LOGIN"Sahira, ibu senang sekali kamu bisa datang kesini menemui kami." Ujar Bu Inggit sambil memeluk putri kesayangan nya itu.
"Aku juga sangat senang sekali Bu, tiba-tiba saja Mas Arga mengajak aku untuk pergi menemui kalian." Sahut Sahira. Pak Tomi dan Bu Inggit pun langsung menoleh ke arah Arga dan tersenyum padanya. Arga pun mencoba membalas senyuman mereka, walau dengan ekspresi wajah yang jutek. "Sebenarnya nenek memintaku untuk memberikan hadiah pada kalian, aku tahu kalau Sahira pasti merindukan kalian jadi aku juga mengajaknya ikut dengan ku kesini." Ujar Arga. "Duduklah dulu nak Arga, ibu akan buatkan minum dulu." Arga pun menurut dan angsung duduk. "Nak Arga, sampaikan ucapan terimakasih untuk Nek Sukma dan yang lainnya." Ujar Pak Tomi. "Iya Pak, akan aku sampaikan pada mereka." "Apa kalian akan menginap disini?" Tanya Bu Inggit. "Hhmm tidak Bu, aku akan pulang." Balas Sahira dengan raut wajah yang terlihat sedih. Tidak apa-apa Bu, meskipun Sahira tidak menginap tapi kita bisa mengunjunginya kapan saja, kita juga masih bisa bicara di telpon." Lanjut Pak Tomi menenangkan istrinya. "Iya Pak." Balas Bu Inggit sambil tersenyum kecil. Tiba-tiba saja handphone Arga pun berdering, dan itu merupakan panggilan telpon dari Nek Sukma. "Nenek menelpon, aku permisi dulu." Ujar pria itu, lalu beranjak dari duduk nya. "Sahira, apa kamu baik-baik saja nak? Bagaimana dengan perlakuan Nak Arga terhadap kamu?" Tanya Bu Inggit. "Aku baik-baik saja Bu, Mas Arga juga sangat baik padaku." Balas Sahira. "Ibu hanya takut kalau kamu merasa tidak nyaman disana, apalagi pernikahan kamu ini terjadi bukan karena keinginan kamu sendiri." "Aku dan Mas Arga menikah hanya dalam waktu tiga bulan saja Bu, setelah itu kami berdua akan berpisah dan aku akan tinggal disini lagi bersama ibu juga bapak." "Rasanya aneh saja, ibu merasa sangat berdosa sekali karena pernikahan yang sakral ini seperti di permainkan." Ujar Bu Inggit dengan raut wajah yang sedih. "Sudahlah Bu, yang sudah terjadi biarkanlah terjadi. Mungkin ini sudah takdir untuk kita, yang terpenting kita bisa sama-sama kuat melewati semua ini." Sahut Pak Tomi. "Oh iya Sahira, apa sekarang ini Nak Baskara sudah ada kabar?" Tanya Bu Inggit sekali lagi. Sahira pun hanya diam dan merespon dengan menggelengkan kepala nya. Tak lama Arga pun datang dan duduk kembali bergabung bersama mereka. "Sahira, kita tidak akan jadi pulang sekarang. Aku sudah putuskan kalau kita akan menginap disini selama beberapa hari." Ujar Arga, yang tentu saja membuat mereka semua terkejut. "Tapi kenapa?" Tanya Sahira. "Aku tahu sangat berat untuk kamu bisa berjauhan dengan keluargamu, itulah sebabnya aku putuskan untuk menginap disini. Aku juga sudah memberitahu nenek kalau kita akan menginap dan pulang nanti." Balas Argantara. Tentu saja hal itu membuat Sahira sangat senang.. "Syukurlah kalau kalian akan menginap, setidaknya untuk beberapa hari ke depan ibu bisa menghabiskan banyak waktu bersama kamu." Sahut Bu Inggit sambil tersenyum senang. "Tapi Nak Arga, rumah kami ini sangat sederhana dan tidak sebesar rumah Nak Arga pastinya, semoga saja Nak Arga bisa merasa nyaman tinggal disini." Ujar Pak Tomi. Arga pun hanya merespon dengan tersenyum kecil dan menganggukkan kepala nya. "Tapi bagaimana dengan barang-barangmu, apa kamu akan dulu pulang untuk mengambil barang-barang mu?" Tanya Sahira. "Aku sudah meminta asisten ku untuk membawakan nya, jadi kamu tidak perlu khawatir." Balas Argantara. "Sahira, sebaiknya sekarang kamu ajak nak Arga ini ke kamar kamu ya. Biarkan dia beristirahat disana, sementara ibu akan memasak makan siang untuk kalian." "Iya Bu, nanti aku akan menyusul ibu ke dapur." Sahira pun langsung mengajak Arga pergi ke kamar mereka. "Maaf ya Mas, kamarku ini kecil dan tidak sebesar kamar milikmu." Ujar Sahira. "Tidak apa-apa, tapi tetap saja aku tidak akan membiarkan kamu tidur di sampingku. Karena ini rumahmu, jadi kau yang akan tidur di atas kasur dan aku di bawah." "Tidak Mas, kamu bisa tidur di atas kasur dan aku akan tetap tidur di bawah. Aku sudah terbiasa tidur di lantai, sementara kamu pasti tidak pernah melakukan nya. Aku hanya tidak mau badanmu merasa sakit nantinya." Ujar Sahira. "Baiklah, kalau memang itu mau mu." "Oh iya Mas, terimakasih." "Terimakasih untuk apa?" Tanya Arga. "Terimakasih karena kamu sudah mau mengajak aku menginap disini, bahkan kamu juga ikut menginap dengan aku." Balas Sahira. "Ya sama-sama." Sahut pria itu dengan ekspresi wajah yang datar. "Kalau begitu kamu istirahat saja dulu disini, aku akan pergi ke dapur untuk membantu ibu menyiapkan makanan." Pria itu pun merespon dengan menganggukan kepalanya kecil. Lalu dengan cepat Sahira pergi dari sana. "Sebenarnya aku juga tidak ingin menginap disini, kalau bukan karena nenek yang meminta aku ingin cepat sekali segera pergi dari sini." Gumam Arga di dalam hatinya. *** Sementara itu, di kediaman keluarga Arga semua orang tampak merasa cemas dan was was. "Pah, bagaimana ini? apa yang harus Mama katakan pada Baskara tentang Sahira nanti, Baskara pasti akan sangat terpukul sekali saat tahu kalau Sahira sudah menjadi istrinya Arga." ujar Bu Mayang. "Pelan kan suara Mama itu, jangan sampai nanti Baskara mendengarnya. Hari ini Arga dan istrinya akan menginap di rumah mertuanya, mereka berdua akan menginap disana selama beberapa hari, dan kita disini harus bisa segera memberitahu Baskara tentang kebenaran nya." sahut Pak Lukas dengan suara pelan. "Iya Pah, lebih cepat lebih baik lagi. Mama tidak ingin Baskara terus larut dalam hal ini, Mama ingin dia tahu kalau Sahira sudah menjadi milik orang lain, dan Mama ingin Baskara bisa segera melupakan Sahira." "Loh kenapa? bukankah seharusnya kau ini mendukung putramu, Sahira adalah gadis yang baik dan sebelumnya kau juga sudah setuju jika Baskara menikah dengan Sahira." "Iya Bu, Sahira memang gadis yang baik tapi masalah nya dia sekarang sudah menjadi istrinya Arga. Dan bagaimana kalau mereka merasa nyaman dengan pernikahan ini, dan ingin tetap melanjutkan pernikahan nya. Tetap saja itu akan sangat menyakiti hatinya Baskara." ujar Bu Mayang dengan sedikit gugup. "Sudahlah, lupakan soal itu dan sebaiknya kita pikirkan saja bagaimana caranya agar kita bisa memberitahu Baskara tentang kebenaran nya secepat mungkin, tanpa membuatnya sakit hati dan kecewa." sahut Pak Lukas. "Apa yang ingin kalian beritahukan padaku?" tanya Baskara yang tiba-tiba saja datang.. tentu saja hal itu membuat mereka semua merasa terkejut bukan main. "Baskara, kenapa kamu datang kesini nak? bukankah Mama sudah meminta kamu untuk beristirahat." ujar Bu Mayang mengalihkan pembicaraan. "Aku merasa bosan terus menerus berada di dalam kamar, tolong katakan padaku apa ada hal yang sedang kalian sembunyikan dariku?" tanya Baskara dengan tatapan yang sinis. Mereka semua hanya diam dengan perasaan yang gugup dan campur aduk."Pak.. bapak cepatlah kemari. Aditya, Rani cepatlah kalian juga kemari." Teriak Bu Inggit. Mendengar teriakan dari Bu Inggit, tentu saja membuat semua orang langsung berlari dengan panik. "Ada apa Bu?" Tanya Pria paruh baya itu. "Ibu baru saja mendapatkan telpon dari Nak Arga, kalau Sahira anak kita sudah melahirkan." Ujar Bu Inggit dengan perasaan senang. "Alhamdulillah.." ucap syukur semua orang. "Sekarang Sahira ada di rumah sakit, kita harus pergi kesana sekarang. Ibu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sahira dan melihat cucu-cucu kita." "Cucu-cucu kita??" "Iya Pak, Sahira melahirkan bayi kembar. Anak nya itu satu cewek dan satu cowok, jadi kita punya sepasang cucu kembar." "Iya Bu, iya sekarang kita bersiap-siap ya." Sahut Pak Tomi yang begitu sangat senang. "Rani, Adit cepatlah kalian juga bersiap ya kita akan pergi ke rumah sakit sekarang, tapi jangan lama-lama bersiap nya ya." Pinta Bu Inggit. "Iya baik Bu."
Beberapa bulan kemudian, Clara pun terlihat begitu bahagia saat melihat hasil tespek nya yang menunjukkan jika dirinya positif hamil, tentu saja hal itu membuat semua orang ikut merasakan kebahagiaan nya. "Mas, akhirnya setelah sekian lama kita menunggu aku bisa hamil juga." Ujar nya sambil memeluk suaminya. "Iya sayang, terimakasih ya kamu sudah memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa." Sahut Baskara. "Selamat untuk kalian berdua ya, aku ikut bahagia." Ujar Sahira. "Terimakasih Mba Sahira." "Selamat ya Baskara, Clara. Nenek ikut bahagia sekali setelah mendengar kabar baik ini, itu artinya sebentar lagi nenek akan segera memiliki banyak cicit." "Terimakasih Nek." Balas Baskara. "Hari ini aku dan Clara juga sudah memutuskan untuk datang menemui Mama di penjara, kami juga ingin memberitahu Mama tentang kabar baik ini. Apapun kesalahan yang sudah Mama lakukan, tetap saja dia adalah Mama ku, orang yang paling aku sayang." Ujar Pria itu dengan nada sedih. "Tentu Nak, kam
Besok paginya Baskara dan Clara pun terlihat membawa beberapa koper dan ingin pamit pada keluarganya."Kalian akan pergi kemana? Apa kalian akan pergi liburan?" Tanya Pak Lukas. "Tidak Pah, aku dan istriku akan pindah dari rumah ini. Kami berdua sudah memutuskan untuk tinggal di rumah yang sudah Papa siapkan untuk aku." Sahut Baskara. "Tapi kenapa mendadak seperti ini, kenapa kalian tidak memberitahu kami tentang hal ini lebih dulu." "Kepindahan kami juga memang sangat mendadak Pah, itulah kenapa kami belum sempat memberitahu kalian. Aku harap kalian semua tidak keberatan jika kami memutuskan untuk tinggal terpisah, karena aku rasa ini adalah satu-satunya jalan yang terbaik untuk kita semua, terutama untuk hubungan kami berdua." "Kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian, nenek sangat menghargai itu. Justru nenek bangga dengan sikap mandiri kamu, dan nenek harap kamu akan sering datang kesini mengunjungi kami semua. Kita adalah satu keluarga, nenek tidak ingin setelah banyak
Beberapa hari kemudian, Keluarga Sahira pun datang ke kediaman Pak Lukas untuk menjemput Sahira. "Kami senang sekali karena kalian datang kesini, Sahira pasti akan sangat senang melihat kedua orangtua nya berkunjung." Ujar Pak Lukas. "Iya Pak, tapi dimana Sahira." Tanya Pak Tomi.Tak lama Sahira pun datang menghampiri mereka bersama dengan Arga. "Bapak, Ibu. Kapan kalian datang, kenapa tidak memberitahu aku." Ujar Sahira sambil mencium tangan kedua orang tuanya. "Kami baru saja datang Sahira.""Maksud kedatangan Kemi kesini, karena kami ingin menjemput Sahira untuk pulang bersama kami. Ini sudah tiga bulan tepat pernikahan Sahira dan Nak Arga." Ujar Pak Tomi yang mengejutkan semua orang. "Sahira, sekarang kamu sudah bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan kami." Lanjut Bu Inggit. Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut bukan main, Sahira pun hanya terdiam sambil menoleh ke arah Arga, mengisyaratkan untuk tidak membiarkan nya pergi dengan menggelengkan kepalanya. "Hhm
Keesokan paginya, semua orang pun bersikap acuh pada Bu Mayang, tidak ada satu pun orang yang berani menegurnya. "Ibu,, apa Baskara sudah berangkat ke kantor?" Tanya Bu Mayang. "Iya, dia sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi. Kenapa? Apa kamu masih belum puas menyakiti hati putra mu itu." Sahut Bu Sukma. "Ibu, kenapa ibu terus saja menyalahkan aku. Sebagai seorang ibu tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita Bu, pasti ibu juga akan melakukan hal yang sama seperti aku." "Kata siapa kalau aku akan melakukan hal seperti itu, aku ini tidak sama jahat nya dengan kamu, buktinya meskipun aku tidak begitu menyukaimu aku tetap membiarkan Lukas menikahi mu, jika dibandingkan dengan Melinda jelas kau ini tidak ada apa-apa nya." Ujar Nek Sukma. Mendengar hal itu, tentu saja membuat Bu Mayang merasa kesal dan sakit hati. "Berani sekali ibu berkata seperti itu padaku." Gerutu Bu Mayang sambil mendorong Nek Sukma dari atas tangga. Untung saja Sahira berada disana, sehingga
Sore harinya, Baskara pulang dalam keadaan marah dan memangil semua orang untuk turun. "Mah, Pah. Dimana kalian, cepatlah kesini." Teriak Baskara. Arga yang baru saja tiba di rumah pun merasa heran dengan tingkah adiknya itu. Tak butuh waktu lama, semua orang pun langsung datang menghampiri Baskara."Baskara, ada apa nak? Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?" Tanya Nek Sukma."Ada sesuatu yang begitu penting yang ingin aku beritahukan pada kalian semua, ini tentang aku dan Sahira." "Apa yang kamu katakan Baskara, kenapa kamu malah ingin membahas soal kamu dan Sahira." Ujar Bu Mayang. "Iya mah benar sekali, dan kali ini aku sangat butuh kejujuran dari Mama." "Kejujuran apa yang kamu maksud?" "Aku baru saja kembali dari kantor polisi untuk menemui para penjahat itu, dan mereka mengatakan kalau Mama adalah orang yang sudah membayar mereka untuk menculik aku, di hari pernikahan ku dengan Sahira." Ungkap Baskara dengan mata yang berkaca-kaca, tampak jelas jika pemuda itu sudah tid







