LOGIN"Hah, afa?" Nadine menyahutinya bingung. Juki tersenyum, setidaknya pria itu ingin membuktikan pada Nyonya Marta bahwa dirinya adalah pria yang baik seperti yang dikatakan oleh wanita itu. Nyonya Marta pun ikut senang karena cucunya tidak salah pilih suami. "Syukurlah, Oma sangat senang sekali. Nak Juki, Oma harap kamu bisa segera memberikan anak untuk Nadine, ya. Maklum, dia ini sudah tua. Oma khawatir dia terlambat mendapatkan anak. Sedangkan dia adalah cucu Oma satu-satunya!" kata Nyonya Marta yang terlihat masih cantik meskipun usianya sudah menginjak tujuh puluh tahun. Juki sendiri juga heran sebenarnya. Wajah Nyonya Marta terlihat bangsawan sekali. Usianya masih sudah senja tidak menutup kecantikan alami wanita itu. Tapi entah kenapa wajah Nyonya Marta tidak menurun pada Nadine ya notabennya adalah cucu satu-satunya. "Iya, Oma. Mudah-mudahan dilancarkan usaha kami!" jawab Juki sambil tersenyum. Nadine memutar bola matanya. Bisa-bisanya pemuda itu sangat percaya diri dan sema
Nadine dan Juki langsung tercengang mendengarnya. Seketika Nadine menarik tangannya dari dalam celana Juki. Sayangnya, tangannya susah untuk dikeluarkan sehingga membuat Juki merasa kesakitan. "Aduh, aduh, sakit nyooo!" pekik Juki sambil meringis. Nadine yang panik, wanita itu melihat ke bawah, rupanya cincin yang ia kenakan tersangkut pada celana dalam Juki. "Sial, malah nyangkut lagi!" gerutu wanita itu. "Hati-hati, Tante. Nanti kepala saya pusing!" kata Juki yang merasa was-was jika Nadine menarik tangannya dengan paksa. Sementara itu Ana tampak tertawa kecil melihat itu. Wanita itu sampai menutup mulutnya sendiri agar suara tawanya tidak terdengar oleh Nadine. "Ya ampun, gokil banget mereka sumpah! Bisa-bisanya Nadine dan Juki gituan!" batin Ana yang sengaja berdiri di belakang Nyonya Marta yang juga nampak bingung. Setelah berhasil mengeluarkan tangannya dari dalam celana Juki. Nadine langsung membalikkan badannya. Wanita itu melihat sang nenek sudah berdiri di sana.
Juki berusaha keras untuk menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Seperti permintaan istrinya, ia harus memakai baju itu karena ia tidak ingin membuat Nadine malu pada neneknya. Di sisi lain Nadine menunggu sang Oma datang. Ia berharap Ana bisa meyakinkan Nyonya Marta jika dirinya saat ini sedang menyamar. Setelah siap dan rapi, Juki menatap dirinya pada cermin. Pria itu senyum-senyum sendiri saat melihat penampilan barunya. "Widih! Terbuat aku ganteng juga. Kalau dilihat-lihat mukaku nggak jauh beda dengan Justin Bieber kalau dilihat dari sedotan!" Juki bermonolog sendiri, ketawa-ketawa mengejek dirinya sendiri. "Hah Juki! Beruntung amat kamu dinikahi wanita seperti Tante Nadine. Biar pun orangnya punya wajah bak Cinderella kecemplung got, tapi dia sangat perhatian sekali. Tak apalah, demi hidup lebih baik aku kudu bisa! Bisa membuatnya hamil, itu adalah pekerjaan yang kecil dan juga nikmat. Hah, nikmat mana lagi yang kamu dustakan!" Setelah pria itu bercermin, Juki pun keluar
Ana tertawa kecil melihat ekspresi wajah Juki yang tercengang saat Nadine memarahinya. Sepertinya wanita itu sangat overprotektif terhadap Juki. "Udah, Bang Juki! Diiyain aja Bu Nadine ngomong. Jadi berapa semua satenya?" kata Ana menengahi mereka. Nadine masih menatap tajam ke arah Juki sambil menyilangkan kedua tangannya. "Ohhh, dua puluh lima rebu, Bu Ana!" jawab Juki sambil tersenyum tapi kedua matanya masih lirik-lirik ke arah Nadine. Ana segera mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribuan dan ia berikan kepada pria itu. "Ini!" Juki menerima uang tersebut tapi pria itu tidak punya uang kembalian. "Aduh, saya nggak bawa uang kembalian, Bu. Saya ambilkan dulu sebentar!" sahut Juki sambil beranjak pergi. "Ehh nggak usah, kembaliannya untuk bang Juki saja!" sahut Ana. "Loh! Ini uang kembaliannya masih banyak, Bu. Saya jadi nggak enak nanti!" kata Juki. Bukan Ana yang menjawabnya tapi Nadine langsung. "Udah, ambil saja kembaliannya, buruan keluar dari ruanganku, bajumu b
Nadine tercengang mendengar jawaban nyonya Marta. Lantaran itu adalah tugas dari kantor dan ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Memang akan ada efeknya karena ia akan pisah ranjang dengan Juki dan kesempatannya untuk hamil akan berpengaruh. Tapi bukan perkara itu saja. Haruskah ia menyamar terus sebagai Nadine si Tante-Tante saat sang Oma tinggal bersama."Tapi, Oma!""Nggak ada tapi-tapian! Oma akan menyuruh Tomi untuk menggantikanmu pergi. Pokoknya kamu tetap harus ada di rumah. Oma nggak mau tahu, ya. Kamu harus segera hamil, bila perlu Oma akan memberikan hadiah honey moon untuk kalian berdua!" kata Nyonya Marta.Nadine menepuk jidatnya sendiri, ia tahu bagaimana sifat sang nenek yang tidak mau dibantah. Jika dibantah maka penyakit jantungnya akan kambuh."Honey moon! Sepertinya nggak usah, Oma. Kita berdua di rumah aja karena suamiku lebih suka di rumah. Lagipula dia harus berdagang!" jawab Nadine."Suamimu jualan apa? Pasti jualan emas atau jualan mobil. Iya, kan?" kata N
"Juki! Jangan malah melamun! Buruan, aku keburu lapar!" sahut Nadine dengan wajah ketusnya. "Ah iya Bu sebentar. Tapi tadi Bu Karin yang pesan duluan. Bu Nadine datang belakangan, jadi saya harus mendahulukan Bu Karin dulu, baru Bu Nadine!" jawab Juki. Ia harus profesional terhadap para pelanggannya tak perduli jika Nadine memaksakan kehendak. Karin tersenyum sinis sambil berkata. "Lagian, Bu Nadine ini datang belakangan kok minta duluan. Itu namanya menyerobot!" Nadine semakin kesal. Napasnya naik ke dengan cepat. Entah sedang cemburu atau memang ia tidak suka dengan sikap Karin. Intinya wanita itu sangat tidak suka jika Juki didekati oleh wanita lain. Terpaksa, demi gengsinya. Nadine menunggu Juki mengipasi sate-satenya. Pemuda itu terlihat gugup karena dua wanita cantik sedang memperhatikan dirinya sedang berjualan. Karena gugup, Juki meminta pada kedua wanita itu untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. "Bu Karin dan Bu Nadine, duduk dulu biar kakinya nggak pegel. Nanti k







