LOGINSudah tiga hari Leli dan Cynthia menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat sabetan cambuk hukuman keluarga Dominic. Namun selama tiga hari itu pula, Martin tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di ruang rawat tersebut. Hanya Leon dan Deon yang bergantian datang menjenguk kondisi mereka."Kenapa papimu sama sekali tidak mau datang menjenguk Mami?!" ceroscos Leli dengan raut wajah berang menahan nyeri di punggungnya.Leon menatap ibunya dengan pandangan dingin nan lelah. "Papi tegaskan Mami bukan lagi istrinya. Surat gugatan perceraian kalian sudah resmi didaftarkan Papi ke pengadilan."Mendengar hal itu, Leli seketika menjerit panik. "T-tidak! Mami tidak sudi bercerai dari papimu!"Baru detik ini rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam kesadaran Leli. Selama ini ia sudah kelewat terbiasa hidup bergelimang kemewahan. Bagaimanakah nasib kehidupannya kelak tanpa adanya 'donatur' setia seperti Martin—pria yang selama puluhan tahun selalu menuruti setiap kegilaan dan kehend
“Kamu yang menabrak orang itu, Cynthia. Kamu yang menyebabkan semuanya terjadi.” Suara Leon semakin tegas. “Jadi sekarang, kamu sendiri yang harus mempertanggungjawabkannya di hadapan hukum.”“T-tidak...” Cynthia menggeleng keras.Leon mengepalkan tangan.“Aku menyesal.”Cynthia menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.“Aku menyesal karena dulu ikut menutup mata. Aku menyesal pernah melindungimu dan membiarkan Liora menanggung kesalahan yang bukan miliknya.”“T-tidak! Aku tidak mau dipenjara!”Cynthia kembali menangis.Ia buru-buru merangkak ke arah Deon.“Kak Deon! Tolong aku! Aku takut!”Deon membeku.Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia bahkan tidak sanggup menatap mata Cynthia.“Belajarlah bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan.”“Kak...”“Dua tahun lalu, Liora harus membusuk di dalam penjara demi menanggung kesalahanmu.” Suara Deon bergetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap tegas. “Sekarang... giliranmu menghadapi konsekuensinya.”Cynthia terisak semaki
Jari-jemari lentik Liora mulai merambat halus. Istri kecil Xavier itu menyusupkan tangannya ke balik kaus santai yang dikenakan suaminya, meraba perut berotot Xavier dengan sentuhan lembut nan hangat.Xavier seketika menahan napas, dadanya menegang menahan gejolak yang mendadak membakar tubuhnya. Napasnya kian tertahan ketika tangan mungil Liora merambat lebih tinggi, mengelus dada bidangnya yang terasa keras.Anehnya, Liora melakukan semua itu tanpa prasangka apa pun. Mulutnya tak henti-hentinya mengoceh riang, menceritakan kembali momen-momen berkesan saat pesta resepsi mereka tadi. Liora bahkan berbisik penuh ketakjuban—tak menyangka Mami mertuanya akan membela dirinya sehabis-habisan. Melihat raut wajah Leli dan Cynthia yang hancur berkeping-keping, Liora merasa lega. Ia yakin, setelah ini tidak akan ada lagi yang berani mengganggunya karena Mami mertuanya sangat galak dan protektif.Namun, Xavier sudah tidak bisa lagi fokus mendengarkan ocehan riang itu. Pria dewasa itu menarik l
Kecupan hangat di kening itu membuat Liora perlahan memejamkan mata.Untuk beberapa detik, ia hanya diam dalam pelukan Xavier.Dada bidang pria itu terasa kokoh di dekat tubuhnya. Kehangatan dari pelukan tersebut perlahan meredakan kegugupan yang sejak tadi menguasai dirinya. Anehnya, berada sedekat ini dengan Xavier tidak lagi membuatnya ingin menjauh.Justru sebaliknya.Liora merasa aman.Sangat aman.Xavier pun tidak terburu-buru.Ia hanya membiarkan istrinya berada dalam pelukannya, seolah-olah ingin memberinya kesempatan untuk terbiasa dengan kedekatan mereka.Namun ketika Liora akhirnya mengangkat wajah, mata mereka bertemu.Dan seketika suasana berubah.Xavier merenggangkan pelukannya sedikit.Cukup untuk melihat wajah Liora dengan jelas.Tatapan pria itu tertahan lama di sana.Rambut lembut yang membingkai wajah Liora, pipinya yang masih bersemu merah, serta sepasang mata bening yang kini menatapnya dengan gugup.Xavier sampai lupa bernapas sesaat.“Kenapa menatapku seperti it
Malam kian larut.Setelah pesta resepsi megah yang berlangsung berjam-jam akhirnya usai, Xavier membawa Liora ke penthouse pribadinya.Kamar utama di lantai paling atas telah disiapkan dengan begitu indah. Lilin aromaterapi berjajar di beberapa sudut ruangan, menyebarkan aroma lembut yang menenangkan. Kelopak mawar merah ditaburkan membentuk pola sederhana di atas tempat tidur king size.Namun, semua kemewahan itu justru membuat Liora semakin salah tingkah.Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun mewahnya dengan piyama sutra longgar berwarna krem, gadis berusia sembilan belas tahun itu berdiri di depan meja rias sambil pura-pura sibuk merapikan rambut.Padahal sejak tadi, rambutnya sudah berkali-kali ia sisir dengan jemarinya.Pipi Liora memerah.Mulai malam ini, ia dan Xavier benar-benar akan berbagi kamar sebagai suami istri.Jantungnya berdetak begitu cepat sampai-sampai ia merasa Xavier mungkin bisa mendengarnya.Di belakangnya, pintu kamar mandi terbuka.Xavier keluar dengan
Malam kian larut.Setelah pesta resepsi megah yang berlangsung berjam-jam akhirnya usai, Xavier membawa Liora ke penthouse pribadinya.Kamar utama di lantai paling atas telah disiapkan dengan begitu indah. Lilin aromaterapi berjajar di beberapa sudut ruangan, menyebarkan aroma lembut yang menenangkan. Kelopak mawar merah ditaburkan membentuk pola sederhana di atas tempat tidur king size.Namun, semua kemewahan itu justru membuat Liora semakin salah tingkah.Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun mewahnya dengan piyama sutra longgar berwarna krem, gadis berusia sembilan belas tahun itu berdiri di depan meja rias sambil pura-pura sibuk merapikan rambut.Padahal sejak tadi, rambutnya sudah berkali-kali ia sisir dengan jemarinya.Pipi Liora memerah.Mulai malam ini, ia dan Xavier benar-benar akan berbagi kamar sebagai suami istri.Jantungnya berdetak begitu cepat sampai-sampai ia merasa Xavier mungkin bisa mendengarnya.Di belakangnya, pintu kamar mandi terbuka.Xavier keluar dengan
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da
Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.
"Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima
Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in







