INICIAR SESIÓN"Pak.. bapak cepatlah kemari. Aditya, Rani cepatlah kalian juga kemari." Teriak Bu Inggit. Mendengar teriakan dari Bu Inggit, tentu saja membuat semua orang langsung berlari dengan panik. "Ada apa Bu?" Tanya Pria paruh baya itu. "Ibu baru saja mendapatkan telpon dari Nak Arga, kalau Sahira anak kita sudah melahirkan." Ujar Bu Inggit dengan perasaan senang. "Alhamdulillah.." ucap syukur semua orang. "Sekarang Sahira ada di rumah sakit, kita harus pergi kesana sekarang. Ibu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sahira dan melihat cucu-cucu kita." "Cucu-cucu kita??" "Iya Pak, Sahira melahirkan bayi kembar. Anak nya itu satu cewek dan satu cowok, jadi kita punya sepasang cucu kembar." "Iya Bu, iya sekarang kita bersiap-siap ya." Sahut Pak Tomi yang begitu sangat senang. "Rani, Adit cepatlah kalian juga bersiap ya kita akan pergi ke rumah sakit sekarang, tapi jangan lama-lama bersiap nya ya." Pinta Bu Inggit. "Iya baik Bu."
Beberapa bulan kemudian, Clara pun terlihat begitu bahagia saat melihat hasil tespek nya yang menunjukkan jika dirinya positif hamil, tentu saja hal itu membuat semua orang ikut merasakan kebahagiaan nya. "Mas, akhirnya setelah sekian lama kita menunggu aku bisa hamil juga." Ujar nya sambil memeluk suaminya. "Iya sayang, terimakasih ya kamu sudah memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa." Sahut Baskara. "Selamat untuk kalian berdua ya, aku ikut bahagia." Ujar Sahira. "Terimakasih Mba Sahira." "Selamat ya Baskara, Clara. Nenek ikut bahagia sekali setelah mendengar kabar baik ini, itu artinya sebentar lagi nenek akan segera memiliki banyak cicit." "Terimakasih Nek." Balas Baskara. "Hari ini aku dan Clara juga sudah memutuskan untuk datang menemui Mama di penjara, kami juga ingin memberitahu Mama tentang kabar baik ini. Apapun kesalahan yang sudah Mama lakukan, tetap saja dia adalah Mama ku, orang yang paling aku sayang." Ujar Pria itu dengan nada sedih. "Tentu Nak, kam
Besok paginya Baskara dan Clara pun terlihat membawa beberapa koper dan ingin pamit pada keluarganya."Kalian akan pergi kemana? Apa kalian akan pergi liburan?" Tanya Pak Lukas. "Tidak Pah, aku dan istriku akan pindah dari rumah ini. Kami berdua sudah memutuskan untuk tinggal di rumah yang sudah Papa siapkan untuk aku." Sahut Baskara. "Tapi kenapa mendadak seperti ini, kenapa kalian tidak memberitahu kami tentang hal ini lebih dulu." "Kepindahan kami juga memang sangat mendadak Pah, itulah kenapa kami belum sempat memberitahu kalian. Aku harap kalian semua tidak keberatan jika kami memutuskan untuk tinggal terpisah, karena aku rasa ini adalah satu-satunya jalan yang terbaik untuk kita semua, terutama untuk hubungan kami berdua." "Kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian, nenek sangat menghargai itu. Justru nenek bangga dengan sikap mandiri kamu, dan nenek harap kamu akan sering datang kesini mengunjungi kami semua. Kita adalah satu keluarga, nenek tidak ingin setelah banyak
Beberapa hari kemudian, Keluarga Sahira pun datang ke kediaman Pak Lukas untuk menjemput Sahira. "Kami senang sekali karena kalian datang kesini, Sahira pasti akan sangat senang melihat kedua orangtua nya berkunjung." Ujar Pak Lukas. "Iya Pak, tapi dimana Sahira." Tanya Pak Tomi.Tak lama Sahira pun datang menghampiri mereka bersama dengan Arga. "Bapak, Ibu. Kapan kalian datang, kenapa tidak memberitahu aku." Ujar Sahira sambil mencium tangan kedua orang tuanya. "Kami baru saja datang Sahira.""Maksud kedatangan Kemi kesini, karena kami ingin menjemput Sahira untuk pulang bersama kami. Ini sudah tiga bulan tepat pernikahan Sahira dan Nak Arga." Ujar Pak Tomi yang mengejutkan semua orang. "Sahira, sekarang kamu sudah bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan kami." Lanjut Bu Inggit. Tentu saja hal itu membuat semua orang terkejut bukan main, Sahira pun hanya terdiam sambil menoleh ke arah Arga, mengisyaratkan untuk tidak membiarkan nya pergi dengan menggelengkan kepalanya. "Hhm
Keesokan paginya, semua orang pun bersikap acuh pada Bu Mayang, tidak ada satu pun orang yang berani menegurnya. "Ibu,, apa Baskara sudah berangkat ke kantor?" Tanya Bu Mayang. "Iya, dia sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi. Kenapa? Apa kamu masih belum puas menyakiti hati putra mu itu." Sahut Bu Sukma. "Ibu, kenapa ibu terus saja menyalahkan aku. Sebagai seorang ibu tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita Bu, pasti ibu juga akan melakukan hal yang sama seperti aku." "Kata siapa kalau aku akan melakukan hal seperti itu, aku ini tidak sama jahat nya dengan kamu, buktinya meskipun aku tidak begitu menyukaimu aku tetap membiarkan Lukas menikahi mu, jika dibandingkan dengan Melinda jelas kau ini tidak ada apa-apa nya." Ujar Nek Sukma. Mendengar hal itu, tentu saja membuat Bu Mayang merasa kesal dan sakit hati. "Berani sekali ibu berkata seperti itu padaku." Gerutu Bu Mayang sambil mendorong Nek Sukma dari atas tangga. Untung saja Sahira berada disana, sehingga
Sore harinya, Baskara pulang dalam keadaan marah dan memangil semua orang untuk turun. "Mah, Pah. Dimana kalian, cepatlah kesini." Teriak Baskara. Arga yang baru saja tiba di rumah pun merasa heran dengan tingkah adiknya itu. Tak butuh waktu lama, semua orang pun langsung datang menghampiri Baskara."Baskara, ada apa nak? Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?" Tanya Nek Sukma."Ada sesuatu yang begitu penting yang ingin aku beritahukan pada kalian semua, ini tentang aku dan Sahira." "Apa yang kamu katakan Baskara, kenapa kamu malah ingin membahas soal kamu dan Sahira." Ujar Bu Mayang. "Iya mah benar sekali, dan kali ini aku sangat butuh kejujuran dari Mama." "Kejujuran apa yang kamu maksud?" "Aku baru saja kembali dari kantor polisi untuk menemui para penjahat itu, dan mereka mengatakan kalau Mama adalah orang yang sudah membayar mereka untuk menculik aku, di hari pernikahan ku dengan Sahira." Ungkap Baskara dengan mata yang berkaca-kaca, tampak jelas jika pemuda itu sudah tid







