LOGIN"Aku sama sekali tidak peduli dengan alasanmu itu Ibu, yang membuat aku senang tindakan mu itu sangat menguntungkan aku. Karena jika Baskara tahu Sahira dan Arga sudah menikah, aku yakin sekali dia akan berhenti berharap dan mencintai Sahira lagi. Andai saja semua orang tahu, kalau akulah penyebab Baskara tidak datang ke acara pernikahan nya." Gumam Bu Mayang dalam hatinya sambil terus licik.
Wanita paruh baya itu, lalu segera pergi ke kamar nya. *** Terlihat, Sahira baru saja selesai mandi namun dia terlihat sangat kebingungan. Arga yang menyadari hal itu pun, langsung melemparkan sebuah selimut dan bantal ke arah istrinya. "Kau bisa tidur di bawah, aku cukup baik memberikan mu sebuah bantal dan selimut." Ujar pria itu dengan ketus. Sahira pun lebih memilih diam dan tidak mengatakan apapun.. Tanpa banyak bicara dan protes, gadis itu lalu mulai membaringkan tubuh nya di atas karpet yang ada di lantai, dan mulai tertidur dengan tenang. "Kenapa dia hanya diam saja tanpa mengatakan apapun, sepertinya dia menerima perlakuanku begitu saja. Baguslah, itu berarti dia sadar posisi nya disini." Gumam Arga di dalam hatinya. Keesokan paginya, Arga pun datang menghampiri Nek Sukma di dalam kamarnya. "Selamat pagi nek." Sapa pemuda itu. "Selamat pagi Arga, bagaimana dengan tidur mu malam ini? Apalagi sekarang kamu sudah menikah." Sahut Nek sukma. "Tidurku selalu nyenyak seperti biasanya." Balas Argantara tanpa beban. "Arga, maafkan nenek ya karena telah meminta kamu untuk menikahi Sahira." "Tapi nek, aku masih ingin mendengarkan penjelasan dari nenek. Kenapa nenek sampai kepikiran untuk meminta aku menikah dengan nya, aku sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu nek. Hidupku seketika berubah karena pernikahan yang tidak aku inginkan ini, tolong katakan padaku apa alasan nenek melakukan semua itu?" Tanya Arga. "Maaf ya Arga, semua itu nenek lakukan untuk kebaikan kamu. Menurut nenek, Sahira adalah gadis yang sangat baik, dia juga begitu polos, sopan santun dan lembut. Sebelumnya nenek sudah beberapa kali bertemu dengan nya, pada saat Baskara mengajaknya main ke rumah ini. Mungkin kamu baru pertama kali bertemu dengan nya, karena selalu sibuk dengan pekerjaan di kantor." "Nenek juga merasa heran kenapa Baskara sampai tidak datang di hari pernikahan nya, karena nenek tahu betul kalau dia sangat mencintai Sahira. Entah kemana perginya dia, semoga saja dia baik-baik saja dan segera kembali ke rumah. Karena bagaimanapun juga dia tetaplah cucu nenek, adik kamu juga." "Arga, nenek hanya minta satu hal pada kamu, berjanjilah pada nenek kalau kamu akan melakukan nya." "Janji apa nek? Apa yang harus aku lakukan?" "Katakan dulu kalau kamu janji akan melakukan nya untuk nenek." "Iya Nek, aku janji akan melakukan apapun untuk nenek. Bahkan jika nenek meminta nyawa aku pun, aku akan memberikan nya." Balas Argantara. "Berjanjilah, kalau selama pernikahan ini kamu akan memperlakukan Sahira dengan baik, layak nya seorang istri. Sampai kalian benar-benar berpisah nanti, nenek tahu kalau hal ini tidak mudah untuk kamu tapi nenek ingin kamu tetap melakukan nya sebagai seorang suami." "Bagaimana pun juga, sahira sekarang sudah menjadi istri kamu dan tanggung jawab kamu. Meskipun pernikahan kalian terjadi bukan karena cinta, tapi percayalah pada nenek kalau Sahira adalah gadis yang baik, dan dia akan memiliki tempat di hati kamu." Ungkap Nek Sukma. "Sampai kapanpun gadis itu tidak akan pernah memiliki tempat di hatiku nek, aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai istriku." Gumam Arga di dalam hatinya. Tak lama, Sahira pun masuk ke dalam kamar nek Sukma. "Permisi nek, aku kesini untuk mengantarkan obat nenek." Ujar Sahira. "Kemarilah sayang." Pinta Nek Sukma. Dengan langkah perlahan, Sahira pun mendekati mereka berdua. "Berikan padaku obat nya, biar aku yang akan memberikan nya pada nenek." Sahira pun tanpa ragu langsung memberikan nya pada Arga. "Ayo nek, di minum dulu obat nya." Nek Sukma pun lalu meminum obat nya dengan pelan. "Terimakasih ya Sahira, Arga." "Sama-sama nek." Sahut mereka berdua secara bersamaan. Nek Sukma pun tampak tersenyum melihat hal itu, namun berbeda dengan Sahira dan Arga yang saling menatap sinis. "Sahira, bagaimana dengan perasaan kamu sekarang nak? Apa kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Nek Sukma. "Aku merasa baik nek." "Apa Baskara memberikan kabar padamu?" Sahira pun merespon dengan menggelengkan kepalanya. "Semoga saja dia segera kembali dan menjelaskan segalanya pada kita semua, kenapa dia tidak datang di hari pernikahan nya dengan mu. Tapi kamu jangan pernah bersedih dan berkecil hati, apapun yang sudah terjadi nenek akan selalu bersama kamu." "Terimakasih banyak nek, karena nenek sudah sangat baik padaku." Balas Sahira dengan lembut. "Arga, apa hari ini kamu tidak akan pergi ke kantor?" tanya Nek Sukma. "Tidak nek, hari ini aku mengambil cuti satu hari atas permintaan Papa. Papa memintaku untuk mengajak Sahira pergi ke rumah nya, menemui keluarganya sekaligus mengambil barang-barang miliknya yang masih tertinggal disana." ujar Arga. "Kenapa kamu tidak memberitahu aku hal itu." sahut Sahira. "Ini aku memberitahu mu, jadi cepatlah sekarang kau pergi bersiap-siap dan jangan lama. Aku tidak memiliki banyak kesabaran untuk menunggu seseorang." "Baiklah, aku akan bersiap-siap dulu sekarang." balas Sahira dan dengan cepat dia pun segera pergi dari sana. "Arga, bukankah Nenek sudah bilang padamu untuk memperlakukan Sahira dengan baik, kamu sudah janji pada nenek sebelumnya." tegur Nek Sekar. "Memang nya apa yang aku lakukan pada Sahira nek, aku rasa sikapku padanya sudah sangat baik." sahut Arga. "Tidak nak, sikap kamu padanya tidak begitu baik. Kamu terlihat ketus dan kasar, cobalah bersikap lebih baik dan lembut lagi pada istrimu itu." "Mau bagaimana lagi Nek, nada bicaraku memang seperti itu dan aku tidak bisa merubah nya." Nek Sekar pun hanya tersenyum kecil mendengar alasan cucu nya itu. Tak lama Sahira pun datang menghampiri mereka kembali. "Sahira, kamu sudah siap nak?" "Sudah nek." "kamu terlihat sangat senang sekali saat tahu akan pergi ke rumah orang tuamu, kamu pasti sangat merindukan mereka ya." "Iya Nek, padahal aku tinggal disini baru semalam tapi rasanya aku sudah tidak bertemu keluarga ku cukup lama." "Sampaikan salam dari nenek untuk mereka ya." Sahira pun menganggukkan kepala nya sambil tersenyum kecil. "Baiklah Nek, kami akan pergi sekarang. Kami pamit dulu." ujar Arga. "Kalian berdua hati-hati di jalan nya ya." "iya Nek, kami pamit. Assalamualaikum." ujar Sahira. "waalaikumsalam." sahut wanita tua itu sambil tersenyum senang. Arga dan Sahira pun mulai pergi meninggalkan Nek Sukma di kamar nya sendirian."Sahira, coba tanyakan pada suami kamu makanan apa yang dia suka. Ibu akan membuatkan nya." Ujar Bu Inggit. "Tidak perlu Bu, kita akan memasak makanan dengan bahan yang ada saja di rumah. Aku juga tidak tahu apa yang di sukai dan tidak di sukai nya." Sahut Sahira. "Kamu tidak boleh bersikap seperti itu Sahira, ibu tahu kalau kalian menikah dengan cara yang berbeda tapi bagaimana pun juga dia tetaplah suami kamu. Dan selama kamu masih menjadi istrinya, kamu harus bisa menghormati dia juga melayani Arga dengan baik." "Iya Bu, aku perlu waktu untuk bisa melakukan semua itu. Mungkin dengan seiring berjalan nya waktu, aku bisa mulai terbiasa." "Ya sudah sekarang kamu bantu ibu menyiapkan makanan nya, ini adalah kali pertamanya kamu dan suami kamu menginap di rumah ini." Sahira pun hanya menganggukkan kepala nya sambil tersenyum kecil. Sementara itu, Baskara terlihat sudah rapih sekali. Bu Mayang pun segera menghampiri putra nya itu. "Baskara, kamu mau pergi kemana nak?" Tanya
"Sahira, ibu senang sekali kamu bisa datang kesini menemui kami." Ujar Bu Inggit sambil memeluk putri kesayangan nya itu. "Aku juga sangat senang sekali Bu, tiba-tiba saja Mas Arga mengajak aku untuk pergi menemui kalian." Sahut Sahira. Pak Tomi dan Bu Inggit pun langsung menoleh ke arah Arga dan tersenyum padanya. Arga pun mencoba membalas senyuman mereka, walau dengan ekspresi wajah yang jutek. "Sebenarnya nenek memintaku untuk memberikan hadiah pada kalian, aku tahu kalau Sahira pasti merindukan kalian jadi aku juga mengajaknya ikut dengan ku kesini." Ujar Arga. "Duduklah dulu nak Arga, ibu akan buatkan minum dulu." Arga pun menurut dan angsung duduk."Nak Arga, sampaikan ucapan terimakasih untuk Nek Sukma dan yang lainnya." Ujar Pak Tomi. "Iya Pak, akan aku sampaikan pada mereka.""Apa kalian akan menginap disini?" Tanya Bu Inggit. "Hhmm tidak Bu, aku akan pulang." Balas Sahira dengan raut wajah yang terlihat sedih.Tidak apa-apa Bu, meskipun Sahira tidak menginap tapi kit
"Sahira dan Arga mau pergi kemana Bu?" Tanya Bu Mayang. "Mereka akan pergi ke rumah orang tuanya Sahira, nanti sore juga mereka akan segera kembali." Sahut Nek Sukma. "Kenapa ibu tidak ikut dengan mereka juga." "Aku ini sedang merasa tidak enak badan, itulah kenapa aku tidak ikut dengan mereka. Seharusnya kamu yang pergi dengan mereka, meskipun Arga bukan anak kandungmu tapi tetap saja kau juga ibunya." "Sebenarnya aku ingin ikut menemani mereka pergi dan bertemu dengan keluarga Sahira, hanya saja aku masih belum merasa tenang selama belum tahu tentang keberadaan nya Baskara. Sejak kemarin Baskara tidak ada kabar sama sekali, dan aku sangat mengkhawatirkan nya." Nek Sukma pun terdiam, dan ikut memikirkan tentang keberadaan nya Baskara. "Ini sudah dua puluh empat jam, sebaiknya kamu hubungi polisi saja, aku khawatir kalau sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada Baskara tanpa kita sadari, Baskara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia juga sangat menantikan pernikahan ini dan
"Aku sama sekali tidak peduli dengan alasanmu itu Ibu, yang membuat aku senang tindakan mu itu sangat menguntungkan aku. Karena jika Baskara tahu Sahira dan Arga sudah menikah, aku yakin sekali dia akan berhenti berharap dan mencintai Sahira lagi. Andai saja semua orang tahu, kalau akulah penyebab Baskara tidak datang ke acara pernikahan nya." Gumam Bu Mayang dalam hatinya sambil terus licik. Wanita paruh baya itu, lalu segera pergi ke kamar nya. ***Terlihat, Sahira baru saja selesai mandi namun dia terlihat sangat kebingungan. Arga yang menyadari hal itu pun, langsung melemparkan sebuah selimut dan bantal ke arah istrinya. "Kau bisa tidur di bawah, aku cukup baik memberikan mu sebuah bantal dan selimut." Ujar pria itu dengan ketus. Sahira pun lebih memilih diam dan tidak mengatakan apapun.. Tanpa banyak bicara dan protes, gadis itu lalu mulai membaringkan tubuh nya di atas karpet yang ada di lantai, dan mulai tertidur dengan tenang. "Kenapa dia hanya diam saja tanpa mengataka
"Sahira, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri dan kamu harus selalu ingat dengan pesan-pesan ibu untuk menjadi istri yang baik, nurut pada suamimu dan keluarga barumu ya nak. Jangan sampai kamu membuat mereka kecewa, ibu pasti akan sangat merindukan kamu." "Iya Bu, aku pasti akan selalu ingat dengan nasehat dari ibu. Aku juga pasti akan sangat merindukan ibu dan bapak." "Selamat untuk kalian berdua, nenek berharap setelah pernikahan ini hidup kalian akan selalu bahagia." "Selamat untuk kalian." Lanjut Bu Mayang. "Arga, Papa harap kamu bisa menjadi suami yang baik untuk Sahira selama pernikahan ini terjadi. Karena bagaimanapun secara hukum dan agama Sahira tetaplah istri kamu, tetap lakukan tugas kamu sebagai seorang suami." Ujar Pak Lukas pada putra nya dengan suara pelan. "Sahira, kamu jangan khawatir ya karena Papa janji akan selalu menjaga kamu. Bahkan kamu bukan hanya seorang menantu di rumah kami, tapi kamu sudah Papa anggap sebagai putri Papa sendiri. Jika kamu mer
"Aku setuju untuk menikah." Balas Sahira mengejutkan semua orang."Kamu yakin nak? Jangan Sahira." Ujar Pak Tomi."Aku sudah yakin dengan keputusan ku itu Pak, aku rasa ini adalah jalan yang terbaik untuk kita semua. Aku tidak bisa melihat ibu dan bapak menderita seperti ini, lagi pula ini hanya sampai tiga bulan saja, setelah itu aku bisa kembali pada kalian.""Tapi itu bukanlah pilihan yang tepat Sahira, bapak tidak setuju jika kamu menikah dengan cara seperti itu.""Ini hanya untuk sementara Pak, tolong restui aku. Bapak tidak perlu begitu mengkhawatirkan aku karena keluarga mereka pasti akan menjaga aku dengan baik.""Pak Tomi, kalau memang ini jalan yang terbaik untuk kita semua saya sendiri setuju untuk menikahkan putra sulung saya dengan Sahira. Pak Tomi juga tidak perlu khawatir, selama Sahira tinggal dengan kami, kami akan memperlakukan Sahira dengan sangat baik dan menjaga nya dengan aman." Ujar Pak Lukas..Tak di sangka semua itu ternyata di dengar oleh Argantara yang berdi







