Setelah Adler selesai berbicara, semua orang yang hadir serempak mengalihkan pandangan kepada Nirina, menunggu jawaban.
Kabar soal Nikita menikah dengan Darwis hanya beredar di kalangan tertentu. Orang luar hanya tahu bahwa Darwis menikahi putri Keluarga Alinskie, tidak ada yang benar-benar menyelidiki siapa orangnya.
Nirina mengangkat pandangan ke arah Darwis. Bibirnya terkatup rapat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Darwis hanya mengangkat kelopak matanya sedikit. Dengan nada datar tanpa emosi, dia berkata, "Pak Adler memang pandai menebak."
Kalimat itu terdengar ringan, seolah menjawab, tetapi juga tidak.
Bisa dianggap sebagai penyangkalan, bisa pula dianggap sebagai pengakuan diam-diam.
Namun, di telinga Nirina, itu adalah pengakuan yang tak terbantahkan.
Tanpa sadar, dia menoleh ke arah Nikita. Di balik sorot matanya tersimpan kesombongan yang sama sekali tidak disembunyikan.
Dia seolah ingin berkata, lihat, Darwis adalah milikku.
Dahulu begitu, sekarang pun tetap begitu.
Meskipun Nikita adalah istri yang sah, pada akhirnya orang yang dipilih Darwis tetaplah dirinya.
Mendengar jawaban yang ambigu itu, Nikita hanya terkekeh pelan.
Benar juga. Toh mereka sudah akan bercerai. Untuk apa Darwis masih menyisakan sedikit pun rasa hormat untuknya?
Mengakui Nirina di depan umum memang tidak ada salahnya bagi pria itu.
Terlebih lagi, Nirina sudah mengandung anaknya.
Nikita tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Dia juga sudah tidak punya tenaga untuk terus berselisih.
Setelah melangkah maju, dia menarik pelan lengan baju Adler. "Adler, ayo."
Alis Adler berkerut erat. Dengan cemas, dia menatap Nikita.
Wajah perempuan itu benar-benar pucat.
Adler pun tidak berani membuang waktu. Dia segera memapah Nikita ke luar dan meminta seseorang membawakan segelas air hangat.
"Kapan Darwis pulang dari luar negeri? Dia malah datang sama Nirina ... bukan kamu ...."
Nikita menggenggam cangkir hangat itu dengan kedua tangan. Dia menunduk sedikit dan berkata dengan suara yang nyaris tanpa emosi, "Kami akan cerai. Aku juga sudah nggak peduli lagi sama dia."
Darwis sudah tidak ada hubungan lagi dengannya ....
Ucapan itu membuat dada Adler terasa sesak. Dia memandang Nikita, ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya urung.
Dia pernah melihat Nikita mempertaruhkan segalanya demi Darwis, pernah melihatnya begitu bahagia karena pria itu, juga pernah melihatnya menangis karena pria itu.
Dahulu dia sungguh mengira Nikita telah bahagia.
Namun, kini tampaknya sejak awal semua memang bukan seperti itu.
Adler menepuk pelan punggungnya, lalu berucap dengan lembut, "Niki, melepaskan bukan berarti kalah. Itu berarti memberi kesempatan dirimu sendiri untuk bebas."
....
Acara itu akan segera dimulai.
Tempat duduk Nikita semula berada terlalu jauh di belakang. Adler diam-diam berbicara dengan panitia hingga kursinya dipindahkan ke barisan depan.
Baru saja duduk, rasa nyeri yang tumpul langsung menjalar dari perut bagian bawahnya. Dia menahan ketidaknyamanan itu dan memaksa dirinya duduk tegak.
Detik berikutnya, Nirina berjalan lurus ke depannya.
"Nikita, ini tempat dudukku." Senyuman lembut menghiasi wajah Nirina. "Ibu sudah bilang, di bidang ini maupun di keluarga ini, biar aku saja yang memikul semuanya. Kamu pulang dan istirahat saja. Kalau butuh uang, minta saja padaku."
Nikita menatapnya dengan dingin.
Empat tahun lalu, Nirina diakui kembali sebagai putri kandung Keluarga Alinskie.
Ketika kedua orang tua mereka mengetahui bahwa Nikita bukan anak kandung, sikap mereka langsung berubah. Mereka selalu berpihak pada Nirina tanpa sedikit pun menutupi.
Dari putri kesayangan yang selalu dimanja, Nikita seketika turun takhta menjadi orang asing.
Kini dia sudah tidak punya tempat lagi di keluarga yang seharusnya menjadi rumahnya.
Jadi, kali ini pun dia tidak perlu repot-repot menjaga harga diri Nirina.
"Kita bukan keluarga. Nggak usah memaksakan hubungan seperti itu."
Nada bicara Nirina tetap lembut. Tangannya perlahan mengusap perut. "Aku lagi hamil. Aku benar-benar capek dan nggak mau jalan cari kursi lagi."
Rasa sakit di perut bawah Nikita makin jelas terasa. Jari-jarinya mengepal pelan menahan rasa nyeri itu.
"Ini tempat dudukku. Nggak ada alasan bagiku untuk memberikannya ke kamu."
Nirina menggigit bibir. Wajahnya tampak makin sedih. "Jelas-jelas ini kursiku."
"Hanya karena aku kakakmu, bukan berarti kamu bisa menyuruhku terus mengalah. Selama 10 tahun lebih di Keluarga Alinskie, aku sudah mengalah padamu. Apa itu masih belum cukup?"
Ketika kalimat itu terlontar, semua mata di sekitar langsung tertuju kepada Nikita.
Tatapan mereka seolah mengatakan bahwa dialah yang tidak tahu diri, keras kepala, dan suka menindas orang.
Nikita menatap Nirina dengan dingin. "Kalau begitu, tanyakan saja pada panitia. Biar jelas sebenarnya ini kursi siapa."
Dia langsung memanggil seorang petugas.
Petugas itu tampak serbasalah. Di satu sisi ada orang yang dibawa Darwis, sosok yang tak berani mereka singgung.
Di sisi lain ada Nikita yang duduk sesuai aturan sehingga mereka juga tidak bisa sembarangan mengusirnya.
Nikita menatap petugas itu dengan tenang. "Katakan, sebenarnya ini kursi siapa?"
Dia sama sekali tidak mau mundur.
Saat itu, suasana mendadak hening.
Darwis datang.
Aura pria itu dingin dan menekan. Pandangannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Nikita. Tidak ada sedikit pun kehangatan di matanya.
Mata Nirina langsung memerah. Dengan wajah penuh keluhan, dia mendekat. "Darwis, aku hanya ...."
Darwis mengangkat tangan dan menepuk pelan bahunya. Gerakan menenangkan itu begitu alami. Hati Nikita seolah tertusuk hingga sudut matanya terasa perih.
Dia memandang Nikita sambil berkata dengan datar, "Berdiri."
Jari-jari Nikita mengepal. "Ini tempat presentasi proyekku."
Ekspresi Darwis tidak berubah sedikit pun. Ekspresinya tetap datar. "Nikita, jangan bikin keributan di sini."
"Bikin keributan?" Tenggorokannya terasa kering.
"Mau proyek atau kursi ini milik siapa, itu nggak penting," sahut Darwis.
Tatapannya tetap tenang, seolah sedang melihat orang asing yang tidak tahu diri.
"Kondisi tubuh Nirina kurang baik. Dia nggak boleh terlalu lelah. Masa kamu sampai berebut kursi dengannya di acara seperti ini?"
Kondisi tubuh Nirina kurang baik?
Wajah Nikita makin pucat. Padahal ... dirinyalah yang sebentar lagi akan mati.
Namun, suaminya sama sekali tidak tahu. Pemahaman pria itu terhadap istrinya sendiri nyaris tidak ada. Sekarang pun dia bahkan membela Nirina.
Rasanya sungguh ironis.
Nikita menarik napas panjang. "Darwis, aku nggak mau bertengkar denganmu. Aku juga lagi nggak enak badan. Aku nggak ingin mengalah."
Dia benar-benar sudah tidak punya tenaga untuk berdebat.
Darwis menatapnya. "Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Jangan selalu pakai cara seperti ini untuk mencari perhatian."
Seluruh ruangan menjadi sunyi.
Semua orang akhirnya mengerti.
Darwis yang selama ini dikenal tenang dan dingin di hadapan publik, sangat melindungi Nirina.
Nikita memandang pria di depannya.
Pria yang dahulu begitu dia cintai, kini menyangkal seluruh usaha, penderitaan, dan harga dirinya dengan nada paling tenang.
Darwis begitu dingin, tegas, selalu melindungi Nirina. Setiap ucapannya menusuk tepat ke hati Nikita, menginjak-injak harga dirinya tanpa ampun.
Tiba-tiba, Nikita tersenyum. Sorot matanya telah membeku sepenuhnya.
Dengan satu kalimat dari Darwis, bagaimana mungkin dia masih bisa memperebutkan kursi itu?
Dengan kondisi tubuhnya sekarang, tenaga untuk bertahan saja nyaris tak ada. Untuk apa menghabiskan sisa tenaganya?
Kalau dirinya menderita, mana mungkin Darwis peduli?
Yang ingin dia lakukan sekarang hanyalah menggunakan sisa waktunya yang terbatas agar kedua orang tua kandungnya bisa hidup berkecukupan.
Sudahlah.
"Darwis." Sambil berpegangan pada sandaran kursi, Nikita berdiri perlahan. Suaranya sangat pelan saat berbicara. "Ingat baik-baik. Posisi ini bukan kuberikan padanya, tapi aku yang sudah nggak menginginkannya lagi."
Yang dia maksud tentu bukan hanya kursi itu, melainkan juga posisi sebagai istri Darwis.
Setelah berkata begitu, Nikita pun pergi.
Nirina menggigit bibir. "Darwis, apa aku sudah keterlaluan? Nikita sepertinya benar-benar marah. Wajahnya juga terlihat sangat pucat."
Darwis bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Nikita yang pergi. Dia hanya menatap Nirina sambil menunduk. "Kamu sudah terlalu banyak menderita. Sekarang yang perlu kamu lakukan cuma menjaga dirimu sendiri."
Sudut bibir Nirina pun terangkat.
Bahkan Darwis juga tahu bahwa Nikita berutang padanya.
Nikita telah menikmati kehidupan mewah dan menempati posisinya selama bertahun-tahun. Karena itu, apa pun yang dilakukan Nikita sekarang dianggap sebagai utang yang harus dibayar kepadanya.
....
Ini adalah rapat presentasi program nasional riset dan pengembangan prioritas bertajuk "Obat Inovatif dan Kedokteran Translasi".
Lembaga penelitian terbaik, rumah sakit kelas atas, hingga perusahaan farmasi papan atas semuanya hadir.
Barisan depan ruang konferensi dipenuhi para pembimbing, profesor, dan ketua tim riset.
Karena kursinya sudah diambil, ketika kembali ke barisan belakang, Nikita sudah tidak bisa menemukan tempat kosong lagi.
Dia juga tidak ingin merepotkan Adler. Setelah menelan obat pereda nyeri, dia hanya berdiri di sudut.
Di tangannya hanya ada sebuah laptop tipis. Bahkan papan presentasi resmi tim pun tidak dia miliki.
Sebelum presentasi dimulai, beberapa peneliti dari tim sebelah berkumpul dan berbisik.
"Siapa perempuan itu? Belum pernah lihat."
"Katanya dari laboratorium Adler. Namanya Nikita. Kabarnya cuma asisten."
"Asisten berani mengajukan proyek tingkat nasional? Datang cuma buat jadi pelengkap ya?"
"Paling kenalan Adler. Mungkin proposal pun belum tentu ditulis dengan benar."
"Lihat saja nanti. Proyek sekelas ini bukan sesuatu yang bisa dipegang sembarang orang."
Nikita hanya menunduk, membolak-balik dokumen. Jari-jarinya tetap tenang. Dia sama sekali tidak menghiraukan cibiran yang datang terang-terangan maupun diam-diam.
Dia memang tidak memiliki gelar akademik tinggi. Riwayat pengalamannya pun tidak terlalu mengesankan. Di mata mereka, dia hanyalah asisten kecil yang bergantung pada Adler. Bahkan hak untuk memasuki ruangan ini pun seolah hanya karena menumpang nama Adler.
Akhirnya, tibalah giliran Nikita.
Dia melangkah ke atas panggung. Sorot lampu jatuh tepat ke tubuhnya. Tanpa basa-basi sedikit pun, dia langsung membuka file presentasi.
Tak ada desain yang mewah. Semua isinya adalah data nyata. Model verifikasi target, analisis mekanisme resistansi obat, jalur optimalisasi proses produksi, data keamanan praklinis, hingga skema pengendalian biaya.
Setiap halaman tepat mengenai tiga hal yang paling diperhatikan para penilai. Inovasi, kelayakan, dan implementasi.
Para penilai bergantian melontarkan pertanyaan tajam.
"Bagaimana Anda mengatasi konflik antara jalur teknologi Anda dengan paten yang sudah ada?"
"Mana data stabilitas untuk produksi skala menengah?"
"Bagaimana cara agar seluruh proses etika dan kepatuhan berjalan sempurna?"
"Kenapa anggaran dibagi seperti ini?"
Nikita menjawab semuanya tanpa ragu. Logikanya runtut, datanya lengkap. Bahkan untuk persoalan yang selama ini diakui sebagai kesulitan terbesar di industri, dia mampu memberikan solusi orisinal.
Dia tetap tenang. Setiap jawaban langsung mengenai inti persoalan, tanpa satu pun kata yang bertele-tele.
Para penilai yang semula tampak acuh perlahan duduk tegak. Pulpen mereka terus bergerak mencatat di lembar penilaian.
Begitu presentasi selesai, ruangan hening selama beberapa detik. Kemudian, terdengar tepuk tangan yang jelas.
Seluruh ruangan gempar.
Namun, wajah Nirina berubah muram. Tangannya yang menggantung di sisi tubuh tanpa sadar mengepal.
Nikita tidak mungkin memiliki kemampuan seperti ini. Dia hanya mahasiswi biasa. Pasti Adler yang diam-diam membantunya.
Atas dasar apa seorang asisten mendapatkan proyek tingkat nasional?
Hasil akhirnya baru akan diumumkan besok.
Di acara yang dipenuhi tokoh-tokoh penting ini, Darwis telah memperkenalkan banyak koneksi kepada Nirina.
Bahkan tanpa perlu Darwis berbicara, sudah ada orang-orang yang datang menawarkan kerja sama kepada Nirina.
Setelah turun dari panggung, kondisi Nikita makin buruk. Meski sudah meminum obat pereda nyeri, tubuhnya tetap terasa sangat tidak nyaman.
Saat turun, yang dia lihat justru suaminya sedang membantu kakaknya memperluas jaringan relasi. Mereka dikelilingi banyak orang. Pemandangan itu terasa begitu lucu sekaligus menyakitkan.
Pada tahun kedua pernikahan mereka, Nikita pernah meminta Darwis menemaninya pulang ke rumah orang tua kandungnya untuk merayakan ulang tahunnya. Darwis menolak dengan alasan tidak punya waktu.
Pria itu seolah takut punya sedikit saja hubungan dengan keluarga kandungnya yang sangat miskin, sehingga sengaja menjaga jarak.
Namun kepada Nirina ... dia justru bisa bersikap begitu baik.
Tatapan Nirina tertuju pada Nikita. "Nikita, kemarilah. Aku akan mengenalkanmu ke beberapa relasi."
Relasi milik suaminya sendiri ... kini justru harus dia dapatkan lewat belas kasihan Nirina. Sungguh menggelikan.
Jelas sekali Nirina sedang memamerkan kemenangan di hadapan istri sah Darwis. Nikita sendiri sama sekali tidak punya hobi menjadi pelengkap kebahagiaan orang lain. Dia bahkan malas mengangkat kelopak matanya.
Beberapa hari terakhir, dia terus begadang melakukan eksperimen, menyelesaikan proposal, dan menahan berbagai cibiran selama persiapan proyek ini.
Sekarang, kepalanya pening. Perutnya didera rasa sakit yang tumpul. Dia sama sekali tidak punya tenaga untuk terus meladeni. Yang dia inginkan hanyalah segera mencari tempat yang tenang untuk beristirahat.
Nikita sedikit memutar tubuh. Baru saja mengangkat satu kaki, pandangan di depan matanya mendadak menggelap. Seluruh cahaya seketika lenyap.
Suara orang berbicara, suara langkah kaki, hingga suara embusan pendingin ruangan, dalam sekejap menjadi begitu jauh dan samar.
Tubuhnya kehilangan penopang lebih dahulu sebelum kehilangan kesadaran. Lututnya melemas. Seluruh tubuhnya jatuh ke lantai.
Bruk!
Terdengar suara benturan yang pelan. Di ruang konferensi yang benar-benar sunyi, suara itu terdengar begitu jelas hingga menusuk telinga.
Nikita terjatuh di atas lantai yang dingin. Rambut panjangnya berantakan. Dokumen proyek yang semula digenggamnya berserakan ke mana-mana. Wajahnya yang pucat menempel di lantai. Tidak ada sedikit pun tanda kesadaran.
Tak jauh dari sana, Darwis hampir secara naluriah mengalihkan pandangan.
Tatapannya pun terpaku pada sosok Nikita yang tergeletak di lantai ....