ログインDalam hitungan detik saja. Akhirnya teriakan kenikmatan dari bibir mereka berdua memenuhi ruangan itu. Sofa berwarna merah terang itu terasa basah semua oleh keringat mereka.Julian terlihat ngos-ngosan, sama halnya dengan Soraya yang juga terengah-engah. Tubuh mereka dipenuhi dengan keringat yang bercucuran. Tapi, ada sebuah kepuasan yang hakiki seakan hal itu adalah sebuah kewajiban.Jiwa dan asmara saling berhubungan. Hati tak bisa dibohongi bahwa ada chemistry yang luar biasa yang tidak bisa dipisahkan."Aku mencintaimu, Mas. Aku sangat mencintaimu!" desis Soraya disela-sela rasa lelahnya yang sangat nikmat.Julian mendengar suara Nadine di sana. Iya, pria itu tidak pernah merasa dirinya sedang bersama wanita lain, tapi ia seperti sedang berada di dalam pelukan istrinya yang begitu dicintainya."Aku juga sangat mencintaimu, Nadine. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu, kamu tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun, termasuk Ana!" balas Julian yang masih berada di atas tub
Kedua tangan mereka saling meremas. Tubuh mereka menyatu dalam dekapan malam yang dingin. Diiringi suara gemuruh yang saling bersahutan, suara desahan mereka pun tak kalah bergemuruh.Sementara itu, Ana sedikit curiga dengan keadaan rumah Soraya. Kenapa cuma rumah wanita itu yang mati lampu, sedangkan rumah di sekitarnya tidak ada yang mati.Karena rasa hausnya makin besar, Anak segera keluar dari kamar. Suasana rumahnya sangat sepi. Seperti Julian dan asisten rumah tangga sudah tidur semua.Ana berjalan ke arah dapur yang melewati kamar Julian. Saat wanita itu melewati di depan pintu kamar Julian, langkah kakinya mendadak berhenti.Ana mendapati pintu kamar suaminya terbuka, lalu ia melihat ke dalam sana, sepertinya Julian tidak ada di kamarnya."Mas Julian ke mana?" gumamnya penuh kecurigaan. Ia lalu memeriksa ke dalam kamar pria itu. Julian benar-benar tidak ada. Lalu, ke mana dia malam-malam begini, apalagi hujan deras."Mas Julian! Mas! Kamu di mana?"Bahkan, Ana sampai mencari s
Mereka berciuman dan Soraya sudah pasti membalasnya. Bagaimana bisa dirinya menolak suami sendiri, justru Soraya membalasnya lebih gila lagi. Wanita itu tidak sungkan-sungkan menyodorkan tubuhnya kepada Julian. Julian sendiri merasa jika dirinya sedang mencium Nadine karena napas Soraya sama persis dengan napas Nadine. Bibir mereka terus menyatu, sedangkan tangan Soraya sangat berani membuka kancing baju Julian satu persatu. Setelah semua kancing baju Julian terlepas. Dengan mudah wanita itu melepaskan baju suaminya. Seketika Julian melepaskan ciumannya dan merasa jika ini adalah salah. "Ahh, Bu Soraya, kita tidak bisa...!" Belum sampai Julian merampungkan kata-katanya. Dengan cepat Soraya menutup bibir pria itu dengan dua jarinya. "Ssssttt! Jangan bohongi hatimu, Pak Julian. Aku tahu kamu sangat menginginkannya. Anggap saja aku ini Nadine, istrimu. Bukankah kamu sangat merindukannya?" bisik Soraya begitu dekat di telinga Julian. Ah, bagaimana mungkin Julian menolaknya. Suara it
"Kalau begitu kita ke kamar saja, Pak. Biar enak!" ajak Soraya. Untuk sejenak Julian berpikir bahwa itu sangat tidak mungkin. Resikonya sangat besar jika orang lain tahu dirinya berada di dalam kamar seorang wanita. Pasti mereka akan menuduh dirinya sedang berbuat mesum. Dirinya masuk ke rumah Soraya saja itu termasuk pelanggaran, karena Soraya hanya tinggal sendirian saja. Apalagi masuk ke kamar wanita itu. Pasti seluruh kompleks gempar dan Ana pasti sudah mencak-mencak. "Ta-tapi, Bu. Maaf, sepertinya saya tidak mungkin masuk ke kamar Bu Soraya. Kita di luar saja, saya rasa itu lebih baik," jawab Julian berusaha untuk tidak menuruti permintaan Soraya yang tidak masuk akal. Dirinya siapa dan Soraya siapa. Mereka bukan saudara atau suami istri, pasti akan menimbulkan fitnah besar. "Em, baiklah kalau begitu. Kita di sana saja, di sofa itu," kata Soraya seraya menunjuk ke arah sebuah sofa di ruang tengah. Julian menoleh dan setuju jika di sofa itu, setidaknya itu bukan tempat intim
Setelah memastikan Ana sudah tidur. Pria itu beranjak keluar rumah. Tanpa sengaja Carlota melihat kepergian majikannya yang belok ke arah rumah Soraya, tetangga baru itu. "Pak Julian pergi ke rumah tetangga baru itu? Mau ngapain ya?" gumam Carlota. "Apa aku kudu lapor Nyonya? Ah, enggak lah! Biarin aja. Ngapain lapor ke Nyonya. Keenakan dia dikasih berita gratis. Aku berdoa mudah-mudahan Pak Julian selingkuh. Biar kapok tuh perempuan nggak seenak jidat dia!" gumam Carlota yang tiba-tiba berpikir mendukung Julian pergi ke rumah tetangga baru itu malam-malam. Sepertinya perempuan itu sudah lelah menghadapi sikap Ana. Ia berharap Ana dan Julian segera berpisah. Sementara itu, hanya beberapa langkah saja, Julian sudah tiba di depan rumah Soraya. Sesuai petunjuk Soraya, Julian membuka gembok pagar itu dengan nomor pin sehingga dengan mudah Julian bisa masuk ke dalam pagar yang sudah dikunci. Julian lalu masuk ke rumah mewah itu. Soraya tinggal sendirian sehingga membuat Julian kasihan
Ana langsung membeku kala melihat wajah Soraya. Bisa-bisanya perempuan itu berada bersama suaminya. Itu artinya Soraya adalah tetangga barunya."Kau!" kata Ana dengan wajah penuh amarah. Di sisi lain, Soraya justru tersenyum ramah pada wanita itu."Halo, Nyonya! Apa kabar? Senang sekali bisa bertemu dengan Anda lagi. Wah, ternyata kita tetanggaan ya, ini sangat kebetulan!" balas Soraya tanpa beban dan tentunya ia sengaja bicara seperti itu menandakan bahwa dirinya tidak ada masalah dengan Ana.Tetapi bagi Ana ini adalah sebuah kehancuran. Apalagi ia tahu jika perempuan yang sedang bersama Julian di malam itu adalah Soraya.Soraya langsung menghampiri suaminya. Ia tarik tangan Julian agar menjauhi Soraya."Sini kamu, Mas! Jangan dekat-dekat sama dia!" ucap Ana dengan menarik kasar tangan Julian.Julian merasa tidak suka diperlakukan seperti itu di depan orang banyak. Pria itu segera menepis tangan istrinya."Kamu kenapa sih, An? Datang-datang main tarik saja!" ucap Julian dengan sediki
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok







