Share

Bab 5

Penulis: Yuki Norin
Hati Nikita seketika mencelos.

Tiba-tiba dia teringat, awal mula mereka bisa saling terlibat hanyalah karena seseorang memberinya obat, sementara Darwis kebetulan sedang mabuk. Wajahnya yang sedikit mirip dengan Nirina, ditambah postur tubuh yang nyaris sama, membuat pria itu keliru mengira dirinya adalah Nirina.

Selama bertahun-tahun, pada akhirnya dia hanyalah seorang pengganti, keberadaan yang sama sekali tidak penting.

Nikita menyunggingkan senyuman mengejek diri sendiri, sementara sorot matanya dipenuhi hawa dingin dan hampa.

Tatapan Darwis tertuju ke wajahnya. Mata pria itu begitu dalam hingga mustahil ditebak emosinya. Dengan nada datar, dia berkata, "Nenek berharap kita punya anak."

Dia seolah sedang menjelaskan bahwa semua ini dilakukan karena terpaksa.

Anak?

Mata Nikita langsung memerah. Sindiran dan kepedihan yang luar biasa menghantamnya.

Bukankah dahulu mereka pernah memilikinya?

Namun, Darwis tidak menginginkannya.

Sekarang, mereka pun sudah tidak mungkin memiliki anak lagi.

Lalu, untuk apa sekarang membicarakan soal anak?

Dengan suara sedingin es, Nikita berkata, "Aku nggak akan pernah punya anak denganmu."

Tatapan Darwis seketika membeku. Suhu di sekelilingnya seakan ikut turun beberapa derajat. Dia pun melepaskan pelukannya.

"Terus, kamu ingin punya anak dengan siapa?"

Nikita terkekeh sinis, lalu memalingkan wajah.

Dengan siapa pun, itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Dia juga tidak punya kewajiban menjelaskan isi hatinya kepada pria itu.

"Darwis, kita cer ...."

Kata cerai nyaris keluar dari bibirnya ketika tiba-tiba dering ponsel memecah keheningan dan memotong ucapannya.

Nama yang berkedip di layar adalah Nirina.

Wajah Darwis sedikit meredup. Dia tidak langsung mengangkat telepon itu.

Nikita menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa dengan nada penuh sindiran. "Kenapa? Nggak enak hati? Mau kubantu jawab?"

Darwis meliriknya tanpa berkata apa-apa. Dia mengambil ponselnya, turun dari ranjang, lalu berjalan ke dekat jendela untuk menerima panggilan itu. Tanpa sadar, suaranya menjadi lebih lembut. "Ada apa?"

Dari seberang telepon terdengar suara Nirina yang manis hingga terasa dibuat-buat, disertai kelembutan yang pas. "Darwis, besok malam ada acara penting. Kamu bisa temani aku nggak?"

"Ada rapat koordinasi proyek penelitian dari Badan Farmakologi Nasional. Sangat penting buat perkembangan karierku setelah pulang ke tanah air."

Jarak mereka tidak jauh, sehingga Nikita mendengar semua perkataan itu dengan jelas.

Sebagai wakil direktur termuda di bidangnya, meski Darwis tidak langsung menangani proyek itu, status dan posisinya sudah cukup membuat siapa pun menghormatinya. Jika dia bersedia hadir, semua orang pasti akan memberinya muka.

Pengaruhnya pun cukup besar.

Tanpa sadar, jari-jari Nikita mencengkeram erat seprai hingga buku-buku jarinya memutih.

Jika Darwis benar-benar menemani Nirina, daya saingnya dalam proyek ini pasti akan merosot drastis.

Dia terus menatap punggung Darwis. Dadanya seolah tersumbat sesuatu hingga terasa sesak.

Seakan menyadari tatapannya, Darwis menoleh dan meliriknya sekilas.

Kemudian, dia menjawab ke arah telepon dengan suara hangat, "Oke, aku akan temani kamu."

Kata-kata itu bagaikan sambaran petir yang meledak di benak Nikita.

Dia teringat bagaimana dahulu berkali-kali memohon agar Darwis mau menemaninya menghadiri konferensi industri. Namun, pria itu selalu menolak, entah dengan alasan sibuk bekerja ataupun tidak punya waktu. Tidak pernah sekali pun dia menyetujuinya secepat ini.

Lucu sekali. Benar-benar menggelikan.

Sudut bibir Nikita melengkung membentuk senyuman getir. Dia hanya merasa dirinya yang dahulu begitu bodoh. Dahulu dia terus berharap dan terus mengejar pria itu. Benar-benar tidak pantas.

Nikita menarik napas panjang, bangkit, menyingkirkan selimut, lalu berjalan cepat keluar dari kamar.

Dia tidak boleh hanya diam menunggu nasib, apalagi sampai kehilangan pernikahan sekaligus kariernya.

Dia harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin.

Pria itu memandangi punggungnya yang kurus dengan tatapan yang begitu dalam.

Malam itu, Nikita tidak kembali ke kamar, melainkan langsung menuju ruang tengah.

Sepanjang malam, dia menekuni dokumen-dokumen penelitian. Ujung jarinya membalik lembar demi lembar berkas hingga larut.

Keesokan paginya, Nikita bangun sangat awal. Setelah berpamitan kepada Mega, dia meninggalkan rumah lebih dahulu.

....

Evergreen Biotech adalah lembaga penelitian obat yang dia dirikan bersama kakak tingkatnya semasa kuliah, Adler Hartawan. Tempat itu adalah satu-satunya hal yang masih Nikita genggam erat di tengah pernikahan yang begitu menyesakkan.

"Niki, semua persiapan untuk acara malam ini sudah siap? Kalau kita bisa memenangkan proyek ini, masa depan lembaga penelitian kita akan benar-benar berubah."

Nikita mengangkat pandangan. "Kali ini kita harus menang."

Pukul 8 malam Nikita dan Adler tiba tepat waktu di lokasi pertemuan proyek.

Inilah pertama kalinya Nikita menghadiri acara seperti ini.

Di lembaga penelitian, dia selalu hanya fokus melakukan riset. Urusan bersosialisasi dan menjamu orang luar tidak pernah menjadi perhatiannya.

Sampai hari ini, dia memang bisa dibilang sangat santai terhadap urusan semacam itu.

Dia sangat jarang muncul di lingkungan industri, sehingga hampir tidak ada seorang pun di sana yang mengenalnya.

Sebaliknya, Adler sudah menjadi bintang baru yang sedang naik daun di kalangan industri. Dia memiliki reputasi dan jaringan yang luas.

Karena Nikita datang bersamanya, semua orang otomatis menganggap dia adalah orang di pihak Adler.

Adler maju untuk menyapa para tokoh industri, sedangkan Nikita yang tidak menyukai suasana ramai memilih duduk sendirian di sudut barisan belakang.

Saat itulah tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu masuk yang menarik perhatiannya.

Nikita perlahan mengangkat kepala.

Darwis memasuki ruangan bersama Nirina.

Tatapan pria itu tetap dingin dengan pembawaan yang tenang dan berwibawa.

Nirina menggandeng lengannya sambil tersenyum manis. Sikapnya elegan. Mereka tampak seperti pasangan yang serasi.

Darwis adalah Wakil Direktur Kementerian Luar Negeri.

Kemunculan sosok dengan identitas seperti itu langsung memicu kegemparan kecil di dalam ruangan.

Dalam sekejap, dia menjadi pusat perhatian seluruh hadirin.

Dengan nada tenang, Darwis berkata, "Hari ini aku datang cuma untuk menemani Nirina. Nggak usah pedulikan aku."

Begitu selesai berbicara, tatapannya tertuju ke wajah Nirina. Itu adalah kelembutan yang belum pernah sekalipun Nikita lihat.

Satu kalimat itu sudah cukup menjelaskan segalanya. Semua orang tahu, dia datang untuk mendukung Nirina.

Nirina menundukkan kepala dengan malu-malu.

Nikita mendengus pelan sambil menarik kembali pandangannya. Suaminya menggandeng kakaknya dan berpura-pura menjadi pasangan mesra di depan semua orang. Sungguh lucu sekaligus ironis.

Dirinya sebagai istri sah, tak lebih dari seorang pengantin pengganti.

Kini Nirina sudah diakui kembali oleh Keluarga Alinskie dan baru pulang dari luar negeri. Sebagai alat pengganti, dirinya tentu sudah tidak lagi memiliki nilai sedikit pun.

Nikita menunduk dan kembali membalik berkas di tangannya. Namun karena mencengkeramnya terlalu kuat, ujung-ujung jarinya perlahan memutih.

Padahal sejak awal dia sudah tahu mereka akan datang bersama. Namun saat benar-benar melihat pemandangan itu dengan mata kepala sendiri, dadanya tetap terasa sesak.

"Jadi itu putri kandung Keluarga Alinskie yang dulu hilang? Memang kelihatan seperti nona keluarga kaya."

"Ada orang yang sudah terlalu lama menempati tempat milik orang lain. Sudah waktunya menyerahkannya kembali."

"Dengar-dengar Pak Darwis dipaksa menikah karena Nikita kasih dia obat dan jebak dia."

"Sudah merebut keluarga orang, sekarang masih mau merebut suaminya juga. Benar-benar nggak tahu malu."

Bisik-bisik penuh hinaan itu masuk ke telinga Nikita tanpa terlewat satu kata pun. Rasanya tajam menusuk.

Karena dia jarang sekali muncul di hadapan publik, tidak ada yang mengenalinya sebagai Nikita. Itulah sebabnya mereka berbicara tanpa sungkan.

Mendengar fitnah dan kata-kata kotor itu, wajah Adler langsung menjadi masam. Dengan suara dingin, dia berkata, "Rumor berhenti di mulut orang yang bijaksana. Bergosip di belakang orang bukan tujuan rapat proyek ini."

Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, suasana di sekitar langsung menjadi sunyi.

Tepat pada saat itulah tatapan Darwis perlahan beralih kepada Adler.

Tatapan itu tenang dan dingin. Meski hanya lirikan biasa, tetap membawa tekanan khas seseorang yang berada di posisi tinggi.

Adler melirik Nirina sekilas, lalu memandang Darwis. "Kalian berdua kelihatannya punya hubungan yang sangat dekat."

Tatapannya berhenti di wajah Nirina. "Apa ini Nyonya Susanto?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 92

    Baru setelah kenyataan menamparnya dengan keras, akhirnya Nikita sadar bahwa sedalam apa pun cintanya, semuanya begitu murah hingga terasa menggelikan di hadapan sikap dingin seseorang.Tidak mencintai tetaplah tidak mencintai. Sebanyak apa pun ketulusan yang diberikan, tetap tidak akan ada gunanya.Sesaat sebelum jam pulang kerja, telepon internal dari meja resepsionis tersambung ke ruangannya.“Bu Nikita, ada seorang pria di bawah yang mengaku sebagai suamimu. Dia sedang menunggumu.”Jari tangan Nikita sedikit tertegun. Dia mengiakan dengan datar tanda dirinya telah mengerti, lalu mengambil tasnya untuk berjalan ke lantai bawah.Di sisi pintu masuk gedung, mobil Darwis terparkir di bawah cahaya lampu yang remang-remang.Nikita menghampiri, lalu mengetuk pelan kaca jendela mobil.Kaca jendela perlahan terbuka. Sorot mata pria itu tampak dingin dan tenang. “Masuk mobil.”“Kalau ada urusan, langsung saja.”“Soal ruang rawat nenekmu,” ucap Darwis datar tanpa nada emosi. “Aku sudah menyur

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 91

    Isi perjanjian perceraian yang disusun oleh Darwis sebenarnya cukup menguntungkan. Dia bersedia membagi rata harta di dalam negeri.Namun, itu juga berarti sebagian saham Evergreen Biotech yang menjadi bagian dari asetnya akan ikut terbagi.Berhubung Darwis terus menunda dan tidak mau membicarakan soal perceraian, Nikita tidak punya pilihan selain menempuh jalur hukum.….Keesokan harinya.Nikita menerima pesan singkat yang dikirim dari pengadilan. Permohonan gugatan yang diajukannya telah lolos proses pemeriksaan dan resmi diterima untuk disidangkan. Seluruh dokumen terkait sudah dikirim melalui layanan kurir.Berdasarkan perkiraan waktu pengiriman, Darwis akan menerima surat panggilan sidang perceraian tersebut pada hari ini.Saat menatap tulisan di atas layar, Nikita yang awalnya merasa gelisah sudah bisa mulai merasa tenang.….Setelah Darwis sadar dari mabuknya, kepalanya terasa sangat sakit.Saat turun dari tangga, dia spontan berkata, “Nikita, tuangkan susu.”Ketika Bibi Eva men

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 90

    Nirina melihat notifikasi panggilan masuk sekilas dan keningnya seketika berkerut. Setelah memastikan Darwis bisa berdiri dengan stabil, dia pun berpesan dengan acuh tak acuh, “Kamu bantu aku jaga dia sebentar.”Selesai berbicara, Nirina langsung berjalan ke luar untuk mengangkat telepon.Nikita tersenyum sinis sembari melirik sinis, kemudian tubuhnya yang berat langsung jatuh bersandar ke arah Nikita. Dia tidak menghiraukan Darwis sama sekali, hendak berjalan pergi.Kesadaran Darwis sudah mulai kabur. Langkahnya juga sempoyongan. Namun, seolah-olah hanya mengenali Nikita, dia menghampiri Nikita dengan terhuyung-huyung, kemudian tubuhnya yang berat langsung jatuh bersandar ke arah Nikita.Bau alkohol yang bercampur dengan aroma parfum Nirina langsung menyeruak, membuat Nikita mengernyit.Nikita mendorong Darwis sekuat tenaga. Namun, tubuh pria yang tinggi itu sama sekali tidak bergeming.Nikita menggertakkan giginya hendak melepaskan tangan yang disandarkan di atas pundaknya.Namun, ce

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 89

    Nikita tentu tidak bermaksud seperti itu.Hanya saja, Nikita sudah terlalu lama meninggalkan industri ini. Dia baru kembali, tetapi malah menikmati fasilitas seperti ini, dia pun sungguh merasa tidak tenang.Nikita menggigit bibirnya. “Aku bisa terima gaji, tapi mengenai pembagian laba ….”“Jangan menolak.”Alice yang berada di samping berjalan mendekat dan langsung merangkul pundak Nikita. “Kamu memang punya bagian dalam Evergreen Biotech. Hanya saja, waktu itu kamu fokus dalam pernikahanmu dan menyia-nyiakannya selama bertahun-tahun. Sekarang kamu sudah bisa kembali secara resmi dan mencurahkan seluruh perhatianmu untuk Evergreen Biotech. Semuanya tetap seperti semula.”“Aku dan Pak Adler adalah pemegang saham besar. Kami nggak keberatan, jadi kamu nggak usah bersikap sungkan.”Nikita menggenggam kontrak itu dengan semakin kuat.Rasa percaya ini terlalu berat. Nikita tidak boleh mengecewakan mereka lagi.Nikita mengambil pena, lalu menandatangani kontrak tersebut.“Begini baru betul!

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 88

    Dariel juga menulis di kolom komentar. [Kak Darwis sungguh memanjakannya. Bikin iri saja.]Seolah-olah air dingin seketika disiramkan dari atas kepalanya. Jari tangan Nikita terasa dingin, raut wajahnya seketika memucat.Semalam, di acara jamuan perayaan hari jadi pernikahan, Darwis masih berpura-pura menjaga hubungan baik dengannya. Namun, begitu acara selesai, Darwis langsung menemani Nirina menjalani pemeriksaan kehamilan. Cara Darwis menginjak-injak harga dirinya seperti ini benar-benar menunjukkan betapa dingin pria itu.Melihat raut wajah Nikita yang berubah muram, Alice segera menghiburnya, “Jangan dimasukkan ke hati. Wanita itu memang sengaja memancing emosimu.”Nikita menahan rasa isak tangisnya, lalu mengembalikan ponsel kepada Alice. Suaranya terdengar agak serak. “Aku nggak apa-apa.”“Apa ini namanya nggak apa-apa? Jelas-jelas dia lagi menginjak kepalamu!” Alice sungguh merasa emosi. “Sekarang, kamu telepon tanya Darwis!”Nikita tidak berbicara. Dia mengeluarkan ponsel hend

  • Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta   Bab 87

    Di ruang makan lantai bawah, sarapan sudah disusun semuanya.Ketika Nenek melihat Nikita turun, dia segera melambaikan tangan dengan tersenyum. “Niki, kemari untuk sarapan.”“Aku sudah masak sup sarang burung walet khusus untuk kamu. Belakangan ini kamu capek hingga kurus sekali.”Nikita menarik napas dalam-dalam. Dia berusaha menahan emosinya, lalu duduk di tempat. “Terima kasih, Nenek.”Nenek sangat menyayangi Nikita. Dia tidak seharusnya melampiaskan amarahnya terhadap Darwis kepada sang nenek.Ketika melihat raut wajah Nikita tidak begitu bagus, Nenek mencedok bubur sembari bertanya, “Semalam turun hujan deras, Darwis malah pergi mengantar Nirina. Aku merasa nggak tenang. Aku pun sengaja telepon dia untuk panggil dia kembali.”“Tanganmu kan masih belum pulih. Kamu juga nggak membawa mobil. Mana pantas dia sebagai suami malah nggak menemanimu di rumah?”“Setelah selesai makan nanti, aku akan suruh dia antar kamu pulang.”Baru saja ucapan selesai dilontarkan, Darwis yang sudah mengga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status