LOGINKehadiran Xavier di dalam mobil jemputan itu jelas menabrak aturan adat dan tradisi pernikahan. Secara tata cara yang umum, sebelum prosesi ijab kabul dan akad nikah diresmikan, pengantin pria dan pengantin wanita seharusnya berada di kendaraan terpisah. Mereka baru diperbolehkan bertemu secara resmi setelah kata sah berkumandang di hadapan penghulu.Namun, aturan standar mana yang sanggup mengikat seorang Xavier Dominic? Pria berkuasa yang terkenal keras kepala dan selalu memegang kendali penuh itu sama sekali tidak peduli pada tradisi kaku jika hal itu menyangkut calon istri kecilnya.Ketika pintu mobil sedan mewah itu dibukakan oleh John, Liora seketika mematung di pekarangan rumah. Matanya melotot bulat melihat sosok tegap nan rupawan duduk santai di kursi penumpang belakang seraya menatapnya penuh binar pemujaan.Beberapa hari tidak bertemu dengan pria pujaan hatinya karena kesibukan persiapan pernikahan tentu saja menyemaikan rasa rindu yang teramat dalam di dada Liora. Dan kini
Begitu pintu kamar terbuka, langkah Liora terhenti. Di ruang tamu yang luas, Martin, Leon, dan Deon sudah berdiri menunggunya. Ketiga pria bertubuh tegap dalam balutan jas resmi itu seketika mematung saat menatap Liora yang melangkah keluar.Martin memandang putri bungsunya dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. Dada pria paruh baya itu terasa sesak luar biasa, bagaikan dihantam batu besar. Rasa bersalah yang teramat dalam mencengkeram jantungnya tanpa ampun. Ia merasa menjadi sosok ayah yang sangat buruk dan tidak berguna—bahkan ia tega mendorong putrinya yang baru berusia sembilan belas tahun ke dalam sebuah pernikahan di usia yang sangat muda.Namun, melihat kebahagiaan Liora sekarang serta ketulusan Xavier yang begitu luar biasa mencintai adiknya, ada sedikit rasa lega yang menyusup di hati Martin. Kendati demikian, penderitaan yang pernah ia goreskan pada Liora tak akan pernah bisa terhapus begitu saja."Liora... maafkan Papi, Nak..." Martin tak kuasa lagi menahan air matanya. A
Tepat pukul lima pagi, seorang wanita, perias pengantin ternama sudah tiba di rumah Bibi Nina. Namun, sang calon pengantin tampaknya masih enggan berpisah dengan mimpi indahnya."Liora... MUA-nya sudah datang, Ayo bangun, Nak," panggil Bibi Nina seraya mengguncang pelan bahu Liora."Bibi... aku masih sangat mengantuk..." gumam Liora tanpa membuka mata. Bukannya duduk, ia justru menarik selimutnya makin tinggi hingga menutupi seluruh kepala."Liora, hari ini hari pernikahanmu dengan Xavier! Ayo cepat bersiap, nanti waktunya tidak keburu!"Kata Xavier dan pernikahan seketika menyengat kesadaran Liora. Matanya langsung terbuka lebar, menatap Bibi Nina dengan napas tertahan."Eh? Iya, Bibi! Aku mandi sekarang!" Liora mendadak terperanjat dan buru-buru meloncat dari tempat tidur."Liora, mandinya sebentar saja, ya! Ingat, punggung tangan dan kaki jangan digosok terlalu keras, nanti ukiran hennanya hilang!" wanti-wanti Bibi Nina setengah berteriak dari luar."Iya, Bibi!"Liora melangkah mas
Liora merasakan jantungnya berdebar kencang tanpa henti. Malam ini, di malam terakhir sebelum statusnya berubah menjadi seorang istri, ia memilih untuk tidur bersama Bibi Nina."Bibi... aku gugup sekali," bisik Liora pelan, merapatkan selimut ke dadanya.Bibi Nina tersenyum hangat, lalu mengusap lembut rambut halus Liora. "Wajar, Sayang. Semua calon pengantin pasti merasakan hal yang sama.""Bibi... sebenarnya jadi seorang istri itu seperti apa, sih? Apa yang harus aku lakukan nanti setelah menikah?" tanya Liora polos.Bibi Nina menatap wajah cantik di sampingnya. Usia Liora baru sembilan belas tahun. Sangat wajar jika gadis ini belum sepenuhnya paham tentang seluk-beluk kehidupan berumah tangga, apalagi selama ini Bibi Nina sangat menjaga dan membimbingnya dengan ketat."Bibi, jadi istri itu ribet tidak, sih?" lanjut Liora penasaran.Bibi Nina terkekeh pelan. "Semuanya tergantung sama pasangan kita, Liora. Sebagian suami menjadikan istrinya ratu, tapi sebagian lagi... malah menjadika
Wajah Cynthia tampak sangat bahagia setelah mendapatkan telepon dari orang suruhannya. Binar kejahatan terpancar jelas dari matanya yang dipenuhi dendam."Apa katanya?!" desak Leli dengan wajah sangat serius. Wanita paruh baya itu sudah tidak sabar menunggu laporan dari orang yang diperintahkan oleh putrinya."Dia berhasil, Mami!" pekik Cynthia dengan tawa puas yang melengking. "Besok kita harus datang cepat-cepat ke acara pernikahan Liora. Aku sangat ingin melihat seperti apa wajah hancur si anak pembawa sial itu! Atau jangan-jangan... Liora malah tidak berani datang sama sekali? Dan pada akhirnya, demi menghilangkan rasa malu serta mempertahankan harga diri keluarga Dominic, Xavier sibuk mencari pengantin wanita pengganti! Dan saat itulah... aku yang akan maju menjadi pengantinnya!" ujar Cynthia dengan penuh percaya diri tanpa tahu diri.Leli mengangguk-angguk gembira, matanya berbinar penuh semangat. "Kalau begitu kamu harus mempersiapkan semuanya dari sekarang! Kamu harus berdanda
Kabar yang ditunggu-tunggu Cynthia akhirnya tiba. Lewat sambungan telepon tersembunyi, pria sewaan yang sebenarnya telah diintimidasi oleh orang-orang Xavier itu melaporkan sesuai skenario palsu—bahwa ia telah berhasil mencekoki Liora dengan jus stroberi beracun hingga habis tak tersisa."Bagus! Kerjamu sangat memuaskan!" desis Cynthia dengan nada suara yang bergetar hebat akibat luapan rasa puas yang tak terbendung.Tanpa buang waktu, Cynthia langsung mentransfer sisa uang puluhan juta yang telah dijanjikannya. Cara kerjanya teramat licik dan rapi. Ia tidak menggunakan rekening pribadinya, melainkan memanfaatkan outlet pengiriman uang tunai anonim atas nama orang lain agar tidak meninggalkan jejak digital sedikit pun.Dalam otak piciknya, Cynthia merasa langkahnya sangat sempurna. Pria sewaan itu bahkan tidak pernah tahu siapa nama aslinya, dan transaksi tunai ini tidak akan bisa melacak keberadaannya. Ia merasa benar-benar berada di atas angin, tak tersentuh oleh hukum mana pun."Ma
“Dan pria yang tidak tahu cara berterima kasih,” balas Liora datar.Beberapa tamu mulai saling berpandangan. Tidak ada yang menyangka seorang gadis muda berani berbicara dengan Xavier Dominic, tanpa ada rasa takut. Tatapan mata gadis itu juga tajam, seakan ia sedang menantang. Apakah gadis malang
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da







