LOGINDafa tersenyum tipis “Iya belum bisa tidur,” dan meskipun cahaya lampu terasnya tidak terlalu terang, senyumannya tetap terlihat menawan. Wajahnya yang tampan tetap terlihat jelas, bahkan dalam pencahayaan yang sedikit redup.
Tiara tidak bisa tidak memperhatikan ketampanan Dafa, dan dia merasa sedikit terpesona oleh aura yang dipancarkan oleh Dafa namun sayangnya Dafa sudah memiliki istri. “Mbak Kayla kemana mas udah tidur?” Tanya Tiara. “Iya udah tidur Ti,” jawab Dafa. “Tadi siang aku lihat mb Kayla di mall sama temen-temannya kirain aku salah orang ternyata bener mbak Kayla cuma gak enak mau nyapa hehe,” ucap Tiara tersenyum. “Berapa orang temen-temennya?” Tanya Dafa. “Cuma dua orang mas,” jawab Tiara. Dafa mengangguk, Ada perasaan lega di hati Dafa mendengar ucapan Tiara karena Kayla jujur padanya bahwa dia memang bertemu teman-temannya. “Yaudah mas kalau gitu aku lanjut ya udah ngantuk,” ucap Tiara sebenarnya dia ingin mengobrol dengan Dafa lebih lama namun ia tahu diri Dafa sudah beristri dan laki-laki itu selalu menjaga jarak padanya mungkin Dafa tidak ingin terjadi fitnah. “Oh iya Tiara,” jawab Dafa meangguk dan tersenyum tipis. ☘️☘️☘️ Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang sama bagi Dafa. Setiap pagi, dia bangun sebelum matahari terbit untuk memulai hari dengan kegiatan membersihkan rumah, mencuci baju, dan memasak makanan untuk dirinya dan Kayla. Dafa siap untuk melanjutkan aktivitas lainnya, seperti bekerja sebagai ojek online untuk mencari nafkah. Dafa melihat istrinya, Kayla, masih terlelap tidur di pagi hari. Dia tidak membangunkan Kayla, membiarkannya tidur lebih lama. Setelah melihat jam menunjukkan pukul 07.00 pagi, Dafa memutuskan untuk berangkat bekerja. “Sayang aku berangkat ya, kamu jangan lupa makan,” entah Kayla mendengarnya atau tidak tetapi bagi Dafa yang penting ia sudah berpamitan. Dengan langkah yang tenang, dia meninggalkan rumah dan bersiap untuk menjalankan tugasnya sebagai ojek online, meninggalkan Kayla yang masih tidur nyenyak di rumah. Senyum Dafa mengembang saat ia akan menstarter motornya langsung ada notifikasi orderan “Wahh padahal baru aja hidupin aplikasi udah ada orderan aja nih.” Saat Dafa sudah sampai di titik lokasi ia celingukan melihat tempat yang lumayan sepi hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang. “Loh lokasi titiknya bener disini tapi kok gak ada orang, apa jangan-jangan orderan fiktif?” Dafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Saat Dafa sedang memeriksa orderan di aplikasi ojek online, tiba-tiba seorang gadis berlari ke arahnya dengan wajah panik. Gadis itu langsung menaiki motor Dafa tanpa ragu, seperti ketakutan akan sesuatu. "Tolong, bang! Bawa saya ke tempat yang aman!" serunya dengan napas terengah-engah. Dafa terkejut dengan kejadian ini, tapi dia segera bereaksi dan menghidupkan mesin motornya. "Eh eh mbak ini siapa apa mbak yang namanya Dona ya?" tanya Dafa sambil melihat ke sekeliling, mencari tahu apa yang membuat gadis itu begitu ketakutan. “Apa Dona? Bukan nama saya bukan Dona. Udah deh bang cepetan saya lagi dikejer-kejer orang nih,” ucap Gadis itu. “Kalau bukan ya berarti saya gak bisa dong bawa mbak karena mbak bukan penumpang saya,” ucap Dafa. “Bang please deh saya lagi buru-buru nanti saya bayar berapapun yang mas mau kok tenang aja, tapi sekarang bawa saya kabur dulu keburu orang suruhan daddy saya kesini,” ucap Gadis itu. “Aduh mbak gimana ya saya kena pelanggaran yang ada kalau main bawa-bawa orang yang bukan penumpang saya,” ucap Dafa dia kesal gadis itu memaksa dirinya terus. “Bang please,” gadis itu memohon-mohon saat dirinya akan berbicara terlihat dua orang berbadan besar sepertinya orang-orang itu bodyguard dan gadis itu langsung ketakutan “bang tolong bang tolong saya, saya takut digebukin nih cepetttt bang cepett,” Gadis itu menepuk keras pundak Dafa agar cepat menghidupkan motornya. Dafa yang ikut panik saat melihat dua orang berbadan besar berlari kearahnya itupun akhirnya menghidupkan motornya lalu melajukan motor secepat mungkin.Detik jam merambat pelan, membuat waktu seolah tertahan. Di dalam ruangan mewah itu, dua orang saling terpaku dalam tatapan, sementara cahaya siang menyusup lembut menembus dinding kaca.“Aku gak suka kamu mikirin hal lain disini,” Di tengah heningnya ruangan yang dibasuh cahaya siang, Evelyn berbisik lirih. Ia menatap jauh ke dalam bola mata indah Dafa. Pria itu tampak jauh lebih tampan dari saat ia pertama kali bertemu, hingga Evelyn merasa hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.Dafa mendorong pelan bahu Evelyn dan berusaha menetralkan tubuhnya, “Aku gak mikirin apa-apa,”Bohongnya ia melihat kearah lain tanpa memperdulikan tatapan Evelyn. “Jangan bohong aku tahu kamu gelisah,” ucap Evelyn.“Terserah kamu percaya atau enggak,” Dafa melanjutkan pekerjaannya dan membuka lembaran demi lembaran yang menumpuk itu.Evelyn memutar bola matanya dengan malas, mencoba menyembunyikan debar jantungnya yang tak beraturan. Ia membuang muka ke arah dinding kaca.TokTokTokKetukan di pi
Cerahnya pagi mengiringi langkah orang-orang yang mulai bergegas memulai hari. Di saat yang sama, deru dan lalu lalang kendaraan perlahan memenuhi setiap jengkal jalanan.Di saat yang sama, Willy berjalan dengan langkah tergesa dan wajah yang tampak serius. Pagi itu, ia hanya membalas sapaan beberapa karyawan dengan anggukan singkat.TokTokTokWilly mendorong pelan pintu kaca ruangan Tuan Jason, seolah menjaga agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu kesunyian di dalam.Pintu terbuka menampakkan sang pemilik ruangan tampak menyesap kopi paginya.“Selamat pagi tuan,” sapa Willy.“Willy, apa agendaku pagi ini?” Tanyanya.“Siang ini anda akan menemui kolega dari negara C tuan, dan saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai sekertaris nona Evelyn,” Nada bicaranya terdengar serius saat menyampaikan maksud kedatangannya. Menanggapi itu, Tuan Jason hanya memberikan anggukan singkat tanpa mengalihkan pandangan.Jari Willy bergerak lincah membuka tab di layar. Seketika, data pribadi Dafa t
Jantung Evelyn berdegup kencang saat ia berdiri mematung di depan pintu kaca putih ruang kerja CEO ruangan daddynya sendiri. Ia meremas kedua tangannya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian untuk melangkah masuk. “Kenapa?” Tanya Dafa pelan ia merasa heran kenapa Evelyn diam seperti patung. “Emm enggak kok gak apa-apa ayo masuk,” ucapnya. Tok Tok Tok Pintu kaca itu berayun terbuka, menampilkan sosok pria muda dengan setelan jas yang tampak sangat rapi. Ia adalah Willy, asisten pribadi sang CEO. “Silahkan nona,” ucap Willy mengangguk sopan ia juga turut menyapa Dafa dan Dafa membalas dengan senyuman tipis. Evelyn melangkah masuk lebih dulu dengan Dafa yang mengekor di belakangnya. Di balik meja besar itu, ia mendapati daddynya tengah bergelut dengan tumpukan berkas, lengkap dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya. “Dad,” panggil Evelyn. “Hmm,” jawab Daddy Jason tanpa menoleh. “Aku membawa asistenku,” ucap Evelyn. Goresan pena di atas kertas itu
Suara sepatu hak Evelyn berdentum keras di atas lantai marmer putih, berpacu dengan napasnya yang memburu. Tanpa memedulikan tatapan heran para karyawan yang berpapasan dengannya, ia terus memacu langkah menuju lobi. Jarang sekali mereka melihat putri pemilik perusahaan itu kehilangan ketenangannya seperti sekarang.Evelyn menghentikan langkahnya sejenak saat melihat Dafa dari kejauhan. Pria itu berdiri menyamping dengan postur tegak, terbalut pakaian formal yang sangat rapi.“Itu Dafa,” ia berjalan dengan iringan senyum tipis diwajah cantiknya ia tak menyangka bahwa Dafa benar-benar menepati janjinya.Evelyn mengernyit dari kejauhan ada sesuatu yang salah. Dafa tampak terlibat konfrontasi sengit dengan sekuriti dan resepsionis yang berjaga. Rasa ingin tahu sekaligus cemas membuat Evelyn memacu langkahnya lebih lebar, mengabaikan rasa lelah di kakinya demi mencapai sosok pria itu.“Ada apa ini?” Suara Evelyn yang jernih namun dingin seketika memecah ketegangan di antara mereka. Seluru
Klik! Kayla memutus sambungan telepon itu dengan kasar sebelum mamanya sempat menyelesaikan kalimat. Ia melempar ponselnya ke atas kasur, napasnya memburu dengan dada yang terasa sesak. Rasanya sia-sia bicara dengan seseorang yang tidak pernah mau mengerti posisinya. “Mama bener-bener keterlaluan harusnya dia bantu aku supaya Dafa maafin aku, bukan malah ngomong ngalor ngidul gak jelas emang gampang apa bisa dapetin laki-laki kaya,” Suara gerutuan tertahan keluar dari sela bibir Kayla. Ia bersungut-sungut menahan kesal, menghentakkan kakinya ke lantai dengan geram. “Aduhh aku harus gimana dong sekarang, tabungan udah menipis sedangkan Cakra udah satu minggu ini gak kirimin aku uang,” Ia terduduk di pinggir ranjang, menatap kosong pada dompetnya yang mengempis. Rasa bersungut-sungutnya tadi kini berganti menjadi rasa dingin yang merambat di punggung. “Kayaknya aku harus telepon Dafa lagi, siapa tahu aja tadi malem dia lagi kesal. Sekarang pasti pikiran dia lebih dingin,” Kayla m
Semalaman Kayla tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Pikirannya begitu kalut hingga fajar menyapa, menyisakan lingkar hitam di bawah matanya dan rasa pening yang menusuk kepala. “Sshh, ini gila ini bener-bener gila,” Ia merintih pelan, jemarinya menekan pelipis yang terus berdenyut, sementara kata-kata keluar dari bibirnya dengan nada yang nyaris tak terdengar. “Mama… iya aku harus telepon mama,” Dengan gerakan yang sedikit tergesa, tangan Kayla terulur menyambar ponsel yang tergeletak di sampingnya. Butuh waktu beberapa detik hingga nada sambung itu berhenti. Begitu panggilan tersambung, suara yang sangat ia kenali terdengar. “Halo Lala?” ucap Mama. “Ma…” Suara Kayla terdengar sangat kecil, nyaris menyerupai rintihan yang tertahan. Nada bicaranya yang lemas itu seketika membuat Mama terkejut di ujung telepon.“La, ada apa? Kenapa suara kamu beda?” Suara mama Kayla terdengar panik.“Ma tolong aku, tolong Kayla mas Dafa…” suara isak tangis yang terdengar dari ujung telepon.







