مشاركة

Bab 7

مؤلف: Nashwa Fazila
last update آخر تحديث: 2026-01-10 21:54:01

"Sahira, ibu senang sekali kamu bisa datang kesini menemui kami." Ujar Bu Inggit sambil memeluk putri kesayangan nya itu.

"Aku juga sangat senang sekali Bu, tiba-tiba saja Mas Arga mengajak aku untuk pergi menemui kalian." Sahut Sahira.

Pak Tomi dan Bu Inggit pun langsung menoleh ke arah Arga dan tersenyum padanya.

Arga pun mencoba membalas senyuman mereka, walau dengan ekspresi wajah yang jutek.

"Sebenarnya nenek memintaku untuk memberikan hadiah pada kalian, aku tahu kalau Sahira pasti merindukan kalian jadi aku juga mengajaknya ikut dengan ku kesini." Ujar Arga.

"Duduklah dulu nak Arga, ibu akan buatkan minum dulu."

Arga pun menurut dan angsung duduk.

"Nak Arga, sampaikan ucapan terimakasih untuk Nek Sukma dan yang lainnya." Ujar Pak Tomi.

"Iya Pak, akan aku sampaikan pada mereka."

"Apa kalian akan menginap disini?" Tanya Bu Inggit.

"Hhmm tidak Bu, aku akan pulang." Balas Sahira dengan raut wajah yang terlihat sedih.

Tidak apa-apa Bu, meskipun Sahira tidak menginap tapi kita bisa mengunjunginya kapan saja, kita juga masih bisa bicara di telpon." Lanjut Pak Tomi menenangkan istrinya.

"Iya Pak." Balas Bu Inggit sambil tersenyum kecil.

Tiba-tiba saja handphone Arga pun berdering, dan itu merupakan panggilan telpon dari Nek Sukma.

"Nenek menelpon, aku permisi dulu." Ujar pria itu, lalu beranjak dari duduk nya.

"Sahira, apa kamu baik-baik saja nak? Bagaimana dengan perlakuan Nak Arga terhadap kamu?" Tanya Bu Inggit.

"Aku baik-baik saja Bu, Mas Arga juga sangat baik padaku." Balas Sahira.

"Ibu hanya takut kalau kamu merasa tidak nyaman disana, apalagi pernikahan kamu ini terjadi bukan karena keinginan kamu sendiri."

"Aku dan Mas Arga menikah hanya dalam waktu tiga bulan saja Bu, setelah itu kami berdua akan berpisah dan aku akan tinggal disini lagi bersama ibu juga bapak."

"Rasanya aneh saja, ibu merasa sangat berdosa sekali karena pernikahan yang sakral ini seperti di permainkan." Ujar Bu Inggit dengan raut wajah yang sedih.

"Sudahlah Bu, yang sudah terjadi biarkanlah terjadi. Mungkin ini sudah takdir untuk kita, yang terpenting kita bisa sama-sama kuat melewati semua ini." Sahut Pak Tomi.

"Oh iya Sahira, apa sekarang ini Nak Baskara sudah ada kabar?" Tanya Bu Inggit sekali lagi.

Sahira pun hanya diam dan merespon dengan menggelengkan kepala nya.

Tak lama Arga pun datang dan duduk kembali bergabung bersama mereka.

"Sahira, kita tidak akan jadi pulang sekarang. Aku sudah putuskan kalau kita akan menginap disini selama beberapa hari." Ujar Arga, yang tentu saja membuat mereka semua terkejut.

"Tapi kenapa?" Tanya Sahira.

"Aku tahu sangat berat untuk kamu bisa berjauhan dengan keluargamu, itulah sebabnya aku putuskan untuk menginap disini. Aku juga sudah memberitahu nenek kalau kita akan menginap dan pulang nanti." Balas Argantara.

Tentu saja hal itu membuat Sahira sangat senang..

"Syukurlah kalau kalian akan menginap, setidaknya untuk beberapa hari ke depan ibu bisa menghabiskan banyak waktu bersama kamu." Sahut Bu Inggit sambil tersenyum senang.

"Tapi Nak Arga, rumah kami ini sangat sederhana dan tidak sebesar rumah Nak Arga pastinya, semoga saja Nak Arga bisa merasa nyaman tinggal disini." Ujar Pak Tomi.

Arga pun hanya merespon dengan tersenyum kecil dan menganggukkan kepala nya.

"Tapi bagaimana dengan barang-barangmu, apa kamu akan dulu pulang untuk mengambil barang-barang mu?" Tanya Sahira.

"Aku sudah meminta asisten ku untuk membawakan nya, jadi kamu tidak perlu khawatir." Balas Argantara.

"Sahira, sebaiknya sekarang kamu ajak nak Arga ini ke kamar kamu ya. Biarkan dia beristirahat disana, sementara ibu akan memasak makan siang untuk kalian."

"Iya Bu, nanti aku akan menyusul ibu ke dapur."

Sahira pun langsung mengajak Arga pergi ke kamar mereka.

"Maaf ya Mas, kamarku ini kecil dan tidak sebesar kamar milikmu." Ujar Sahira.

"Tidak apa-apa, tapi tetap saja aku tidak akan membiarkan kamu tidur di sampingku. Karena ini rumahmu, jadi kau yang akan tidur di atas kasur dan aku di bawah."

"Tidak Mas, kamu bisa tidur di atas kasur dan aku akan tetap tidur di bawah. Aku sudah terbiasa tidur di lantai, sementara kamu pasti tidak pernah melakukan nya. Aku hanya tidak mau badanmu merasa sakit nantinya." Ujar Sahira.

"Baiklah, kalau memang itu mau mu."

"Oh iya Mas, terimakasih."

"Terimakasih untuk apa?" Tanya Arga.

"Terimakasih karena kamu sudah mau mengajak aku menginap disini, bahkan kamu juga ikut menginap dengan aku." Balas Sahira.

"Ya sama-sama." Sahut pria itu dengan ekspresi wajah yang datar.

"Kalau begitu kamu istirahat saja dulu disini, aku akan pergi ke dapur untuk membantu ibu menyiapkan makanan."

Pria itu pun merespon dengan menganggukan kepalanya kecil.

Lalu dengan cepat Sahira pergi dari sana.

"Sebenarnya aku juga tidak ingin menginap disini, kalau bukan karena nenek yang meminta aku ingin cepat sekali segera pergi dari sini." Gumam Arga di dalam hatinya.

***

Sementara itu, di kediaman keluarga Arga semua orang tampak merasa cemas dan was was.

"Pah, bagaimana ini? apa yang harus Mama katakan pada Baskara tentang Sahira nanti, Baskara pasti akan sangat terpukul sekali saat tahu kalau Sahira sudah menjadi istrinya Arga." ujar Bu Mayang.

"Pelan kan suara Mama itu, jangan sampai nanti Baskara mendengarnya. Hari ini Arga dan istrinya akan menginap di rumah mertuanya, mereka berdua akan menginap disana selama beberapa hari, dan kita disini harus bisa segera memberitahu Baskara tentang kebenaran nya." sahut Pak Lukas dengan suara pelan.

"Iya Pah, lebih cepat lebih baik lagi. Mama tidak ingin Baskara terus larut dalam hal ini, Mama ingin dia tahu kalau Sahira sudah menjadi milik orang lain, dan Mama ingin Baskara bisa segera melupakan Sahira."

"Loh kenapa? bukankah seharusnya kau ini mendukung putramu, Sahira adalah gadis yang baik dan sebelumnya kau juga sudah setuju jika Baskara menikah dengan Sahira."

"Iya Bu, Sahira memang gadis yang baik tapi masalah nya dia sekarang sudah menjadi istrinya Arga. Dan bagaimana kalau mereka merasa nyaman dengan pernikahan ini, dan ingin tetap melanjutkan pernikahan nya. Tetap saja itu akan sangat menyakiti hatinya Baskara." ujar Bu Mayang dengan sedikit gugup.

"Sudahlah, lupakan soal itu dan sebaiknya kita pikirkan saja bagaimana caranya agar kita bisa memberitahu Baskara tentang kebenaran nya secepat mungkin, tanpa membuatnya sakit hati dan kecewa." sahut Pak Lukas.

"Apa yang ingin kalian beritahukan padaku?" tanya Baskara yang tiba-tiba saja datang..

tentu saja hal itu membuat mereka semua merasa terkejut bukan main.

"Baskara, kenapa kamu datang kesini nak? bukankah Mama sudah meminta kamu untuk beristirahat." ujar Bu Mayang mengalihkan pembicaraan.

"Aku merasa bosan terus menerus berada di dalam kamar, tolong katakan padaku apa ada hal yang sedang kalian sembunyikan dariku?" tanya Baskara dengan tatapan yang sinis.

Mereka semua hanya diam dengan perasaan yang gugup dan campur aduk.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terpaksa Dinikahi CEO Tengil    Bab 8

    "Sahira, coba tanyakan pada suami kamu makanan apa yang dia suka. Ibu akan membuatkan nya." Ujar Bu Inggit. "Tidak perlu Bu, kita akan memasak makanan dengan bahan yang ada saja di rumah. Aku juga tidak tahu apa yang di sukai dan tidak di sukai nya." Sahut Sahira. "Kamu tidak boleh bersikap seperti itu Sahira, ibu tahu kalau kalian menikah dengan cara yang berbeda tapi bagaimana pun juga dia tetaplah suami kamu. Dan selama kamu masih menjadi istrinya, kamu harus bisa menghormati dia juga melayani Arga dengan baik." "Iya Bu, aku perlu waktu untuk bisa melakukan semua itu. Mungkin dengan seiring berjalan nya waktu, aku bisa mulai terbiasa." "Ya sudah sekarang kamu bantu ibu menyiapkan makanan nya, ini adalah kali pertamanya kamu dan suami kamu menginap di rumah ini." Sahira pun hanya menganggukkan kepala nya sambil tersenyum kecil. Sementara itu, Baskara terlihat sudah rapih sekali. Bu Mayang pun segera menghampiri putra nya itu. "Baskara, kamu mau pergi kemana nak?" Tanya

  • Terpaksa Dinikahi CEO Tengil    Bab 7

    "Sahira, ibu senang sekali kamu bisa datang kesini menemui kami." Ujar Bu Inggit sambil memeluk putri kesayangan nya itu. "Aku juga sangat senang sekali Bu, tiba-tiba saja Mas Arga mengajak aku untuk pergi menemui kalian." Sahut Sahira. Pak Tomi dan Bu Inggit pun langsung menoleh ke arah Arga dan tersenyum padanya. Arga pun mencoba membalas senyuman mereka, walau dengan ekspresi wajah yang jutek. "Sebenarnya nenek memintaku untuk memberikan hadiah pada kalian, aku tahu kalau Sahira pasti merindukan kalian jadi aku juga mengajaknya ikut dengan ku kesini." Ujar Arga. "Duduklah dulu nak Arga, ibu akan buatkan minum dulu." Arga pun menurut dan angsung duduk."Nak Arga, sampaikan ucapan terimakasih untuk Nek Sukma dan yang lainnya." Ujar Pak Tomi. "Iya Pak, akan aku sampaikan pada mereka.""Apa kalian akan menginap disini?" Tanya Bu Inggit. "Hhmm tidak Bu, aku akan pulang." Balas Sahira dengan raut wajah yang terlihat sedih.Tidak apa-apa Bu, meskipun Sahira tidak menginap tapi kit

  • Terpaksa Dinikahi CEO Tengil    Bab 6

    "Sahira dan Arga mau pergi kemana Bu?" Tanya Bu Mayang. "Mereka akan pergi ke rumah orang tuanya Sahira, nanti sore juga mereka akan segera kembali." Sahut Nek Sukma. "Kenapa ibu tidak ikut dengan mereka juga." "Aku ini sedang merasa tidak enak badan, itulah kenapa aku tidak ikut dengan mereka. Seharusnya kamu yang pergi dengan mereka, meskipun Arga bukan anak kandungmu tapi tetap saja kau juga ibunya." "Sebenarnya aku ingin ikut menemani mereka pergi dan bertemu dengan keluarga Sahira, hanya saja aku masih belum merasa tenang selama belum tahu tentang keberadaan nya Baskara. Sejak kemarin Baskara tidak ada kabar sama sekali, dan aku sangat mengkhawatirkan nya." Nek Sukma pun terdiam, dan ikut memikirkan tentang keberadaan nya Baskara. "Ini sudah dua puluh empat jam, sebaiknya kamu hubungi polisi saja, aku khawatir kalau sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada Baskara tanpa kita sadari, Baskara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia juga sangat menantikan pernikahan ini dan

  • Terpaksa Dinikahi CEO Tengil    Bab 5

    "Aku sama sekali tidak peduli dengan alasanmu itu Ibu, yang membuat aku senang tindakan mu itu sangat menguntungkan aku. Karena jika Baskara tahu Sahira dan Arga sudah menikah, aku yakin sekali dia akan berhenti berharap dan mencintai Sahira lagi. Andai saja semua orang tahu, kalau akulah penyebab Baskara tidak datang ke acara pernikahan nya." Gumam Bu Mayang dalam hatinya sambil terus licik. Wanita paruh baya itu, lalu segera pergi ke kamar nya. ***Terlihat, Sahira baru saja selesai mandi namun dia terlihat sangat kebingungan. Arga yang menyadari hal itu pun, langsung melemparkan sebuah selimut dan bantal ke arah istrinya. "Kau bisa tidur di bawah, aku cukup baik memberikan mu sebuah bantal dan selimut." Ujar pria itu dengan ketus. Sahira pun lebih memilih diam dan tidak mengatakan apapun.. Tanpa banyak bicara dan protes, gadis itu lalu mulai membaringkan tubuh nya di atas karpet yang ada di lantai, dan mulai tertidur dengan tenang. "Kenapa dia hanya diam saja tanpa mengataka

  • Terpaksa Dinikahi CEO Tengil    Bab 4

    "Sahira, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri dan kamu harus selalu ingat dengan pesan-pesan ibu untuk menjadi istri yang baik, nurut pada suamimu dan keluarga barumu ya nak. Jangan sampai kamu membuat mereka kecewa, ibu pasti akan sangat merindukan kamu." "Iya Bu, aku pasti akan selalu ingat dengan nasehat dari ibu. Aku juga pasti akan sangat merindukan ibu dan bapak." "Selamat untuk kalian berdua, nenek berharap setelah pernikahan ini hidup kalian akan selalu bahagia." "Selamat untuk kalian." Lanjut Bu Mayang. "Arga, Papa harap kamu bisa menjadi suami yang baik untuk Sahira selama pernikahan ini terjadi. Karena bagaimanapun secara hukum dan agama Sahira tetaplah istri kamu, tetap lakukan tugas kamu sebagai seorang suami." Ujar Pak Lukas pada putra nya dengan suara pelan. "Sahira, kamu jangan khawatir ya karena Papa janji akan selalu menjaga kamu. Bahkan kamu bukan hanya seorang menantu di rumah kami, tapi kamu sudah Papa anggap sebagai putri Papa sendiri. Jika kamu mer

  • Terpaksa Dinikahi CEO Tengil    Bab 3

    "Aku setuju untuk menikah." Balas Sahira mengejutkan semua orang."Kamu yakin nak? Jangan Sahira." Ujar Pak Tomi."Aku sudah yakin dengan keputusan ku itu Pak, aku rasa ini adalah jalan yang terbaik untuk kita semua. Aku tidak bisa melihat ibu dan bapak menderita seperti ini, lagi pula ini hanya sampai tiga bulan saja, setelah itu aku bisa kembali pada kalian.""Tapi itu bukanlah pilihan yang tepat Sahira, bapak tidak setuju jika kamu menikah dengan cara seperti itu.""Ini hanya untuk sementara Pak, tolong restui aku. Bapak tidak perlu begitu mengkhawatirkan aku karena keluarga mereka pasti akan menjaga aku dengan baik.""Pak Tomi, kalau memang ini jalan yang terbaik untuk kita semua saya sendiri setuju untuk menikahkan putra sulung saya dengan Sahira. Pak Tomi juga tidak perlu khawatir, selama Sahira tinggal dengan kami, kami akan memperlakukan Sahira dengan sangat baik dan menjaga nya dengan aman." Ujar Pak Lukas..Tak di sangka semua itu ternyata di dengar oleh Argantara yang berdi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status