ログインLampu di area foyer masih menyala, tetapi cahaya kuning hangat itu sama sekali tidak membuat rumah ini terasa hangat.Tanpa sadar, pandangan Nikita menyapu rak sepatu.Di atas rak itu, selain sepatu miliknya dan sepatu pembantu, tampak jelas sepasang sepatu flat wanita yang tidak seharusnya ada di rumah ini.Modelnya elegan, warnanya cerah.Lampu utama ruang tamu menyala terang benderang, tetapi tidak ada seorang pun di sana. Suasananya begitu sunyi hingga terasa mencekam.Hanya dari arah kamar tidur utama terdengar suara gemericik air yang terus mengalir. Suara pancuran dari kamar mandi terdengar jelas di telinga.Kening Nikita langsung berkerut rapat.Dia memperlambat langkah, berjalan sedikit demi sedikit menuju kamar tidur utama.Sesampainya di depan pintu kamar, dia mengangkat tangan dan perlahan mendorongnya hingga terbuka.Detik berikutnya, sosok yang sangat dikenalnya keluar dari kamar mandi. Orang itu mengenakan setelan piama sutra favoritnya.Warnanya krem muda, bahannya lemb
Nikita perlahan menunduk."Soal perceraian masih dalam proses. Terlalu banyak hal yang terlibat, jadi wajar kalau prosesnya rumit. Nggak mungkin bisa dihindari."Harta, relasi, keluarga .... Semuanya bukan sesuatu yang bisa diputus hanya dengan satu kata "cerai".Adler menatapnya dalam-dalam melalui kaca spion, lalu berkata dengan nada serius, "Kamu lebih tahu daripada siapa pun, siapa Darwis sebenarnya. Pernikahan ini nggak akan semudah itu diakhiri.""Kalau dia nggak ingin melepaskanmu, meski kamu mengerahkan seluruh kemampuanmu, belum tentu kamu bisa terlepas dari pernikahan ini dengan lancar."Nikita terdiam. Karena dia tahu, semua yang dikatakan Adler adalah kenyataan.Selama lima tahun, dia telah merasakan sendiri sikap dingin dan kerasnya Darwis. Tak ada yang lebih memahami cara-cara pria itu selain dirinya.Melihat Nikita tetap diam, Adler tidak melanjutkan pembicaraan. Dia hanya mengulurkan tangan untuk menaikkan suhu AC di dalam mobil. Embusan udara hangat perlahan menyelimut
Raiden datang dengan sangat cepat.Pria itu memasang senyuman santai di wajahnya, lalu memandang Nikita dan bertanya, "Berantem dengan Kak Darwis? Kenapa nggak pulang bareng?"Napas Nikita seketika terasa tercekat.Mustahil dia mau pulang diantar Raiden.Nikita menoleh kepada Mirna. "Nenek, barusan Darwis balas pesanku. Katanya dia akan datang jemput aku, jadi nggak perlu repotin Raiden lagi."Mirna memandangnya. "Begitu ya? Kalau begitu Raiden ...."Raiden memang terkenal sebagai orang yang sangat pandai membaca situasi. Tatapannya dipenuhi kesan santai sekaligus sulit ditebak. Dari perubahan ekspresi Nikita, bagaimana mungkin dia tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi?Dia langsung memotong ucapan neneknya sambil tersenyum tipis, "Kalau Kak Darwis memang mau jemput kamu, berarti aku nggak perlu antar lagi. Tapi aku bisa temani kamu nunggu. Sekalian nanti aku bisa sapa Kak Darwis."Nikita menarik napas dalam-dalam.Darwis tidak akan datang menjemputnya. Kalau memang berniat me
Tenggorokan Nikita terasa sesak.Saat ini, seluruh tubuhnya terasa lemas. Rasa takut setelah hampir dilecehkan oleh Raiden masih belum juga hilang.Di rumah besar Keluarga Kumala ini, dia benar-benar sendirian. Dia rapuh, tanpa siapa pun yang bisa diandalkan.Darwis berdiri tidak jauh darinya, menyatu dengan gelapnya malam. Tatapannya yang dalam tertuju pada Nikita.Dengan suara datar, dia bertanya, "Benarkah begitu?"Tangan Nikita yang menggantung di sisi tubuh perlahan mengepal.Dia terlalu mengenal pria di hadapannya. Menjelaskan tidak ada gunanya, begitu pula membantah. Di mata Darwis, bahkan rasa sakit hatinya pun terasa seperti sesuatu yang tidak perlu.Kalau dia mengatakan satu kalimat lagi, belum tentu Darwis akan memercayainya. Yang ada hanya akan membuat dirinya makin dipermalukan.Mana mungkin Darwis percaya bahwa Raiden baru saja berusaha melecehkannya?Dia juga tidak pernah berharap Darwis akan membelanya atau sampai merusak hubungan dengan Keluarga Kumala demi dirinya.Le
Setelah mengatakan itu, Nikita berbalik dan hendak melewatinya. Dia tidak ingin ada hubungan apa pun lagi dengan Raiden.Namun, seolah sudah menebak reaksinya, Raiden segera melangkah lagi dan kembali menghalangi jalannya.Dia maju selangkah. Jarak di antara mereka langsung menyempit. Aroma samar alkohol bercampur parfum pria langsung menerpa wajah Nikita, membuatnya tanpa sadar mundur selangkah."Kenapa buru-buru sekali, Kak?"Sudut bibir Raiden terangkat membentuk senyuman penuh godaan. Tatapannya menelusuri tubuh Nikita tanpa sedikit pun menahan diri. "Sudah lama nggak ketemu. Masa ngobrol sebentar saja nggak boleh?"Nikita mengernyit. "Nggak ada yang perlu kita bicarakan."Namun, Raiden seolah tidak mendengar penolakannya. Dia tiba-tiba maju selangkah lagi dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Nikita.Telapak tangannya lebar dan hangat. Cengkeramannya sangat kuat. Dia menggenggam pergelangan tangan Nikita erat-erat hingga wanita itu sama sekali tidak bisa melepaskan diri."L
Darwis mengangkat pandangannya ke arah kerabat itu, lalu perlahan berkata, "Kakek Radit, marga istriku Alinskie."Suaranya terdengar jelas. Saat kalimat itu masuk ke telinga Nirina, rasanya bagai alunan musik yang paling indah.Jantungnya seketika berdegup makin kencang. Matanya berbinar penuh harap. Tatapannya terkunci erat pada bibir Darwis, menunggu pria itu menyebut namanya.Namun, tepat ketika Darwis hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba dering ponsel yang nyaring memecah keheningan singkat itu.Dia mengeluarkan ponselnya dan melirik layarnya. Alisnya sedikit berkerut.Sesaat kemudian, pria itu berdiri. Dia mengangguk ringan kepada Radit. Dengan nada meminta maaf, dia berkata, "Maaf, Kakek Radit. Ada urusan yang mendesak dan harus kutangani. Aku permisi sebentar. Biar istriku yang menemanimu ngobrol."Setelah mengatakan itu, dia langsung berbalik dan pergi.Tanpa sadar, Nirina langsung menganggap bahwa yang dimaksud Darwis dengan istri adalah dirinya.Bagaimanapun juga, selama i







