeping-keping.

Kenangan lama mendadak membanjiri pikiran Nikita. Tak lama setelah Darwis berangkat ke luar negeri, Nikita mengetahui dirinya hamil. Saat itu dia begitu bahagia. Namun, sebelum sempat memberi kabar kepada Darwis, dia mengalami keguguran.

Selama itu pula dia terus menyalahkan tubuhnya yang lemah. Dia tak tega mengganggu pekerjaan suaminya dan hanya bisa menunggu sampai Darwis pulang. Dia ingin pria itu memeluk serta menghiburnya.

Hingga hari ini ... Darwis bahkan tidak pernah tahu bahwa mereka pernah memiliki seorang anak.

Pria itu juga tidak pernah menyadari betapa lemah, letih, dan menderitanya Nikita dalam setiap percakapan singkat melalui telepon.

Kini, semuanya terasa begitu jelas. Saat itu Darwis rupanya sudah tinggal bersama Nirina di Negara Marenda. Mana mungkin pria itu masih sempat memedulikan dirinya?

Nirina berangkat ke Negara Marenda dengan alasan kuliah, hanya berselang setengah bulan setelah keberangkatan Darwis.

Jadi ... itu bukan kebetulan. Mereka memang sengaja pergi bersama.

Kalau begitu ... apa arti semua janji yang pernah Darwis ucapkan sebelum berangkat?

Selama tiga tahun ini, Nikita menjadikan janji itu sebagai satu-satunya cahaya yang menemaninya melewati malam-malam panjang seorang diri. Hari demi hari dia menghitung waktu, menantikan kepulangan suaminya.

Siapa sangka ... hati manusia begitu mudah berubah. Janji pun begitu mudah dilupakan.

Nikita menjaga rumah yang kosong, menggenggam janji yang semu, dan menghabiskan tiga tahun dalam kesepian. Pada akhirnya, semua itu hanyalah lelucon yang lahir dari cintanya yang sepihak.

"Minggir! Semua orang yang nggak berkepentingan segera bubar!"

Bentakan keras itu menarik Nikita kembali ke dunia nyata.

Yang datang adalah Chicco, asisten Darwis. Dia memimpin beberapa petugas keamanan rumah sakit dan memerintahkan mereka membubarkan kerumunan dengan ekspresi profesional yang dingin.

Tak lama kemudian, para petugas sudah berdiri di depan Nikita, seolah hendak mengusirnya juga.

Para wartawan tak berani menyinggung Darwis dan segera mundur.

Hanya Nikita yang tetap berdiri mematung. Kakinya terasa berat. Sedikit pun tak mampu digerakkan.

Di matanya bercampur rasa kecewa, sakit hati, dan tidak percaya.

Chicco sempat melirik Nikita. Dia ragu sejenak. Setelah para wartawan menjauh, barulah dia mendekat dan berbisik dengan hormat, "Nyonya."

Sapaan itu terdengar pelan, tetapi cukup jelas hingga sampai ke telinga Darwis.

Tubuh pria itu sedikit membeku, tetapi dia tidak menoleh. Sejak awal hingga akhir, dia bahkan tidak melirik ke arah Nikita.

Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Nirina. Dengan suara lembut, Darwis menenangkan wanita itu, lalu membungkuk dan menggendongnya sebelum berjalan menuju ruang rawat inap.

Sepanjang waktu, dia memperlakukan Nikita seolah mereka hanyalah dua orang asing.

Nikita hanya mampu berdiri mematung, memandangi Darwis yang menggendong kakaknya pergi makin jauh. Saat itu juga, hatinya benar-benar tenggelam ke dalam jurang es yang tak berdasar.

Entah berapa lama Nikita tetap berdiri di sana.

Setelah lobi kembali tenang, Darwis keluar dari ruang rawat inap. Aura dingin yang membuat orang enggan mendekat masih menyelimuti dirinya.

Dia mendongak. Tatapannya akhirnya tertuju pada Nikita yang masih berdiri di tempat semula. Sorot matanya tenang, nadanya datar. "Sedang apa kamu di sini?"

Pandangan Darwis kemudian turun ke lembar hasil pemeriksaan yang digenggam erat oleh Nikita.

"Apa itu? Berikan padaku."

Jantung Nikita langsung menegang. Kalau Darwis mengetahui penyakitnya, pilihan apa yang akan dia ambil?

Darwis mengernyit. "Kamu sakit?"

Nikita refleks menggenggam kertas itu lebih erat, berusaha menyembunyikannya.

Namun saat berikutnya, Chicco datang membisikkan sesuatu di telinga Darwis.

Kening pria itu kembali berkerut. Dia melirik Nikita sekilas, lalu berkata, "Aku masih ada urusan. Kamu pulang saja dulu."

Sudut bibir Nikita terangkat membentuk senyum penuh ejekan.

Sesaat yang lalu pria itu masih bertanya tentang keadaannya. Sekarang, dia sudah menyuruhnya pergi. Pada akhirnya, semua itu hanya karena dia ingin segera kembali menemani orang yang paling berharga di hatinya.

Nikita tetap berdiri di tempat.

Darwis mengangkat pandangannya ke arahnya.

Kemudian ....

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 100

    Nanti, mereka akan mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan dan meluruskan semua masalah ini.Setelah pulang kerja, Nikita langsung pergi lagi ke rumah sakit.Kondisi neneknya masih cukup stabil.Hanya saja pada malam hari, terkadang napasnya menjadi sedikit lebih cepat. Nikita duduk di sisi ranjang sambil diam-diam memperhatikan garis pada monitor yang bergerak dengan stabil. Hatinya perlahan terasa berat.Luka di tangan Nikita kembali terbuka karena hantaman Dariel tadi. Dia sudah meminta bantuan di konter perawat untuk penanganan sederhana, tetapi setiap kali tangannya sedikit digunakan, rasa sakit samar langsung terasa.Pekerjaan Nikita berkaitan dengan eksperimen yang sangat presisi sehingga kestabilan tangannya memiliki tuntutan yang sangat tinggi. Jika lukanya terus berulang dan tidak pulih dengan baik, hal itu sangat mungkin akan memengaruhi pekerjaan berikutnya.Memikirkan hal itu, Nikita tidak berani mengabaikannya. Dia bangkit dan pergi ke bagian UGD untuk menangani luka

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 99

    Pada saat yang sama, opini publik di internet justru makin memanas.Proyek peralatan eksperimen kerja sama antara Evergreen Biotech Biotech dan Grup Marmara yang sebelumnya dituduh melakukan penjiplakan sebenarnya sudah berhasil ditekan agar tidak meluas.Namun, entah siapa yang kembali mengarahkan arus opini. Dalam semalam, semua tuduhan kembali mengarah kepada Nikita.Ada yang membongkar riwayat hidupnya di masa lalu, ada yang mengambil data eksperimennya di luar konteks, bahkan ada yang menggali seluruh informasi pribadinya dan melakukan serangan massa besar-besaran terhadapnya.Kolom komentar hampir semuanya berdiri di pihak Nirina. Mereka membela dan memperjuangkan keadilan untuknya.[Nirina lulusan universitas ternama dengan dua gelar. Untuk apa dia repot-repot menjiplak karya orang yang baru kembali di tengah jalan seperti Nikita?][Pasti Nikita iri sama Nirina. Karena nggak mampu membuatnya, dia pun mencuri rencana orang lain. Sekarang, dia bahkan menyeret perusahaan sampai iku

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 98

    Namun dibandingkan rasa sakit di tubuhnya, rasa nyeri di dalam hati Nikita jauh lebih parah. Rasa sakit yang tumpul itu menyebar begitu rapat hingga membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.Nikita menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Pemuda yang baru saja dia jaga sepanjang malam.Pemuda yang dulu Nikita rawat dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga.Hanya saja, Dariel tetap menatapnya dengan penuh rasa muak. Dia menunjuk ke arah pintu dan membentaknya dengan suara keras, "Lebih baik kamu segera bercerai saja dengan Kak Darwis. Setelah keluar dari Keluarga Susanto, kamu bukan siapa-siapa lagi. Memangnya aku butuh kebaikan palsumu? Nggak usah repot-repot datang menjengukku!""Dariel." Suara Darwis terdengar dingin dan berat. "Diam. Siapa yang mengajarimu bersikap seperti ini?"Darwis pun menoleh kepada Nikita. "Salah kamu yang memanjakanku."Nikita sampai hampir tertawa karena marah. "Anggota keluarga kalian memang sudah begitu dari sananya. Memangnya masih perlu diaj

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 97

    Di mata Darwis, Nikita tidak lebih dari seorang pengangguran yang tidak melakukan apa-apa. Semua hal baik yang ada di rumah itu tidak ada hubungannya dengannya.Kebetulan Nikita kembali lagi untuk mengambil tasnya. Kalimat itu terdengar jelas olehnya.Langkahnya langsung terhenti. Dadanya terasa seperti dihantam benda tumpul dengan keras. Rasa sesak dan sakit perlahan menyebar.Sungguh konyol.Setelah bertahun-tahun menahan diri, berusaha, dan mencemaskan segala hal, semua itu ternyata sama sekali tidak bernilai bagi Darwis."Niki." Begitu Nirina mendongak, dia langsung melihat Nikita. Wanita itu sontak memperlihatkan senyum lembut. "Kamu sudah kembali. Tadi, aku sedang membicarakanmu dengan Kak Darwis."Darwis juga menoleh untuk melihatnya. Ekspresinya tetap datar, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa bersalah ataupun merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang salah.Ekspresi Nikita sangat dingin. "Kalau memang semuanya diurus pembantu, lalu saat Dariel demam, untuk apa aku ditel

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 96

    "Kemarin, kamu sembarangan makan apa di luar?"Tatapan Dariel beralih ke arah lain. Dia langsung merapatkan bibirnya dan tidak mengatakan apa-apa.Semalam, Nirina datang menjenguknya dan membawakan banyak camilan serta minuman dingin yang biasanya dilarang keluarganya untuk dikonsumsi. Dia pun langsung menyantap cukup banyak dalam sekali waktu.Dariel tidak berani mengatakan hal tersebut karena takut dimarahi.Melihat sikapnya yang menghindar seperti itu, Nikita langsung tahu apa yang terjadi. Dia pun malas bertanya lebih jauh.Nikita berdiri sambil berujar, "Karena kamu sudah bangun, berarti kondisimu baik-baik saja. Kakakmu sebentar lagi akan datang. Aku pergi dulu."Dirinya dan Keluarga Susanto sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Apalagi, dia tidak punya kewajiban untuk terus menjaga Dariel.Usai Nikita berkata demikian, pintu ruang rawat terbuka.Darwis dan Nirina masuk satu demi satu.Nirina segera berjalan cepat ke sisi ranjang dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Dariel, gi

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 95

    Belakangan ini, Nikita memfokuskan dirinya dalam penelitian obat-obatan.Dia memulai dari akar persoalan yang paling mendasar.Setiap harinya, Nikita memeluk laptopnya sambil berulang kali melakukan perhitungan. Jika tidak, dia akan berada di ruang rapat untuk berdiskusi dengan tim.Sepulang kerja, Nikita tetap menemani neneknya di ruang rawat. Hari-harinya terasa padat, tetapi juga terasa bermakna.Hingga pukul sembilan malam, dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi memutus alur pikirannya.Dia menerima panggilan masuk dari ….Darwis.Sebenarnya Nikita sudah memblokir nomor ponsel pria itu, tetapi berhubung mereka masih belum bercerai, memang masih ada yang perlu dibicarakan lagi.Nikita tidak ingin mengangkatnya, tetapi Darwis sangat jarang berinisiatif untuk menghubunginya. Setiap kali menelepon pasti ada tujuannya.Nikita terdiam sesaat, baru mengangkatnya. Nada bicaranya terdengar datar. “Ada urusan?”“Dariel demam. Dia lagi di klinik sekolah. Kamu pergi jaga dia sebentar.” Langsung

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status